
Arsena segera menutup ponselnya, mengamati sosok wanita yang belum pernah ia kenal sekalipun. Arsena mencoba mengingat wajahnya. Setelah semenit kemudian dia sadar wanita itu adalah seseorang yang ditunggunya.
"Apa anda sedang menunggu saya, tadi pria di dalam sana mengatakan kalau anda menunggu saya sejak tadi."
Arsena menatap wanita yang menyapanya. Wanita itu terlihat baik, tak ada tanda tanda dia galak atau suka menyakiti orang. Arsena sempat menyangkal dalam hati, mungkin dia salah orang.
"Apakah aku bisa bertemu dengan suami Anda?" Tanya Arsena.
Arsena kini malah berbicara lemah lembut pada wanita yang membawa susu untuk balita dan beberapa snack ditangannya.
"Suami saya? Tapi ada perlu apa anda ingin bertemu suami saya?"
""Suami anda sudah melakukan kejahatan, suami Anda harus membayar mahal atas luka yang diterima istri saya."
"Tak mungkin, Anda pasti berbohong suami saya tak mungkin melakukan kejahatan itu." Wanita itu menggelengkan kepala keras, tak percaya kalau suaminya adalah pelaku kejahatan yang tega akan menghabisi nyawa wanita yang sedang hamil.
"Sebaiknya cepat masuk ke dalam mobil dan antarkan saya menemui suami Anda." Arsena mulai menunjukkan sisi pemarah yang dulu pernah melekat kental pada dirinya.
Wanita itu menurut tanpa sebuah paksaan. Dia membuka pintu belakang mobil Arsena.
Arsena sudah tak sabar, ingin segera bertemu dengan suami wanita yang kini tengah duduk di belakangnya.
Arsena segera melajukan mobil sport lamanya, dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara. Hanya mesin mobil lain yang bersahutan.
"Kalau boleh tahu kapan kejadian itu dan bagaimana kondisi istri anda? apa dia baik-baik saja?" Wanita itu membuka percakapan dengan tubuhnya gemetar. Rasanya tak percaya suaminya yang begitu menyayanginya harus melukai wanita lain.
Arsena kini menyadari, Mungkin wanita itu memang tak tahu apa-apa, dia seorang ibu rumah tangga yang hanya menerima apa yang diberikan oleh suaminya.
"Suami saya bekerja sebagai ojol, dua hari yang lalu dia membelikan anak-anak kami banyak baju, dan juga makanan enak. Makanan itu berasal dari restoran mahal, saat aku tanya dia bilang lagi dapat rezeki lebih, dari orang kaya." ujarnya sedih.
"Apakah anda tahu siapa orang kaya yang dimaksud suami anda."
"Saya dan anak-anak ada di rumah, jadi saya tidak tahu siapa orang kaya yang dimaksud suami saya." ujar wanita itu lagi.
__ADS_1
Arsena melihat dari kaca spion, di pipi wanita itu merembes air mata. Wanita itu pasti terpukul mendengar kenyataan pahit yang dihadapi. Memiliki suami pria bayaran.
Selama ini dia sangat senang saat suaminya membawakan banyak uang, dia akan nunyambut kedatangannya dengan hangat dan menyayangi sepanjang hari.
Mungkin sikapnya itu membuat suaminya ingin selalu membawa banyak uang untuk sang istri.
Wanita itu meminta berhenti di depan sebuah rumah kecil. Wanita tua keluar dengan menggendong seorang anak balita menangis yang sedang menangis, wanita tua itu kuwalahan.
"Ris ! suamimu Ris!" ujarnya menyambut kedatangan Ris.
"Mas Isnan kenapa, Buk?"
"Suamimu di rumah sakit, dia terluka. Tadi siang ada seseorang yang tak dikenal menembak kepalanya," ujar Ibu dengan panik.
" Padahal Isnan selama ini tak memiliki musuh, kenapa ada orang yang jahat dengannya, Isnan anakku orang yang baik Tuhan, tolong selamatkan dia." Ibu tua berusia sekitar tujuh puluh tahun itu berbicara dan mulai histeris. Dia tak bisa menunggu menantunya duduk lebih dulu.
Tertembak? tadi siang? Seperti sangat kebetulan.
"Ris dia siapa? Kenapa kamu pulang bersamanya?" Wanita tua itu menatap Arsena dengan penuh curiga.
"Dia, Dia ... Sebaiknya nanti saya ceritakan kepada ibu, sebaiknya Ris ke rumah sakit dulu, jenguk mas Isnan, Buk. "ujar ris sambil menoleh ke arah Arsena.
Ris yang panik menyerahkan kantong yang ia beli dari supermarket dan hendak berlari kerumah sakit, Arsena segera memutar mobil dan memberi tawaran pada Ris agar mau diantar.
Ris setuju diantar arsena. Jika menunggu angkot lewat pasti lebih lama lagi.
"Tuan, Anda pasti tahu kenapa suami saya tertembak? Ini pasti ada hubungannya dengan orang yang mengincar keselamatan istri anda. Karena anda kesini mereka sekarang menembak suami saya.orang itu tau dimanapun anda berada." ujar ris panjang lebar.
Arsena kehilangan fokus menyetir, pikirannya melayang entah kemana, ia seperti sedang diawasi oleh seorang penjahat, sedang Arsena tak mengetahui sama sekali siapa orang itu?
Arsena berjanji, jika menemukan pelaku kejahatan itu, dia akan membuat perhitungan. Karena keegoisannya, banyak orang hidupnya menjadi tak tenang.
Arsena dan Ris sudah sampai di halaman rumah sakit, Ris turun dari mobil dengan tergopoh-gopoh segera masuk menuju UGD. Ris histeris ketika melihat kondisi suaminya sedang tak sadar.
__ADS_1
Arsena yang melihat pemandangan memilukan di depan matanya, ia mengeratkan tangannya membentuk kepalan tangan. Musuh yang dihadapi tidaklah manusiawi. Dia menghalalkan segara cara.
Arsena kembali keluar ruang UGD, terpekur sejenak di dalam mobil. Menunggu pria itu sadar dari kondisinya sekarang.sedangkan Ris menunggu di bangku panjang di depan ruangan suaminya berada.
Tak ada seorangpun boleh mengganggu jalannya operasi. Perawat dan dokter sedang hilir mudik mengupayakan keselamatan suami Ris.
Arsena terlihat lelah, sehari ia lupa makan, harapannya hanya segera menemukan pelakunya dan pulang kembali ke pelukan sang istri.
"Jika Anda lelah sebaiknya pulanglah, aku akan memberitahu Anda, jika kondisi suami saya sudah sadar," ujar Ris yang melihat Arsena mulai lelah.
"Tidak aku akan menunggunya hingga siuman." Arsena bersi keras. Ia tidak mau kehilangan satu satunya orang yang bisa menjadi saksi kunci.
"Tuan, maafkan suami saya." Wanita itu terlihat terus mengiba dan menitikkan air matanya.
"Anda tidak bersalah, tak perlu meminta maaf, suami anda yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya." Kata Arsena yang berdiri dengan gaya arogannya. Celana sobek yang ia kenakan tetap saja tak bisa membohongi visualnya, siapapun yang melihat pria berkulit bersih dan memiliki bulu tangan lebat itu pasti senang.
Malam semakin larut, pria berusia 30 tahun itu masih mondar-mandir di depan ruang UGD. Satu jam lamanya Arsena masih dalam kondisi yang sama. Sena berharap pria itu segera siuman.
Lelah berjalan mondar-mandir Arsena duduk disebuah kursi panjang, di sebelah istri pria itu. Rupanya wanita itu juga lelah. Entah lelah atau terlampau sedih hingga ia tertidur dalam posisi duduk dengan matanya yang basah.
Arsena mulai merindukan sosok istri, yang akhir-akhir ini kelewat manja, biasanya kalau sore begini Andini suka duduk-duduk di gazebo. Karena di gazebo tidak ada kamera pengintai, Arsena mulai membuka handphone-nya. Mencoba membuka kamera pengintai yang ada di kamar Andini, memang benar andini sedang tak ada di kamarnya. Mungkin dia sedang bersama Mert diruang keluarga atau bersama Oma.
Arsena mulai membuka kamera pengintai lainnya, dia melihat kamera yang ada di kamar Mama Rena. Mama terlihat sedang panik, dia berusaha menghubungi seseorang di telepon.
Samar-samar Arsena mulai mendengar perbincangan Mama Rena dengan seseorang di telepon. Arsena memasang telinganya dengan benar dan membesarkan volumenya.
" Apakah sudah berhasil."
Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya, tiba tiba Rena tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan khawatir, aku akan memberikan sesuai nominal yang ku janjikan, besok pagi," ujar Rena sambil menatap pemandangan luar di balik jendela. Setelah selesai berbicara singkat dengan seseorang di telepon senyum terukir di bibir wanita itu.
*happy reading.
__ADS_1