Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 136. Mama telah siuman.


__ADS_3

Pagi telah tiba Andini mengerjabkan matanya berulang kali. berusaha menetralkan otaknya yang baru kembali dari alam mimpi.


Andini sudah kembali berada di rumah besar, ia kembali menempati kamar tidurnya yang mewah. Ia menoleh kesamping tak ada siapa siapa. Suaminya semalam benar-benar tak pulang.


Andini membuka tirai,sinar mentari menerpa birunya air kolam dedaunan bergoyang oleh hembusan angin pagi yang sejuk. Burung- burung bernyanyi dengan riang.


"Andini!" Suara dari pintu dalam memanggil namanya dengan nada sayang dan bahagia. " Kau sudah pulang."


"Oma!"


Andini menoleh ke arah suara. "Oma! Andini kangen."


"Oma juga, Sayang. Oma yakin kamu akan segera kembali."


"Iya Oma, Andini harus kembali." Mereka berdua menghambur dan berpelukan melepaskan rindu.


"Andini akan kembali untuk kebahagiaan semua, Ars menderita tanpa keluarganya. Dia berusaha tersenyum namun hatinya menangis, Oma. Ars sayang kalian semua."


" Tentu cucuku sangat menyayangi kami, seumur hidup dia belum pernah berpisah dengan keluarganya. Tapi besarnya cintanya padamu mengalahkan semuanya, dia melakukan semua itu." Oma mengelus rambut Andini yang sedikit coklat dan bergelombang.


" Terima kasih Oma, sudah memiliki cucu sebaik Arsena." Andini menundukkan wajahnya dengan malu-malu.


"Apa hanya karena dia anak baik saja? Dia juga sangat tampan kan?" Oma menggoda sambil mengelus dagu Andini.


Andini semakin tersipu, wajahnya kini merah merona." Iya Oma, dia sangat tampan dan baik,"


"Oh,iya Oma, hari ini Andini ingin memasak makanan kesukaan Arsena dan papa."


"jangan terlalu repot, sayang. Urusan dapur biar bi Um yang menyelesaikan."


Tapi Oma, andiji pengenasak kesukaan papa dan Arsena, karena sebagian masakan akan dibawa ke rumah sakit.


"Ya udah terserah kalau gitu, ingat pesan Oma, jangan capek. Atau Arsena akan marah jika melihat istrinya kelelahan."


" Iya, Oma."


Andini berjalan menuju dapur, menyapa asistent yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing masing di ruang tengah ia segera mencari bahan yang akan dimasak untuk keluarganya yang sedang di rumah sakit.


Andini mulai berkutat dengan spatula dan pisau, memotong daging dan petai yang akan dijadikan oseng, sedangkan Bi Um memasak menu pelengkap lainnya.


Andini membuka jendela dapur, berharap polusi di dapur segera keluar. Namun ia malah melihat sosok beda jenis sedang berdiri di bawah pohon mangga, berduaan. Entah mereka sengaja bertemu atau tak sengaja berpas pasan.


" Zara dengan siapa dia?"


Andini melihat Zara sedang bercengkrama bersama seorang pria. Dia terlihat begitu akrab dan bahagia.


Andini menajamkan penglihatannya, hatinya bertanya, siapa pria yang telah bersama asistennya itu?


Apa dia Mert, kalau iya berarti Mert serius dengan rencananya untuk mendekati Zara.


"Nona sepertinya oseng dagingnya sudah matang, bumbunya juga sudah meresap." Bi Um mencoba mengaduk masakan Andini.


"Oh iya, Bibi tolong matikan kompornya." Andini masih penasaran dengan pria yang bersama Zara.


Andini tidak mempermasalahkan Zara dekat dengan pria manapun, tapi saat ini Zara sedang bekerja dengan dirinya. Membuat Andini seakan memiliki tanggung jawab untuk menjaga Zara dan kesuciannya layaknya seorang adik gadisnya.


"Zara!"


"Kak David, sepertinya Nona sedang membutuhkan saya, aku balik ke dapur ya!"


"Iya Zara, sampai ketemu nanti sore." David segera melenggang pergi tanpa menoleh.


"Nona memanggil saya." Zara berlari mendekati Andini. "Saya tadi sedang membuang sampah, dan ketemu sama Kak Davit. Kak Davit ternyata orangnya asyik juga."


"Benarkah? Zara, aku butuh bantuanmu menaruh makanan ini ke dalam rantang. Nanti kita akan antarkan kerumah sakit, sekalian lihat perkembangan kondisi Mama."


"Siap, Nona," ujar gadis itu dengan semangat. Zara segera menata menu yang sudah matang ke dalam rantang dan menyusunnya dengan rapi."


"Zara, wajahmu bahagia sekali, apa kamu sedang jatuh cinta?"


"Zara, apa kau menyukai David."


Zara tak menjawab pertanyaan dari Andini, Gadis itu hanya menundukkan kepala, sambil terus melanjutkan aktivitasnya.

__ADS_1


"Zara malu nona," ucapnya tergagap ketika Andini menyenggol lengannya


"Sudahlah tak perlu malu mengakuinya. Sekarang ada dua pria yang menyukaimu kau pilih Mert atau David." Kata Andini sambil melenggang pergi hendak mandi.


" Nona, Anda bisa saja. Tidak mungkin Tuan Mert menyukai saya." Zara berusaha menyangkal isi hatinya sendiri. Sesungguhnya dia memang memiliki sebuah rasa pada Mert. Namun ia bercermin, pada Andini, Andini selalu menderita karena menikah dengan pria kaya seperti Arsena..


Zara berusaha mengenyahkan mimpinya menjadi Nyonya Mert, dia juga takut hal serupa akan terjadi pada dirinya. Mama Mert seorang pengusaha di Turki, tentu dia juga menginginkan menantu yang memiliki bobot bibit bebet yang sederajat.


"Jangan melamun Zara, ayo kita berangkat." Andini sudah selesai mandi kilat ia tak mau sampai kesiangan mengantar sarapan pada suaminya.


Andini pamit pada Oma dan lainnya begitu pula Zara. ia melihat Davit sudah selesai mengelap mobilnya.


"Kita berangkat sekarang Nona?" Tanya Davit.


"Iya Vit, jangan sampai kita terlambat mengantar sarapan ini, karena suamiku pasti sudah menunggu, dia sangat senang masakan yang aku buat." Kata Andini bangga sambil menenteng rantang di tangan kanannya. Sedangkan Zara membawa baju ganti untuk Arsena dan Pak Johan.


"Bagus itu Nona," Davit membuka pintu untuk Nona mudanya. Zara ikut masuk lewat pintu yang sama dengan Andini.


Mobil mulai meluncur keluar dari halaman rumah besar. Davit mengemudi mobil dengan sangat hati-hati. Iya tak ingin Andini merasa tak nyaman saat dirinya yang mengemudi.


"Nona, katakan pada saya jika mungkin saya mengemudi mobilnya terlalu kencang."


"Tidak Davit, kamu sudah pandai mengemudikan mobilnya."


"Terima kasih Nona." David terlihat membenarkan kaca spion yang ada di dalam mobil. Ia sengaja memutar benda berbentuk elips itu supaya bisa melihat Zara dengan leluasa.


"Andini tersenyum melihat tingkah para asistennya yang sedang cinlok tapi malu mengakui."


"Ehmmm. Biar lebih jelas, lihat orangnya aja langsung. Daripada di cermin kurang jelas," kata Andini menggoda.


"Nona tau aja." Davit pun terlihat malu malu.


 


.


Tiga puluh menit mereka bertiga sudah sampai di parkiraan rumah sakit.


"Sayang!" Arsena memeluk Andini layaknya mereka berdua sudah berpisah berbulan bulan.


"Aku baik-baik saja," ujar Andini.


"Syukurlah, aku juga memiliki kabar gembira untukmu, Sayang." Kata Arsena lagi.


"Bagaimana kondisi Mama?" Tanya Andini berharap baik.


"Iya, tadi malam mama telah siuman, dan dia menanyakan kamu, Sayang. Bahkan namamulah yang pertama kali mama sebut."


"Semoga mama menyadari semua perbuatannya dan bisa menerima aku apa adanya. Kita masuk aja suamiku, aku bawakan sarapan untukmu dan yang lainnya." Kata Andini menoleh ke arah Zara yang membawa rantang besar.


"Baiklah, aku juga sudah lapar, apalagi yang datang masakan istri." Arsena mengacak rambut Andini gemas.


Aksi mesra Arsena membuat Davit kagum. Rupanya tuan muda mereka sedang bucin berat dengan nona mudanya.


Arsena menggandeng Andini menuju lift yang khusus digunakan untuk dokter dan perawat. Zara dan Davit mengekor dibelakang tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Lift khusus telah membawa mereka lebih cepat menuju ruang rawat Mama.


Saat membuka pintu, Andini sudah mendengar suara Mama sedang membicarakan dirinya. " Mit, apa Andini akan datang kemari. Pa apakah menantu kita membenci Mama. Apakah dia akan membawa Arsena pergi jauh?" Cecar Mama pada semua yang ada di dekatnya.


Menantu kita tak akan melakukan hal seperti itu, mama baru souman jangan berfikir macam-macam, dia pasti akan memaafkan Mama.


"Pa, tolong katakan pada Andini, mama minta maaf."


"Iya akan papa katakan."


 


"Mama!" Andini menampilkan senyum lebarnya.


"Andini !" Mama terlalu bahagia melihat sosok yang ditunggu.


"Stop Ma, jangan terlalu banyak bergerak, biarkan Andini yang memeluk mama." Andini segera menaruh tas kecil yang melingkar di lengannya di atas nakas.

__ADS_1


Andini segera mendekati Mama dan memeluknya.


"Mama minta maaf Andini, tolong maafin mama. Mama berdosa sama kamu, " Mama menangis terisak isak di pundak Andini yang masih memeluknya.


Andini mengangkat tubuhnya, mengusap air mata Mama dengan ibu jarinya.


"Mama, sekarang kita mulai semuanya dari awal, kita lupakan yang telah terjadi, bagaimana?"


Iya Sayang, mama janji akan menjadi Oma yang baik untuk cucu cucu Oma. Sini Mama pengen menyapa cucu Oma, Andini."


Andini menoleh ke arah Arsena, dibalas anggukan oleh Arsena.


Arsena terharu dengan sikap Andini membalas perlakuan kejam mamanya. Semua yang ada di ruangan itu juga ikut menitikkan air mata.


" Rena mengelus perut Andini. Maafin Oma, sayang. Oma pernah zalim pada kalian. Mulai hari ini Oma akan menyayangi kalian, selama nyawa Oma masih menyatu di raga ini."


"Ma, kita semua yang ada disini mengharapkan kesembuhan Mama. Mama akan subuh dan menggendong mereka nantinya.


"Tuan Arsena, Dr Andini, izinkan saya memeriksa pasien dulu." kata dokter Vano.


Iya Dok, silahkan. Andini dan Arsena bergerak agak menjauh dari tempat Mama berbaring. Memberi ruang untuk Dokter Vano melakukan tugasnya.


"Beruntung sekali, tak ada pembuluh darah di kepala yang pecah, hingga Mama anda hanya mengalami stroke ringan saja."


"Penyebab mama anda seperti ini karena dia memaksa otak untuk berfikir keras, dan melupakan makan tiga kali sehari. jadi dua hal itu membuat kondisinya drob dan lemah."


"Syukurlah mama dilindungi Tuhan." Andini menengadahkan tangannya berucap syukur.


"Baiklah saya permisi dokter Andini. Tuan Arsena." Dokter Vano menyalami pemilik RS dengan santun lalu keluar.


"Ars, sebaiknya ajak makan Papa dan yang lainnya. Aku akan suapin Nama dulu"


"Tapi sayang, kamu juga harus makan."


"Kan bisa nanti belakangan, disuapin sama suami aku."


Baiklah, mari Pa, kita sarapan dulu." Arsena yang tak biasa sarapan telat segera menuju ruang khusus untuk makan disusul dengan semua anggota.


Andini memilih menemani mama, sambil sesekali menyuapi bubur sum sum dengan segenap perhatian yang ia miliki. Andini segela mengelap bibir Mama dengan tisu jika ada bubur yang belepotan.


"Sudah Andini, mama sudah kenyang, mama tak ingin apa-apa lagi selain pulang. Jika kalian tinggal lagi di rumah besar. Mama akan cepat sembuh." Kata Rena membeo.


"Jika Mama tak mau makan, sembuhnya akan lama. Ayo sedikit lagi Ma."


"Baiklah Andini, mama akan habiskan, ini demi ucapan maaf mama pada cucu.


Andini mengulurkan satu sendok lagi makanan lunak itu ke dalam bibir Mama.


"Makasi Andini. Kamu tetap baik, walau selama ini mama sudah jahat sama kamu."


" Mama sebenarnya tidak jahat, mama hanya khilaf saja." ujar Andini masih mencoba membujuk Mama agar mau makan lebih banyak.


 


Di taman belakang rumah sakit, ada dua insan berdiri menatap kearah lampu yang temaram.


"Zara, aku pengen bicara sesuatu sama kamu."


"Bilang aja, Kak?"


" Kalau belum punya pacar, kamu mau nggak jadi pacar aku?"


"Kak, Davit jangan bercanda kakak pasti sudah punya pacar di kampungnya. Cowok setampan Kak Davit nggak mungkin nggak punya pacar."


"Kalau memang nggak punya pacar? Apa Zara mau jadi pacar kakak?"


"Zara belum bisa jawab sekarang Kak, Zara butuh waktu."


"Baiklah aku tunggu jawabannya, sampai Zara siap."


"Makasi pengertiannya Kak."


Davit mengangguk." Zara, aku akan menunggu, sampai kau menemukan jawabannya. Jangan pernah anggap itu sebuah beban." Davit menepuk pundak Zara lalu pergi bergabung dengan para pria yang sedang sarapan.

__ADS_1


__ADS_2