
Malam semakin larut, lilin lilin berkerlipan di tengah kolam, tinggal beberapa senti lagi.
Arini dan Davit belum bisa tidur, begitu pula Arsena dan Andini.
Davit yang tak pernah mana ku alkohol sama sekali tentu reaksi tubuhnya sangat berlebihan.
"Sayang, tubuhku terasa panas, aku kepanasan. Tolong ambilkan air."
"air!" Arini berlari mengambil teko. "ini airnya Kak cepet minum. kak Davit kenapa bisa seperti ini? Kak Arsen biasa biasa saja jika minum sedikit anggur dari negara asing itu."
"Kakak Sena sudah biasa sedangkan aku enggak pernah. tolong buka bajuku saja, Sayang."
"Oke baiklah." Arini membantu membuka hem Davit yang sudah basah oleh keringat, hingga mencetak pahatan kokoh di dadanya.
"Sudah Kak." Arini ikut panik, sedangkan pandangan Davit mulai diliputi nafsu.
Arini mengecilkan AC hingga suhunya tinggal dua puluh derajat, tetapi sama saja, Davit tak kunjung tenang.
Arini duduk di pinggir ranjang, dia melihat suaminya yang masih terus mengalirkan keringat dingin dari sela sela pori-pori nya.
Davit dengan sigap menarik Arini ke dalam pelukannya, otomatis Arini tengkurap di dada Davit. "Kaaak."
Arini terkejut dengan tingkah Davit yang terlalu buru buru. Tapi tak ada kesempatan menghindar, Davit mengecupi bibirnya dengan rakus tanpa memberi kesempatan Arini untuk bernafas. "Aku akan kehabisan oksigen jika terus seperti ini, Kak."
Davit segera memiringkan tubuhnya hingga tubuh Arini terjatuh kesamping. Setelah itu Davit menindih tubuh Arini dan mulai memangsanya dengan ganas.
Arini dan Davit lupa dengan gurami bakar yang telah menunggunya, semalaman dia hanya bermain kuda kuda'an hingga tubuhnya kelelahan.
Arini berulang kali mengeluh kalau dia sudah tak mampu lagi melanjutkan permainan, tapi Davit yang tak bisa mengendalikan diri terus saja memohon dan merengek seperti bayi.
Sedangkan Arsena dan Andini hanya melakukan satu kali saja setelah itu dia tidur nyanyak.
Pukul tujuh pagi semua anggota keluarga belum ada yang bangun, Andini dan Arsena sengaja cuti sedangkan Davit dan Arini kesiangan.
Bibi duduk termenung di meja makan memikirkan hidangan di meja tak ada yang menyentuhnya sama sekali, diam diam bibi jadi rindu tuan Turki dan juga Miko yang selalu berkumpul dimeja makan tepat waktu.
****
Tring! tring! ponsel Arsena bergetar.
"Ars, bangun ponselnya berdering."Andini mengucek matanya yang masih ngantuk tubuhnya polos hanya sehelai selimut satu satunya pelindung saat ini. Dia beranjak dari ranjang sambil menggunakan selimut warna putih dan empuk untuk menutupi tubuh polosnya.
"Hallo ..."
"Maaf, apa benar ini ponsel milik Tuan Arsena." Suara seorang wanita muda dari seberang, pagi-pagi sudah menelepon membuat Andini spot jantung.
"Anda siapa dan darimana?"
"Maaf, saya hanya berkepentingan dengan Tuan Arsena, jadi Tolong berikan saja pada dia."
Andini sudah dag dig dug dengan siapa gerangan penelepon di seberang itu. Kenapa Sepertinya dia tidak mau memberikan informasi sedikitpun pada dirinya.
"Istrinya sedang sakit, dia terus manggil manggil nama suaminya."
"Istri!" Andini terhenyak kaget, ponsel di genggaman tangannya runtuh di pangkuannya.
"Hallo! Hallo! Hallo!"
Jemari Andini gemetar, pikirannya berkelana, "Istri" istrinya selama ini hanya doa, bagaimana bisa ada wanita lain menyebut kalau istrinya sedang sakit.
Andini meraih ponsel bergambar apel di bagian belakangnya itu. "Iya hallo? Saya masih mendengarnya."
"Anda pasti asistennya, Maaf mungkin anda istri keduanya seorang asisten tak mungkin berani memegang HP majikan nya. Begini Nona, istri Tuan Arsena sedang sakit, semakin hari sakitnya semakin parah, biasanya tuan Arsena sering kali mengunjungi, dua hari ini dia tak lagi datang."
'Arsena selalu mengunjungi wanita itu, hingga penelepon tadi mengenalinya sebagai suami, tetapi kenapa tak pernah cerita padaku, apakah Arsena mencintai wanita itu, apakah dia Lili.'
"Baiklah, akan aku sampaikan,"
Arsena yang merasakan udara di kamarnya terasa panas dia segera bangun, cara Andini membangunkannya sangat ampuh, pria itu tak akan betah tidur lama lama kalau tanpa AC.
Arsena mengerjabkan matanya, tubuhnya begitu segar setelah hasrat yang terpendam tersalurkan dengan begitu hangat semalam.
__ADS_1
"Pagi Honey!" Arsena tersenyum bahagia mendapati istrinya masih polos hanya berbalut selimut. Pikiran mesumnya untuk minta nambah lagi seperti yang semalam kembali terlintas.
Andini hanya diam, dia abaikan sapa sayang dari suaminya.
Arsena tersenyum menggoda, meremas bukit menjulang yang belum sempat memakai pelindung itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Andini menepis tangan Arsena dan menyingkirkan kasar. "Aku benci pria yang tak jujur." Andini berkata dengan suara berat.
"Hei Sayang ada apa pagi pagi kok dah marah!"
"Ada telepon dari wanitamu."
"Wanitaku kan cuma kamu, ada-ada aja deh pagi-pagi. Padahal baru aja mau nambah udah waaaaa, galak banget." Arsena menirukan suata singa.
"Aku galak?" Andini melotot Kamu yang nggak jujur."
Andini dilanda cemburu, karena Arsena begitu perhatian pada Lili.
"Sejak kapan kau selalu menemui Lili tanpa sepengetahuanku? Sering?" Tanya Andini dengan tatpan tajam.
"Sayang kamu cemburu bukan pada orang yang tepat"
"Kenapa? Karena dia kelasihmu aku nggak boleh cemburu begitu?"
"Aku melakukannya karena rasa simpati dan kemanusiaan itu saja."
Iya bagus, simpati, apa cinta mati?" Kenapa hanya Lili? Masih banyak mereka yang terkena gangguan mental, kenapa tidak kamu kunjungi semua saja, kasih perhatian kenapa hanya Lili?"
"Sayang kau nggak boleh cemburu sama dia."
"Boleh, aku boleh cemburu karena suamiku setiap hari mengunjungi mantan kekasihnya, dan dia sama sekali tak pernah bilang padaku, alasannya lembur, hari minggu lembur, ketemu clien. kalo ditanya kenapa pulang telat? Jawabnya ada meeting penting."
"Sayang kamu cemburu pada orang yang salah." ujar Arsena.
Andini tak mau mendengar apapun lagi dari Arsena, Andini segera menempati kamar lamanya dia mandi dan berdandan lalu berangkat kerja, dengan buru buru.
Untung Arsena selesai mandi dan berseragam kantor lebih dulu, dia masih bisa menahan Andini dengan memerintahkan penjaga untuk mengunci gerbang keluar.
"Maaf Nona."
"Pak saya mau kerja, anda tahu saya harus bekerja tepat waktu. Jika Anda terus menghalangi saya seperti ini, anda akan mendapat dosanya. Jika dari perbuatan Anda ini ada nyawa orang yang melayang yang seharusnya bisa disembuhkan."
"Maaf Nona, Anda tahu gimana titah Tuan Arsena, saya tak berani melawan kata katanya. Jika itu terjadi bisa dipastikan saya akan kehilangan pekerjaan." Pak Karman sama keras kepalanya dengan Andini, hingga adu mulut terjadi beberapa menit. Begitulah Arsena dia tak akan melepaskan Andini selama dia masih marah. Apapun dia lakukan termasuk menghubungi rumah sakit tempat dia bekerja dan memastikan bertanya langsung pada dokter pengganti, kalau sedang tak ada pasien yang mengalami sakit serius.
"Percuma Sayang. Saat sedang marah, keluar rumah ini justru makin sulit." Arsena di belakang dengan gaya seorang pemilik tubuh kekar nan berotot, tersenyum devil.
"Andini diam tak tertarik untuk menoleh, dia melipat tangannya di dada."
"Aku nggak mau dicemburui, jika aku nggak salah."
" Jadi Nona ini cemburu?" Bisik Pak Karman di dekat Andini.
Andini hanya tersenyum tipis, kesal dengan penjaga rumah yang tak mau membukakan pintu.
" Mulai sekarang kita bukan teman lagi Pak, kau lebih membela tuan anda ini daripada saya."
" Saya kan sudah minta maaf Non. Anda tahu sendiri saya butuh kerjaan ini, kalau dipecat saiya yang rugiii non."
" Iya juga sih Mang, yang harusnya satu satunya buat saya marah harusnya tuan anda yang sombong sekaligus pembohong ini."
"Betull." Pak Karman menunjukkan jempolnya
" Apaaa?" Arsena tak terima.
"Ars, ayo buka pintunya, aku mau kerja. Aku akan di anggap dokter nggak profesional Jika kamu mengurungku seperti ini. Jangan gila, aku ada jadwal praktek hari ini."
"Praktik? Baru saja aku telepon ke rumah sakit tapi nggak ada jadwal operasi."
'Sial, kenapa dia selalu berfikir satu langkah lebih cerdik dari aku. Aku cuma ingin pergi mengunjungi Lili dan Ken sebelum tiba dirumah sakit. Aku juga rindu Rara, dia pasti sudah bisa berbicara. Excello selalu sibuk jalan jalan dengan Mama dan Papa."
"Apa keputusan kamu sayang, marah pergi kabur? Tidak bisa satu satunya cuma berdamai dan tidak cemburu lagi." Arsena Andini dan meraih pergelangan tangannya.
__ADS_1
Andini menurut jika Arsena sudah bersikap demikian tidak ada pilihan lain selain hanya ikut dengan dirinya dan menurunkan egonya.
Arsena menarik Andini masuk kedalam mobil, dia akan menjelaskan semuanya di mobil nanti. Arsena segera memakaikan Andini sabuk pengaman lalu menutup pintu dengan pelan. Arsenal segera berputar menuju kemudi. Dia nyalakan mesin dan Pak Karman segera membukakan pintu.
Andini semakin kesal menyaksikan pemandangan yang ada di depannya, dirinya sungguh tak punya kekuasaan apa-apa dibandingkan dengan Arsena di Mansion ini.
"Mau dijelasin, atau mau cemberut seperti itu sampai lebaran" Arsena mengemudikan mobilnya dengan hati-hati walaupun dia sesekali masih sempat menoleh kepada istrinya.
Andini diam, dia tak perduli lagi, yang jelas dia kecewa Arsena tak jujur setiap hari telah mengunjungi wanita yang notabenenya menjadi mantan kekasihnya itu.
Melihat Andini yang selalu diam Arsenal akhirnya membuka percakapan terlebih dahulu. "Kata orang sih, kalau istri suka cemburu itu dia sayang banget pada suaminya. Ternyata benar juga."
Andini masih diam, saat marah dia memang betah sekali diam, sudah karakternya sejak lahir seperti itu, tapi justru diamnya itu membuat orang yang bersangkutan menjadi tak sabar untuk mengganggunya.
Timbul Arsena ingin iseng, dia memencet hidung Andini yang runcing. Wanita berseragam dokter muslimah itu menepis tangan Arsen.
"Wah ngambeknya lama banget sih, padahal kalau senyum itu bikin aku nggak bisa tidur Lo"
"Lebih baik nggak usah senyum, biar tidurnya nyenyak." Andini mau membuka suara meski bernada ketus.
"Ya nggak gitu juga, kalau lihat senyumnya jadi kebayang cantik wajahnya istriku ini. Nggak bisa tidur karena pengen lagi dan lagi." Arsena mendekat bibirnya di telinga Andini. Senyumnya yang nakal sudah menjadi ciri khas.
"Gombal." Andini melengos
"Enggak ada gombalan, semua serius."
"Tauk'ah, aku capek, mau turun."Andini hendak beranjak. Dia sudah berhasil membuka selt belt.
Arsena menahan lengan Andini yang hendak membuka pintu mobil. "Pintunya aku kunci, jadi nggak bisa turun."
Manusia apa bukan sih, kenapa suka banget ganggu orang lagi marah? Bisa nggak lepasin aku, biar aku tenang dan aku akan berfikir dengan jernih." Andini terlihat makin kesal dengan kelakuan Arsena.
Oke oke, nanti aku buka kuncinya, tapi cium aku dulu. Biasanya juga cium, pipi, bibir, kening hidung, masa hari ini nggak."
Andini menarik nafas dalam berusaha menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.
Karena gemas dia mencubit dada Arsena yang menyembul dari balik hemnya. "Ogah." Andini menatap sekilas, segera berpaling kembali.
"Ya sudah, kita sini saja, sampai tumbuh jamur."
" Ars!"
" Hubby, biasanya juga panggil hubby." Arsena tak mau lagi dipanggil nama saja.
" Ars!"
"Hubby. I love you." Arsena mengajari Andini sambil tersenyum nakal.
"Andini menyenderkan tubuhnya di jok, kali ini dia tak mau mengalah hanya, dia sudah terlalu sering mengalah karena tak tik suaminya yang suka memakai kekuasaan seperti ini.
"Gue sayang sama kamu, Ars, aku nggak bisa jauh darimu. Gimana sayang, aku pengen banget kamu bilang begitu ke aku, pasti hati ini rasanya akan adem."
Andini setuju dengan rencana Arsena. "Oke, aku akan turuti semua kata kata kamu, Sayangku, My hubby." Andini tersenyum manis sekali.
"Tapi deketan sini dong," pinta Andini.
"Okey." Arsena menarik Andini ke pangkuannya dengan penuh percaya diri
Andini mulai mendekatkan bibirnya di telinga Arsena. "Suamiku, Aku ...."
"Akhh!!" Arsena memekik kesakitan, Andini menggigit telinganya. Begitu gigitannya terlepas, Arsena segera menangkupkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan ganas tanpa memberi ampun.
Arsena menangkupkan kedua tangannya di dagu Andini dan menariknya maju ke depan. Pria itu tak memberi ampun istrinya yang sengaja mengerjainya. Dia menggigit bibir Andini atas dan bawah bergantian, masukkan lidahnya hingga membelit lidah Andini pertukaran Saliva tak terelakkan lagi. Arsena segera menaikkan kaca gelap dengan remote, hingga aktifitasnya di dalam mobil tak dapat dilihat lagi oleh orang yang ada di luar.
"Ars, lepas, akhhh." Andini merintih saat dua bukit kembarnya mendapatkan perlakuan secara intensif. Kedua tangan Arsena tak berhenti memanjakan miliknya itu.
"Oke, oke, ampuuun, aku minta maaf." Suara Andini disertai dengan rintihan manja.
"Nggak ada ampun untuk kali ini, Sayang." Arsena membuka dua kancing baju Andini dan menurunkan cup yang melindungi dada. Bibirnya menyusup dari sela sela baju dan lidahnya mulai memberi sentuhan halus di puncak cheri yang merah.
Andini tak bisa marah jika Arsena sudah seperti ini, Dia sudah sekuat tenaga memberontak. Namun hanya rasa malu yang didapat. Tubuh Andini tak benar benar menolak, titik sensitifnya mulai basah dan berdenyut meminta perlakuan lebih.
__ADS_1