
Mert sesekali mendongakkan kepalanya demi bisa melihat Zara. Memastikan apakah wanita itu sudah tidur atau belum.
"Zara tidurlah. Sudah malam" Ketika Mert mendapati Zara masih memainkan gawainya hanya sekedar membalas pesan WA dari kawan kawan yang siangnya hadir di pernikahan Zara.
"Iya," jawab Zara singkat.
Zara menurut, ia menaruh ponselnya di bantal yang ada disebelahnya, tempat yang seharusnya menjadi tempat menyandarkan kepala Mert.
Tak lama Zara pun lelap, dia memeluk guling dengan menghadap ke arah membelakangi Mert.
Mert yang tak pernah merasakan tidur sekamar dengan seorang wanita kini tubuhnya menjadi panas dingin dan gelisah. Malam itu teringat kembali dimana dia merasakan hangatnya tubuh Zara dan lembutnya bibir merah yang akhir-akhir ini tak pernah tersenyum.
Untuk menghilangkan rasa gelisah yang tak akan hilang semalaman, Mert keluar kamar ia mengunci Zara sendiri di kamar.
Mert dikejutkan oleh mertua laki-lakinya yang ternyata dia juga belum tidur.
"Kalau belum ngantuk sini sama Bapak, lihat TV," ujar Ali sambil menggeser tubuh, memberikan ruang duduk disebelahnya.
Mert mendekat dan duduk di sebelah mertua. Mereka akhirnya berbicara panjang lebar, awalnya menceritakan Zara yang cengeng, dan lama-lama fokus pada sepak bola antar negara yang sedang ia tonton.
"Mert. Ibuk, sudah tidur, kalau mau kopi biar bapak yang bikinkan."
"Nggak Pak, makasi, nanti Mert buat sendiri saja."
"Pak apakah Zara akan memaafkan saya? awalnya saya yakin dia sayang sama saya, tapi setelah kejadian tadi, saya rasa Zara tak pernah menginginkan saya ada bersamanya."
"Memang, apa yang dia lakukan Zara tadi keterlaluan, Jika bapak diposisi kamu mungkin bapak akan lebih terpukul lagi," ujar bapak berusaha membuat Mert lebih tegar.
"jangan sedih, rumah tangga tak akan asyik tanpa ada coba'an.'
"Oh, iya. Bak, lupakan apa yang baru saja saya katakan."
"Nak, Jika kamu tulus, Zara juga akan luluh, jodoh itu sudah diatur.
"Walaupun dihati Zara masih ada pria lain, tapi Bapak melihat dia juga sayang sama kamu. Akhiri hubungan masa lalu jika masih tersisa dan mantapkan untuk satu hati, percayalah rumah tangga kalian nantinya akan kokoh.
Mert dan Ali akhirnya bercerita panjang lebar. Sedangkan Zara yang sendiri di kamar ia tiba-tiba terbangun.
Zara yang tak lagi melihat Mert tidur di kasur lantai. Ia segera bangkit dari tidurnya. "Tuan Mert."
Zara khawatir kalau terjadi apa-apa pada Mert. Karena sebelumnya pria itu tak pernah tidur di lantai.
Zara bergegas turun, ia kembali menyalakan lampu utama.
"Cekleck." Zara membuka pintu dengan wajah tegang.
__ADS_1
Dua pria yang ada di depan TV menoleh bersamaan.
Melihat Mert bersama Bapaknya, wajah Zara seketika terlihat lega.
"Tumben bangun tengah malam, Nak. Mencari suami kamu, ya?" Ali menggoda putrinya.
Zara tak menjawab wajahnya bersemu merah karena malu. Dia langsung menutup pintu kamarnya lagi dan betsembunyi dibaliknya.
"Nak kalau nggak bisa tidur, buatkan suami kamu kopi dulu baru tidurlah lagi." Ali memanggil Zara yang baru saja kembali menutup pintu. Pria itu yakin Zara belum tidur lagi.
Zara bingung ketika bapaknya memanggil. Ia malu harus menatap wajah suaminya, terlebih lagi saat ketahuan mengkhawatirkan pria jagat tadi. Zara ingin pura-pura tidur tapi manusia mana yang akan nenpercayai?
Zara tak punya pilihan, pelan-pelan ia melangkahkan kakinya menuju dapur, membuat kopi di tengah malam seperti ini membuat Mert khawatir. Ia khawatir kalau saat menyeduh kopi malah tangannya yang disiram.
"Pak, saya kedapur dulu."
"Ya, silahkan." Ali mengizinkan Mert ke dapur.
Zara terlihat melamun saat menunggu airnya mendidih.
"Hey sayang!" Kehadiran Mert membuat Zara terkejut.
"Kak!" Zara menghentikan ucapannya. Menutup mulutnya yang membulat. Zara baru saja keceplosan.
"Maaf." Zara menundukkan wajahnya.
Mert mendekati Zara, "Kenapa harus minta maaf?" Mert menyentuh dagu Zara membuat wajah istrinya mendongak keatas. Tepat menatap manik mata biru milik Mert.
"Zara, walau bangun tidur kau tetap cantik," puji Mert.
" Tuan ...." Zara memalingkan wajahnya.
" Aku suamimu Zara, panggil aku yang lainnya saja, siapa tadi, Kakak?"
"Maaf aku belum terbiasa me manggil Tuan dengan nama lain, bahkan aku juga belum siapkan panggilan yang tepat."
"Lalu yang kau panggil kakak tadi?"
" Aku sedang memikirkan orang lain."
Mert hanya tersenyum, membelai rambut istrinya. Mert sepertinya ingin sekali memberi kecupan hangat di bibir merahnya Zara. Walau di ulu hatinya terasa begitu nyeri mendengar pengakuan Zara.
"Aku ke sini pengen buat kopi, istirahat saja, jangan khawatirkan aku, nanti aku nyusul." Mert tersenyum.
"Lagian saya baik baik saja. Biar saya saja."
__ADS_1
" Zara, aku mengkhawatirkan kesehatanmu, tolong sekali ini saja turuti aku." Mert terlihat memelas, karena Zara keras kepala.
Zara menurut, dia neninggalkan Mert sendirian di dapur. Mert mengamati leher jenjang Zara yang begitu putih. Rambutnya hitam legam terurai. Mert terkesima.
Mert biasanya melihat Zara yang selalu memakai baju gamis dan jilbab, kini Mert bisa melihat istrinya tanpa memakai baju tertutup itu lagi.
Ada perasaan yang semakin membuat dirinya terpikat, mungkin leher seputih susu itu tadi yang membuat Mert hanya bengong senyaksikan kepergian Zara.
Mert kembali menyusul mertuanya sambil membawa dua gelas cangkir putih berisi kopi hitam.
"Lho ... tadi bapak suruh Zara, kok jadi Nak Mert bikin sendiri."
"Iya, tadi Zara sudah meracik takaran gula dan kopinya, saya tinggal menuang air saja, Pak." Jelas Mert yang kembali duduk ditempatnya.
Mereka berdua kembali menyaksikan acara sepakbola antar negara yang sementara ini skor kemenangan masih kosong kosong sama.
Zara yang dikamar mulai gelisah, Mert belum juga masuk untuk istirahat. Padahal besok dia harus balik ke Surabaya.
Karena Miko juga baru pulang dari honey moon, jadi kehadiran Mert sangat ditunggu oleh Miko.
Lama menunggu akhirnya Zara memutuskan untuk duduk di kasur lantai sambil menyandarkan tubuhnya pada ranjang. Terlalu lama menunggu membuat ia tertifdur lagi dalam posisi duduk.
Mert dan bapak, mereka berdua sedang sibuk taruhan bola tanpa uang. Mereka sibuk memberi dukungan negara masing masing hingga tak sadar sudah hampir dini hari.
"Hoammm, ngantuk Mert. Bapak tidur dulu ya," ujar bapak lalu masuk ke kamar.
Setelah kepergian mertua laki lakinya, Mert juga mematikan televisi. Dia memutuskan untuk tidur di sofa. Daripada sekamar dengan Zara yang hanya membuat adeknya bangun dan merana sepanjang malam.
Memaksa Zara juga tak mungkin. Mert sudah berjanji dia tak ingin memaksakan kehendaknya lagi. Zara terlihat sangat trauma khawatir dia akan menyakitinya lagi. Sudah cukup satu kali Mert bertindak bodoh, kejadian itu semakin membuat dirinya lebih hati-hati lagi dalam menghadapi Zara.
Mert juga telah berjanji dengan hati nuraninya sendiri, dia tak akan menyentuh Zara sebelum bayangan Davit benar benar pergi dan menjauh dari masalalu Zara.
Di sofa Mert bisa tidur lumayan nyenyak walau hanya sekitar satu jam. Tiba tiba sebuah mimmpi membuatnya terbangun. Mert memutuskan untuk kembali ke kamar.
Mert membuka pintu kamar Zara dengan pelan sekali, takut tidur Zara akan terganggu.
Mert terkejut melihat Zara tertidur dilantai sambil duduk bersandar dengan ranjang.
"Zara, kenapa kau tidur sambil duduk seperti ini," Mert dengan hati-hati mengangkat tubuh Zara ke ranjang.
Usai membenarkan tubuh Zara. Mert memperhatikan istrinya yang begitu lelap.
Setelah puas memandang. Mert menarik selimut yang ada dikaki Zara hingga sebatas perut.
__ADS_1