
"Papa, lihat sendiri kan? Arsena sudah menjemput gadis kampung itu. Tapi lihat gayanya sudah seperti Nona besar saja. Dia memilih tinggal di kontrakan kumuh itu." Kata Rena saat sedang duduk di ruang keluarga bersama Arsena dan Johan.
Mereka tau kalau Arsena dan Doni menjemput Andini, karena bi Um yang memberi tahu.
"Ars, apa kamu tadi sudah serius ngajakin dia kembali?" Johan bertanya. Ia ingin tau alasan apa yang membuat Andini tak mau kembali.
"Papa bisa tanya sama Doni, Andini memang tak mau lagi tinggal di rumah ini."
"Ars ... Ars, menaklukkan wanita seperti Andini saja kamu tak bisa," ledek Johan sengaja memancing emosi Arsena.
"Bukan tak bisa, Pa. Tapi Arsena lagi malas, Lagian Arsena nggak cinta sama gadis berasal dari kampung pilihan papa itu."
Johan tau kalau putranya sedang berbohong, Johan bisa melihat dari gelagat Arsena dan tatapan matanya, sebenarnya ia sudah mulai memiliki rasa terhadap Andini, Arsena saja yang selalu memungkiri perasaannya.
Tadi sebenarnya Arsena ingin memaksa Andini balik ke rumah. Namun gengsinya masih selangit. Hingga ia memilih memerintahkan Doni saja yang membujuk Andini.
Doni yang mendengar pun ikut jengkel.
Sudah ada perasaan masih saja malu mengakui.
"Ars, sudahlah nggak usah dipikir Si Andini itu. Mending kamu urusin saja hubungan kalian dengan Lili. Cepat menikah, kalian pasangan yang cocok. Mama juga sudah pengen punya cucu." Kata Rena memprovokasi.
Johan tak terima Rena berkata demikian. "Tidak bisa. Andini masih sah istri Arsena. Arsena tidak bisa menikah lagi tanpa izin Andini."
"Kenapa nggak bisa? Papa dulu juga nikah lagi, tanpa izin dari Mama?" Kata Mita mengutar balikkan fakta.
Kalau sudah menyangkut yang dulu mereka pasti akan berdebat semalaman. Arsena malas menjadi pendengar jika sudah seperti itu.
"Sudahlah, Arsena ke kamar dulu mau tidur, Pa." Arsena meninggalkan Papa dan Mama.
"Eh kemana tu anak? Bicara belum selesai udah kabur aja."
"Itu karena Mama ngasih sarannya nggak benar, Arsena jadi malas dengarnya." Jawab Johan sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara dan sesekali menghisap rokok di tangannya.
Arsena yang di kamar, ia susah memejamkan matanya. Ia mulai terbiasa ada Andini yang menyiapkan semuanya sebelum tidur dan bangun tidur "
Arsena membolak balikkan tubuhnya, mencari posisi yang paling enak, miring ke kanan, ke kiri bahkan mencoba tengkurap.
"Arggg, Why Did you go? When i used to have you by my side. Andini" kesal dan hanya kesal yang ia rasa sekarang.
Bip ... Bip ... Bip ...
Telepon Arsena terus berdering saat ia sedang tenggelam dalam lamunan.
Masih dalam mode susah tidur, ia sedang terlentang diatas ranjang, menautkan kedua telapaknya menjadikan sandaran kepala.
"Andini akhirnya kamu telepon juga, pasti kamu tak bisa tidur nyenyak di kontrakan sempit itu," kata Arsena. Perasaannya tiba-tiba senang.
Mendengar handphonenya terus bergetar di atas nakas ia segera menggeser tubuhnya dan meraih benda pipih itu.
"Hallo Sayang. Besok jemput aku ya? Aku mau berangkat kekantor barengan sama kamu." Suara orang di seberang. Orang yang pernah menjadi nomor satu
"Emang mobil kamu kemana? Rusak?"
"Sayang kamu kok gitu sih, kamu nggak kangen ya sama aku."
.......
"Kok diam sih? Sayang! Kamu setuju kan?"
"Iya."jawab Arsena pendek. Lalu menutup teleponnya.
"Issh, Arsena kenapa jadi dingin gitu sama aku." Kata Lili kesal. Ia melempar ponselnya ke ranjang lalu rebahan sambil terus berfikir.
Menurut Lili Arsena makin banyak berubah, Pria itu tak lagi memeluknya erat dan mencium bibirnya, sentuhan kerinduan tak ada lagi, ketika baru saja pulang dari luar negeri.
Saat pulang tadi ia bahkan memilih mengejar Andini, kalau saja ia tak segera meraih lengannya tadi. pasti Arsena hanya akan memperdulikan Andini.
____________
Esok hari pukul lima Arsena terbangun. Ia mengerjabkan matanya berulang kali. Melihat ke atas meja masih kosong. Mood Arsena mulai buruk, bad, even very bad.
Tak menemukan roti bakar isi selai lagi. Susu dengan kombinasi suplemen juga tak ada.
"Andini !"
__ADS_1
"Andini !"
"Sarapanku mana?"
"Bentar Den ini bibi masih berjalan ke kamar Aden, maaf kalau agak terlambat. Soalnya Bibi tadi sekalian buatkan papa Aden sekalian. Kan nginep disini." Kata bibi sambil menaruh susunya di atas nakas sebelah ranjang.
bahkan yang menjawab bukan suara Andini.
Arsena segera menuang susu hangat di atas lepek lalu menyeruput susu buatan Bibi.
"Bahkan susu buatan bi Um saja rasanya berbeda dengan buatan Andini.
Arrggg.... Andiniii kamu sudah merusak semuanya. Kamu membuat hariku menjadi sangat buruk." Sesal Arsena.
Arsena mengacak acak rambunya kasar, lalu ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya, sebelum berangkat ke kantor.
Arsena kini memakai hem biru dan celana hitam, serta dasi warna hitam pula. Setelan baju yang pernah Andini siapkan untuknya. Entah kenapa saat memakai baju itu ia senang saja, serasa Andini yang memilihkan.
Selesai bercermin Arsena segera turun ke lantai bawah. Membawa tas dan laptop. Tak lupa jas yang jarang ia pakai pun tetap selalu dibawa, ia sampirkan lengannya.
Di lantai bawah ia sudah disambut oleh Mama dan Papa.
"Selamat pagi Ma, Pa."
"Selamat pagi sayang. Em putra Mama sudah tampan, wangi." Kata Rena menghirup aroma tubuh anaknya. "Pasti mau jemput Lili ya?" Rena mendekat pada putranya dan mengamati dari atas hingga bawah.
"Uhuk." Papa tersedak dengan kopinya. "Nggak mungkin Arsena pasti akan ke kontrakan, Andini. Iya kan, Ars"
"Yang jelas. Arsena akan ke kantor, Ma , Pa." Arsena pamit pada kedua orang tuanya. Mencium pipi Rena kanan dan kiri.
Tak lupa Arsena juga memeluk Johan. "Arsena berangkat pa."
"Hati hati, Ars." Johan menepuk pundak Arsena. Ia benar-benar rajin hari ini . Bahkan tak ada yang mengingatkan Arsena untuk sarapan dulu.
________
Doni sudah menunggu Arsena di depan. Pria itu mengikuti majikannya, sepakat berangkat lebih pagi daripada biasanya.
"Pak Doni, tolong kamu jemput Lili di apartemennya. Katakan aku sedang sibuk dan kau menggantikan aku menjemput dia." Kata Arsena yang masuk ke mobil milik Doni. Sambil melempar kunci mobil kesayangannya pada Doni.
"Oh iya pak di mobil, ada banyak baju bekas yang masih layak pakai. Bapak bisa ambil." Doni dengan senang hati menerima baju bekas Arsena. Selain cuma dipakai beberapa kali saja, baju itu juga semuanya merk terkenal.
Doni segera berangkat ke apartement Lili membawa mobil yang biasa di pakai Arsena. Sedangkan Arsena memilih memakai mobil Doni. Doni tak lupa memakai salah satu hem pemberian Arsena. Karena pagi tadi ia sangat buru-buru hingga tak sempat mandi dulu, dan hanya memakai kaos oblong saja. Rencananya Doni akan mandi saat tiba di kantor nanti.
Arsena mengemudi mobilnya ke arah perumahan yang sudah di tempati Andini dua hari ini. Andini i,am coming.
Securiti yang jaga di lokasi perumahan sudah hafal dengan sang pemilik, ia memberi Izin Arsena keluar masuk tanpa perlu menunjukkan identitasnya dulu.
Sampai di depan kontrakan, Arsena segera turun dari mobil merapikan kerah Hem dan dasinya. Layaknya seorang pangeran ingin menemui pujaan hatinya.
Arsena mengetuk pintu berulang kali. Namun tak ada sahutan. Setelah ia menempelkan telinganya pada daun pintu, ia mendengar suara Andini sedang bernyanyi, dan sesekali terdengar suara Air yang ditumpahkan dari gayung. Tak salah lagi Andini pasti sedang mandi. Andini tak pernah sesenang ini saat tinggal di rumahnya
Arsena segera membuka pintu. Diam-diam ia juga sudah memiliki duplikatnya. Arsena kemaren sudah meminta pada pengurus kontrakan, agar memberi satu kunci khusus rumah yang ditinggali oleh Andini.
Pemilik kontrakan tak keberatan, Arsena mengatakan kalau Andini memang istrinya. Buku nikah yang ia tunjukkan memperkuat ucapannya.
Arsena menyelinap masuk lalu mengunci pintu dari dalam.
Ia berjalan ke kamar sambil mengendap layaknya maling hendak mencuri ayam tetangga.
Andini yang sudah selesai mandi ia berjalan keluar kamar mandi dengan santai. Hanya memakai bathdrope yang jadi pelindung tubuhnya. Tak menyangka sudah ada makluk kasat mata menanti di kamar.
Andini mencari baju formal yang baru ia beli, ingin memakainya saat pertama kali bekerja. Membuka lemari dan mengeluarkan baju berwarna putih bersih lalu menaruh di ranjangnya.
Andini membuka bahtrobe yang melekat ditubuhnya. Tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran seorang yang tak di sangka kedatangannya. Memeluk dari belakang dengan tangan besarnya. Andini spontan berteriak dengan ketakutan yang luar biasa. ia berteriak sekencang mungkin yang kiranya tetengga bisa mendengar jelas suaranya.
"Tolong !!"
"Tolong !!"
"Andini Diam ! ini aku." Arsena berusaha membekap bibir Andini namun gagal.
"Arsena, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Andini masih dengan wajah ketakutan.
"Toloong!'
"Hap!" Arsena membekap mulut Andini. Menarik ke pelukannya agar berhenti meronta. Dengan tenaga super yang dimiliki, Arsena bisa dengan mudah mendorong Andini ke dinding.
__ADS_1
Andini sebisanya menutup kembali tubuhnya dengan bathdrope yang sudah ia lepas setengahnya tadi.
"Apa kamu ingin orang-orang datang kesini? Nanti mereka pasti akan mengira aku ngapa-ngapain kamu."
"Le-lepas Ars, kamu memang telah masuk rumah orang tanpa permisi, kamu seperti maling." Kata Andini yang masih berusaha mengatasi keterkejutannya.
"Maling?" Arsena tertawa. "Ini rumah istriku."
"Keluar Ars, atau aku akan teriak lagi." Kata Andini tak mau tahu.
"Berteriak lah sepuasmu, aku tak akan keluar, pagi ini aku ingin bersamamu." Kata Arsena dengan senyum smirk. Lalu menarik Andini dan merebahkan diri berdua di ranjang.
"Ars, tolong lepaskan aku, jangan ganggu aku lagi, aku sudah pergi darimu, kamu bisa kembali dengan kekasihmu itu kan?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu akan tinggal disini bersama, Miko?"
"Cukup Ars, sampai kapan kau terus berprasangka aku dan Miko ada hubungan. Sampai kapan?" Andini mulai lelah menjelaskan, ia bangkit dari ranjang pergi dari kamar lalu duduk di sofa ruang tamu. Tak mau menjadi pelampiasan lagi, Andini masih trauma.
Arsena melihat Andini dari balik tirai kamar. Melihat Andini bersedih , ada rasa tak tega. Ia begitu membenci wanita menangis. Karena tangisan wanita menurutnya hanya akan meluluhkan pendiriannya.
Tok ... tok ....
Andini membuka pintu
"Nona tak apa apa?" Tanya bapak penghuni kontrakan sebelah yang berdatangan mendengar teriakan Andini. Sambil celingukan menelisik kedalam. "Apa pria itu yang mengganggu Nona?"
"Em, maaf pak kalau suara saya tadi mengagetkan, Bapak-bapak semua"
"Jangan takut Nona, kita satu kontrakan, sama saja satu keluarga. Kalau Nona merasa tak aman, atau ada yang mencoba berbuat jahat pada anda, jangan segan segan panggil kami." Kata Sang Bapak, sambil terus memandangi Arsena yang kebetulan keberadaannya bisa ia lihat dari luar.
Arsena akhirnya ikut mendekat, menjelaskan pada warga perumahan." Dia istri saya."
"Benar Nona dia suami Anda? Lalu kenapa tadi istri anda berteriak minta tolong. Nona katakan kalau anda tak sedang dalam tekanan pria ini."
"Iya pak, dia suami saya."
Kata Andini diperkuat dengan anggukan kepalanya.
Bapak bapak akhirnya bubar dengan sedikit kecewa. Andijibtak mau terus terang, sedangkan Ia melihat ketidak jujuran dimata Andini.
Setelah bapak-bapak pergi, Andini kembali duduk di sofa ruang tamu. Arsena mendekati Andini, duduk disampingnya sambil mengelus rambutnya."Andini jadi kamu sama Miko tak ada hubungan istimewa."
Andini menggeleng. "Miko selalu ada saat aku butuhkan. Kami bertemu saat kau menurunkanku di pertigaan lampu merah dulu."
"Di hari-hari berikutnya kami sering bertemu. Miko membelikan aku motor agar aku tak terlambat lagi. Dan dia menolongku saat Devan ingin menodaiku di malam itu. Aku menghubungimu, berharap kamu yang datang. Tapi ... Andini kini menangis tergugu."
"Devan ?"
Andini mengangguk.
Arsena diam mendengar pengakuan istrinya. Ternyata selama ini dia selalu salah paham. Ketika selalu mengabaikan Istrinya, Miko justru selalu hadir untuk memberinya perhatian.
Devan sungguh dia seorang penjilat yang ulung, memutar balikkan fakta, berani mencoba menodai Andini.
Dada Arsena bergemuruh, ingin segera merobek mulut Devan, membatalkan kerja sama yang telah terjalin. Namun Bukan Arsena kalau ia memberi hukuman ringan, dan berakhir begitu saja.
Tangan Arsena mengepal keras ingin meninjukan kemana saja . Matanya memerah. merasa bodoh, dan dibodohi. Karena ucapan Devan. Ia menyiksa Andini.
"Ars, pulanglah. Jangan ganggu aku. Biarkan aku terbiasa tanpamu." Andini berkata dengan derai air mata di pipinya.
"Andini, apa artinya kau suka saat bersamaku?"
Tidak, aku tidak suka saat bersamamu. Kau tau sendiri kan. Aku menikahimu karena uang, sekarang tujuan utamaku sudah tercapai. Dan tak ada perjanjian diantara kita. Aku ingin pergi dan ceraikan saja aku.
Johan memang cerdik, dia tak mengikat dengan sebuah perjanjian yang tertulis saat menikahkan Andini dengan Arsena. Namun saat mereka memutuskan untuk berpisah. Pasti akan ada sisa cinta yang membuatnya berat untuk saling jauh.
"Pulanglah. Vanya sudah menjemputku!"
"Kamu akan berangkat bersamaku."
"Terima kasih, tapi aku akan ikut Vanya."
"Andini !"
"Maaf, kamu harus keluar. Aku akan mengunci pintunya dari dalam, aku akan siap-siap bekerja."
__ADS_1