Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 184. Perjuangan Arini.


__ADS_3

"Nona!" Davit mengejar Arini sambil berteriak memanggilnya hingga sampai di pintu depan.


"Arini!"


Langkah Davit terhenti ketika netranya menangkap bayangan tuan rumah menghentikan mobilnya di halaman. Davit khawatir Arsena akan menyadari semua yang terjadi. Buru-buru dia memundurkan tubuhnya. Davit juga melihat tubuh semampai Arini sudah hilang ditelan pintu mansion. Semoga saja majikannya tak mengerti yang telah terjadi antara dirinya dan adik kesayangannya.


" Sial, Kenapa jadi begini Nona. Aku nggak bermaksud buat menolak cinta Nona, tapi kakak ini sadar diri kakak hanyalah seorang sopir," gerutu Davit sambil meremas rambutnya frustasi lalu duduk di kursi ruang tamu.


Davit menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Seharusnya dia sangat senang perasaannya terbalas. Tapi sekarang dia malah gelisah tak karuan.


Davit mengambil segelas air minum yang ia tuang dari teko, lalu menegaknya hingga habis. Dia mulai menetralkan otaknya dan menata deru nafasnya yang sempat melampui kapasitas kerjanya.


Davit meraih ponselnya. Dia segera menghubungi Arini lewat telepon. Panggilan dari Davit tak kunjung terjawab. Davit mengulangi panggilannya lagi.


"Hallo, asalamualaikum, ada apa?" Suaranya terdengar serak.


" Nona maafkan aku. mengertilah ketidakberdayaan diriku." Suara Davit terdengar memelas.


" Iya, aku mengerti, aku bukan tipe kak Davit, anggap saja aku tadi salah bicara, atau bercanda, Lupakan saja." Arini menitikkan air mata tanpa disadari oleh Davit. Suaranya terdengar jauh berbeda. Tak seperti biasanya selalu ceria dan ketus.


"Nona aku besok sudah siap bekerja."


"Serius, kakak bukannya masih sakit?" Suara Arini terdengar keberatan.


"Iya, aku serius. Aku sudah pulih Nona. Semua berkat Nona juga yang mendoakan kesembuhanku," gombalan Davit.


"Baiklah, tapi saranku sebaiknya istirahatlah dulu. Aku tak ingin jika Kakak terlalu memaksakan diri."


"Tenanglah, Aku baik baik saja, Nona."


"Terserahlah, jika itu kemauan, Kakak."


"Oke, Nona. Aku ucapkan selamat sore, semoga nanti malam Nona akan mimpi indah." ujar Davit sedikit merayu.


"Iya semoga Kak Davit juga Mimpi indah. Asalamualaikum"


"Waalaikum salam." Davit memeluk ponsel sambil memejamkan matanya. Bayangan Arini yang cantik dan senyumnya yang akhir akhir ini ia gilai kembali terlintas.

__ADS_1


'Nona yakinkah kau dengan perasaanmu itu, aku rasa kau hanya berhutang budi padaku, dilihat dari segi apa coba? Kau bisa mencintaiku.' batin Davit.


Sedangkan di kamarnya, Arini kembali memikirkan tentang kata kata Davit. Wanita yang pandai masak adalah bonus dari Tuhan untuk kriteria wanita impiannya.


Arini segera menghampiri Andini yang sedang makan malam dengan Arsena. Akhir akhir ini keromantisan mereka kembali bisa dilihat oleh semua orang, mungkin karena sebentar lagi puasa panjang Arsena hampir usai. Baby Excel dan Cello sudah mendekati usia satu bulan setengah.


"Kak bolehkah aku pinjam Mbak Andini sebentar?"


"Kamu nggak lihat kakak baru pulang kerja, emang ada apa?" Jawab Arsena dengan nada ketus.


"Mau minta di ajarin masak."


"Apa? huaaahahaha ... " Arsena justru tertawa keras mendengar Arini ingin belajar memasak.


"Ars, kenapa sih, Adeknya mau belajar masak kok ditertawain seperti itu. Emang ada yang salah. Arini kan cewek dia harus pandai masak. Buktinya kamu sekarang senang dengan masakan buatanku."


"Tapi Arini mana bisa sayang? Seumur hidup dia itu nggak pernah menyentuh alat dapur. masak air aja mungkin juga akan gosong." Kata Arsena masih menahan tawanya.


Melihat kakak semata wayangnya tak memberi dukungan Arini jadi ambek-ambekan, lehernya mengembung, bibirnya manyun.


"Arini karena kakak kamu lagi mirip baby bear yang menjengkelkan. Pengen ditemani terus. Belajar masaknya sama Dara saja ya. Dia juga jago lho soal memasak."


"Kalau Mama pasti nggak mau bau bawang, alasannya takut Excel sama Cello nanti alergi. Padahal dia nggak mau jauh sama cucu kesayangannya itu." Kesal Arini.


"Ya sudah sama Oma saja. Pengen belajar masak apa sih?"


Oma ternyata sejak tadi mendengar rengekan Arini yang tak mendapat tanggapan serius dari Arsena.


Mendengar Oma bersedia mengajari memasak, Arini amat bahagia . "Benar Oma! Hore ... akhirnya Oma yang cantik ini mau mengajari Arini memasak. Nggak kayak kak Arsena, pelit." Arini menjulurkan lidahnya pada Arsena. Arsena gemas. Di menimpuki Arini dengan buah kelengkeng yang kebetulan tersaji di meja.


"Sudah sudah, kalian memang kalau bertemu seperti kucing dan tikus. Giliran Adek kamu menikah nanti, dan dibawa pergi sama suaminya. Jangan pernah mengeluh, kalau nanti bakal kangen."


" Nggak bakal Oma, mana ada cowok yang mau kalau dia sekarang aja baru mau belajar memasak, telat banget."


"Ars, kenapa sih? Ngeledek melulu, kalau Arini mau berubah yang positif mbok didukung. Biar dia makin semangat."


"Entahlah gemes sama dia, udah manja, gampang banget dibodohi sama cowok."

__ADS_1


"Sebelas dua belas lah sama kakaknya."


" Ngehina aku?" Arsena merasa tersindir.


"Nggak, tapi kalau ada yang merasa tersindir, terserahlah." Andini mengendikkan bahunya


Arsena yang baru akan mulai makan, kini menjadikan bibir istrinya sebagai menu pembuka.


"Umppph ... lepas, malu dilihat orang lain, Andini mendorong dada Arsena yang tak mau melepas pagutannya. Nafas Andini tersengal bibirnya dilahap tanpa sebuah komando oleh suaminya. Andini juga merasakan kalau Arsena sepertinya sudah tak bisa menahan gejolak yang sudah membara mengalahkan panasnya bara api itu.


Padahal Andini sudah sering membantunya mengeluarkan pasukannya lewat gang, hingga Arsena berhasil mencapai puncak kenikmatan. Tetapi entah kenapa, semua tak bisa mencetak sebuah kemenangan. Arsena tetap merindukan jalan yang semestinya yang tak pernah ia rasakan sebulan lebih itu.


"Yang, nanti malam jangan tidur di kamar anak anak ya? Kamar kita sudah di renovasi sama Mang Karman. Suasananya sudah fresh kembali. Kita akan mulai malam pertama kita." Arsena mengerlingkan matanya.


"Aku masih belum siap Ars." Andini ragu, atau lebih kesebuah rasa tidak percaya diri. Setelah melahirkan dua bayi kembarnya, Andini takut ada yang berubah pada dirinya.


"Nanti aku akan hati hati." Arsena menggenggam tangan istrinya. Menatapnya penuh cinta. " Aku sudah terlalu lama berpuasa. Lihatlah di dekatmu saja dia sudah meronta."


Arsena meremas juniornya yang membuat Andini bergidik ngeri. Jika puasa Arsena sudah selesai. Mau tidak mau dia harus menyenangkan junior nakal milik suaminya yang tak punya lelah itu. Kamar mereka setiap malam pasti akan kembali dihiasi oleh suara erangan dan rintihan yang membuat bulu kuduk berdiri. Namun Kamar Arsena dan Andini sudah dilengkapi oleh peredam yang tak mampu membocorkan suara suara aneh dari dalam kamar, bahkan sebuah teriakan sekalipun tak akan terdengar hingga luar ruangan .


Sreng!sreng! Suara sutil beradu dengan wajan. Aroma capcai tercium begitu menggugah selera perut yang lapar.


Arini dan Oma terlihat sibuk di depan dapur keramik berlapis kaca itu. Terutama Arini senyum tak henti hentinya terukir di bibir merahnya.


"Harum banget Oma." Arini mencium asap yang mengepul dari wajan.


"Ngomong ngomong Oma kok penasaran, tumben semangat belajar memasak. Apa Si Do'i ingin Arini pandai masak?"


"Omaaaa, apa'an sih, tentu ini keinginan Arini sendiri." Wajah Arini bersemu merah menahan malu.


"Oma sudah tau kok. Oma juga pernah muda Arini."


"Tapi Oma, bagaimana kalau Kak Davit tidak cinta sama Arini?"


"Masa sih Davit nggak suka sama Arini? Kurang apa coba cucu Oma ini, cantik sudah, belajar masak sudah ... Apa lagi coba?"


"Arini sudah terlanjur cinta, Oma," rengek nya manja.

__ADS_1


Oma tersenyum. "Berusaha dulu, belum berusaha sudah menyerah duluan" Oma menepuk pundak Andini lalu pergi ke kamarnya. Meninggalkan Arini sendiri di dapur. Rupanya Oma juga ingin mandi karena tubuhnya sudah penuh aroma bawang.


__ADS_2