
Delapan bulan telah berlalu
Andini kini menunggu kelahiran buah hatinya yang menurut hasil USG bayinya berjenis kelamin perempuan. Sedangkan bayi Davit dan Arini diperkirakan laki laki, bayi Ken Dan Vanya berjenis kelamin laki laki. Dara dikabarkan tengah hamil calon anak kedua yang diperkirakan dokter berusia tiga bulan. Saat ini keluarga Atmaja tengah diselimuti kabut cinta, mereka semua berbahagia.
Arsena pagi ini sedang duduk menghadap layar laptop, tiba-tiba Gilang mengantarkan sebuah kartu undangan dan menaruh di meja.
"Dari siapa?"
"Baca aja, kan dah ditulis disitu namanya."
Arsena meraih undangan yang di desain mewah itu, sebenarnya dari sampulnya dia sudah tahu kalau itu undangan pernikahan dari Vanya dan Ken. Namun untuk menghilangkan rasa penasarannya Arsena tak puas jika tak membaca isinya.
"Akhirnya dia menikah juga setelah delapan bulan pacaran." Arsena tersenyum melihat foto prewedding Anita dan pemuda bule yang telah menjadi Dokter bedah di rumah sakit miliknya.
"Senang kan Bos, lihat mereka menikah?" Senyum Galang mengembang.
"Tentu, Anita biar bagaimanapun dia pernah menjadi sahabatku, kami pernah menjalani suka duka waktu kecil hingga remaja. Dan paling penting bule Mark tak lagi keliaran."
"Anda takut dia akan mengambil wanita anda?"
"Tidak, kamu sangat merendahkan aku dengan kata-katamu itu." Arsena melempar map di depan Galang. "Andini hanya mencintaiku, dan aku juga mencintainya. Tak akan ada celah untuk siapapun."
"Ya," Gilang mengangguk. Jangankan Mark. Miko saja tak bisa menembus dinding mahligai Arsena dan Andini.
Gilang dan Arsen segera pergi menuju ruang makan CEO, disana ada menu berkelas dan nikmat yang sudah tersaji.
Baru saja satu suap nasi masuk ke dalam perutnya, tiba-tiba ponsel di saku hem terus berdering. Arsena segera meraih benda pipih itu dan melihatnya.
"Hallo, ada apa Sayang"
"Bie pulang sekarang ya?"
"Ada apa? Kok mendadak bukannya tadi pagi kamu menyuruh aku bekerja."
"Aku sakit perut, Bie."
"Baiklah, aku pulang, Sayang."
"Istri anda sepertinya sudah mau melahirkan, Tuan." Ken yang ada di sebelahnya ikut memberi pendapat.
"Kamu yakin." Arsena mencari kepastian dari Ken.
Ken mengangguk. Arsena langsung mematikan panggilan pada istrinya tanpa buang waktu lagi. Jantungnya Dag Dig Dug ingin melompat dari sarangnya. Begitu mendengar penuturan Ken.
Tanpa meneruskan makannya, kaki sudah berlari sekencang kuda menuju lift. Ken pengawal setia selalu ikut di belakangnya.
__ADS_1
"Pak, ini minuman anda." Seorang OB membawa minuman suplemen untuk Arsena.
Arsena segera menghentikan langkahnya. Menatap OB di depannya. "Buat anda saja, Saya sudah mengizinkan."
"Ya Tuhan, mimpi apa saya semalam, terima kasih." ujar OB terlalu bahagia menerima minuman pemberian Arsena.
Arsena segera menuju mobil yang sudah disiapkan Security, menempati kursi penumpang sedangkan Ken sudah menunggunya di kemudi.
"Ngebut Ken, aku khawatir Andini akan melahirkan sebelum aku tiba di rumah." Perintah Arsena.
"Maaf Tuan, jika aku ngebut resikonya besar, bagaimana jika anda malah tak bisa melihat anak anda selamanya." Ken mengingatkan majikannya agar tak gegabah.
Sedangkan ponsel di saku Ken juga bergetar.
"Halo Sayang ada apa?" Ken menerima panggilan dari Qiara. "Papa, mama pelutnya tatit."
"Apa!'
"Qiara, tolong bibi suruh siap-siap, Papa masih mengantarkan Tuan Arsena pulang."
"Iya, Pa."
"Tuan, Vanya juga sakit perut. Aku yakin perkiraan melahirkan juga maju seperti Nona Andini." Ken mulai panik.
"Kok bisa barengan sih lahirnya anak kamu dan aku, padahal waktu buat kan kita nggak janjian Kan?"
"Bisa juga, Arsena mengangguk anggukkan kepala." Ken berusaha menjawabeski dia sendiri juga panik.
"Ken kalau Vanya mau melahirkan mending kamu turun disini dan naik taxi, segera temui istrimu dan aku akan mengemudi sendiri."
"Tapi Tuan, ini jam kerja, saya masih harus ada di sisi anda."
"Kamu nggak usah khawatir begitu, lagian ada dan tidak kamu di sebelahku, tak ada bedanya."
"Baiklah Tuan." Ken mengalah daripada berdebat.
Arsena memang suka lupa, padahal sudah sering kali Ken menyelamatkan CEO yang selalu mendapati bahaya di setiap saat oleh serangan lawan bisnis yang kadang suka mengirimkan orang suruhan.
Ken segera turun dan Arsena pindah duduk di depan kemudi. Setelah Arsena duduk dengan sempurna Ken menutup pintu pelan-pelan. "Tuan, ingat jangan ngebut."
Dibalas anggukan oleh Arsena, lalu Ken mencari taxi, sedangkan Arsena segera menginjak pedal gas menuju mansion.
"Daddy! Daddy! Kata Oma, Adek bayi mau keluar. Mommy sakit." Exel dan Cello segera menghambur pada Arsena yang baru turun dari mobil mewahnya. Dia segera melepas jas yang dipakai dan meletakkan pada sandaran kursi mobil. Lalu menggendong kedua putranya di dada kanan dan kiri.
"Sejak kapan Mommy sakitnya?"
__ADS_1
"Balu saja Daddy, waktu mommy sedang suapin adik Cello."
"Wah adik nakal ya, nggak mau makan sendiri." Arsena menatap Cello yang terlihat merasa bersalah.
"Exel tadi makan sendiri Daddy." Adu Exel.
"Cello juga biasanya makan sendili Daddy, tapi bibil Cello lagi saliawan." Cello menunjukkan bibirnya yang terdapat luka kecil, karena luka itu dia sudah makan dan Andini menyuapinya.
"Iya, iya. Daddy yakin kedua putra Daddy pasti pintar, kan sudah mau punya adik." Arsena mencium satu persatu putranya."untuk Cello banyak makan buah dan jangan lupa minum Vitamin C ya. Minta pada Bibi.
"Iya Daddy." Callo melorot dari gendongan Arsena ketika mereka semua sampai di undakan tangga. Exel dan Cello berlarian menuju kamar Andini.
"Daddy sudah datang Mom ..." Exel dan Cello kasian melihat Mommynya kesakitan.
Mereka segera naik ke atas ranjang dan mengelap keringat Andini yang berlomba keluar.
Di kamar, Mama Rena terlihat sedang panik, melarang Andini ini dan itu padahal Andini yakin dirinya baru pembukaan empat sampai enam. Kalau berada dirumah sakit pasti disarankan untuk jalan di dalam ruangan dengan hati hati, biar pembukaan semakin lancar dan cepat.
"Sayang kamu baik baik saja Kan?" Arsena mengecup kening Andini lalu mengelus perutnya. Bayi dalam perut buncit itu terlihat menendang nendang. Exel dan Cello biasanya suka sekali menempelkan telinganya di perut, berharap akan mendengarkan suara Adek bayinya. Dia juga kadang mengajaknya berbicara.
"Iya Ars, aku baik baik saja. Sakitnya juga masih datang pergi datang pergi." Andini menjelaskan lalu bangkit dari ranjang dan memasukkan beberapa helai baju.
"Biar Bibi saja yang siapkan Ndin, ayok kita cepat ke rumah sakit. Mama panik, kamu malah tenang-tenang seperti ini.
"Makasi Ma, sudah jaga Andini." Kata Andini lemah lembut kepada mertua bawelnya. Bedanya sekarang bawelnya karena sayang bukan yang lainnya.
"Iya Sayang, Mama juga makasi banyak kamu sudah lahirin banyak cucu buat Mama."
"Exel dan Cello di rumah ya sama aunty."
"Aunty Arini juga pelutnya besal Daddy, gimana kalau dedek bayinya kelual juga."
Cello dan Exel akhirnya memilih bersama Davit dan Arini. Pasutri itu hanya bisa mendoakan kelahiran Andini, mengingat usia kehamilan Arini juga sama.
Ratna dan Ratih sudah pergi dari rumah setelah mencuri koper berisi uang lima milyar dari brankas. Arsena juga bersyukur mereka pergi. Setelah melakukan kebodohan itu, pasti tak akan berani lagi menampakkan diri di depan Andini untuk meminta uang. Sedangkan Antoni ditinggal sendirian tanpa kabar. Dara dan Miko menjemput Antoni. Miko yang membujuk Dara untuk memaafkan kesalahan Papa. Apalagi Bu Ana juga sudah bahagia dengan Doni, mereka sudah dikelilingi kebahagiaan dengan seorang putra, usaha resto juga lancar tanpa ada kendala.
Mama dan Arsena membantu perempuan yang perutnya seperti helm bersembunyi di dalam daster itu turun dari lift, langsung menuju garasi.
Setelah menempati kursi masing-masing, Arsena segera mengemudikan mobil dengan hati-hati. Andini mulai meringis ketika sakit menghampiri.
"Tahan ya, Sayang." Arsena berusaha tak panik.
"Nggak bisa Bie." Andini meremas lengan Arsena ketika sakit makin terasa.
"Udah sakit banget ya, jangan jangan mau brojol di mobil." Arsena makin panik.
__ADS_1
"Jangan donk Bie, masa brojol di mobil. Nggak keren ah." Andini melipat bibirnya menahan sakit. Arsena sesekali merangkul istrinya dan mengelus bahunya. Bahagia sekali akhirnya akan memiliki dua putra dan satu putri.
Kabar Andini akan melahirkan sudah sampai ditelinga Johan dan Mita. Mereka segera menuju rumah sakit, meminta satu ruang VVIP untuk segera di siapkan. Jika Andini datang kamar sudah siap beserta dokternya sekalian.