Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 82. Tamu kawan lama


__ADS_3

Esok hari


"Ars, kapan dokter mengizinkan pulang?" Tanya Andini begitu mendapati suaminya keluar dari kamar mandi. Pria itu baru mandi pagi ini selama beberapa hari tinggal di rumah sakit.


"Hari ini sudah boleh pulang, tapi walaupun sudah sehat, kamu harus tetap menghabiskan vitamin yang aku berikan untukmu nanti.


Bibi akan memberikan obat tiga kali sehari. Saat di rumah nanti jangan makan dan minum apapun selain dari tanganku dan bibi langsung.


"Iya, Tuan. Apa hal itu tidak berlebihan? Aku bisa minum sendiri dari tanganku. Aku masih punya dua tangan yang genap." Andini menunjukkan kedua telapak tangannya di dekat wajah Arsena.


Arsena tersenyum, "ups aku lupa. Tapi istriku Nona di rumah, dia harus mendapatkan pelayanan terbaik, ada bibi yang akan siapkan semuanya. Dan tak ada alasan untuk menolak." ujar Arsena dengan tatapan tak mau dibantah.


"Ars, kau melindungiku seakan semua orang itu musuh besar."


"Bisa saja, mereka di depan baik, belum tentu dibelakang kita."


Arsena tak mau Andini tau pil apa yang di konsumsi, jika tau dia mengalami sakit di rahimnya Arsena khawatir Andini akan bersedih. Arsena bergerak cepat ia memindahkan semua pil ke dalam botol vitamin. Walaupun Andini dokter spesialis bedah, bukan berarti dia juga tau segala jenis pil untuk kandungan.


Arsena mengambilkan baju ganti untuk Andini, memakaikan dengan telaten. "Ars, kenapa kamu berubah baik seperti ini, aku jadi merasa sangat merepotkan."


"Aku tak merasa direpotkan, inilah gunanya suami, aku harus ada disaat istriku membutuhkan."


Sweet, Andini terharu dengan Arsena. Ia segera melingkarkan satu lengannya dan menempelkan kepalanya di perut Arsena. Arsena yang posisinya berdiri di depannya. Sedangkan Andini duduk di tepi ranjang.


,


---------


"Ehm, maaf kalau aku mengganggu." Namira berdehem ketika dirinya pagi-pagi sudah memergoki suami istri berpelukan.


"Namira, cepat lepas selang infusnya." Pinta Andini mulai nggak sabar.


"Iyah, ini juga baru mau di lepas, udah nggak sabar pengen peluk suaminya, yah," goda Namira. Dokter itu segera melepas infus di tangan Andini dengan hati-hati, rasa hati hatinya semakin bertambah ketika Arsena ikut memelototi tanpa berkedip.


"Sudah ...." Kata Namira begitu selesai.


"Makasi, Mir." Kata Arsena tersenyum pada Namira.


Namira mengangguk. " Makasi, jika butuh sesuatu jangan sungkan hubungi aku." Menepuk dada Arsena pelan lalu pergi meninggalkan sahabat dan istrinya..


Sesama wanita, hati Namira pasti sedang menertawakan Andini yang diragukan kemampuannya menjadi ibu, jika tak bisa memiliki keturunan, prianya pasti akan mudah tergoda wanita lain yang lebih sempurna dan bisa memberikan banyak keturunan.


Tak bisa dipungkiri, Namira sudah menyimpan rasa pada Arsena dari kuliah hingga sekarang. Tapi sayang jodoh Arsena bukan dirinya. Mungkin dia tak punya keberanian hanya sekedar menunjukkan perasaannya, Arsena terlalu bersinar diantara pemuda lainnya waktu itu. Sedangkan Namira dia hanyalah gadis sederhana yang bisa kuliah sambil bekerja.


"Pelan pelan, Ndin." Arsena memegangi lengan Andini ketika wanitanya turun meraih alas kaki.


"Iyah, ini udah hati-hati."


"Aku gendong sampai taman yah." Arsena membalikkan tubuhnya ia kembali berjongkok seperti yang pernah dilakukan saat naik tangga.


"Tapi aku takut punggung kamu encok, udah terlalu sering gendong."


"Nggak pernah ada encok dekat-dekat, lagian kamu hanyalah satu dari sepuluh tulang rusukku, jadi nggak akan berat."


Menolak Arsena sama dengan mengajak berdebat, Andini nenuruti Arsena. Setelah tubuh Andini menempel di punggungnya dengan benar, Pria itu segera melangkahkan kaki menuju lift.

__ADS_1


"Den, kalau mau gendong Non Andini, biar saya bawa tas dan barang barangnya." Doni mengambil alih tas berisi baju kotor milik Andini dan Arsena. Serta laptop yang diambilkan Doni semalam.


--------


Arsena dan Andini sudah tiba di rumah, Arsena melihat mobil di garasi bertambah satu dan dia sudah bisa menebak siapa yang datang.


"Ndin, ada tamu." ucap Arsena sambil membukakan sealt belt istrinya.


"Pasti sahabat masa kecil kamu, yang kemaren telepon itu." ujar Andini beranjak turun dari mobil, setelah Doni membuka kunci otomatisnya dengan remote.


"Namanya Nita, dia anaknya baik, kamu pasti akrab nanti dengan dia."


"Semoga, ya, dia sebaik yang kamu katakan."


Andini dan Arsena masuk melalui pintu utama, berharap ia bisa langsung bertemu dengan Anita. Andini berjalan mengekor dua langkah di belakang Arsena.


"Nit, itu Arsena baru pulang dari rumah sakit, beberapa hari dia nggak pulang, begitu kamu sampai, dia langsung nongol bener-bener ada ikatan batin kalian berdua ini."


"Ars, ini Lo? Sumpah gue pangling." Anita segera berdiri menghampiri Arsena, ia takjub melihat Arsena begitu perveck. Ingin memeluknya. Namun, bahasa tubuh Arsena terlihat menolak. Arsena malah mengeratkan tangannya di pundak Andini.


" Gue juga pasti pangling, jika ketemu di jalan. Habis dulu lo cengeng dan ingusan, sekarang udah jadi bidadari aja." Puji Arsena sengaja membuat hati Anita melambung." Kenalin ini istri gue, Andini."


"Saya Andini, istri Arsena. Mbak." Andini mengulurkan tangan


"Anita." Nita menjabat tangan Andini yang lumayan lama menggantung di udara sambil memperkenalkan namanya, Nita terlihat kecewa, ternyata Arsena sudah menikahi wanita lain, bahkan dia tak diundang dalam pernikahan waktu itu.


"Ars, jahat banget sih, kenapa nggak pernah undang gue ke acara nikahan lo."


"Maaf, waktu itu acaranya dadakan." Kata Arsena mengambil duduk di kursi panjang sebelah Mama. Dan memberi tempat untuk Andini duduk di dekatnya.


"Nit, Arsena mana sempat undang kamu, dia aja tak pernah menginginkan pernikahan ini." Rena ikut menyambung obrolan Arsena dan Anita.


"Em sebenarnya sudah lama pengen main kesini, tapi baru ada kesempatan. Sepertinya kita akan sering ketemu, soalnya mamah sekarang juga buka cabang usaha SPA disini. " Nita menjelaskan panjang lebar.


"Ndin, kalau mau perawatan bisa ketempat mamaku aja, aku kasih gratis buat istri sahabat sendiri, kamu pasti akan semakin cantik kalau sering mengunjungi rumah kecantikan. Selama ini pasti sibuk banget ya, hingga nggak sempat memanjakan diri."


Nita melirik tubuh Andini dari atas hingga bawah. Andini memakai baju setelan sederhana, untuk pakaian sekelas istri pengusaha, Nita yakin Andini pasti selama ini cuma mengandalkan keluguan saja untuk memikat hati Arsena.


"Em, makasi. Nit. Aku pasti akan berkunjung ke sana kalau sudah ada waktu."


"Em, Ndin kelihatannya kami sudah baik baik saja, Bi Um lagi ke pasar, tolong kamu buatkan minuman yang bisa buat badan Nita seger kembali, dia pasti lelah, Surabaya-Malang mengemudi sendiri."


"Iya Ma." Andini berdiri meninggalkan semua orang, ia berjalan dengan hati hati menuju dapur.


Arsena melihat Andini belum terlalu kuat, dia tak bisa tinggal diam melihat Andini sendiri di dapur, Arsena segera menyusul Andini.


"Nit, Ma, aku sepertinya juga haus, aku mau ambil minum di dalam," pamit Arsena.


Arsena dan Andini kini hanya berdua di dapur, Arsena membantu Andini membelah alpukat yang hendak di bikin juice.


"Ndin, kamu masih sakit, biar aku aja yang buat." Kata Arsena ketika sampai dapur.


"Nggak apa-apa Ars, bikin minum aja pasti bisa. Lagian Namira bilang tensiku cuma turun sedikit aja."


"Ndin, nurut, sekarang istirahatlah di kamar, aku akan buatkan minum untuk mereka. Aku juga bisa cuma bikin jus, tinggal blender doang"

__ADS_1


"Tapi Ars, mama nyuruhnya aku."


"Ndin, mau jadi istri durhaka?" Melotot, tak mau dibantah.


"Enggak." Melepaskan pisau yang ada di tangannya.


"Ayo tunggu apa lagi."


"Baik, aku ke kamar dulu."


Arsena mengulurkan tangannya, membuat Andini heran. "Buat apa?"


"Tadi pamit ke kamar, harus cium tangan dulu."


"Ars, lebay deh, cuma ke kamar, bukan ke Jonggol."


Andini yang penurut dan lugu ia pun mencium tangan Arsena. Arsena menarik Andini ke pelukannya. " Istirahatlah di kamar, aku sekalian akan membuat kentang goreng special untukmu"


"Bener yang special ya. Awas gosong," ledek Andini.


Andini pergi ke kamar sesuai keinginan Arsena. Sedangkan Arsena sendiri mulai membuat jus alpukat untuk Nita dan Mama.


Arsena segera menuang just ke dalam dua gelas besar, dan mengantarkan pada dua wanita yang sedang asyik ghibah di ruang tamu.


"Ini aku sendiri yang buat. Ayo diminum, Nit."


"Makasi Ars, buatan kamu pasti lebih enak."


" Tu kan, Nit, Arsena saja bikinin minum buat kamu, sebelumnya nggak pernah lho dia mau serepot ini sama tamu."


"Bener, Tante."


"Iya, Tante nggak bohong, harusnya dari dulu kalian itu menikah saja."


"Mama, Arsena sudah punya, Andini." Protes Arsena.


"Andini, dia nggak sehat, masih muda aja sudah sakit sakitan, mana bisa dia kasih kamu keturunan nanti."


Deg


"Mama, apa mama tau sesuatu?" Curiga, menatap Mama dengan sorot mata tajam


"Nggak, Ars, biasanya kalau sering sakit kan bakal susah punya anak. Usia pernikahan saja sudah hampir lima bulan, kalau dia sehat dia pasti sudah ada tanda hamil."


"Mama yakin tidak melakukan apapun pada Andini?"


"Apa yang bisa mama lakukan untuk dia, sedangkan kau selalu bersamanya. Atau jangan jangan memang benar dugaan Mama, Andini nggak bisa punya anak."


"Ars, apa benar?"


"Andini, bisa punya anak, Ma. Dia bisa hamil"


"Sudahlah Ars, dari ekspresi wajah kamu, sikap kamu ke Mama, itu sudah kelihatan kamu sedang menutupi sesuatu. Jika Andini tak bisa hamil, kamu tinggal nikah aja sama Anita. Anita pasti mau kok."


"Tante, Arsena sangat mencintai istrinya, Nita nggak pantas ada di antara mereka." Kata Nita sambil melirik ke arah Arsena yang wajahnya kini berubah menjadi muram.

__ADS_1


Andini mendengar percakapan Arsena dan Rena, Andini mulai khawatir, Rena benar-benar akan menikahkan Arsena dengan gadis itu. Apalagi Rena terlihat sangat menyukai Anita dibandingkan dengan dirinya.


*happy reading


__ADS_2