
"Selamat siang Pak."
" Siang." Arsena turun dari mobil dan pergi begitu saja setelah merapikan jas dan memastikan penampilannya sudah rapi.
"Tambah ganteng aja ya Dirut perusahaan ini." ujar beberapa karyawati single yang mengagumi sosok Arsena.
"Andai saja aku bisa dekat dengannya, pasti aku wanita paling bahagia di dunia ini. Tak akan aku izinkan jauh-jauh dariku lagi. Bila perlu aku jadikan pajangan di rumah dan aku yang bekerja."
"Hus, mimpi Lo ketinggian." Kata Vina sekretaris Arsena.
"Pagi, Pak." Sapa mereka serempak.
Arsena hanya menjawab sepatah kata. "Pagi."
"Ada apa Vin Kenapa kalian semua berkumpul di sini, sebenarnya mau kerja apa mau ngerumpi." Kata Arsena dengan tampang angkuhnya sambil berlalu dari gerombolan para karyawati yang sedang bersantai, sedangkan jam kerja sudah akan dimulai.
"Wow perfec misalnya kalau dia mau aku juga mau jadi istri keduanya atau ketiganya." Obrolan masih terus terdengar sepanjang koridor. hanya tentang kekaguman calon papa si kembar itu.
Anita yang mendengar obrolan para karyawati segera menghentikan langkahnya seolah dia menemukan solusi dari masalahnya selama ini.
"Apa yang mereka bilang? istri kedua, sepertinya menjadi istri kedua Dirut utama juga tidak terlalu buruk." gumam Anita.
Anita melanjutkan langkahnya masuk ke ruang kerja baru. Dia mencari sebuah ide agar siang ini bisa bertemu dengan Arsena. Anita mulai menyusun rencana.
"Makan siang bersama! Ide bagus sekali.
Sepertinya Anita akan memanfaatkan makan siang untuk menemui Arsena dan menjerat dengan pesonanya.
Anita segera menghubungi koki yang biasa memasak untuk karyawan di kantor. ia memesan makanan khusus untuk Arsena. jika sudah menyebut nama Dirut utama, koki pun tak berani menolak apapun menu makanan yang di inginkan.
Tak lupa ia juga memesan ruang khusus untuk merencanakan makan siang nanti dengan bosnya.
Anita yang mengetahui semua menu yang disukai Arsena, segera memesan minuman segar dan makanan favorit sahabat masa kecilnya itu
Setelah semua diatur oleh Anita, sudah dipastikan nanti akan menjadi makan siang special dan Arsena pasti tak akan mampu menolak dirinya lagi.
Anita segera mengirim pesan kepada Arsena setelah semuanya beres. "Lama kita tak makan siang, nanti siang gimana? please jangan menolak."
Arsena yang sedang sibuk di ruang pribadinya segera membalas chat dari Anita. "Ok."
Anita tersenyum ketika chatnya langsung dibalas tanpa menunggu lama.
Gadis itu yakin rencananya akan berjalan dengan mulus. Ucapan Rena kembali terngiang ditelinganya, kalau Arsena belum sepenuhnya membenci dirinya, karena pria itu tak mudah melupakann hubungan baiknya di masalalu.
"Ars, aku yakin kita bisa bersatu, jika aku sudah memilikimu, aku pelan pelan akan mengusir Andini dari hidupmu, dan tentunya aku akan menjadi istri kedua. Tapi aku akan menjadi satu satunya yang menemani dirimu hingga tua nanti. Aku juga ingin kamu sendiri yang akan menghempaskan Andini." Senyum smirk terukir di bibir Anita yang merah.
__ADS_1
Sedangkan diam-diam Andini juga merencanakan sebuah kejutan untuk suaminya.
Andini dan Zara diam-diam datang ke kantor untuk memberi surprise. Pasti akan menjadi kejutan besar buat Arsena, ketika tau istrinya tiba-tiba berkunjung.
Andini bisa keluar masuk tanpa izin siapapun, karena bos sudah memberi mandat khusus untuk Nona Muda, khusus istri Dirut yang memiliki kekuasaan bisa masuk ruang pribadinya tanpa harus izin keamanan dan siapapun
Tok tok! Andini mengetuk pintu ruang pribadi Arsena. Andini meminta Zara untuk tetap menunggunya di luar ruangan.
Mendengar pintu diketuk, Arsena segera membuka pintunya hanya dengan menekan satu tombol remote control, pintu sudah terbuka.
Sosok bayangan, wanita cantik, dan terlihat makin cantik setelah hamil itu segera masuk.
"Sayang!" Arsena terkejut ia langsung berdiri dari duduknya.
"Iya, ini aku Andini, kok terkejut begitu lihat aku datang?" Andini terlihat curiga.
Arsena memeluk Andini hangat, ada sebuah ketakutan yang muncul pada dirinya. " Sayang bukannya aku sudah bilang, jangan kemana mana, jika kamu ingin sesuatu tinggal hubungi aku, aku akan mengirimkan apapun yang kau inginkan lewat kurir." kata Arsena lemah lembut tanpa ada tanda sedang marah.
"Ars, kenapa kamu tak suka aku datang? Istri datang harusnya makin senang," Andini bersungut sungut sambil berdecak sebal. Andini sensitif dan mudah tersinggung semenjak hamil
Arsena yang tak ada pilihan lain terpaksa memberitahu Andini soal Lili dan Devan yang kabur, ia tak mau Andini salah paham.
"Sayang aku sangat senang kau datang tapi percayalah aku bukan melarang dirimu tanpa sebab."
"Pasti itu alasan kamu saja, takut ketahuan selingkuh saat diperusahaan, iya, kan?"
Arsena tersenyum sambil mengelus rambut lembut istrinya dan menyelipkan di belakang telinga.
Sayang kamu harus tau, bahaya ada disekitar kamu dan anak kita, Lili berhasil kabur dari penjara bawah tanah dan orang-orangku belum berhasil menemukan jejaknya, Lili suka sekali mengganti identitas aslinya membuat dia sulit untuk dicari. Dan orang yang diincar pertama kali pasti kamu, Sayang. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengan dirimu jika itu terjadi aku pasti bisa gila"
Arsena kembali memeluk istrinya dan mengecup bibir Andini yang tak pernah bosan untuk dinikmati. Bibir itu telah menjadi candu dan lebih manis dari sebutir permen.
"Aku senang kamu datang, tapi aku khawatir hal buruk itu terjadi."
"Maafkan aku Ars, yang tak peka, aku justru berprasangka yang tidak-tidak." Andini mengerti kekhawatiran suami
"Aku tau, kamu melakukannya karena sayang padaku, tapi percayalah padaku, Lili bukan tipe wanita yang mudah menyerah ketika menginginkan sesuatu."
Arsena menyentuh hidung Andini dengan hidungnya. Senyum terukir di bibir mereka berdua.
"Sayang duduklah disini." Arsena duduk dan menepuk pahanya.
Arsena meminta Andini duduk di pangkuannya selama ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Ars, tubuhku akan menghalangi mu, kamu akan kesusahan mengerjakan pekerjaan jika aku di depanmu."
Tidak! tidak! aku akan senang jika si kembar ikut menemani bekerja, lagian aku cuma menandatangani setiap dokumen saja.
__ADS_1
"Ini konyol, kita akan terlihat mesum jika karyawan melihatnya."
Arsena meraih remote yang tadi digunakan membuka pintu. Kini pintu sudah terkunci otomatis.
Arsena juga menghubungi Mert, untuk menggantikan dirinya memenuhi undangan makan siang dengan Anita.
Arsena sudah berencana sejak awal untuk menjodohkan Mert dengan Anita saja. Anita sebenarnya juga wanita baik, hanya saja setelah tau dia memiliki wanita lain selain dirinya dia terlihat pantang menyerah untuk memiliki dirinya.
Anita sudah menunggu Arsena di ruang makan yang sudah ia tentukan, Anita segera mempersiapkan diri ketika ada sosok pria tampan datang.
Minuman yang sudah ia racik sudah tersaji di atas meja. Jamuan menu makan siang juga sudah siap.
Anita sangat bahagia ia segera meminta pelayan membuka pintu sedangkan Anita masuk ke kamar mandi untuk mengecek kembali apakah penampilannya sudah perveck. Ia hari ini ingin tampil memesona di depan Arsena.
Mert yang melihat begitu banyak hidangan di atas meja segera menyambar segelas minuman untuk melepas dahaganya. Satu gelas minuman memabukkan yang sudah dibubuhi ramuan khusus oleh Anita sudah tandas di perutnya.
Anita yang keluar dengan baju seksi terkejut, yang datang bukan Arsena, kenapa jadi Mert?
Anita juga terkejut melihat gelas di depan Mert sudah kosong.
"Mert, kenapa kau ada disini? dan minuman itu ... bukan untukmu."
Mert bukan menjawab pertanyaan Anita, ia malah menatap Anita penuh gairah. " Anita kenapa kau menginginkan aku kesini? Oh kau cantik sekali," puji Mert saat menelisik penampilan Anita dari atas hingga bawah. Minuman dengan kadar alkohol tinggi sudah menjalar ke otaknya dan mengendalikan kerja syaraf yang bekerja disana.
"Mert, kenapa kau yang datang?"
"Cantik kau rupanya sudah pikun ya? Kau mengundangku datang kesini. Apa kau mau membodohiku. Arsena sendiri yang menghubungiku tadi."
"Mert, aku ...." Anita bingung dengan keadaan dirinya sendiri. Jika dia jujur telah mengundang Arsena dalam acara khusus seperti ini. Mert pasti akan berpikir macam macam tentang dirinya. Sedangkan Arsena bukan pria lajang lagi, Acara ini tak boleh bocor.
"Kau cantik sekali, Baby," rancau Mert.
Anita terpaksa melanjutkan acara yang sudah ia buat sendiri, dia mulai meneguk minuman miliknya.
Mert semakin gelisah, minuman racikan Anita sudah berhasil membuat pria itu lepas kendali.
Tiga puluh menit berlalu, Mert dan Anita tak sadar lagi dengan apa yang telah dilakukan, semua yang ia lakukan tidak lagi dikendalikan oleh otak, ada hasrat lain yang lebih kuat mendorong dirinya untuk berbuat nista.
Anita sudah mirip bayi baru lahir, Anita tidur di sofa dengan bajunya tak lagi melekat menutupi tubuhnya, sedangkan Mert tak lagi mengenakan Hem dan kaos. Resleting dan ikat pinggang celananya pun sudah dalam kondisi tak benar.
Mert mulai mengerjabkan matanya ketika ponselnya berdering, setelah dilihat ternyata panggilan dari Miko, Mert sangat kaget dengan kondisi tubuhnya. Ia tak lagi menghiraukan ponselnya yang terus berdering.
Mert segera bangkit dan membenahi bajunya. Ia membangunkan Anita yang masih nyenyak.
__ADS_1
*Happy reading.
*Jika berkenan mampir juga di cerita pertamaku (Pernikahan Tanpa Cinta.)