Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 188. Resmi pacaran.


__ADS_3

"Nona mau kemana? Nona harus kuliah." Davit menatap Arini dengan sejuta perhatian, khawatir Arini telat. Tapi bukan Arini kalau tak keras kepala.


"Kak Davit tenang aja, nanti akan tahu sendiri rencana Arini, yang penting ikuti instruksi dari saya, kita jalan jalan sebentar saja kok," jelas Arini.


Arini segera menempelkan kepalanya di bahu Davit. Davit menjadi kehilangan konsentrasi menyetir. "Di depan itu kita belok kekiri ya."


"Okey, itu bukannya jalan menuju pantai."


Arini mengangguk. " Kita akan bermain di pantai, kak Davit. Kakak pasti belum pernah bermain di pantai Xx yang lagi ramai diperbincangkan orang itu," ujar Arini.


"Belum,nggak sempat, kan aku harus kerja." ujar Davit. Sebenarnya pantai yang dimaksud Arini itu baru saja diresmikan oleh Gubernur Jatim beberapa bulan lalu. Pengunjungnya kebanyakan muda mudi yang ingin menghabiskan waktu sekedar bersantai menikmati embusan angin yang sejuk, atau bermain air dan menghias pasir bersama kelasih ataupun orang tercinta kita.


Cinta Arini pada Davit, semakin hari semakin menggebu 5ak terbendung lagi. Sebagai pria dewasa Davit harus pandai mengendalikan hasrat yang tiba tiba datang tanpa diminta. Davit pria normal Davit tentu saja dia tergoda dengan wanita cantik seperti Arini.


"Nona, saya sedang menyetir, duduk yang benar, kita dijalan lho." Davit menoleh ke arah Arini sambil tersenyum. Mengelus puncak kepalanya sesaat, lalu fokus lagi pada jalanan.


Arini menjauhkan kepalanya dari pundak Davit, membiarkan Davitenyetor dengan tenang.


Pria baru sembuh dari sakitnya itu bukan tak mau mendapat perlakuan mesra dari Arini. Hanya saja batinnya berperang hebat, antara harus bisa mengendalikan diri dan hasratnya. Jika Arini nempel terus bisa saja dia tak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Arini diam diam telah memboxing pantai itu. Hingga beberapa jam kedepan. Membuat pantai itu sepi tak ada makluk lain yang datang. Karena di pintu masuk tertuliskan pantai sedang tutup.


Tiga puluh menit Arini dan Davit sudah sampai. Arini segera masuk ke dalam ruang ganti, dia mengganti baju kuliah yang dikenakan dengan baju pantai yang seksi.


Davit yang melihatnya terpaksa berulang kali meneguk salivanya ketika Arini memakai sarung pantai bermotif bunga bunga, kaos ketat warna putih dan topi pantai yang lebar. Arini terlihat makin cantik dan menggoda.


"Nona, apa yang anda pakai ini." Davit menelan salivanya, memalingkan wajahnya sambil menahan nafas berat.


"Kak Davit jangan katrok dong. Ini cuma baju pantai, aku ingin mengambil banyak foto kita berdua, sekedar untuk kenang kenangan," Arini menyerahkan ponselnya pada Davit lalu dia mulai berpose berbagai gaya dengan background panorama pantai yang sangat indah.


Bosan foto sendirian akhirnya Arini mengeluarkan tongsis dari tas kecil yang dia letakkan di atas meja kosong di dekatnya.

__ADS_1


Davit hanya mengikuti keinginan Arini memegang tongsis dan nenjepit handpone Arini di ujung tongkat itu. Begitu selesai mereka berdua segera berpose mesra layaknya seorang kekasih.


Pose yang amat beraneka, ada posisi Davit memeluknya dari belakang, Arini mendongakkan kepalanya menatap mesra wajah tampan Davit, ada posisi Davit menggendongnya, Arini melingkarkan lengan ditengkuk, dan yang paling romantis adalah Arini mendorong Davit hinga terjengkang dan Arini menjatuhkan diri diatasnya.


Ada puluhan foto tercetak di galeri Arini, Davit yang memeriksa hasilnya tak menyangka mereka terlihat begitu serasi. Justru karena itu ketakutan Davit kembali timbul. "Nona cepat hapus foto ini dari galeri Anda, ini tidak benar. Nona tau hukuman apa yang akan diberikan pada kakak anda jika dia sampai melihatnya."


"Kak Davit tenang saja, paling kita akan dinikahkan, dan jika itu terjadi, aku makin senang, setiap saat kita akan selalu bersama," ujar Arini ringan tanpa beban. Bahkan dengan agresif dia menarik kerah Davit dan mengeratkan tubuhnya.


"Apakah Nona benar benar ingin menikah dengan saya?" Tanya Davit tak yakin.


"Tentu, aku ingin menikah dengan kak Davit. Perasaan ku ini tidak main main Kak " Arini membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan ajudannya. Menatap iris hitam nan jernih itu. Davit membalas tatapan Arini dengan sorot mata teduh.


Arini melingkarkan lengannya ditengkuk Davit, Davit memberanikan dirinya melingkarkan kedua lengannya di pinggang Arini. memangkas jarak diantara mereka berdua.


"Kak Davit, aku rela menjadi milik kakak selamanya." Arini berkata dengan bibir bergetar, tatapannya menjadi sayu. Jantung keduanya berdegup sangat kencang " kak Davit apa cinta Arini yang tulus ini akan diterima?" Sambung Arini.


"Nona, aku belum membicarakan ini dengan kakak anda, belum sempat, dia terlihat sangat sibuk." Davit terlihat gundah.


"Nona, telah salah mencintai saya yang tak akan membawa pada kebahagiaan, hanya penderitaan yang akan Nona dapatkan, aku miskin, kita tidak selevel."


"Cukuup! Jangan ulangi lagi kata kata itu. Ucapan kakak hanya pantas diucapkan oleh seorang pecundang." Suara Arini naik satu oktaf, membuat Davit semakin bingung.


"Jangan sebut aku pecundang Nona, Jika memang nona sudah yakin dengan perasaan yang nona rasakan dan menerima semua konsekuensinya. Sekarang juga aku terima cinta Nona. Aku bersedia menjadi kekasih, Nona." kata Davit mantap.


Davit menggenggam kedua bahu Arini, menatap Arini dengan tatapan tajam, seakan mencari celah keraguan di mata Arini. Namun sayang sekali Davit tak menemukan ada keraguan sedikitpun dimata gadis itu.


"Sekali saya sudah bergerak maju tak akan ada kata untuk mundur Nona, saya beri kesempatan sekali lagi untuk anda mempertimbangkan diri anda menjadi kekasih saya?"


"Saya mencintai Kak Davit, dan perasaan itu tumbuh seiring berjalannya waktu, berulang kali aku telah mencoba menepis, bahkan dengan kehadiran Nathan pun tak bisa membuat saya berpaling. Nathan mencintaiku, tapi tetap hati ini tak bisa menerima kehadirannya. Karena di dalam sini sudah ada satu nama, hanya nama Davit Nugraha seorang yang lama singgah di dalamnya." Arini meraih jemari Davit,menautkan dengan jemarinya dan menempelkan di dada, dia berkata dengan begitu tenang dan dalam. Membuat Davit yakin nona muda di depannya benar-benar tidak hanya cinta sesaat seorang gadis pubertas.


Davit terharu dia memeluk Arini makin erat Arini pun menitikkan airmata bahagianya, menempelkan kepalanya di dada bidang Davit. Lalu mendongakkan kepalanya menatap Davit yang jauh lebih tinggi. Davit membungkukkan tubuhnya dan Arini menjinjit, Davit mendaratkan bibirnya di bibir Arini. Arini membuka bibirnya membiarkan Davit mengeksplore ruang hangatnya. Lidah mereka saling bertautan dengan agresif. Ciuman mereka kali ini memang bukan yang pertama kalinya. Mereka sudah mahir melakukannya.

__ADS_1


Davit dan Arini berulang kali melakukan ciuman hangat dipantai yang mulai hangat, diiringi dengan tubuh mereka berdua yang semakin memanas.


"Umpphh" Arini melepas pagutannya mengambil jeda untuk mengisi kekosongan udara dalam paru parunya. Davit mengusap lembut bibir Arini dengan ibu jarinya.


"Nona ingat kata kata saya, sekali saya sudah melangkah maju, saya tidak akan mengijinkan anda untuk pergi. Apalagi meninggalkan ikatan yang sudah kita sepakati. Saya akan mempertahankan semua ini segenap jiwa dan raga."


Arini mengangguk, "aku akan mengingatnya."


Davit kembali memeluk Arini erat, mengangkat tubuh Arini hingga gadis itu kembali berdiri dengan menjinjit, Davit mengulai membari kehangatan di bibir Arini yang sudah tak perawan itu. Davit lalu menggendong tubuh mungil Arini ke mobil.


Sebuah trik dari davit, kalau mereka berdua harus segera keluar dari pantai ini, sebelum bertindak lagi semakin jauh pada Nona yang harus dilindungi jiwa dan raganya. Berdua saja ditempat sepi sungguh tantangan berat untuk Davit.


Di dalam mobil Arini dan Davit belum bisa melepas pagutannya. Justru hati mereka berdua bergejolak untuk menuntut lebih. " Nona kita harus pulang sekarang, aku tak mau kita salah jalan disini." Davit berkata dengan nafas menggebu. Berusaha melawan hasrat yang masih tak sepantasnya dilakukan.


Arini mengangguk, sambil merapikan diri di depan cermin kecil yang selalu ada di tas kuliahnya. "Antarkan aku ke kampus, mata kuliah akan dimulai setengah jam lagi. Kak"


Davit tersenyum melihat Arini yang akhirnya sadar juga kalau ada mata kuliah yang masih harus dilewati. " Siap Nona."


" Siapa Nona disini?" Arini geli dipanggil pacarnya nona.


" Lalu aku panggil apa dong?"


" Banyak pilihan, Kak Davit tinggal milih. Sayang, cinta, honey, bee, swety. Itu kan panggilan untuk pacarnya."


" Sayang, itukan panggilan Tuan Arsena pada Nona Andini. Tidak Nona, kau akan tetap menjadi Nonaku sebelum kita menikah, aku suka memanggilmu dengan sebutan Nona Arini yang ketus." Davit mencubit pipi Arini dan mengacak rambutnya gemas.


...___________________________...


Teman teman yuk dukung dengan kasih Vote dan hadiah, komentar kalian aku baca semua lho. Yang rindu keromantisan Arsena dan Andini sabar dulu ya, kita buat Arini dan Davit bersatu, kasian Davit nya jomblo, takutnya entar jadi jomblo tua.


Dukung terus ya biar rajin update.

__ADS_1


__ADS_2