
Kontrakan minimalis.
"Nona Andini, terima kasih sudah mengontrak di perumahan ini. Saya yakin Nona, nantinya akan betah tinggal disini, "
Andini senang akhirnya sudah menemukan tempat yang cocok untuknya. Perumahan dengan satu ruang tamu, dua kamar, satu kamar mandi dan satu dapur. Luas taman depan hanya beberapa meter dan dikelilingi pagar setinggi badan manusia.
Selesai membayar uang untuk jangka satu tahun, Andini segera menerima kunci dari sang pengelola perumahan. Andini tak sabar ingin segera beristirahat. Apalagi malam sudah hampir larut.
Andini menaruh kopernya di kamar, lalu merebahkan diri di ranjang kecil dengan kasur tipis yang disediakan oleh pemilik kontrakan.
"Seperti ini mungkin akan lebih baik, maafkan Aku Papa aku gagal membuat putramu jatuh cinta padaku, tapi aku janji sampai kapanpun aku akan selalu mengenang kebaikanmu. Walau mungkin aku tak lagi menjadi menantumu" kata Andini sambil menatap langit-langit kamar.
Andini akhirnya terlelap setelah lama memikirkan kisah rumah tangganya.
*Pagi hari*
Pagi sekali Andini sudah bangun, selesai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, ia langsung menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan saat akan mencari pekerjaan.
Andini si gadis Desa yang lugu kini telah menjelma menjadi calon Dokter muda yang sangat cantik dan tak kampungan lagi, Andini sosok wanita yang cerdas dan mudah beradaptasi.
Tin! tiiiin!
"Iya bentar, nggak sabar banget "
Andini segera meraih tas slempangnya dan map coklat ditangannya, tentunya berisi surat surat lamaran kerja. Ia
Pagi ini Andini sudah memutuskan akan mencari pekerjaan. Mencoba melamar di salah satu rumah sakit swasta di tengah kota.
Sangat besar perjuangan Andini selama ini. sekarang saatnya memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk lebih berguna lagi untuk orang lain.
Cukup mudah buat Andini mencari pekerjaan dengan izasah dan keahlian yang mereka dimiliki.
Andini dan Vanya diterima disalah satu rumah sakit swasta yang kebetulan beberapa dokter spesialis bedah di rumah sakit itu sedang dibutuhkan. Mereka pihak rumah sakit biasanya mendatangkan dokter dari pihak rumah sakit lain untuk menangani pasien yang datang. Bersyukur ada Andini, dia bisa langsung bekerja walaupun beberapa bulan kedepan masih harus didampingi oleh dokter senior
_______________
"Andini, kamu yakin akan meninggalkan Arsena, dan tinggal sendiri di kontrakan kecil itu." Tanya Vanya saat mereka keluar dari wilayah rumah sakit. Karena besok baru mulai bekerja.
"Iya, aku nggak mau terus bersama pria yang menganggapku buruk dimatanya. Terlebih lagi rumah tangga kami hanya sandiwara. Dia mencintai wanita lain. Van."
Vanya mengelus pundak Andini lalu menggenggam erat tangannya berusaha memberi ketenangan untuk sahabatnya, gadis yang selalu tak percaya dengan pernikahan sahabatnya itu, tapi setelah tau sendiri ternyata memang benar mereka telah menikah. Tapi apa Artinya menikah dengan pria kaya dan mapan namun tak pernah bahagia.
Andini dan Vanya mampir di kedai untuk makan siang sebentar saat pulang dari RS. Andini merasa lebih bebas hidup sendiri seperti ini. Tak ada lagi yang membentaknya, bahkan perlakuan Arsena rasanya seperti dari sebuah siksaan.
"Andini lalu bagaimana dengan pria keren di MD tempo hari? Apa kau juga menyukai dia?"
" Maksudmu Miko? Miko sangat baik, dia selalu ada saat aku butuhkan ... Ah kita bahas yang lainnya saja Van, kita nikmati makan siang ini aja?"
Andini tak ingin membicarakan masalah Miko yang memang sempat membuatnya bingung. Perhatian Miko memang lebih dari sekedar teman biasa. Andini juga merasakan damai saat bersamanya.
Seorang pramusaji datang mendekat membawa dua mangkuk soto ayam dan dua gelas lemon tea.
__ADS_1
Andini dan Vanya segera menyantap menu yang menjadi favorit mereka berdua. Saat menyantap menu berkuah di siang hari itu, tak ada salah satu diantara mereka yang berbicara.
Setelah selesai makan siang mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kontrakan.
Vanya mengemudi mobilnya menuju ke perumahan dimana tempat Andini tinggal. Berencana untuk istirahat sebentar sambil menemani Andini agar tak merasa sendirian.
Andini dan Vanya langsung saja menuju kontrakan baru Andini.
Melihat ada mobil yang tak asing menghalangi mobil Vanya masuk ke halaman. Membuat Vanya berhenti di tengah jalan.
Mereka berdua melihat seorang pria sudah menunggunya. Pria itu bersandar di depan mobil sambil bermain ponsel.
"Van, sebaiknya kita jalan lurus aja, ada sesuatu yang lupa aku beli."
"Tapi Andini, dia suamimu. Kenapa kau menghindarinya" tanya Vanya yang tau Andini sedang berbohong.
"Kumohon Vanya." Andini menangkupkan tangannya.
"Oke ... oke ...!" Vanya melajukan mobilnya menuju jalan raya lagi. Andini masih tak ingin bertemu dengan Arsena. Niatnya sudah bulat untuk berpisah. Karena meminta dirinya untuk putus dari Lili rasanya juga mustahil.
"Kita kemana sekarang?" Tanya Lili. Sekilas menoleh ke arah Andini.
"Entahlah kemana saja, yang penting kita jauh dari kontrakan dulu."
"Aku heran kenapa dia selalu menemukanku dengan mudah." Gumam Andini lirih. Namun gumaman Andini masih didengar oleh Vanya dengan jelas.
"Woy ... Andini dia itu Arsena. Dia punya segalanya, kamu tau perumahan yang kamu tinggali itu miliknya, dan kamu juga tau supermarket yang di depan itu juga miliknya." Vanya menunjuk salah satu departemen store tepat di depan ia memarkirkan mobil.
"Andini kamu itu harusnya beruntung walau tak dapat cintanya, tapi kamu berhasil menikah dengan pria tampan dan sukses seperti dia," Kata Vanya yang sedang duduk bersandar dengan jok kursi yang ia duduki.
Andini juga sama, bersandar. Bingung mau kemana lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat di dalam mobil sebentar. di depan sebuah pertokoan di pinggir jalan.
"Arsena sepertinya menghawatirkanmu. Buktinya dia langsung mencarimu." Ujar Vanya.
" Kurasa itu mustahil." Kata Andini tak percaya yang ia dengar. Sekilas menoleh ke arah Vanya.
"Bisa saja, mungkin ada sesuatu yang ia sukai dari kamu, tapi kamu tak menyadarinya."
" Entahlah ... yang jelas aku masih ingin sendiri."
Tok ... Tok ...
Seorang pria berbadan tegap mengetuk pintu kaca.
"Nona, Den Arsena ingin bicara."
"Tuh kan, liat, si ajudannya ngikutin kita. Mau lari ke planet juga dia bakal tau."
Andini membuka kaca mobil. "Katakan pada Arsena, Pak. Andini nggak mau pulang."
"Nona, sebaiknya bicara sendiri dengan Den Arsena, Dia menunggu di mobil."
__ADS_1
"Pak Doni tau kan, bagaimana dia memperlakukan aku selama ini."
"Maaf Nona, itu bisa kita bicarakan."
"Pak Doni, kenapa anda membela dia, pak Doni tau kan? Bagaimana dia masih mencintai kekasihnya. Saya akan pulang kalau dia bersedia putus dengan kekasihnya."
"Saya tidak membela siapa-siapa, Nona. Ini untuk keselamatan Nona sendiri. Nona harusnya ingat, kejadian tempo hari, Nona hampir saja ternoda oleh pria jahanam itu ."
Sudahlah, Pak Doni mending pulang saja, katakan pada majikan ,Bapak. Kalau saya akan tetap tinggal di kontrakan itu. Lagian setelah ini saya juga bukan siapa-siapanya lagi." Kata Andini ketus.
Melihat Andini yang keras kepala Akhirnya Doni terlihat lelah membujuk. Ia pergi menuju Arsena yang sedang menunggu di mobil.
Doni membuka pintu dan duduk di kemudi.
Terlihat mereka sedang berbincang-bincang di dalam mobil, membicarakan Andini yang keras kepala untuk diajak pulang.
Terlihat Arsena menatap Andini dengan sorot mata tak suka, pasti ia geram karena Andini tak mau pulang bersamanya.
Andini juga menatap Arsena dengan tatapan yang tak kalah menyebalkan.
"Emangnya dia pikir siapa, baiklah kita pulang saja."
Arsena memberi perintah pada Doni untuk melajukan mobilnya dan pulang kembali.
"Andini, kenapa kamu nggak ikut aja sih? Pake jual mahal segala." Vanya terus saja mengamati mobil mewah Arsena yang lewat di depannya terus menjauh dan hilang di telan keramaian kendaraan lain.
"Vanya, kamu itu teman aku, atau teman dia?"
"Iya maaf, Dokter."
"Kemana nih kita sekarang?"
"Pulanglah kemana lagi."
Vanya Akhirnya kembali memutar balik mobilnya menuju kontrakan Andini. Masih banyak pekerjaan yang belum Andini kerjakan.
Mengepel lantai, membersihkan kaca,dan menata ruangan menjadi lebih cantik. Andini sudah melihat semuanya sejak semalam. Namun, ia memutuskan membersihkan semua ketika hari terang saja.
Vanya memilih merebahkan diri diatas sofa, sementara Andini bersih-bersih. Maklum saja kalau Vanya tak membantu, dia berasal dari keluarga yang berada, semua pekerjaan rumah dilakukan oleh ART nya jadi Vanya kurang peka jika menyangkut masalah pekerjaan rumah.
Andini yang sudah memakai baju rumahan dan rambut diikat asal saja. Ia masih terus saja sibuk menata dan memasang benda benda unik kesayangannya di tempat yang di inginkan. Peluh karena lelah mulai membanjiri tubuhnya. Andini senang bisa melakukan semuanya sendiri.
Saat semua sudah selesai Andini memilih duduk di sofa sebentar. Menyeka keringatnya lalu meneguk segelas air yang ia tuang dari teko.
*happy reading
jangan lupa
like
komen
__ADS_1
vote