Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 56. Menggapai surga cinta 2


__ADS_3

60 menit berlalu. Pergulatan dua insan yang lagi kasmaran masih terus berlangsung.


Andini meremas seprei kuat-kuat. Ketika tubuh Arsena semakin menegang, hentakan demi hentakan membuat tubuhnya maju mundur kuwalahan.


Sepanjang permainan, entah berapa kali Andini menuju puncak Nirwana, sedangkan Arsena sekali saja masih belum.


Setelah lama menjadi menguasai permainan, Arsena merasakan ada yang ingin keluar dari tubuhnya, ia memeluk Andini dengan sangat kuat. Urat di lehernya menonjol bercampur peluh.


"Akhhhh ...." Suara Arsena setengah tertahan. Tubuhnya ambruk seketika, menindih tubuh mungil Andini. Ribuan pasukan Arsena berhasil melewati lorong panjang nan sempit.


 


Dua insan itu terkapar lemah, usai menjalankan kewajibannya.


"Ars, apakah tubuhmu sudah merasa baik? Tanya Andini . Sedangkan Arsena sendiri masih berusaha menetralkan nafasnya.


Arsena membalikkan tubuhnya, terlentang di sebelah Andini setelah mengecup pipinya berulang kali. Menarik selimut yang terlipat di kakinya.


"Sangat baik Andini, bahkan aku harus berterima kasih dengan Lili karena membuat semuanya semakin indah."


"Andini, Galang selalu bilang. Menikah itu menuju surga dunia. Ternyata semua itu benar." Arsena berkata sambil menatap langit langit kamar. Lalu memiringkan tubuhnya, tangannya terulur memeluk Andini usai membenarkan selimut yang berantakan.


Andini hanya menatap Arsena sebentar, memberikan seulas senyum, ia masih sangat lelah dengan aktifitas yang mungkin setelah ini akan menjadi sebuah rutinitas setiap hari itu.


"Andini, sayangku. Terima kasih semuanya."


"Sama- sama Ars."


"Maaf kalau aku tadi melakukan dengan kasar. Aku lihat kamu sangat kesakitan," ucap Arsena yang melihat Andini tadi sempat menangis.


"Tidak Ars,kau sudah sangat lembut tadi," Jawab Andini datar.


"Andini kamu kenapa? Apa kamu menyesal?" Tebak Arsena ia membaca wajah Andini yang terlihat tak begitu bahagia. Berbeda sekali dengan dirinya. " Jika kau menginginkan sesuatu katakan saja." Arsena membelai rambut lembut Andini.


"Tidak ada, Ars. Jika kamu bahagia. Aku juga bahagia."


"Terima kasih, Sayang." Kembali mengecup pipinya, mendekatkan kepalanya di ceruk leher Andini. Andini malu, tubuhnya bercampur peluh. Ia ingin segera mandi.


Andini melepas pelukan Arsena. Ia bangun dari tidurnya dan beranjak turun.


Arsena yang merasa kenyamanannya terganggu ia segera bangkit. Tanpa banyak bertanya dan berbicara.


Andini merasakan pinggangnya sangat nyeri setelah ia menggeser duduknya sedikit tadi, ia masih berusaha bersikap biasa saja..


"Auhh," pekik Andini sambil memegangi perut bawahnya.


"Kenapa, Ndin?" Arsena terperanjat, mendengar Andini mengaduk


"Entahlah Ars, kenapa sakit sekali."

__ADS_1


Andini ingin ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Lalu memasak untuk Arsena. Namun sepertinya tubuhnya tak bisa bekerja sama.


"Apakah sangat sakit? hingga kamu meringis seperti itu." Arsena panik. Ia semakin gugup setelah melihat bercak noda di seprei.


"Andini, aku telah melukaimu? Andini kenapa jika kamu terluka tak menyuruhku berhenti saja?"


Arsena memeluk erat Andini, ia merasa bersalah yang amat dalam. Mengecup kening istrinya berulang kali


Andini hanya tersenyum. "Ars, hampir setiap wanita akan mengalami seperti ini di malam pertamanya."


"Itu namanya selaput dara, bukti kalau wanita itu masih belum pernah berhubungan dengan pria manapun," jelas Andini panjang lebar.


Arsena yang bodoh Arsena yang malang. Yang ia tahu ketika wanita itu berteriak kesakitan berarti dia masih virgin, tanpa mengetahui tentang pecahnya selaput dara, ada bercak noda pada seprei.


Mendengar penjelasan Andini, Arsena semakin bahagia, ia berjanji akan mencintai Andini segenap jiwa. "Andini aku sekali lagi minta maaf. Aku dulu begitu menghinamu." ucap Arsena penuh penyesalan.


"Semua tentu sudah berlalu. Sekarang singa yang kejam itu sudah jinak, dia sudah tak menyakitiku lagi," canda Andini. Diikuti senyum kecil dibibir suaminya.


"Sepertinya mulai saat ini aku harus banyak berterima kasih pada papa, telah memilihkan wanita seperti dirimu ."


"Banyak wanita lebih baik dariku, Ars."


"Tapi sayangnya, hatiku sudah terisi olehmu."


Andini kembali turun dari ranjang. Ia ingin segera membersihkan dirinya. Arsena yang melihat Andini sempoyongan karena sakit di organ intinya, ia segera membopongnya. "Ars, turunkan aku bukan anak kecil lagi."


"Diam lah, jangan bergerak, mulai sekarang kamu harus terbiasa menjadi seperti anak kecil, karena aku akan memanjakan mu, dan mencurahi mu dengan banyak cinta, hingga kau akan bosan mendapat cinta dariku." Arsena membopong Andini ke kamar mandi dengan bibir mereka saling bertautan."


Arsena menurunkan tubuh Andini dibawah air shower. Setelah itu ia segera mandi bersama.


Arsena membalur tubuh Andini dengan sabun cair lalu menggosok lembut tubuhnya dengan sponge.


"Awas kalau mesum lagi." Andini waspada.


"Terlambat, pegang ini." Arsena meraih tangan Andini, menyentuhkan miliknya yang sudah kembali tegang. Junior Arsena mulai menegang setelah ia menggosok tubuh Andini. Sekali lagi ia telah tergoda dengan lekukan tubuh indah dan mulus di depannya.


Hawa panas di tubuh Arsena telah hilang, Namun Arsena masih ingin mengulangi beberapa kali lagi, sebagai lelaki tangguh melakukan satu kali di malam pertama adalah hal yang memalukan bagi Arsena.


"Sayang." Arsena kembali meniup tengkuk Andini, menggodanya dengan sentuhan lembut.


"Ada apa, Ars?" Kata Andini yang terlihat semakin segar setelah mengguyur tubuhnya dengan air shower.


"Sekali lagi." Arsena kembali menggosokkan tangan Andini pada torpedo nya yang sejak tadi sudah mengintip dari balik CD.


"Ih, geli, Ars." Andini bergidik ngeri melihat Arsena yang terlalu fulgar menurut Andini.


"Dia sudah ingin bertempur lagi, boleh ya?" Arsena mengerling kan matanya.


Tak ada pilihan lagi untuk Andini, selain ia harus kembali menyetujui permintaan suaminya.

__ADS_1


Andini tak bisa mungkir, kalau sebenarnya tubuhnya juga sangat menikmati setiap sentuhan Arsena menggunakan sabun tadi.


Saraf ototnya menegang, ia hanya malu mengakui di depan suaminya.


Arsena kembali melahap bibir merah Andini, tangannya mengabsen setiap inci tubuh putihnya. Mereka kembali terbuai dalam dunianya dibawah guyuran air shower.


Arsena mendorong tubuh Andini hingga menempel pada dinding. Arsena kini lebih mudah memberi sentuhan pada Andini di setiap titik sensitifnya.


Desahan kecil kembali terdengar di bibir mungil Andini.


Semakin mendesah Arsena semakin bangga dengan kemahirannya.


Arsena segera naik turun, lidahnya menyapu setiap titik sensitif. Kaki Andini lemas, tak bertenaga di perlakukan sedemikian rupa.


Mereka akhirnya melakukan lagi penyatuan di kamar mandi.


30 menit berlalu----


Andini sudah kedinginan, tubuhnya memucat. Arsena yang menyadarinya, ia segera membersihkan tubuh istrinya dan membopongnya kembali ke ranjang.


Keluar dari kamar mandi tubuh Andini sudah seperti macan tutul, Arsena meninggalkan jejak merahnya di setiap tempat. Andini malu ia segera menutupinya dengan selimut.


Arsena hanya senyum senyum melihat tingkah lucu istrinya. "Istirahatlah, Pinggangmu pasti sakit sekali.". Mengecup kening Andini lalu kembali ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sendiri.


Andini yang kelelahan, ia tertidur pulas ketika hari menjelang sore. Arsena mulai merasakan tubuhnya kelaparan. Olahraga hari ini sungguh menguras tenaga.


Arsena membuka tudung saji di dapur, penasaran dengan masakan Andini hari ini.


Seperti biasa, Andini memasakkan gurame untuknya, beserta sambal kesukaannya. " Sungguh hari yang sangat mujur buat Arsena. Ia mendapatkan istri luar biasa.


Arsena membawa sepiring nasi dan sepiring lauk ke kamar.


"Andini ayo kita makan bersama. Sepiring berdua pasti rasanya akan sangat nikmat.


Andini hanya diam, tak menjawab walau sepatah kata.


"Ndin?" Arsena membuka selimut yang menutupi tubuh Andini. Ternyata Andini tertidur pulas.


Arsena tersenyum puas, hari ini ia telah berhasil membuat istrinya kelelahan.


Arsena memilih duduk di samping Andini membelai rambutnya, membuat tidur Andini terusik.


"Ars," Andini tersenyum ketika tangan Arsena membelainya. Ia menggeser tidurnya sedikit, agar Arsena bisa duduk lebih leluasa. "Ars, apa kamu tak pulang hari ini?"


"Aku hanya akan pulang bersamaku. Kamu pikir, apa yang telah terjadi diantara kita baru saja, aku akan membebaskanmu begitu saja? Tidak Andini. Menjadi wanita Arsena, kamu harus mematuhi semua ucapan ku. Kamu tak boleh tinggal disini lagi.


"Andini, aku ingin yang terbaik untukmu, tempat ini tidak aman, aku beberapa hari ini harus mengirimkan bodyguard secara diam diam. Semua hanya untukmu."


" Jadi kau melakukan semuanya?" Andini terharu ia melingkarkan lengannya di pinggang Arsena. Kepalanya ia sandarkan di dada bidang. Arsena.

__ADS_1


"Andini, jika kamu seperti ini, bagaimana kalau dia akan bangkit lagi."


__ADS_2