
Selesai memasak Arini segera meninggalkan dapur. Sambil menunggu masakan agak dingin, dia gunakan untuk membersihkan diri.
Tiga puluh menit waktu yang dihabiskan Arini untuk ritual mandi, begitu sudah selesai Arini segera kembali ke dapur.
Arini segera menata makanan ke dalam rantang. Rantang paling bawah dia isi dengan nasi dan rantang kedua dia isi dengan capcai hangat buatannya.
"Non mau dibawa kemana masakannya?" Tanya bi Um yang tiba tiba nongol dari arah pintu
"Bibi, bikin kaget aja. Rahasia donk Bi. Bibi mau? itu masih Arini sisakan banyak, Kalau mau mencicipi masakan Arini yang enaknya nggak ada duanya," ujar Arini bangga.
"Masa sih, Non? Kok aku penasaran sama rasanya, enaknya kek gimana?"
Bi Um segera mengambil piring kecil dan menaruh sedikit capcai diatasnya, Dia mulai mencicipi. " Wajah Bi Um terlihat baik baik saja, Arini semakin yakin masakannya memang enak banget. Tapi tanpa Oma yang membantu menjadi mentor saat membuat, bahan capcai itu pasti tak akan pernah bisa dimakan manusia.
"Enak, Nona. Sueeeer !!" Ekspresi Bi Uma terlihat berlebihan.
"Benaaaar, Bi?!" Arini tak kalah senang. Matanya berbinar.
Arini tiba tiba membayangkan wajah Davit saat memakan masakannya, pasti tak jauh berbeda dengan ekspresi Bi Um.
"Benar Nona, ini capcai terenak yang pernah bibi makan."
"Ya udah Bi, habisin capcainya, Arini sekarang pergi dulu, daaaa Bibi."
Arini segera pergi meninggalkan Bibi dan keluar lewat pintu belakang. Arini belum siap jika kakak nya tau kalau dirinya telah tergila gila dengan ajudan tampan itu. Cukup Oma saja yang boleh tau.
Diluar sedang gerimis. Arini yakin kalau Davit pasti belum makan malam. Soalnya Arini belum melihat Bi Um mengantar makan untuk Davit.
Pintu mess Davit masih terbuka. Pertanda dia sedang tak kemana mana. Ternyata benar, Davit sedang duduk menghadap ke arah televisi. Namun pandangannya tak serius pada acara yang sedang tayang. Davit terlihat melamun, sambil sesekali mengurut pelipisnya yang terasa pening.
" Asalamualaikum." Arini mengucap salam, suaranya terdengar begitu lembut.
" Waalaikum salam," Davit segera menoleh tanpa sengaja satu tangannya telah menyentuh remote hingga jatuh.
Davit segera menyambut kedatangan Arini. Aura cemas begitu terlihat di wajah Davit. "Nona diluar hujan, bagaimana kalau ada petir."
Arini bingung harus menjawab apa. Selama ini dia paling takut dengan petir, tapi demi Davit bisa mencicipi masakan pertamanya terpaksa dia tetap menyerang bahaya "Em ... aku mau mengantarkan makanan. Aku lihat bibi masih sibuk, dan ini masakan pertamaku." Arini mengulurkan rantang bermotif bunga kepada Davit.
Davit meraih rantang dari tangan Arini. "Masuklah Nona, hujan diluar makin deras."
Arini mengangguk setuju, gadis pemilik rambut agak kecoklatan itu segera duduk di sofa, tempat duduk Davit tadi. Sedangkan Davit memeriksa keadaan hujan diluar yang makin deras. Gemuruh sering kali terdengar walau tidak begitu dekat.
__ADS_1
Davit segera menyusul Arini. Menaruh rantang di meja, tanpa mengucap sepatah kata, hanya senyum saja yang terukir dari kedua bibir insan berbeda strata itu.
Davit lalu masuk ke ruang tengah, mengambil teko berisi air dan dua piring kosong. Satu untuk Arini dan satu untuk dirinya sendiri.
Davit membuka rantang dengan hati-hati, senyum terus menghiasi bibir keduanya. Arini sesekali menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan nervous juga ketika masakannya akan di nikmati oleh pria yang ia cintai.
"Nona, aku tak percaya ternyata kau bisa memasak juga." ucap Davit sambil memandangi hidangan di depannya dan menikmati aromanya yang masih mengepul.
"Kak Davit sekarang harus percaya. Semua ini memang masakan buatanku. Oma juga membantu sih." Arini membantu Davit memindahkan capcai dari rantang. Davit sibuk menatap Arini. Menatap rupa gadis secantik bidadari itu lebih dalam.
Arini yang menyadari diperhatikan oleh Davit sedemikian rupa. Dia jadi salah tingkah. Meskipun sudah berpura pura tak menyadari namun rona merah di pipinya tetap tak bisa di sembunyikan.
"Benar-benar sempurna," gumam Davit yang masih terdengar di telinga Arini.
"Maksut kakak?" Arini terhenyak. Sendok ditangannya hampir saja jatuh.
"Lupakan saja, aku tadi asal bicara, apa aku boleh mulai mencicipinya?" Izin Davit.
" Silahkan, Kak. Sudah aku bawa kesini masa nggak dimakan " Arini mengangkat tangannya mempersilahkan Davit.
Davit mengambil sesuap lalu memasukkan kedalam mulutnya. Lidahnya mulai bergoyang giginya bergesekan. "Emmm ... Emmm."
"Gimana kak? Enak nggak?"
"Sungguh!" Arini bahagia.
"Yups ..." Davit makan dengan lahap.
Arini menuangkan air ke dalam gelas kecil dan menaruhnya di depan Davit. Davit menghentikan aktifitasnya mencecap makanan.
"Makan sekalian ya?" Davit mengulurkan suapan keduanya.
Arini menggeleng. "Masih kenyang."
"Bohong, aku baru saja dengar cacing di perut nona memanggil manggil tadi," canda Davit.
"Kak Davit yang berbohong. Cacing dip perutku lagi tidur," ujar Arini. mencipta tawa diantara berdua.
"Ayolah Nona, izinkan aku memberi suapan, sekali ini saja juga nggak apa-apa."
"Baiklah, tapi nanti kak Davit harus mau ya."
__ADS_1
"Siap, Bosku." Mereka berdua akhirnya tertawa terkekeh.
Arini menerima suapan pertama Davit, hati Arini sungguh bahagia. Andaikan saja Davit peka dengan perasaannya. Mungkin dia akan lebih bahagia lagi.
" Sekarang giliran Kak Davit." Arini mengaduk nasi dengan capcai yang ada di piringnya. Lalu mengambil satu sendok penuh, lalu ia ulurkan ke arah Davit. Mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Aummmm." Davit melahap suapan Arini. Davit juga menggigit ujung sendok. Membuat mereka berdua tertawa gemas.
"Tunggu!" Davit mengulurkan tangannya, menyentuh Dagu Arini dengan lembut.
"Kenapa? Apa ada nasi yang menempel?" Arini terlihat gugup. Ia mengusap pipi dan dagunya berulang kali.
Davit menggelengkan kepala kuat kuat. " Tidak ada."
Davit kini meraih jemari Arini dan menggenggamnya kuat. "Nona, anda harus tau. Wanita secantik dirimu, tak pantas mencintai pria sepertiku. Nona tahu sendiri siapa aku, aku hanya pria miskin. Aku merasa kecil dimata keluarga anda. Berdua seperti ini dengan Nona, rasanya aku tak layak. Bagaimana kalau papa anda tahu? Tuan Arsena tau? Ternyata anak gadisnya mencintai seorang jongos. Mereka tak akan bisa menerima kenyataan ini Nona. Engkau terlalu tinggi untuk aku gapai."
" Aku yakin perasaan Nona ini hanya sebatas berhutang budi karena aku telah menyelamatkan Anda waktu itu." Davit berdiri, kursi kecil yang ia duduki terdorong ke belakang. Pria yang sedang bingung dengan perasaannya sendiri itu membuka tirai yang tertutup sejak siang tadi. Davit menatap ke arah luar. Hujan masih sangat deras angin mulai bertiup kencang dan kilat bersahutan.
" Jika itu bukan rasa sementara seperti pemikiran kak Davit. Apakah kau akan membalas rasa cinta ini?" Arini menatap punggung Davit yang berjarak sekitar lima meter darinya.
" Maaf Nona. Aku tidak bisa. Justru karena aku sayang sama Nona. Kita tidak bisa bersama. Aku ingin melihat Nona bahagia dengan pria yang sepadan dengan Nona.
"Kak Davit. Aku hanya akan bahagia jika bersama dengan Kakak."
Arini memeluk Davit dari belakang. Menyandarkan kepalanya pada punggung lebar ajudannya itu. " Perasaan ini tidak main main, kak Davit"
Davit menarik nafas panjang, menghembuskan pelan. Dilema, mencintai takut dibilang tak tau diri. Menolak hatinya tak bisa berkhianat.
Davit memejamkan mata. Merasakan tangan lembut Arini melingkar di perutnya. Hembusan nafasnya menerpa kaos tipis yang dikenakan.
Davit tak sanggup mendiamkan Arini terlalu lama. Ungkapan cintanya terdengar begitu tulus. Davit segera membalikkan badan, hingga posisinya duduk di kusen jendela membelakangi kaca.
Gadis pemilik bulu mata lentik dan tatapan jernih itu menatapnya begitu dalam. Sorot matanya seakan menuntut jawab dari sebuah pertanyaan yang baru keluar dari bibirnya.
"Nona, peganglah dada ini." Davit menarik jemari Andini. Menempelkan di dada yang sedang berdegup kencang. " Kau merasakan jantungku berdegup kencang. Artinya aku merasakan perasaan yang sama."
" Lalu apa masalahnya sekarang? Lupakan perbedaan kita, ini bukan jamannya lagi." Arini tertawa sinis.
Berulang kali Davit menarik nafasnya panjang. Arini menatapnya semakin tajam tanpa berkedip. Arini sudah tau kalau Davit juga mencintainya. Pria itu tak pandai menyembunyikan perasaannya.
"Kak Davit?"
__ADS_1
" Iya, Nona," jawab Davit cepat.
"I love you." Arini mendongakkan kepala sambil memejamkan mata. Membimbing lengan Davit melingkar di pinggangnya.