Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 50. Aku ingin memulai sekarang.


__ADS_3

"Mandi gih, sana temui Andini dia pasti kesepian sendiri disana," desak Johan pada Arsena.


"Nggak, Ah. Andini akan bosen jika Ars terlalu sering menemuinya, Pa."


"Papa ini kenapa sih? Anak kita nggak mau ya sudah, jangan di provokasi terus donk, kalau Andini dan Ars memang nggak bisa bersatu. Udah jangan paksa dia terus donk, Pa. Lagian aku juga nggak pernah ingin punya menantu, Dia."


"Ma, jaga bicara kamu, bagaimanapun Andini dan Arsena adalah suami Istri. Kita sebagai orang tua harus dukung. Papa yang menjodohkan mereka, jika Arsena dan Andini tak bahagia. Papa adalah orang pertama yang harus bertanggung jawab dengan semuanya.


Arsena melepas dasinya, Lelah, capek, ditambah kedua orang tua yang tak pernah ada romantis-romantisnya.


Arsena bergegas masuk. Ia segera mandi dan bersantai sejenak. Memeriksa file dan dokumen sebentar, lalu ingin memulai tidurnya.


Arsena menutup laptop dan beranjak dari ruang kerjanya. Arsena masih merasakan hal yang sama seperti kemarin, susah tidur. Bayangan Andini kini mulai menari-nari di pelupuk matanya. Miko yang menatapnya dengan penuh cinta dan kelembutan. Sedangkan selama ini dia belum pernah sekalipun memberi ia tatapan se teduh itu.


Arsena melihat jam di dinding, menunjukkan pukul sembilan malam. Masih lumayan sore. Daripada gelisah tak jelas, akhirnya ia memutuskan untuk keluar, sekedar jalan-jalan dan mencari kedai kopi yang menyajikan kopi pas sesuai seleranya.


"Galang, aku ingin ngopi di Kedai xx. Tolong temani aku"


"Siap Bos, asal sebentar aja. Bini lagi hamil muda, dia manja banget, katanya anak yang di kandung nggak bisa jauh-jauh dari calon papanya," curhat Galang


"Wah, kualitas Lo premium juga, baru beberapa hari nikah, udah tokcer aja. Gue kira Lo nggak bakal bisa bikin anak."


"Sialan nie, Si Bos. Ngeremehin kemampuan bawahan. Biar nggak setampan Si Bos kalau soal cangkul mencangkul saya ahlinya bos. " Kata Galang membanggakan diri.


Arsena kini mengenakan kaos t-shirt , jacket putih tulang dengan resleting di depan, serta celana jeans. Penampilan yang sederhana namun selalu istimewa dimata para wanita.


Di kedai mereka hanya berbincang bincang layaknya teman, tak ada urusan kantor yang dibicarakan. Sambil menikmati kopi, mereka mengamati mobil yang lalu lalang menyusuri jalanan di bawah sorot lampu yang terang.


"Lang, elo bisa bantu gue?"


"Bantu apa'an?"


"Ajarin gue caranya naklukin hati wanita, gue belum pernah digini'in sama wanita, selama ini wanita yang selalu ngejar gue." Kata Arsena memohon pada bawahannya, ia memegang lengan Galang. Pertanda keinginannya saat ini serius.


"Ha ha ha. Sumpah Bos, nggak percaya kalau ada cewek bisa seperti itu sama Bos setampan anda, jadi penasaran seperti apa cewek itu, sampai Bos bisa berpaling dari Lili, model hebat itu. Demi wanita yang nggak pernah muncul sekalipun di dunia maya. Kalau ketemu sama dia pengen gue kawinin aja. Bisa bisanya cuekin bos setampan anda," kelakar Galang.


"Dasar Lo mata keranjang, Dia Istri gue, jangankan Lo kawinin. Lo sentuh seujung kuku saja sudah pasti kedua tangan Lo bakal hilang."


"Dicuekin aja belagu banget. Ajakin aja dia jalan jalan ke surga dunia, kalau emang benar dia sayang, sudah pasti nggak akan nolak. Apalagi pake cara yang lembut. Ingat Bos, wanita suka sekali dengan kelembutan."


"Itu masalahnya, aku belum berhasil dapatkan yang satu itu."


"Bos, sama istri aja sabar banget, langsung gercep aja, bikin dia hamil. Pasti dia akan kejar kemanapun anda berada ke ujung dunia sekalipun, kayak si Riska. Sudah pasti sekarang dia nggak mau jauh lagi dengan ku."


"Bener juga kata Lo, tapi gue juga belum siap punya anak dari dia, soalnya gue juga masih tahap pendekatan, Tak semudah itu Lang, membuang Lili dari hati gue dan menggantikan dengan Andini. Secara hubungan ku dengan Lili sudah lama sekali. Apakah aku akan sanggup memberi cinta yang tulus buat Andini. Kalau dia tau gue belum sepenuhnya move on. Pasti dia juga akan terluka."


"Lalu gimana lagi, pengennya dia sayang dan yakin sama Anda, tapi Anda sendiri masih ragu." Galang membantu berfikir, sambil sesekali menikmati kopi di depannya.


"Pelan-pelan Bos, kalau benar sayang sama dia, ada saatnya, logika akan kalah dengan tindakan."


"Benar juga yang kamu katakan."


Arsena dan Galang akhirnya memutuskan untuk pulang, Arsena memilih mampir ke kontrakan Andini.


Ingin membujuk Andini pulang ke rumah lagi. Agar tidurnya bisa nyenyak tanpa harus memikirkan Andini yang sendirian di kontrakan.

__ADS_1


"Tok tok tok "


Arsena mengintip dari balik kaca. Ruangan begitu gelap, Andini pasti sedang tak ada di rumah.


Arsena masuk ke kontrakan tanpa menyalakan lampu, ia membuka dengan kunci duplikat yang ia bawa. Sebelum masuk tadi Arsena sudah memarkirkan mobilnya di tempat yang lumayan jauh


Langkah Andini mulai terdengar, Andini baru pulang kembali ke rumah, ketika hari sudah tengah malam.


Saat Andini hendak menyalakan saklar lampu, tangan Arsena lebih cepat memencet tombol On, terlebih dahulu.


"Dari mana, Kamu!?"


"A ... Em ..." Andini kaget bukan kepalang.


"Jadi, alasannya ingin sendiri biar bisa bebas kelayapan seperti ini?" Arsena menyandarkan tubuhnya pada dinding dan menyilangkan lengan di dada.


"Menemui Miko kan?" Kata Sena lagi dengan tatapan menyelidik.


"Miko aku anggap seperti adik sendiri." Kata Andini masih dengan wajah ketakutan.


"Wow, hebat sekali Andini." Arsena tepuk tangan menertawakan ucapan Andini. Namun ia berusaha untuk tidak selalu gegabah. Arsena tak ingin dikuasai amarah lagi saat menghadapi Andini, apalagi jika menyangkut Miko.


Arsena kini duduk di kursi, Andini hendak masuk ke dalam untuk membuatkan kopi. Namun, Arsena meraih pergelangan tangan nya. Tak mengizinkan Andini pergi.


Arsena menarik tubuh Andini hingga duduk di pangkuannya.


Andini yang mendapat perlakuan seperti itu lagi, membuat ia diam membisu. " Aku ingin kita mulai dari awal, aku sekarang akan selalu ada didekatmu, aku adalah kekasihmu, kita akan menjalani hubungan ini mulai dari awal, kita akan mulai seperti orang pacaran."


"Pacaran?"


"Yeah, sekarang kamu adalah pacar aku, aku akan memperlakukan dirimu seperti seorang pacar, dan seorang pacar tak boleh memiliki pria lain dihatinya."


"Tidak ada yang lucu Andini, ini tidak salah. Kita pacaran setelah menikah, dan memperbaiki yang belum pernah baik diantara kita."


Ars, apakah ini benar kamu? Kenapa aku tak bisa mengenalinya, kau mudah berubah, kau kadang baik, kadang juga sangat menakutkan.


Andini masih di pangkuan Arsena, mereka saling menatap. Hati mereka seolah berbicara dengan pemikiran masing masing.


Andini aku pasti akan segera mendapatkan hatimu, selama ini tak ada wanita yang bisa menolakku, dan itu termasuk kamu.


Arsena terus menatap Andini, tatapan yang dalam itu berubah menjadi suatu harapan. Harapan ingin mengecup bibir merah Andini yang selalu alami walau tanpa pewarna tambahan.


Mengetahui Arsena menatapnya lekat, Andini jadi sedikit malu, ia memalingkan wajahnya untuk mengatasi kegugupannya. Andini merasa Arsena benar- benar tak seperti yang di kenal sebelumnya. Namun justru sikapnya yang lembut membuatnya jadi semakin takut.


Jujur Andini masih selalu grogi di dekat suaminya. perlakuan kasarnya masih seringkali terbayang di benaknya.


"Ars. Aku buatkan minuman dulu."


"Tunggu." Arsena menahan tubuh Andini dan mengeratkan tangannya. "Beri aku sebuah ciuman."


"Tidak Ars, aku malu." Andini menutup wajahnya dengan kedua telapaknya.


Arsena membuka telapak tangan Andini yang menghalangi pandangannya.


Andini menurunkan tangannya pelan. Mereka kembali saling menatap. Keempat bola mata indah itu saling beradu.

__ADS_1


Arsena membelai wajah Andini dengan belaian lembut. Ada gelenyar cinta mulai merasuki tubuhnya.


"Andini, kiss me."


Wajah Andini merona seketika, jantungnya berdentam tak sesuai irama lagi, dentuman begitu kencang bak usai lari maraton. Andini malu kalau Arsena sampai mendengar suaranya jantungnya yang bergemuruh.


"No. Ars."


"Jangan menolakku." Bibir Arsena bergetar, jujur ia juga deg degan ada Andini di pangkuannya. Meski ini bukan pertama kalinya ada wanita duduk di posisi Andini sekarang. Tapi Andini berbeda. Andini lugu dan belum berpengalaman membuat Arsena semakin berhasrat.


Arsena mengecup pelan. "Cup."


Lalu mengamati wajah Andini lagi.Terlihat wanitanya tersipu.


Arsena menggosokkan ibu jarinya di bekas kecupannya.


Andini memejamkan matanya, ia tak mampu berkata apa-apa lagi, melihat Andini terpejam tak menolak, Arsena ingin mengulanginya lagi. Namun kali ini bukan sekedar kecupan Arsena mencoba lebih dalam lagi. Menjelajahi setiap inci bibir Andini.


Hembusan nafas hangat Arsena, menerpa wajah ayu Andini, aroma wangi khas yang pernah sangat ia sukai kini kembali tercium, begitu dekat, begitu hangat, Andini mulai terbuai.


Bibir Arsena masih terus menjelajah, merasa mendapatkan izin dari sang pemilik tubuh. Ia melakukannya dengan pelan dan lembut. Arsena membimbing tangan Andini agar mengalung di tengkuknya.


"Emph ... Ars." Andini melepas pagutan bibir Arsena dengan paksa. Mengambil jeda untuk bernafas, Arsena tersenyum ternyata Istrinya tak pandai dalam hal semudah ini dengan seorang pria.


"Ars, aku." Andini menggeser duduknya. Ingin lari dari keadaan ini.


"Jangan malu, aku akan mengajarimu." Arsena mengulangi lagi, ia melakukan dengan penuh penghayatan, Andini menerima ciuman Arsena lebih rileks. Terlalu lama memainkan bibir Andini Arsena merasakan ada rasa lain yang bercampur ikut dalam penyatuan bibir malam ini. Bibir tipis Andini terluka.


"Eump ... " Andini melenguh. Arsena melepaskan pagutannya. Ia mulai menjelajah turun, menggigit kecil telinga Andini. Mengubah posisi Andini yang sejak tadi miring kini menjadi menghadapnya.


Andini mulai kehilangan separuh kekuatannya, ia begitu hanyut dalam buai lelakinya di malam ini. Arsena belum mengakhiri permainannya. Ia kini mulai menjelajah sekitar leher Andini.


"Kamu bisa menghentikan jika ingin aku berhenti." Kata Arsena dengan suara tercekat. Di balas anggukan kepala Andini.


Arsena memberi beberapa tanda kepemilikan disekitar leher. Hingga sudah banyak tato, hasil karya cetakan Arsena yang kembali terlihat setelah yang lama telah memudar.


Tangan satu menahan tubuh Andini agar tak goyah, yang satunya membuka tiga kancing hem bagian atas.


Tiga kancing sudah terbuka, bagian depan tubuh Andini sudah terpampang di depannya. B*a warna pink terang begitu menggoda. Arsena mulai meremas dada nan ranum dan kencang dengan lembut.


"Eum, uhh." Andini melenguh.


Arsena mulai menurunkan kecupan bibirnya, menurunkan Hem dan tali b*a yang menjadi pengganggu. Satu tangannya menyelinap ke belakang membuka pengait.


Tek!


suara pengait yang terlepas.


"euummmp." Andini kembali melenguh. bibir dan dadanya mendapat perlakuan lembut sekaligus.


"Ars." Bibir Andini bergetar.


"Apakah kamu ingin aku berhenti sampai disini?" Arsena menghentikan Aktifitasnya.


Andini merapikan baju dan lainnya yang porak poranda. "Maaf aku belum bisa, Ars"

__ADS_1


Andini seperti melihat bayangan seseorang yang sedang mengintai di jendela kaca.


Karena korden penutupnya tipis dan terawang, jadi aktifitas seseorang di luar bisa terlihat dengan jelas.


__ADS_2