Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 288. Salah satu metode jitu.


__ADS_3

"Andini kuatkan dirimu." Vanya menggapai tubuh Andini dan memeluknya.


"Dia Arsena suamiku Van? Kenapa aku tak mengenalinya, Arsena ku sangat sehat, katakan ini mimpi Van. Bangunkan aku dari mimpi ini, aku tak mau tidur lagi." Andini tergugu dalam dekapan Vanya tak kuasa melihat berbagai selang dari alat bantu canggih menancap di dada Arsena. Sedangkan sang tubuh hanya tergeletak membujur kali tak bergerak. 


"Ndin, Ndin, sudah cukup."


"Tidak Vanya itu bukan Arsenaku." Andini menggelengkan kepalanya pelan.


"Andini belajarlah menerima kenyataan, walau pahit ini kenyataan yang ada." Vanya berusaha menenangkan hati Andini.


Andini menangis sesenggukan sambil menggigit jarinya. Sosok membujur kaku di hadapannya membuat Andini kembali lunglai. Vanya segera mengambilkan minum. 


"Dia kritis Vanya, Aku tak bisa kehilangan dia, aku belum siap tanpa suamiku." Andini masih membeo, dia biarkan lelehan airmatanya berselancar di pipinya.


Vanya mengangguk, "Iya, Arsena sedang dalam masa kritis." Berlahan bulir kristal dari Netra Vanya ikut jatuh membasahi pipi.  Sahabat karib itu memegang kuat kedua lengan Andini kuat kuat dan menatapnya.


"Arsena akan baik baik saja. Kehendak Tuhan terkadang sejalan dengan kata hati kita, kita pikirkan yang baik, maka semua yang terjadi akan baik."


"Arsen ingin memiliki bayi perempuan Van, aku belum memberinya kebahagiaan itu." Andini teringat akan Arsen yang sudah menanti ingin melihat jenis kelamin bayi yang ada di perutnya. 


"Kamu akan memberikan dia banyak bayi, kamu sabar ya."


 Vanya makin bingung dengan situasi ini,  Andini pasti akan segera tahu kalau dia telah mengalami pendarahan ketika merasakan ada gumpalan darah keluar dari organ intimnya.  


Usia kandungan Andini baru dua minggu jadi tak perlu melakukan kuret, keluarnya darah hanya mirip darah menstruasi biasa.


"Van bantu aku menemui Arsena."


"Iya." Andini perlahan menggeser duduknya, turun dari brankar berlahan. Vanya mengisyaratkan pada perawat untuk menyiapkan kursi roda. Khawatir kalau berjalan Andini akan merasakan pusing.


"Vanya aku kenapa pake diapers segala." Andini rupanya geli dipakaikan Vanya popok ketika pingsan tadi.


"Nggak papa kan masih sakit, biar nggak pipis di celana aja," dusta Vanya. 


Andini bisa menerima alasan sahabatnya. dia kini pasrah, duduk tenang di dalam kursi roda, Vanya mendorong dengan hati hati menuju brankar Arsena. 


_____

__ADS_1


Hening.


 Andini diam tak mengeluarkan sepatah katapun, berusaha untuk menahan tetes airmatanya tapi tak bisa. 


"Van, Arsena akan baik baik saja kan." Andini mendongakkan kepalanya membutuhkan dukungan Vanya. 


"Akan baik baik saja." Setelah mengangguk Vanya menjawab dengan mantap. 


"Van aku butuh berdua dengan Arsen, aku ingin katakan sesuatu padanya. Bisa nggak kalian semua tinggalkan kami?"


"Iya Ndin, tapi janji kamu nggak boleh kalut dalam kesedihan, anak anak ingin melihat Mommynya yang kuat, kamu pasti merindukan Exel dan Cello Kan?"


Aku rindu banget sama anak-anak Van, Andai Arsen nggak sibuk, pasti aku dan Arsen ada bersama anak-anak. Dan Dev pasti akan menyakiti semua keluargaku, atau sebaliknya, kejadian itu tak akan terjadi. 


"Semua sudah terjadi, anak-anak baik-baik saja dan Dev sekarang sudah tiada."


"Tiada?!"


Vanya mengangguk. "Ken yang  menembaknya."


Andini menarik nafas sambil memejamkan mata. "Inalilahi waina ilaihi rojiun." Menghembuskannya pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Belum boleh dan nggak boleh berfikir macem macem, fokus pada kesembuhan kamu dan beri dukungan pada Arsena." Vanya mengingatkan. Dibalas anggukan oleh Andini. 


"Ok Dokter, maaf," ucapnya lirih.


Vanya pamit keluar, memberi waktu pada Andini untuk bicara dari hati ke hati. Vanya tau walau mata Arsena terpejam tapi dia masih bisa mendengarkan obrolan mereka. Alam bawah sadar Arsena tetap terjaga.


Vanya keluar untuk memberi kabar pada orang yang berjaga di luar sedangkan Andini diam tak bergeming di sebelah Arsena. Sekujur tubuh pria itu terdapat perban hingga menyerupai mumi. 


Andini berulang kali menarik nafasnya yang semakin terasa sesak, paru parunya seakan saling berhimpitan sehingga terasa nyeri sampai ulu hati. 


Andini menyeka air matanya. Meraba tangan suami yang terdapat selang infus. sedangkan di dada penuh dengan alat bantu untuk kerja jantungnya.


"Hubby bangun, hubby pasti kuat, jangan pergi, please … hiks hiks hiks." 


Dalam keheningan, di ruang VVIP suara Andini terdengar begitu menyayat hati. Berulang kali menyeka airmata yang terus mengalir tanpa di komando. Ingin sekali Andini memeluk tubuh Arsena, tapi takut sentuhan fisiknya hanya akan menambah penderitaan suami. 

__ADS_1


"Andini!" Pintu kembali terbuka, rupanya Miko yang pertama masuk. 


"Miko, kamu lihat Arsena Mik. Dia tak mau bangun, dia nggak sayang sama aku dan anak anak lagi. Padahal dia janji akan menemani aku periksa calon bayi ini, setiap bulan."


"Ndin, kuatkan dirimu, jangan rapuh seperti ini, mana Andini yang kuat seperti dulu? Mana Andini yang tetap tersenyum meskipun hatinya perih." Miko menguatkan hati wanita di depannya. 


"Ini terlalu berat Miko, aku nggak mau tanpa Arsen, kamu tahu kan aku mencintai Arsen melebihi nyawaku sendiri, kenapa harus dia yang ada di posisi ini, kenapa tidak aku aja." Andini menangis terisak mengadukan semuanya pada Miko.


" Andini, ada aku, aku yang akan menjaga kamu dan anak anak."


"Miko apa yang kamu katakan?" Andini menyipitkan satu bola matanya, terkejut dengan reaksi yang diberikan Miko, tetapi pria itu malah tersenyum.


"Andini jika kak Arsen tak mau bangun, bukankah ini kesempatan yang aku tunggu, aku bisa leluasa mendapatkan cintamu. Aku akan merawat Exel dan Cello sekalian, dan juga anak anakku.


"Miko jaga ucapanmu, jangan melampui batas!"


"Tidak Andini, ini tidak melampaui batas, aku sudah lama bermimpi kita akan bersatu." Miko melepaskan jari Andini yang sejak tadi menggenggam erat jemari Arsena. Kini Miko mengambil alih jemari Andini. Andini menepis tangan Miko. 


"Ndin, aku tau kamu masih sayang aku, mungkin ini semua takdir, kita akan dipersatukan lagi."


" Miko kau mempermainkan perasaan Dara yang tulus mencintaimu!" emosi Andini memuncak, dia yang seharusnya belum bisa berdiri, nekat berdiri.


"Andini!" Miko menahan tubuh Andini yang oleng. tubuhnya belum terlalu kuat untuk berdiri


"Minggir." Andini bersikap ketus.


"Kamu akan membutuhkan aku Andini." Miko melepaskan Andini dan membantunya duduk kembali.


Miko melihat dada Arsena naik turun, gelombang suara yang terlihat dilayar EKG terlihat lebih cepat. Jemari Arsena terlihat berusaha untuk bergerak, berawal dari kejut pelan di jari telunjuknya lalu disusul jari manisnya ikut bergerak.


"Hubby, bergerak?! Miko tubuh Arsena bergerak" Andini tersenyum melihat dada Arsena naik turun. 


"Dokter! Dokter! aku harus panggil Vanya, kemana dia?!" Andini heboh sendiri, dia lupa kalau kondisinya sendiri sedang sakit, dia memutar roda  tanpa setuju Miko membantunya. 


"Andini jangan keras kepala." Miko hendak membantu. 


 Andini segera mengangkat tangannya, memberi peringatan pada Miko. "Jangan sentuh aku Miko, aku tidak mau kenal lagi dengan seseorang yang bisa bisanya berfikir picik di atas penderitaan kakaknya."

__ADS_1


"Ndin aku cuma sedang bersandiwara." bisik Miko sambil mengedipkan mata memberi kode pada Andini.


Andini akhirnya mengerti tujuan Miko yang tiba tiba berkata demikian tadi. Dan ternyata rencana Miko berhasil mengusik tidur Arsena.


__ADS_2