Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 69. Rindu berat.


__ADS_3

Ana tersenyum melihat Andini lebih dewasa, ia bisa mencairkan hati Arsena yang sudah ia dengar kabarnya, kalau menantunya pimpinan perusahaan yang sangat arogant, apalagi dengan karyawan wanita.


Ana tau semuanya dari desas desus pembicaraan para karyawan yang kebetulan suka makan di depot.


Arsena menyelesaikan makan siangnya bersama adik dan mertuanya. Perutnya kini terasa penuh oleh masakan mertua yang super enak menurut lidahnya.


"Kalau setiap hari makan masakan ibu seperti sekarang ini, sepertinya aku harus rajin berolahraga. Bisa bisa perutku membuncit dan aku pasti akan sangat jelek." Gerutu Arsena menyesali makan banyaknya.


"Udah sampe perut juga, pake menyesal." ujar Andini yang mengambil piring kosong di depan suaminya. Lalu menuangkan minum dari teko.


"Dara, gimana sekolah kamu?" Tanya Arsena sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Udah lulus kak. Ini juga lagi mau cari universitas yang agak dekat dengan depot ibu."jawab Dara canggung. Dara suka malu bertatapan dengan kakak iparnya langsung, selain kakak iparnya terlalu tampan, dia juga terkesan sangat cuek.


"Oh. Gimana kalau ibu dan dara tinggal sama kami saja. Kan bisa sekalian berangkat bersama."


Arsena berinisiatif untuk mengajak mertua dan adiknya tinggal serumah.


"Makasi Nak, ibu kan jualan banyak menu sayur dan ikan matang. Jadi ibu harus bangun awal, masak dulu baru di jual, nanti kalau ibu tinggal disana kan susah bawa masakannya."


Arsena mengangguk anggukan kepala. "Iya juga ya."


"Kalau begitu biar nanti ibu saya carikan asisten, biar nanti bantu ibu masak."


"Nggak usah, Nak. Entar bikin repot, lagian juga belum terlalu rame. Ibu masih bisa sendiri."


Arsena tak mengindahkan kata-kata mertuanya. Ia malah berencana mencarikan asisten dan sekalian membeli lahannya untuk menjadikan milik ibu .


Tring ... Tring ... Tring ....


Ponsel Arsena berdering. Andini segera mengakhiri sarapannya.


"Ya udah, saya balik ke kantor dulu Bu, Ra. Asisten saya sudah menelepon lagi."Arsena beranjak dari duduknya. Andini ikut bangkit dan mengekor hingga sampai di lorong yang sepi.


"Ars kamu nggak pamit sama aku. Katakan apa yang membuat kamu diam seperti ini"


Arsena tak menjawab ia langsung saja memeluk tubuh istrinya.


"Ndin, aku sudah kangen banget sama kamu. Nanti kita pulang ke rumah ya?"


"Sekarang kita sudah ketemu."


"Iya, sekarang sudah ketemu sama orangnya. Tapi dia yang di bawah ini minta ketemu sama temannya juga." Kata Arsena sambil menekankan miliknya ke paha Andini, menggesekkan pelan-pelan.


Andini merasakan ada yang sudah mengembung di balik celana suaminya.


"Miko kan sudah melewati masa kritisnya, jadi kamu harus bantu aku juga melewati masa kritis suamimu ini." Arsena berkata dengan memelas.


"Ars, apa'an sih. Malu kalau didengar yang lain. Mereka pasti akan bilang, Suami Dokter Andini ih, nggak punya malu. Mesum banget dia."


"Bisa aja, pasti alasan kamu aja, menghindari kewajiban, iya kan? Lagian siapa yang dengar, ini ruang pribadi kamu.


"Udah Ars, buruan balik kerja gih, aku sehabis makan harus periksa pasien lagi," Andini melihat arlojinya sudah menunjukkan jam satu siang.

__ADS_1


Arsena tidak melepaskan Andini, dia malah memeluknya, Andini tau kalau Arsena benar-benar sedang rindu. Dekapannya begitu erat dan hangat.


Setelah melepas pelukannya Arsena kini menciumnya. Ia memegangi kepala Andini agar tak menolak dicium olehnya.


"Emph, Ars .... Nggak bisa nafas."


" Aku ajarin berciuman sambil bernafas." Arsena tersenyum smirk. Ia mengulangi perbuatan gilanya di lorong yang sepi. Khusus dilewati anggota medis.


"Ehm ...."


Vanya berdehem. Setelah memergoki Andini dicumbu oleh Arsena. Gadis itu tak sengaja melihat semua saat ingin ke ruangan Andini mengantar semua hasil pemeriksaan pasien.


Untung saja posisi Andini miring, tertutup oleh tubuh Arsena yang lebih besar, hingga Vanya tak bisa melihat langsung wajah Andini yang begitu menikmati cumbuan Arsena.


"Maaf," ucap Vanya spontan. Wanita itu segera membalikkan tubuhnya memunggungi Andini dan Arsena.


"Eumm ... Ars, lepas! ada Vanya," ujar Andini terbata, Andini merapikan bajunya. Arsena juga merapikan Hem dan dasinya.


"Ka- kalian. Apa yang kalian lakukan siang-siang begini?"


"Hey ... Lebay gue nggak ngapa ngapain!" Kata Andini menarik bahu Vanya. Sedangkan Arsena segera menghilang dari dua bidadari cantik.


"Suami kamu ternyata mesum banget, bisa-bisanya di siang bolong gini bininya di kekepin disini." kata Vanya sambil mengerucutkan bibirnya. "Bikin ngiri jomblo aja."


Andini yang merasakan bibirnya perih karena ciuman Arsena yang brutal ia cuma bisa nyengir kuda sambil meraih tisu di sakunya.


"Oh iya, Vanya kenalin di dalam ada ibu dan adik, kalian kenalan yah?"


Vanya akhirnya kenalan dengan Ana dan Dara. Ana sangat senang Andini mempunyai teman sebaik dan secantik Vanya. Gadis yang sedikit lebih pendek dari Andini dan kulitnya putih layaknya porselen itu cepat akrab dengan ibu dan Dara.


****


Semilirnya angin sore sangat tepat untuk mereka yang ingin sekedar jalan-jalan menyusuri tepi pantai, sekedar untuk melepas kebosanan, penat dengan rutinitas yang bertumpuk di meja kerja.


"Ars, kenapa kita mampir kesini? Apa nggak capek seharian bekerja. Kamu harus segera istirahat."


Tanya Andini yang heran dengan tingkah suaminya. Pulang kerja tak langsung pulang malah turun dari mobil dan duduk di atas pasir tanpa alas untuk pantatnya, melihat anak-anak berlarian di tepi pantai memainkan layangan.


" Kamu lelah?" Tanyanya pada Andini.


"Enggak aku malah khawatirkan kamu, Ars. Aku takut suamiku kecapek'an, apalagi kerjaan di kantor pasti banyak, setelah insiden kemaren."


Arsena hanya tersenyum. Ia mengisyaratkan Andini untuk duduk di sebelahnya.


"Lihatlah mereka, aku jadi ingat masa kecilku dulu."


"Apa masa kecilmu suka main layang layang?"


" Tidak, masa kecilku kurang bahagia, mau tau?" Arsena memainkan pasir di depannya, melukis dengan jari jarinya.


Rasanya berbeda terbalik dengan dirinya. Andini yang memiliki masa kecil bahagia. Ketika beranjak dewasa baru kebahagiaan itu menjauh karena papanya menikah lagi dengan Ratih. Dan ibu mulai sakit sakitan.


Arsena memulai ceritanya. Andini siap menjadi pendengar setia.

__ADS_1


"ketika usiaku sekitar dua tahun aku melihat Mama sering sekali menangis, saat itu aku belum tau kenapa Mama suka bersedih. Ternyata papa mendua, aku tau kenyataan pahit yang dialami Mama, ternyata aku punya Mama baru. Yaitu tante Mita.


Sejak itu aku sangat membenci Tante Mita, apalagi tak lama dia juga hamil, aku sudah mengutuk anaknya sejak di kandungan, aku akan sangat membenci dia jika lahir nanti.


"Lalu ...." ujar Andini sambil menatap wajah suaminya yang semakin tampan saat rambutnya terkena terpaan angin sore.


Ternyata adik tiriku juga laki- laki. Dan kebencianku semakin bertambah. Mama selalu bilang kalau dia akan menjadi musuh terbesarku, dan selama ada dia di dekatku. Aku harus membencinya. Semenjak itu aku menjadi sosok pria yang dingin dan keras kepala.


"Namun papa berusaha dengan segala cara menyatukan kami. Dan selama itu usahanya sia-sia. Namun, sekarang aku menyadari siapa ternyata wanita pertama yang di sayangi Papa.


" Kata Arsena tangannya terulur di punggung Andini. Mengeratkan dekapan untuk istrinya. "Aku hanyalah anak dari wanita yang memiliki posisi no dua di hati Papa. Itu sebabnya aku benci perselingkuhan dan mendua."


Mendengar penuturan Arsena, Andini tentu saja sangat bahagia. Prianya hanya akan menjadi miliknya, dan tentu ia tak khawatir lagi dengan pandangan wanita lain yang lebih menggoda.


"Andini bolehkah aku bertanya posisiku dihatimu?"


Andini tak menjawab ia malah berdiri mengulurkan tangannya pada Arsena agar mau berdiri dari duduknya. Namun Andini lebih kecil membuat ia malah terjatuh ke dalam dekapan suaminya.


Andini menatap kedua bola mata suaminya. Ada dentuman yang kuat di dadanya.


"Tentu hanya ada kamu, di hatiku," ujar Andini dengan suara berat. Karena dadanya menindih tubuh suaminya.


"Apa kamu tak bohong?"


Andini menggeleng kepalanya dengan cepat. "Tentu tidak."


"Miko?"


"Perhatianku sebatas karena aku berhutang Budi, lagian kita sekarang bersaudara."


Arsena lega mendengar pengakuan wanitanya.


 


"Ya, ampun Nona kalian mesum sekali. Ini tak baik dilihat untuk anak-anak kami."


"Maaf kami tak sengaja, tadi terjatuh." Kata Andini segera menarik tubuhnya dari atas Arsena. Dengan wajahnya yang dipenuhi rona malu.


Bapak itu masih terlihat tak percaya. " Kalau sudah ada modal, mending nikah sana. pacar anda kelihatannya juga bukan orang miskin."


"Maaf, kami sudah menikah." Andini menjawab dengan nada sopan, dan masih dengan bibir tersenyum.


Arsena yang mendengarnya ia ingin tertawa melihat istrinya sibuk menjelaskan. Ia malah sengaja meraih pinggang Andini dan mencium keningnya "Sudahlah sayang mari kita lanjutkan di rumah."


"Ars ...!"


Bapak yang tadi melihat mereka berdua dengan tatapan sinis, kini pergi dengan sendirinya.


Andini dan Arsena kembali menuju mobil, setelah dirinya mengabadikan momen berdua, dengan banyak mengambil gambar berlatarbelakang senja yang berwarna jingga.


Mereka ingin segera pulang dan menyalurkan segala kerinduan yang sudah lama terbendung.


*Happy reading.

__ADS_1


*Jangan lupa kasih Vote.


*Terima kasih.


__ADS_2