Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 277. Pergi untuk selamanya.


__ADS_3

Andini berangkat mandi, sedangkan Arsena melepas baju kerjanya sendiri. Dia tak mau merepotkan istrinya sama sekali kalau sudah tau ada bayi yang tumbuh di rahim pujaan hatinya, bahkan dia mulai berusaha menjadi laki-laki mandiri. 


Seperti esok ini, andini masih tertidur pulas di atas ranjang dengan selimut menutupi separuh tubuhnya, lingerie berwarna silver yang ia kenakan masih menempel dengan anggun. Pertanda semalam tak ada pergulatan panas yang membuatnya lelah dan semua menjadi berantakan. 


Andini menggeliat, netranya masih belum terbuka sempurna. Jemarinya mencari cari keberadaan suami yang sudah pergi entah kemana. Padahal ini masih pagi buta. 


"Ars!" Panggilnya lirih. Andini sangat kehilangan sosok suami di pagi hari.


Lelaki itu sudah benar-benar tak ada. Andini menggeser tidurnya hingga tubuhnya kini bersandar di sebuah sisi ranjang. 


Pagi hari perutnya mulai bergejolak, Andini menganggap ini hal yang biasa. Andini menyibak selimut warna biru langit itu, lalu turun menuju wastafel untuk mencuci muka. Ketika sampai di wastafel andini mencium aroma masakan yang membuatnya ingin makan sangat banyak.


Mungkin kedengarannya aneh tapi ini kenyataan yang Andini alami pagi ini. Andini bergegas menuju dapur, betapa terkejutnya ternyata arsena lagi memasak. 


Ini pertama kalinya Andini melihat pria itu memakai celemek, ini pertama kalinya juga melihat Arsena mengaduk aduk makanan di penggorengan, yang ada di atas kompor. 


Andini sangat bahagia, suaminya masak untuk dirinya. Ini sangat romantis buatnya.


Alangkah bahagianya ketika bersama keluarga besar dulu Arsena mau melakukan ini. Wanita yang ada di rumah pasti akan memujinya. Iri dan meminta suaminya melakukan hal yang sama.


Arsena menoleh ke arah Andini. "Hei, sudah bangun aja? Mual nggak?"


Andini menggeleng sambil tersenyum, Arsena menarik tangannya menuju masakan yang tinggal menunggu matang sebentar lagi. 


"Bibi mana?" Andini celingukan mencari Bibi yang biasanya sudah mondar-mandir di dapur.


"Bibi belanja, cuma ada kita berdua, Arini dan Davit juga nggak pulang. Anak itu benar benar bikin khawatir. Harusnya pamit kalau pergi sekaligus menginap."


"Kita bertiga." Andini mengelus perutnya. 


"Oh, iya. Selamat pagi sayangnya Daddy. Nie Daddy lagi masakin spaghetti kesukaan Mommy. Tapi waktu hamil Kakak Excello mommy nggak suka. Kakak kaya Daddy suka gurami dan lobster." Arsena membeo sambil mengelus perut Andini.


"Ih, dia masih sebiji kacang Ars, belum bisa dengar." Andini tersipu malu. Kali ini dia yang memeluk suaminya dari belakang. Arsena mengelus jemari Andini yang melingkar di perutnya. Andini sengaja merebahkan kepalanya di punggung suami. Arsena tentu sangatlah senang. Tapi dalam kondisi memasak dia takut masakan yang sudah dibuat dengan sepenuh hati akan tumpah.


"Sayang, tunggu di meja makan ya?" Perintahnya dengan nada mesra.

__ADS_1


"Nggak mau aku maunya ganggu kamu aja," rengek Andini manja.


"Nanti gosong, jadi nggak spesial lagi."


"Okey, aku akan mandi dan ganti baju dulu, kata Vanya ada banyak pasien yang datang tadi malam." terang Andini.


Arsena sungguh berat membiarkan istrinya bekerja, tapi bagaimana lagi, itu sudah cita citanya. Jika dilarang Andini pasti akan sedih, beda sekali waktu hamil si kembar, Andini mengalami banyak hal menyedihkan, yang berawal dari Mama yang tak merestui. Tapi kali ini Andini sehat bugar, sudah tak mungkin setuju jika harus disuruh berdiam diri di rumah. 


Usai mandi dan dandan cantik, Andini segera turun kembali. Dia melihat suaminya sudah menunggu di ruang makan dengan tak sabar. Pria itu terlihat serius dengan masakannya, sudah tak sabar ingin Andini segera mencicipinya.


Arsena melihat sosok istri turun dari lantai dua, walau tanpa riasan yang tebal tetap saja dia terlihat sangat cantik.


"Cantik sekali," puji Arsena." Apa aku mimpi." Imbuhnya lagi sambil mengedipkan matanya seperti orang kelilipan.


Andini hanya tersenyum tipis, berusaha percaya kalau suaminya tidak sedang membual.


Arsena menarik sebuah kursi disebelahnya untuk Andini, setelah itu ia berjalan ke arah tangga tangannya terulur menyambut kedatangan Andini. 


"Apa hari ini ada yang spesial? Aku merasa seperti seorang istri raja," canda Andini. 


Arsena hanya tersenyum. "Duduklah dan makan yang tenang aku akan buatkan minumannya. aku bukan raja, aku pelayanmu, Nona."


"Benarkah, aku juga sudah bikin yogurt untuk penutup sarapan hari ini."


"Terima kasih Hubby. Aku akan ambil sendiri." Andini mengecup pipinya sangat lama. 


Sarapan pagi ini sangat romantis, hanya ada mereka berdua tanpa ada kegaduhan seperti biasa. Tapi mereka juga tetap merindukan kehadiran Zara, Dara, Amert dan Miko yang pernah meramaikan harinya.


Ting! tung!


Suara bel terdengar, Arsena segera beranjak, dan menahan Andini untuk tetap duduk.


"Aku aja yang buka,"pintanya.


Andini mengangguk setuju. 

__ADS_1


Pria berseragam pegawai sebuah rumah sakit besar itu datang secara langsung menemui Arsena. 


"Kenapa anda kesini? Aku bukan keluarganya, Bukankah aku sudah berbaik hati meminta pelayanan terbaik untuk wanita itu, aku sudah kirimkan Dokter Ahli khusus untuk penyakitnya? Aku juga sudah siapkan tenaga perawat tambahan untuk menggantikan diriku disana."


"Tuan, Nona Lili sudah berpulang. Dan kami mengabarkan ini pada anda secara langsung, karena anda mengabaikan panggilan dari kami. "Petugas itu berkata dengan raut sedih."


"Apa?" Arsena tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya. "Innalilahi wainailaihi rojiun."


Arsena langsung menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Tak percaya wanita itu akan pergi secepat ini. Ada rasa bersalah yang amat besar karena tak bersamanya di detik detik terakhir kepergian Lili. Arsena mengira Lili akan sembuh dan kembali sehat seperti sedia kala. 


 Padahal sejak mengetahui Lili sakit dia sudah berusaha menjadi yang terbaik. Berusaha sering datang menghiburnya, meminta dokter memberikan obat obatan yang terbaik. Tapi kabar memilukan ini akhirnya dia dengar juga. 


"Ars, siapa yang datang?" Andini berjalan menghampiri Arsena yang terlihat tak baik baik saja. 


"Lili sudah tiada, dia sudah menghadap yang kuasa lebih dulu." ujar Arsena dengan suara tertahan.


Andini segera menutup bibirnya yang spontan terbuka karena terkejut. Bulir bening menetes dari pelupuk matanya tak mampu dibendung lagi. 


Justru Arsena sekarang khawatir dengan istrinya. Dia menghampiri Andini dan memeluknya erat. Khawatir jika terkejut berlebihan akan membuat bayi yang ia nantikan tak baik baik saja. 


"Ars aku ikut!" ujar Andini dalam Isak tangisnya.


"Di rumah saja, aku akan urus pemakaman Lili, Ken pasti juga sudah ada disana."


"Tapi aku ingin ikut, ini hari terakhir aku melihat wajahnya, aku bersalah padanya Ars, aku masih cemburu dikala dia sudah sakit, harusnya aku biarkan kamu menemaninya disana, jika itu bisa membuat kepergiannya lebih tenang."


"Stttt, kamu nggak salah. Ini sudah takdir, tak ada yang bisa melawan takdir."


"Aku bersalah Ars, aku bersalah pada dia." Andini masih meringkuk dalam dekapan Arsena. 


"Tidak, aku bilang kita tidak bersalah." Arsena mengusap punggung Andini dan sesekali mengecup keningnya. Pria tadi akhirnya memilih pergi tanpa pamit. 


"Aku akan hubungi perusahaan dulu, supaya Gilang handle tugas aku, dan kita pergi ke pemakaman Lili sama sama." ujar Arsena pelan di dekat telinga Andini.


Andini mengangguk setuju. Lalu meregangkan tubuhnya dari pelukan Arsena. Mereka berdua kembali ke kamar.

__ADS_1


Arsena segera mandi. Sedangkan Andini ganti dengan gamis warna hitam dan kerudung hitam. Tak lupa ia siapkan baju serba hitam pula untuk suaminya. 


Setelah sudah siap, Arsena dan Andini segera meluncur ke rumah sakit. Benar dugaan Arsena, Ken sudah sampai disana terlebih dulu di temani oleh Vanya, Rara juga ikut serta bersama pengasuhnya menunggu di taman.


__ADS_2