
"Andini, kamu disini aja ya, temani aku, aku kesepian. Aku belum kenal sama mereka-mereka rasanya aku sedikit canggung jika perlu sesuatu."
"Iyah, aku akan temenin kamu disini. Cepet sembuh ya?" ujar Andini menghibur.
"Aku pasti akan lebih cepat ingat semuanya, jika kamu, selalu disisiku, Andini." Miko meraih tangan Andini dan menggenggamnya. Andini ingin menariknya namun khawatir Miko akan kecewa. Andini melihat ke arah Arsena.
Apa'an itu, pake pegang tangan
"Tuan, tolong jaga sikap anda, jangan pegang Nona kami, Belum muhrim." Arsena mendekat dan melapaskan tangan mereka berdua. Lalu kembali lagi pada duduknya semula.
"Maaf." Miko menjauhkan tangannya begitu juga Andini. Hati Miko mengutuk Arsena yang dipikir terlalu ikut campur.
Tiba tiba suasana menjadi begitu canggung. Andini kini memulai membuka suara terlebih dahulu.
"Em, Miko bagaimana kalau kita jalan-jalan keliling taman, udara sore mumpung lagi sejuk nie?" Andini melihat jam di lengannya masih pukul setengah empat. Udara sore ini juga lagi bagus.
"Ars, tolong bantuin siapkan kursi rodanya." Perintah Andini yang lupa tak memandang wajah suaminya.
"Gini amat sih, kalau terus begini, jadi pelayan bener, Gue."
Arsena dengan hati sedikit terpaksa, akhirnya beranjak juga mengambil kursi roda untuk Miko.
Arsena membuka kursi roda didekat Miko dan menempatkan diposisi yang mudah untuk Miko bangun. Miko bisa jalan hanya saja Andini khawatir Miko terjatuh.
Arsena mendorong kursi dan Andini membawa tongkat infus. Mereka bertiga segera menuju lift, dan memencet tombol paling dasar hingga saat pintu lift terbuka langsung di depan taman.
Arsena mendorong kursi Miko dengan hati-hati. hingga Akhirnya Miko minta berhenti sebuah tanah lapang di depan air mancur.
"Kenapa berhenti? Apa kamu ingat sesuatu Miko?"
"Iya Andini aku ingat sesuatu"
"Katakan Miko apa yang sudah kau ingat?"
"Aku ingat." Miko mencoba tenang dan memejamkan matanya. " Aku ingat kau duduk di taman dan aku memberimu sebuah hadiah."
"Iya, benar Miko, coba ingat- ingat lagi Miko!"
"Aku ingat kau suka sekali menangis Andini, aku sekarang tak hanya sekedar ingat namamu."
"Coba ingat-ingat yang lain lagi Miko, pria ini misalnya?" Andini membungkukkan badannya di samping Miko berharap ada yang dikatakan lagi.
__ADS_1
"Maaf Andini aku belum bisa mengingat yang lain, aku baru ingat kalau kau adalah gadis cengeng dan menggemaskan."Miko mentowel hidung runcing Andini.
"Ehm, ehm." Arsena berdehem membuat Miko mengakhiri kata katanya.
"Ars, jalan-jalan kita hari ini sudah cukup ya? Tolong bawa Miko masuk lagi.
Baiklah, Arsena kembali mendorong kursi Miko berputar taman sekali dan kembali masuk.
Andini menghubungi Vanya lewat ponselnya. Tak lama dia sudah datang bersama Zara menuju ruang Miko..
"Kau memanggilku kesini, Ndini?"
"Iyah, tolong periksa."
" Baiklah." Vanya sangat senang memeriksa Miko. Ia menunjukkan keahlian terbaiknya berharap Miko akan jatuh hati padanya.
"Gimana Vanya?"
"Em, semua baik. Kesehatan Miko sudah semakin ada kemajuan positif, seiring dengan ingatannya, sebaiknya keluarga membawanya pulang dan dilakukan rawat jalan. Jika dia di rumahnya akan bagus, membantu ingatannya lebih cepat pulih lagi."
"Baiklah, kalau begitu siapkan kepulangan Miko."
Akhirnya Miko hari ini benar-benar kembali pulang ke apartemennya. Tentu Andini dan Arsena juga ikut pulang kesana.
Arsena seharian sudah seperti asisten beneran, ia terlihat sangat lelah. Harus melayani Miko layaknya asisten beneran.
Ia langsung saja istirahat di sofa ketika sudah sampai di apartemen Miko. Hingga saat tidur terdengar dengkuran halus dari bibirnya.
Miko juga beristirahat di kamarnya, karena pengaruh obat, ia lebih mudah mengantuk.
Sementara para pria sedang nyenyak tidur, Andini memasak untuk makan malam, Mama Mita juga ikut sibuk membantu.
Tak lupa ia memakaikan celemek pada Andini. "Angkat dulu rambutnya, biar mama pakaikan celemeknya sayang.
"Ndin, Miko sebenarnya sangat suka pedas, kalau sakit gini apa masih boleh makan banyak cabe?" Tanya Mita sambil mengiris tipis cabe hijau.
"Mending jangan deh, Ma. Soalnya kasian dia nanti sakit perut, lambungnya pasti masih masa pemulihan, sehabis koma."
"Iya juga ya, oh iya, apa Arsena juga suka pedas?"
__ADS_1
"Banget." Jawab Andini sambil mengaduk sup." Mereka berdua pasti akan menyantap dengan lahap."
Menu malam ini sederhana. Namun, cukup memenuhi gizi. Sup ayam ditambah aneka sayuran.
Mama Mita segera menata, di ruang makan. Sedangkan Andini mengelap piring. Mereka sangat klop layaknya mertua dan menantu idaman.
Arsena yang sejak siang tak mengisi sesuatu apapun di perutnya, karena memerankan acting pelayan. Begitu mencium aroma masakan, cacing di perutnya langsung berdendang ria.
"Hmm .... Sedaaap. Andini, pasti sedang memasak enak nie."
Arsena segera duduk dan merapikan rambutnya. Tanpa ba-bi-bu langsung menyerbu ke arah ruang makan.
Kebetulan ruang makan lagi sepi. Karena Andini dan Mita lagi mandi. Arsena segera mengambil piring dan makan dengan lahap. Persetan dengan pemilik rumah yang lagi lupa ingatan yang penting perutnya sekarang terisi.
"Ya Tuhan, emang enak banget ya masakan istri, apa lagi lapar kayak gini." Arsena mengelus perutnya yang kenyang.
"Hai pelayan .... Lancang sekali! Sejak kapan pelayan, makannya mendahului majikan?" Miko keluar kamar yang kebetulan dekat dengan ruang makan. Sebenarnya ia sejak tadi sudah mengintip, Arsena makan dengan lahap, namun Miko tak ingin mengganggu.
Emang gue pikirin, gue laper Mik. Andini sih pakai bilang gue pengawal juga, sekarang gue ribet sendiri. Walau acting sekalipun ogah,lah makan di tempat pelayan. Bikin jatuh harga diri aja.
"Em, emang pelayan harus selalu makan di belakang?" Bantah Arsena.
"Ya nggak, tapi setidaknya kamu nunggu majikan selesai makan!" Kata Miko menggerakkan kursi rodanya mendekati kursi yang di duduki Arsena.
Kecurigaan Miko terjawab sudah, untuk ukuran Bodiguard. Arsena terlalu berkarisma. Kulit yang halus seperti bayi pasti hanya sekedar bisa dalam bertarung. Kalau jago? Nggaklah.
"Ada apa ini?" Mama Mita keluar lebih dulu begitu mendengar Miko berbicara kasar dengan Arsena.
Miko dan Arsena sama-sama diam, dan saling menusuk dengan tatapan tajam.
"Katakan sejujurnya pada Miko, Ma? Siapa dia sebenarnya?"
Mita melihat piring kotor di depan Arsena, dan bibir Arsena terlihat basah.
"Tenang Miko, Tadi mama yang suruh dia, karena dia kelaparan. Iya kan Ars?"
"Betul, itu." Arsena mengangguk mantap.
"Mama kamu aja baik, masa anaknya nggak."
Oke, mungkin kamu sekarang lolos tapi tidak lain kali. geram Miko.
__ADS_1
"Saya permisi dulu, Nyonya."