Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 35. Jeruk peras, bikin haus.


__ADS_3

Arsena merasakan tubuhnya kian memanas, bersentuhan sedikit saja dengan tubuh Andini telah berhasil membakar gairahnya, jiwa laki lakinya bangkit, semakin lama diposisi berpelukan menyulut gairahnya semakin meletup letup.


Arsena lupa dengan janji yang pernah ia ucapkan, kalau diantara cinta palsu ini tak akan ada hubungan intim sekecil apapun. Tapi malam ini ia mengingkari, hasrat yang besar membuat begitu ingin menyentuh bukit menjulang di depannya.


Apa yang dilihatnya kemaren, kini terpampang begitu dekat, ingin ia sentuh dan meneguk sumber mata air yang masih kering itu.


Gila, aku bisa gila jika terus berfikir mesum seperti ini.


Sesaat ia melupakan gengsinya dan kata-kata naif yang selalu diucapkan kepada Andini .


Arsena mencoba menelusupkan tangannya dibalik kaos oblong warna putih yang dipakai istrinya, Ia menggerakkan tangannya sangat pelan.


Arsena hanya ingin menyentuhnya sedikit saja. Setelah itu ia berjanji akan melupakan selamanya.


Pergerakan pelan tak mengusik sang pemilik yang lagi tertidur pulas, karena pengaruh obat tidur yang terkandung di dalam pil kecil tadi membuat Andini mati rasa.


Andini, izinkan aku menyentuhnya, boleh kan.


Gumam Arsena berbicara dengan hatinya sendiri sambil terus memandang wajah Andini. Khawatir sang pemilik tiba-tiba akan bangun.


Arsena berhasil meraba buah jeruk yang beberapa hari ini membuat otaknya hampir gila, sayang sekali buah itu memiliki perisai yang sangat tebal dan gemboknya berada di belakang.


Arsena mulai meremas bukit menjulang miliknya pelan pelan, ia bisa merasakan bukit itu mengeras.


"Emmm ....ah" Andini menggeliat.


Buru-buru Arsena menarik tangannya dan menjadikan alas untuk kepalanya.


Andini mengerjabkan matanya, ia mulai terbangun.


"Kenapa bangun?" tanya Arsena yang pura pura terganggu.


"Sepertinya aku bermimpi." Kata Andini dengan mata masih mengantuk.


"Mimpi apa?" tanya Arsena pura-pura penasaran.


"Rahasia, aku nggak ingin ada yang tahu," jawab Andini malu malu. "Mimpi yang sangat buruk."


"Tidurlah lagi, ini masih tengah malam." Kata Arsena sambil mengangkat kepalanya, mendongak melihat Andini. memastikan kalau wanitanya tak mengetahui kelakuannya baru saja.


"Aku ingin minum." Andini memaksa bangun.


"Akan aku ambilkan." Arsena ikut bangun. Dengan sigap Andini menahan lengannya.


Biarkan aku ambil sendiri, anda tuan disini, tak mungkin mengambilkan minum seorang ART.


Arsena menyerah jika Andini sudah berujar demikian, ia kembali menyandarkan kepalanya.


Arsena merutuki kebodohan yang dilakukan baru saja, bisa bisanya bertindak seperti pencuri yang hendak memetik mangga tetangga. Kenapa harus pada Andini yang jelas jelas tak pernah ia cintai.


Sedangkan hasrat sebesar itu belum pernah ia lakukan pada Lili. Jika Arsena menginginkan, Lili pasti akan mengijinkan dengan senang hati.


Andini yang pamit mencari minum kini menuang air dari teko yang ada di kamar itu, namun ia teringat sejak sore tak menyentuh ponselnya. Benda pipih itu selalu menjadi temannya sebelum tidur, tapi sore ini ia tidur tanpa ditemani ponsel disampingnya.


Andini mencari cari di meja namun tak menemukannya, ia juga mencari di rak buku, mungkin tertinggal saat menata tadi.


Arsena yang melihat Andini tak kunjung tidur lagi, mulai mengerti kalau dia sedang mencari ponselnya.


"Kau mencari ponselmu ya?"


"Hemmm .... Seingatku, tadi sore aku menaruhnya disini, tapi sekarang nggak ada. Apa kau ....?"


"Apa kau menuduhku mencuri ponselmu?"


"E-enggak, mungkin aku saja yang lupa menaruhnya. Biar aku cari ditempat lain." Andini menggaruk keningnya sambil mengingat-ingat.


Andini hendak keluar kamar. Namun, Arsena segera menahannya. "Ponsel bututmu biarkan saja hilang, besok aku akan menggantinya yang baru."


"Bukan masalah ponselnya Ars, tapi didalam ponsel itu ada materi kuliah penting, ada kontak teman-teman juga."


Andini mulai terlihat panik, tak terbersit sedikitpun di angannya kalau Arsena yang telah menyembunyikan, karena setahu Andini pria itu tak pernah sekalipun menyentuh barang-barang miliknya. Andini berfikir mungkin ia lupa menaruh saja.


Andini mulai mencari keluar kamar, berharap akan ketemu di tempat mencuci atau meja makan. Lelah mencari, akhirnya Andini memilih kembali ke kamar, kali ini ia ke kamarnya sendiri yang berada di pojok belakang.


Arsena menunggu Andini kembali ke kamarnya, hingga malam semakin larut. Yang ditunggu tak kunjung datang, ia juga mulai resah sendiri.

__ADS_1


Arggg .... Aku ini kenapa kok jadi memikirkan gadis pilihan papa itu, jangan jangan aku mulai .... Nggak, nggak, aku nggak boleh suka sama dia, apa yang akan Lili pikirkan tentangku kalau aku selingkuh.


Arsena kini mengambil ponsel Andini, dan meletakkan di meja kecil tempat Andini biasa menyetrika baju, Arsena yakin pasti pagi sekali Andini sudah menemukan benda pipih itu jika ditaruh di sana, karena ia memiliki kebiasaan menyetrika sebelum berangkat kuliah.


*****


Arsena menelepon Lili, ini kedua kalinya pria itu menelepon kekasihnya sejak keluar negeri kemaren, karena alasan tak ingin memikirkan wanita lain selain dia seorang.


"Hallo sayang, aku merindukanmu," kata Lili bahagia begitu tau yang menelepon adalah seorang yang amat ia cintai.


"Aku juga Beb. Kapan pulang?"


"Nggak lama, mungkin satu minggu, paling lama dua minggu. Kamu jangan nakal yah disana. Aku ingin kamu hanya mencintai aku seorang sayang ...."


Arsena terdiam, ia mendengarkan kata-kata Lili. Sepertinya ia telah tak adil dengan wanita yang jauh disana.


Jelas-jelas Lili disana bekerja, dan mencoba setia, tapi apa yang ia lakukan di rumah, Baru saja tadi ia begitu tertarik dengan bukit kenyal milik Andini. Dan ia memaksa untuk meraba tanpa seizin pemiliknya.


"Aku akan setia sayang, kamu juga hati-hati ya disana, aku menantimu."


...........


..........


Arsena dan Lili terus saja melanjutkan obrolannya hingga menjelang pagi.


Sebelum tidur ia mengambil foto milik Lili, yang ada di atas nakas, foto yang sudah ia bingkai dengan emas itu, ia peluk hingga ia tertidur pulas.


*****


Esok telah tiba, Andini sudah merasa lebih baikan daripada semalam. Panasnya sudah hilang tinggal gemetar ringan saja. Namu Andini masih malas beraktifitas, toh kemaren sore ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi bagiannya.


"Nona, ini teh hangatnya." Bibi yang tau Andini semalam kurang enak badan, pagi buta segera menyiapkan teh hangat dan dua lembar roti tawar yang sudah di olesi selai blueberry kesukaan Andini.


"Makasi Bi." Andini tersenyum dan berusaha bangkit, kini Andini duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.


"Nona, ini hp yang Non, cari semalam," Bibi mengulurkan tangan menyerahkan ponsel milik Andini.


"Tadi tergeletak di meja setrikaan. Pasti Non lupa menaruhnya.'


"Yah, baterainya habis, Bi. Pantes saja semalam di calling pake hp bibi nggak bisa." Andini merasa lucu sekaligus aneh, seingat dia semalam menaruhnya di meja karena Arsena memberikan hair dryer dan baterainya juga masih penuh.


Andini kini mencharger ponselnya sebentar, setelah menunjukkan baterai penuh, ia menyalakan kembali, tanpa curiga sedikitpun kalau Arsena yang sudah mematikannya. Andini hanya berfikir mungkin hpnya mulai eror saja.


Andini terbelalak melihat Miko meneleponnya hingga 50 kali, pria itu pasti mengkhawatirkannya.


Andini segera menghubungi Miko balik, Namun seperti sedang balas dendam, kini giliran Miko tak mengangkat teleponnya.


"Telepon den Miko ya Non?"


"Hiya Bi, tapi nggak diangkat." Andini memanyunkan bibirnya lalu mendudukkan pantatnya di ranjang.


Maaf Mik semalam aku nggak angkat telepon darimu.


****"


Tok ... Tok ... Tok ....


"Biar bibi saja yang buka ya Non." Bibi meminta persetujuan Andini, dan Andini mengangguk.


" Miko, apa kamu mengkhawatirkan aku." Andini memandangi ponselnya sebentar. Lalu menaruh di laci. Setelah sadar ada yang sejak tadi mengetuk pintu. Andini pun segera turun rupanya yang datang adalah Mama Mita.


"Mama!" Andini berlari ke arah Mita.


"Andini, mama kangen sayang." Mita merentangkan tangannya lebar-lebar lalu memeluk tubuh Andini sangat erat. "Sayang kamu makin cantik saja?"


"Ah, perasaan Mama saja. Tumben Mama pagi sekali kesini, sendiri saja,"


"Sama Miko, Dia libur, jadi Mama minta antar untuk kesini. Kata Miko kamu habis jatuh dari sepeda, kemaren sore. Biar mama periksa jangan jangan ada yang lecet atau keseleo.


"Nggak Ma, nggak ada yang luka sama sekali."


Miko yang baru selesai memarkirkan mobil dia juga ikut masuk rumah.


"Den Miko, Nyonya, silahkan duduk dulu, dan mau minum apa?"

__ADS_1


"Nggak usah repot Bi, saya cuma sebentar, setelah tau Andini baik saja saya akan pulang lagi. Kata Mita sambil ikut bibi masuk ke dalam, mengamati rumah Arsena beserta interior mahal yang berjajar rapi di sepanjang jalan masuk. Mitha memang pengagum benda benda unik, dia suka aja melihat tatanan rumah putra tirinya itu.


Sedangkan Andini dan Miko ia duduk di ruang tamu berdua saja.


"Miko, aku buatin minum dulu yah?"


"Udah, nggak usah, duduk aja, Girl." Miko mencekal lengan Andini dan membuat Andini mengurungkan langkahnya, lalu duduk kembali di kursi tunggal di sebelah Miko.


"Girl, pagi ini aku sengaja kesini, karena aku khawatir terjadi apa-apa dengan kamu, Semalam handpone tak bisa dihubungi, aku khawatir kamu kenapa kenapa?" Kata Miko menunjukkan kekhawatirannya.


"Maaf Mik, aku ketiduran."


"Se sore itu sudah tidur? Apa kamu sakit?"


Miko mengulurkan tangannya ke kening Andini. "Kamu sakit Andini badan kamu hangat."


Ekspresi Miko yang terlalu khawatir membuat Andini tersenyum lagi. "Miko, jangan terlalu mengkhawatirkan ku, aku sudah besar, dan ini cuma flu biasa."


"Entahlah Andini, jujur saja aku selalu memikirkan kamu." Pandangan Miko meredup, dan ia mulai menggenggam jemari Andini.


"Andini, jaga dirimu, aku akan menikahi bidadari setelah dia tak ada ikatan lagi." Kata Miko menghela nafas panjang dan mulai mengecup lembut jemari Andini.


Andini menarik jemarinya, ia sadar bagaimanapun ia sah istri orang, ia tak mau bersikap layaknya wanita jalang yang tak mendapat cinta di satu pria akan mendamba pria lain mencintainya. Walaupun sesungguhnya ia juga terharu akan perhatian yang di berikan Miko kepadanya.


hati wanita mana yang tak akan meleleh jika pria itu selalu ada disaat sedang butuh seorang tuk jadi sandaran.


"Siapa yang akan bercerai? Tidak ada yang akan bercerai disini!"


Suara mMiko pelan, tapi masih mampu di dengar oleh pria yang entah sejak kapan ia berdiri di undakan tangga.


Arsena dengan tergesa menuruni tangga, di matanya ada sorot kemarahan.


Arsena mendekati Miko dengan tatapan memangsanya, Miko juga berdiri menatap ke arah Arsena, dua elang itu seakan ingin saling memangsa.


Arsena lebih dulu menarik kerah kemeja Miko membuat posisi tubuh pria itu sedikit mendesak maju.


"Berani kau datang kerumahku, untuk mengganggu istriku?"


"Istri? Cihh .... Sejak kapan kau menganggap dia istri." Miko berdecih sebal.


"Itu bukan urusan kamu, tapi jangan harap aku akan memberikan milikku untukmu, walaupun itu sudah bekas sekalipun. Anak pelakor, pasti akan jadi Pebinor."


Mendengar kata Arsena barusan Miko tak terima, ia melayangkan satu pukulan, ke rahang Arsena. Hanya dengan satu pukulan saja, sudah mampu membuat luka di sudut bibirnya, Arsena yang tak terima mendapat pukulan di rahangnya, ia membalas memukul perut Miko dua kali beruntun.


Membuat Miko terjungkal ke belakang, ia langsung berdiri dan satu sama lain menarik kerah lawannya.


Andini melerai mereka berdua dengan menangis dan berteriak. Namun dua pria itu tak mengindahkan jeritannya. Ia masih duel adu kekuatan, saling memukul seperti orang kesetanan.


"Miko, Arsena cukup, kalau kalian tak berhenti juga aku akan ...." Andini mengancam keduanya dengan pisau buah yang ada di meja.


Sedangkan Mita dari dalam melihat Andini memegang pisau ia berteriak histeris. Teriakan Mita membuat dua pria itu seketika menghentikan pukulannya. Miko yang merasakan nyeri diperutnya dan Arsena yang lebam di wajah dan sudut bibirnya.


Mitha memeluk Andini dan merebut pisau buah di tangannya.


"Andini jangan lakukan ini, Nak. Mama mohon."


Setelah berhasil merebut pisau Andini, Mitha kini memandangi kedua putranya.


"Apa yang kalian dapatkan dengan selalu bertengkar seperti ini, teriak Mitha. Apa kalian akan mendapat piala, karena jago berkelahi sesama saudara?"


"Miko, Arsena jawab Mama...."


"Kalian berdua hanya perusak kebahagiaan Mama, karena kalian berdua mama jarang di rumah. Asal kalian tau setiap papa datang kerumah kamu, mama pergi keluar negeri untuk mencari ketenangan." kata Arsena sambil mengarahkan telunjuknya pada Mita.


"Kalian berdua adalah orang yang harusnya sangat ku benci karena telah mengusik rumah tangga mama dan papa."


"Kalian berdua pergi dari sini ....!"


"Kalian berdua hanya pembawa bencana dalam keluargaku."


"Arsena cukup, sampai kapan kau menyimpan kesalahpahaman ini, sampai kapan kau menyimpan kebencian ini? Asal kau tahu, Johan dan aku saling mencintai sejak kami SMA, dan kami menjalin hubungan hingga lulus kuliah. Bayangkan selama itu hubungan kami, dan Mama kamu adalah sahabat kami dan diam diam ia mencintai Johan dan merebut Johan dariku satu hari sebelum pernikahan kami, jadi siapa pelakor disini!!! Siapa ... Aku atau Rena?"


Kata kata Mita berhasil membungkam mulut Arsena yang selalu lancang mengatakan dirinya perusak kebahagiaan Mamanya.


"Miko ayo kita pulang ....!" Miko yang duduk bersandar pada dinding kini bangkit oleh uluran tangan Mita. Dua orang itu kembali pulang dengan menerima luka sayatan di hatinya.

__ADS_1


"Ars, kamu jahat ...." Andini juga meninggalkan Arsena yang mematung di ruang tamu.


__ADS_2