Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 157. Punya adik lagi.


__ADS_3

"Mbak Andini!" Ratna mengejar Andini dan memeluknya dari belakang. Rafa hanya melihat dari kejauhan. Pria itu tak ikut mendekat. Rasa malunya dengan apa yang diperbuat dulu membuat ia tak punya keberanian walau hanya untuk berbicara dengan Andini.


Rafa dulu kerap mengusir Andini saat datang kerumahnya.Menuduh hanya akan meminta uang dan merepotkan, Kedua anak yang harusnya polos itu pasti otaknya sudah dicuci oleh Sang Mama, hingga pemikirannya pun tak jauh berbeda.


"Mbak Ratna minta uang, beberapa hari ini bedak Ratna habis. Kalau minta sama mama malah dimarahin." Curhat Ratna pada Andini dengan wajah memelas.


" Ratna sebenarnya juga malu Mbak, kerja kayak beginian. Gara gara papa buka usaha ini, temen-temen pada ninggalin Ratna," ujarnya dengan wajah kesal.


" Suamiku, Bagaimana kalau aku berikan sedikit uang untuk Ratna. Kamu dengar sendiri kan dia butuh uang sekedar untuk beli bedak." Tanya Andini pada Arsena.


Arsena menatap wajah manis adik tiri Andini sekilas, dengan aura tak bersahabat.


Ia berfikir adik Andini yang satu ini, entah dia lugu, atau memang mewarisi sifat mamanya, yang pandai berakting. Yang jelas hari ini diwajahnya tersirat jelas kalau dia sedang sedih. Sesekali dia menatap ke arah Arsena dengan malu malu.


"Ya berilah dia secukupnya. Aku tak mau Kau terlalu memanjakan adik tirimu yang tak tahu diri ini." Arsena pergi meninggalkan Andini sendiri menuju mobil. Menurutnya akan lebih baik menjauh saja dari keluarga yang tak tahu malu itu.


Andini mengambil uang dari handbag. Memberikan dua ikat uang seratus ribuan tanpa menghitung lagi. Kalau nggak salah jumlahnya sekitar dua juta an.


" Mbak Andini, pesen ... Tolong manfaatkan uang ini sebaik-baiknya, Rat."


"Terima kasih Mbak Andini, ternyata Mbak sangat baik, maafin Ratna dulu suka jahat sama Mbak."


Ratna Ratna , kalau lagi butuh gini baru minta maaf kemaren kemana saja.


" Iya, Mbak maafin." ujar Andini


"Ratna, semoga kau benar-benar sudah berubah, Kau sesungguhnya gadis yang baik, hanya karena kau dibesarkan penuh kebencian, Kau menjadi seperti ini sekarang.


Andini pamit pada semuanya, termasuk ayah dan adik-adiknya. Sedangkan Arsena sama sekali tak tertarik dengan basa basi penuh tipu itu.


Andini segera kembali ke mobil. Dia tak mau membuat suaminya lama menunggu.


"Maaf suamiku, sudah membuat dirimu lama menunggu." Andini masuk lalu menutup pintu mobil, dan dibantu oleh Arsena memakai sabuk pengaman.


"Aku mohon Sayang, jangan terlalu baik sama mereka."


" Aku nggak mau baik sama dia, Suamiku. tapi melihat kondisi dia sekarang aku jadi nggak tega. Sama orang lain saja kita berbagi, kenapa sama keluarga nggak bisa."


Arsena menghembuskan nafasnya kasar. Heran kenapa masih ada wanita seperti Andini di dunia ini. Bisa bisanya bersimpati pada orang yang jelas telah menyakiti ibu dan dirinya semenjak kecil.


"Sayang baik boleh aja, tapi bodoh jangan ya! Jika kau masih bersimpati dengan keluarga laknat itu, aku tak terima. Istri sakit malah ditinggal nikah lagi."


"Kamu nggak ingat bagaimana mereka menerlantarkan Kamu, Dara dan ibu Ana!"


"Iya aku ingat, tapi papa, bagaimanapun dia tetep papa aku, Ars ." Andini menyusut hidungnya yang tak terus berair.


"Sayang, siapapun yang menyakiti kamu, aku tak akan pernah memaafkan dia. Uangku juga tak akan bisa dia nikmati sepeserpun dengan gratis."


"Aku mengerti." Andini menempelkan tubuhnya di dada Arsena. Arsena membelai rambut Andini. Kecupan pun menghujani kening sang istri. Jika sudah demikian Andini merasakan kedamaian saat bersama suaminya.


Andini sesekali mendongak keatas. Memastikan suaminya yang kadang galak kadang romantis kadang juga alay itu masih menatapnya penuh cinta.


*****


Andini sudah sampai di perumahan elit yang dituju. Rumah nampak sepi.


"Mbak, apakah Pak Doni dan Bu Ana ada di rumah" Tanya Andini pada seorang remaja yang kisaran berusia 19 tahun. Gadis itu sedang membersihkan dedaunan yang gugur di halaman rumah.


"Benar sekali mbak. Kalau boleh tau Anda siapa ya? saya asistent yang bekerja di restaurant. Kebetulan hari ini restaurant tutup, jadi saya ambil kerja tambahan bersih-bersih rumah," ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Andini,Arsena dan Davit. Gadis itu terlihat suka bercanda. Gaya bicaranya lucu dan suaranya cempreng.


'Wooow ... Pria ini tampan banget ya Tuhan, andaikan saja dia belum beristri. Akan aku kejar ke ujung dunia sekalipun.'


Gadis itu terpana melihat Arsena yang memakai hem kerja dan dasi, yang begitu nampak berwibawa. Posisi Arsena berada tepat di depannya, sambil berjabat tangan. Ningsih senyum-senyum tak jelas, matanya hampir tak berkedip.


"Mbak kalau lihat suami orang biasa saja ya, awas nanti sakit mata, tau rasa." Celetuk Andini. Yang tak suka suaminya diperhatikan sedetail itu.


"He he he, maaf mbak, habis suaminya ganteng tenan. Ningsih kalau lihat yang ganteng-ganteng suka go too far ... He he," celetuknya jujur.

__ADS_1


'Sopirnya kasep pisan oi. Ah kalau lihat yang tampan begini jiwa mudaku kembali meronta-ronta. Kapan Ningsih punya pendamping cakep seperti mas ganteng. Kalau majikannya sudah punya istri sopirnya kayaknya perjaka Ting Ting nie....'


"Mbak, mbak! Bisa panggilkan Ibuk saya?" Andini membuyarkan lamunan asisten kocak itu.


"Eh eh iya, bisa mari saya antar masuk. Tapi panggil sendiri. Soalnya saya takut orangnya sedang kikuk kikuk." Kata Ningsih memainkan jemari tangannya.


"Emang sedang apa mbak, kikuk kikuk apaan sih?" Andini mengernyitkan dahinya.


"Ya begitulah, masa nggak tau, pengantin baru biasanya suka ngapain?" Jawab Ningsih malu malu. Sesekali menutup bibirnya dengan telapak tangan.


Arsena tersenyum sambil geleng geleng kepala lihat kelakuan Ningsih yang jujur tapi bikin malu itu.


"Ada ada saja mbak ini," gerutu Andini segera menarik lengan suaminya masuk.


"Tuan sebaiknya, aku tunggu di sini saja ya."ujar Davit. Pria itu sedang ingin menghisap rokoknya, sambil duduk di kursi yang kebetulan ada di bawah pohon berdaun rindang. Kelihatannya sejuk sekali kalau bersantai dibawahnya.


 


"Asalamualaikum, ibuk!" Andini memanggil ibunya dari ruang tamu.


"Sepi, Yang." Kata Arsena yang ikut melongok kan kepala ke ruang tengah, berharap menangkap ada bayangan Doni atau mertuanya dari dalam.


"Ibuk! Ibuk!" Andini masih memanggil manggil ibunya.


Lelah berdiri akhirnya Arsena duduk disofa panjang, disusul Andini duduk di sebelahnya.


"Yang, sepertinya benar yang dikatakan pembantu tadi, ibuk sedang buatkan Adek untuk kamu." Canda Arsena pada Andini yang sejak tadi sudah memanyunkan bibirnya.


Yang dirindukan tak juga keluar batang hidungnya. Andini dan Arsena memilih untuk santai dulu di ruang tamu.


"Apa'an sih. Bercanda terus deh."


"Lagi ngapain coba? tapi aku nggak keberatan kok, kalau punya adek ipar lagi. Nanti bisa main-main sama anak kita, biar tambah rame, he he."


"Apa an sih. Ibuk sudah empat puluh tiga tahun, udah susah hamil lagi." Celetuk Andini.


" Siapa bilang, karyawan dikantor ada yang usianya empat puluh lima, dia baru kemaren cuti buat ngelahirin."


Arsena puas sudah berhasil membuat istrinya ngambek. Ia mengacak acak rambut istrinya gemas.


"Duh yang mau punya Adek, cemberut aja. Senyum donk."


"Ars!! Andini memukul dada bidang suaminya bertubi tubi. "Kesel deh sama kamu, sejak tadi bicara gitu melulu."


Pukulan Andini semakin membuat tertawa Arsena kian keras. Arsena segera menarik Andini ke dalam dekapannya. " Kakak Andini yang cantik beli'in ice cream donk haha."


"Oh ... Pak Doni? Arsena segera menghentikan tawanya begitu melihat Doni menyembulkan kepalanya dari ruang tamu.


Sepertinya dugaan orang-orang tak salah. Pak Doni terlihat rambutnya acak acakan bajunya kusut dan tubuhnya lelah berkeringat. Habis ngapain coba dikamar kalau nggak sedang bermain dokter dokteran.


"Emm ... sejak kapan kalian datang. Kok nggak langsung masuk ke dalam aja."


"Nggak lah, Pak. Kita takut ganggu pengantin baru." Arsena tersenyum kepada Doni.


Andini mencubit pinggang Arsena gemas. Sambil matanya sengaja dilebarkan.


"Kalian duduklah sebentar, ibu juga belum tau kalau ada kalian datang. Biar aku panggilkan dulu," ujar Doni, segera masuk.


"Yang, lihat penampilan pak Doni baru saja? Aku yakin pak Doni pasti akan segera punya momongan. Lirihnya. " Yes! aku bahagia lihat pak Doni bahagia. Gercep ya pak!" ujarnya lagi. Yang tentu tak akan didengar oleh papa tirinya.


Andini memutar bola matanya malas. Ia memilih masuk ke dalam meninggalkan Arsena yang sedang sibuk memikirkan tentang pak Doni.


Semua itu sudah pasti alasan Arsena saja, Dirinya juga kebelet, sudah sejak kemaren pengen tengokin bibirkecebongnya cuma belum kesampaian saja.


Andini segera masuk ke dalam kamar tamu. mengistirahatkan tubuhnya. Hari ini Dia merasakan penat dan jenuh luar biasa. Apalagi tadi bertemu dengan papa Antoni dan mama tirinya dalam kondisi memprihatinkan.


"Yang, kamu kok tinggalin aku sih?" Kata Arsena mengejar istrinya ke kamar.

__ADS_1


" Habisnya bicaranya ngelantur terus." Andini merubah posisinya. Kini ia duduk sambil bersandar di sisi ranjang.


Andini melepas outer nya, kini tinggal memakai daster longgar motif bunga tanpa lengan.


Arsena mendekati Andini, dia ikut merebahkan dirinya di sebelah istri.


"Yang sambil nunggu ibuk, kita mandi dulu ya?"


Arsena tiba tiba merasa gerah, dia ingin mandi di bathup yang ada di kamar mandi di kamar tamu itu.


"Mandilah aku carikan handuknya di lemari dulu." Andini kembali bangkit dari ranjang menuju lemari.


Sedangkan Arsena malah mengunci pintunya. Lalu menghampiri Andini yang masih mencari handuk.


Tanpa bahasa isyarat Arsena langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. Mengecup tengkuknya yang terpampang begitu putih dan mulus.


Andini segera membalikkan tubuhnya, ingin sekali mendorong tubuh pria yang tak tahu malu itu. Baru saja ingin mengucap sebuah kata Arsena sudah membekap tubuh Andini dengan bibirnya. "Happp emmmp."


"Ars, nanti ada ibu." Kata Andini lirih.


"Pintunya sudah aku kunci dari dalam." Jawabnya parau dengan nafasnya sudah menggebu diliputi gairah.


" Ars, ini bukan rumah kita."


"Ini rumah orang tua kita." jawab Arsena, ada aja.


" Nanti aja di eumah."


"Di rumah kita bermain lagi." Kata Arsena dengan nafasnya masih memburu. Arsena kini mengangkat tubuh Andini dan menggendongnya. Kedua kaki Andini melingkar di pinggang Arsena dengan ketat. Punggungnya menempel pada lemari kayu yang kokoh.


Bibir mereka sudah beradu sejak tadi pertukaran saliva sudah tak bisa terelakkan. Andini begitu menikmati permainan Arsena yang semakin hari semakin membuat dirinya terbang ke awang-awang. Andini tak pernah bosan apalagi menolak. setiap permainan selalu ada gaya terbaru yang bisa ia belajari.


Andini merasakan miliknya telah basah, begitu juga Arsena. Torpedo miliknya semakin rajin melesatkan bom nuklirnya. Apalagi setelah dokter memberinya lampu hijau untuk lebih sering sering berhubungan, supaya pembukaan jalan lahir nanti akan lebih mudah.


Kalimat itu selalu terekam di otaknya dan menjadi senjata ampuh untuk menaklukkan hati Andini.


Mereka sore ini akhirnya melakukan penyatuan di ranjang besar yang ada di kamar tamu. Setelah lama bermain diatas ranjang mereka mencoba bermain di bathup. Dan berakhir di bawah guyuran air shower sekalian mandi keramas bersama.


Selesai mandi keramas Arsena segera menghubungi Davit, ia meminta pada pria itu untuk mengantarkan baju cadangan yang ada di bagasi mobil.


Hanya beberapa detik saja Davit sudah sampai. Arsena yang sudah memakai handuk di pinggang, segera membukakan pintu untuk Davit selebar kepalanya saja, dan mengambil bajunya. Arsena tak mau Davit melirik ke dalam dan melihat Andini dengan rambut basah dan hanya memakai bathdrope saja.


"Yang, ini pakai bajunya."


"Iya makasi, untung bawa, ya." Ujar Andini sedikit heran. kapan Arsena menyiapkan semuanya


"Ya bawalah, siapa tahu darurat begini, kan ada gunanya." Jawab Arsena membantu Andini menaikkan resleting baju longgarnya.


"Fress banget rasanya." Kata Arsena mengibaskan rambutnya yang basah lalu menggosok dengan handuk kecil. Visual Arsena memang selalu menggoda ketika sedang memakai baju ataupun tanpa baju.


Andini mendekat dan membantunya menggosok rambutnya supaya lebih cepat kering, setelah cukup kering Arsena segera memakai kaos polo warna putih dan celana jeans dengan panjang selutut.


Tok! tok! Andini!


Arsena membukakan pintu untuk ibu Ana yang sudah berdiri di depan kamar.


"Ndin maaf ya nunggu ibu lama, ibu baru bangun tidur, lagi kurang enak badan."


Ibu melirik Andini dan Arsena yang rambutnya sudah sama-sama basah. Ibu tersenyum, rupanya anak anak suka dengan kamar yang sudah disiapkan untuknya. " Kalau mau istirahat lagi, biar ibu pergi ke dapur."


"Eeenggak, Bu." Andini menahan lengan ibunya dan memeluk erat " Andini kesini kangen sama ibu."


" Ibuk juga kangen, ibuk sudah lama sebenarnya pengen kesana, tapi beberapa hari ini kondisi ibuk kurang sehat, entahlah Andini sudah di kerokin juga sama Ningsih. Kalau masuk angin biasanya cuma dikerokin juga sudah sembuh." Cerita ibu panjang lebar.


" Apa ibuk sudah beli taspesk?" Seloroh Arsena.


" Apa?! Masa ibuk sedang hamil lagi." Ibu nampak terkejut, dan malu-malu anak menantunya berujar demikian.

__ADS_1


Andini sekali lagi melebarkan netranya pada Arsena yang berulang kali lancang. Sedangkan Arsena menunjukkan dua jarinya, sambil mengangkat alisnya berulang kali tanda damai.


" Ndin kamu nggak malu kan, kalau ibuk hamil lagi?" tanya ibu kemudian.


__ADS_2