Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 29. Aku sudah melihatnya. ternyata begitu indah.


__ADS_3

"Ndin, bangun ayo kita pulang?"


Arsena membisikkan suaranya di telinga Andini.


Andini mengerjabkan matanya lalu membukanya pelan-pelan. "Heh ... Udah pagi ya!"


"Nyenyak banget sih tidurnya!!" Kata Arsena lagi.


Andini duduk sambil memeluk guling nya. "Habis, semalam nyenyak banget.bisa tidur dikamar sendiri seperti dulu, Kok aku jadi tidur di atas? Lalu semalam anda tidur dimana?'


"Aku tidur disini juga." Jawab Arsena sambil menepuk tempat bekas tubuhnya.


"Ars .... Bicara yang serius! Apa kamu memindahkan tubuhku semalam?"


"Pikir aja sendiri." Arsena kini berdiri dan mengibaskan rambutnya yang basah di depan cermin.


"Ars, jawab yang benar aku bertanya?" Andini masih mencecarnya.


"Kalau iya kenapa? Mau marah? sudah terlanjur kan!" Tanya Arsena menoleh sesaat. Kemudian berdiri dan melanjutkan aktifitasnya menyisir rambut.


"Iya aku marah, karena anda telah menyentuhku tanpa izin," ujarnya ketus.


Andini heran pada dirinya yang tak ingat apa-apa, semalam berasa naik pesawat keliling angkasa, Namun ternyata semua hanya mimpi. pasti itu karena Arsena sedang membopongnya ke atas ranjang.


"Aku tak menyentuhmu, kau semalam yang datang padaku dan minta untuk aku peluk."


"Apa ....! Kau pasti bercanda, pembohong ..." Andini turun dari ranjang sambil membawa guling dan memukul ke pinggang Arsena berulang kali.


"Emang ada untungnya? Aku nggak bohong" Jawab Arsena pura-pura serius sambil menghindari pukulan Andini. Andini yang terlalu bersemangat membuat kakinya terpeleset oleh karpet yang licin.


"Aaaakh ...."


Arsena dengan sigap menangkap tubuh Andini dan menarik ke pelukannya. Andini diam seribu bahasa di dalam pelukan Arsena. Tangan besar itu telah melingkar sempurna di tubuhnya.


"Lihatlah, sekarang kau juga datang lagi ke pelukanku ?" bisiknya di telinga Andini dengan seringai mesum.


"Tidak, aku tak sengaja melakukannya" suara Andini terdengar bergetar pipinya merona menahan malu. Andini berusaha bangkit, namun Arsena sengaja menahannya.


"Benarkah kau tak bohong, aku semalam datang sendiri padamu?" Andini penasaran dengan kelakuannya semalam. Kalau ternyata Arsena berkata jujur itu pasti memalukan sekali bagi Andini.


"Aku tidak bohong. Kamu yang menginginkan aku selalu disampingmu," ucap Sena. Tatapannya mulai meredup, ketika Andini menatap wajahnya dengan intens.


Arsena mendekatkan bibirnya, Andini yang melihat aksi nakal buru-buru membungkam kedua mulutnya sendiri dengan telapak tangan.


"Jangan lakukan, kamu sudah berjanji!"


"Tapi aku lagi ingin."


"Jangan, ini ciuman pertamaku." Andini meronta.


"Jangan bergerak, Handuk ku lepas ...."


"Apa?!!" Andini buru buru berdiri dari pelukan Arsena dan membalikkan badan. Menutup ke dua matanya.


"He ... he ... he ..." Arsena tertawa, sekali lagi ia telah berhasil membohongi Andini.


"Ayo siap-siap. Aku ada acara penting pagi ini." Arsena sambil mulai memakai bajunya.


Andini menurut, kini ia segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Menyiapkan sarapan untuk keluarga dan segera mandi.

__ADS_1


***


Diluar kamar ibu dan nenek sedang senyum senyum, mendengar di dalam kamar pengantin selalu terdengar kegaduhan.


Membuat Andini dan Arsena yang baru keluar kamar menjadi canggung, karena ibu terus saja menatap mereka berdua dengan senyuman.


Pagi ini Arsena menikmati sarapannya dengan nikmat karena tadi pagi ibu sudah memasakkan gurami bakar bumbu saos pedas kesukaannya.


Subuh tadi ibu memerintahkan Dara membeli ikan segar di pasar. Karena ibu tau kalau Arsena kemaren makannya sedikit itupun dipaksa oleh Andini.


"Emmm, ini enak, Bu. Pasti ibu yang masak, kalau Andini yang masak pasti rasanya akan kebanyakan garam, kalau nggak gitu, pasti gosong." Sena sengaja menggoda Andini yang sedang menuang teh kedalam gelas lalu menaruh di depannya.


"Nak Sena bisa aja," kata Ibu sambil tersenyum.


Sedangkan Andini yang mendengar semua ia tak terima. "Oke Tuan Ars, mulai besok aku tak akan memasak lagi."


Jawaban Andini sontak membuat keluarga tertawa.


"Andini, Arsena, kalau ada kalian rumah jadi makin rame, sering-sering main kesini ya, Cu." Nenek mulai menampakkan wajah sedihnya karena sejak semalam ia sudah susah tidur, memikirkan cucunya yang akan balik di pagi ini. Dan ini pertama kalinya Andini menemui keluarganya setelah pernikahan konyol itu


"Akan kita usahakan, Nek." Jawab Arsena.


Andara juga tak kalah sedih ia mengamati Andini dan Arsena bergantian, tadi malam jalan jalannya cuma sebentar, cuma beli Ice cream ke Indomei dan beli baju untuk keluarga di toko terdekat saja. Padahal kalau ada kesempatan gadis itu juga pengen di antar ke sekolah.


*****


Di Kantor


Arsena langsung menuju kantor, tanpa mengantarkan Andini pulang terlebih dahulu khawatir ia akan terlambat. Urusan kantor baginya adalah nomor satu. Ia tak ingin perusahaan peninggalan kakeknya mengalami penurunan dari segi apapun.


"Ars, semua berkas sudah siap dimeja seperti yang kamu inginkan. Bos besar hari ini cuti lagi," ucap Galang yang tengah berdiri di belakang Arsena.


Arsena memeriksa berkas satu persatu, Kemudian mulai memeriksa berkas lainnya yang ia simpan sendiri.


Pagi ini Devan ingin bekerja sama dengan Arsena. Pria itu memiliki perusahaan kecil yang baru dirintis. Jika menjalin kerja sama dengan perusahaan Arsena, maka perusahaan Devan akan menuai banyak keuntungan. Selain itu, ia juga tak mau melewatkan kesempatan emas antara hubungan adiknya dengan calon pewaris itu.


Sebagai pacar Lili Arsena tentu tak bisa menolak keinginan calon kakak iparnya. Jika itu terjadi pasti akan sangat berpengaruh pada hubungannya dengan Lili.


Arsena dan Devan masuk dalam ruangan meeting, banyak hal yang ia bicarakan oleh pebisnis dihari ini , dari proses kerjasama, penanaman saham hingga pembagian keuntungan. Galang setia menunggu di samping Arsena dan mencatat perihal yang penting dan perlu untuk masa depan. Begitu juga dengan Kevin asisten Devan. Meeting hari ini memakan waktu yang lumayan lama tak terasa mereka sudah menghabiskan waktu dua jam.


Meeting dengan Devan telah selesai, menandatangani persetujuan kontrak sudah dilakukan oleh kedua pihak. Arsena dan Devan sudah mulai menjalin kerja sama mulai detik ini, yang disimbolkan dengan berjabat tangan dari kedua pemimpin perusahaan


"Terima kasih adik ipar atas kerja samanya. Adikku Lili beruntung sekali memiliki pacar hebat berbisnis sepertimu." Kata Devan dengan kata kata manisnya, kepuasan terpancar jelas di wajahnya. Pria itu mulai berkemas karena meeting telah berakhir.


"Sama-sama semoga kerja sama diantara kita akan semakin memperkuat hubungan dimasa yang akan datang." ujar Arsena


"Oh iya, maaf, aku mau tanya sesuatu? dan ini diluar pekerjaan tentunya." Kata Devan sambil senyum-senyum.


Devan memberi isyarat pada Kevin agar meninggalkannya terlebih dahulu.


"Iya tanyakan saja?" Arsena dan Devan kembali duduk sebentar di ruangan Meeting tersebut. Sedangkan Galang membawa berkas perjanjian itu keluar ruangan.


"Aku menyukai ART yang bekerja di rumah kamu tempo hari, apa dia single?"


Arsena yang tadi terlihat santai kini terlonjak kaget, memikirkan kenapa banyak pria menyukai Andini. Devan menginginkan Andini, Miko juga menyukai Andini. Kenapa semua pria menginginkan Andini.


"Yah setahuku seperti itu, tapi jangan ganggu dia."


"Mengapa? Jangan-jangan kau juga suka? Tidak ... Aku tak setuju jika kau sampai jatuh hati pada gadis itu , itu artinya kau akan menduakan adikku," selidik Devan.

__ADS_1


Arsena mengelak, Dia berusaha berkata dengan tenang" Dia pekerja di rumahku dan dia sudah menandatangani perjanjian. Sebelum kontraknya habis, maka dia tak boleh berhubungan dengan pria lain ataupun menikah."


"Gilaaaa ... Peraturan macam apa itu? Berat banget bekerja menjadi ART di rumah kamu." Devan geleng geleng kepala tak percaya.


"Itu sudah perjanjian ... Saya sarankan mendingan cari gadis lain" Arsena kini berdiri, pertanda ia tak ingin obrolan ini berlangsung lebih jauh lagi. Devan juga berdiri dua detik setelah Arsena, lalu mereka berjabatan tangan dan keluar beriringan dari ruang Meeting.


Selesai Meeting Arsena segera menuju ruang pribadinya ia tak ingin lama-lama meninggalkan Andini sendirian. Sepanjang perjalanan ia menggerutu kesal.


Aneh, seperti nggak ada gadis lain saja. Kenapa harus menginginkan Andini ku.


Arsena kini menaruh berkasnya di dalam nakas lalu menguncinya. Dan tak lupa ia juga mengunci ruang pribadinya karena sedang menyembunyikan Andini di dalamnya.


Tapi Arsena tak menemukan Andini duduk di sofa lagi, setahu Arsena tadi Andini berada di ruangannya.


"kemana gadis itu, apa dia sedang keluar, mungkin dia lapar, dia kan punya kaki." batin Arsena tak mau ambil pusing.


Arsena segera ke kamar mandi, sejak meeting tadi ia sudah menahannya, kini giliran selesai ia ingin cepat-cepat buang air tanpa ba - bi - bu lagi.


Arsena membuka kamar mandi dengan buru buru


"Aaaaarsssss ... !!!" terkejut.


"Andini ....!! Arsena tak segera menutup kamar mandi ia malah takjub melihat lekuk lekuk indah, serta dua buah bulat menonjol dengan bentuk begitu indah.


Arsena sudah sering melihat film-film blue yang ia putar saat galau, tapi bedanya tak semenakjubkan yang kini terpampang nyata di depannya.


Pria normal dengan hormon testosteron tinggi itu beberapa kali meneguk salivanya dan ada yang mengeras di bawah sana.


Andini berusaha menutupi tubuhnya, sayang sekali tangannya cuma dua.


"Han-han-duk ...."


"Eh i-iya mana handuk ..." Arsena baru mengalihkan pandangannya ketika Andini meminta handuk.


Setelah Arsena keluar Andini segera menutup kembali kamar mandinya.


"Ars pemandangan apa itu tadi .... Ya Tuhan kenapa kamu bisa bisa tak mengetuk pintu dulu."


Arsena hanya bisa geleng kepala sambil meraih handuk yang terlipat rapi di lemari.


Degup jantung dan panas dingin di tubuhnya belum juga hilang. Tubuh seputih susu perut yang ramping dan dua buah jeruk begitu ranum yang belum turun sedikitpun, membuat Arsena menjadi semakin tak bisa konsentrasi lagi. Pikirannya mulai kemana-mana.


"Ndin, handuknya ..." teriak Arsena dari luar pintu.


Andini masih ngos-ngosan, ia masih berusaha mengatur ritme nafasnya di dalam kamar mandi.


"Iya, tutup mata dan berbalik, handuknya taruh dipundak kamu, nanti aku akan mengambilnya." Teriak Andini dari dalam.


"Emang kamu siapa memerintahku? Bukannya aku sudah melihat semua tadi? Aku ingin melihat sekali lagi."


"Ars ... aku tak akan keluar dari sini jika kamu keras kepala!" Andini berteriak dari dalam.


"Oke oke, aku sudah melakukan seperti yang kamu minta. Cepat keluar aku nggak tahan lagi."


Andini membuka pintu kamar mandi pelan dan mengintip, ternyata benar Arsena sudah melakukan seperti yang dia minta.


Andini segera menarik handuk di pundak Arsena dan menutup kembali. Sejenak Andini mengatur nafasnya di dalam mengatasi keterkejutannya. Lalu keluar dengan tubuh yang sudah dibalut dengan handuk.


Setelah mandi tubuh Andini terlihat lebih segar dan wangi. Aroma sabun dari tubuhnya menguar memenuhi ruangan.

__ADS_1


Arsena yang sudah selesai dari dalam kamar mandi segera menelepon office girl yang biasa menyiapkan makan di ruangannya.


Andini masih terlihat malu menatap Arsena. Ia sejak tadi hanya menunduk. Sedangkan Arsena yang ada di depannya susah konsentrasi.bukit menjulang dengan Cherry merah di ujungnya masih terus berputar di dalam otaknya. Jiwa laki-laki Arsena terus saja meronta membuat ia tak fokus dengan pekerjaannya lagi.


__ADS_2