Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 171. Keluarga Atmaja.


__ADS_3

Malam semakin larut, Namira sudah pulang satu jam yang lalu.


Dara dan Miko tak terlihat di luar kamar sama sekali. Miko sudah memiliki ide biar tetap bisa bersama Dara. Miko meminta Dara supaya memakai masker. Dan hal itu ternyata terbukti berhasil.


"Sayang kamu sudah hamil anak kita. Apapun nanti yang kau inginkan aku pasti akan kabulkan. Tapi tolong jangan suruh aku menjauh dari kamu, Sayang." Miko berkata dengan memelas.


"Aku juga nggak mau ini terjadi Kak Miko, calon anakmu ini sedikit aneh," ucap Dara pada Miko dengan suara manja.


"Anak ayah kenapa sih, nggak mau dideketin ayah, kalau ayah punya salah sama bunda ayah minta maaf ya." Tangan Miko kini berubah mengelus perut istrinya yang masih datar dengan posisi Miko berbaring dan Dara bersandar pada sisi ranjang.


Miko terlihat sangat bahagia. Sepanjang pernikahannya dengan Dara mungkin ini hari yang paling membahagiakan baginya.


Hingga pagipun mereka kemanapun bersama.


Miko mulai membuatkan susu untuk Dara, Mert juga tak mau kalah. Sampai sampai malam ini mereka harus berebut dapur, karena ingin jadi yang paling utama.


Arsena mengamati adik tiri dan adik sepupunya dari lantai dua sambil menyilangkan lengannya di dada. Akhirnya pria yang gemar memperolok dirinya kini juga telah menjadi budak cinta, mereka berdua mengalaminya sendiri.


"Dara, Sayang, ini kakak sudah buatkan kamu makanan special, susu kambing otawa yang sudah aku masak dengan cinta, dan nasi goreng hanya dengan cabe dua." Kata Miko sambil menyerahkan piring berisi nasi goreng dan segelas susu pada istrinya.


"Enak nggak kak?"


"Enak, aku tadi sudah mencicipi" kata Miko sambil menarik kursi dan duduk di sebelahnya.


"'Kakak sudah mandi kan?" Dara memastikan.


"Ish, gitu banget sih kamu sayang, masa kakak yang sudah tampan di bilang belum mandi."


"Tapi masih bau!" Dara mendorong suaminya agar menjauh.


"Ya udah pakai masker lagi." Miko mengambil masker yang akan digunakan untuk penutup hidung Dara dari sakunya. Pria itu membantu memakaikan.


"Apa dosaku coba, anakku tak mau mencium aroma tubuhku," gerutu Miko.


Membuat Oma yang baru saja keluar kamar langsung menggoda. "Mungkin itu karma, karena dulu kau menyia-nyiakan bundanya."


"Enggak Oma." Miko menjawab dengan cepat disertai gelengan kepala.


Sejak awal aku menerima Dara, dan pelan pelan aku mulai mencintainya, dan cintaku sekarang sangat besar."


Oma ikut duduk di kursi yang paling dekat dengan Miko. " Kalau begitu, mungkin anakmu ingin menguji seberapa besar perjuanganmu untuk bundanya."


Dara tersenyum mendapat dukungan penuh dari Oma. "Kak Miko Dara mau disuapin."

__ADS_1


"Disuapin sama kakak? Nggak bisa. Kan kalau makan maskernya harus dibuka."


"Iya juga ya, kalau begitu, Dara makan sendiri aja." Dara meminta sendok dari tangan Miko.


"Kakak kekamar dulunya, ada beberapa tugas kantor harus diselesaikan soalnya sekarang harus lebih rajin lagi, biar punya banyak uang untuk kebahagiaan anak kita nantinya." Miko mencium kening Dara lalu masuk ke kamar. Miko mulai mengerjakan tugas tugas kantor dengan penuh semangat.


******


Esok hari,


' Saya rasa akan ada persaingan memanjakan istri di rumah ini?" Kata Oma sebelum menyesap tehnya.


"Ya benar, Oma. Miko dan Amert pasti tak ada yang mau kalah. Kita akan menjadi penonton setia," ucap Rena sambil memakai bahasa isyarat agar Oma melihat kearah Mert yang sedang mengantar sarapan Zara ke kamarnya. Karena Zara saat hamil sangat lemah, tak ada makanan atau minuman yang bertahan lama di perutnya.


"Sayang, ayolah makan sedikit saja, jika ada yang kau inginkan katakan saja, aku pasti akan mencari hingga ujung dunia."


Mert berkata dengan tulus, tak tega melihat Zara yang seharian hanya bolak balik kamar mandi mengeluarkan isi perutnya.


"Mas berangkat saja, aku nggak apa apa, banyak kok wanita hamil yang seperti ini."


"Tapi aku nggak bisa tenang sayang? Bagaimana aku bisa bekerja jika kau saja dirumah seperti ini?"


"Nggak apa apa, bener. Mas kerja aja, kalau pulang nanti bawakan ice cream yang tiga varians rasa itu saja."


Zara mengangguk sambil berbaring wajahnya pucat, karena kurang bertenaga dia tak lagi marah-marah dan cemburu, tapi berganti dengan muntah dan manja.


Mert menaruh susu diatas nakas, dia menarik selimut yang ada di bawah kaki Zara. Ia ingin Zara agar tidur lagi.


"Mert, wanita hamil tak boleh malas di pagi hari, bantu Zara bersemangat menyongsong kehamilannya. Ajak dia keliling mansion sebentar, biar dia bisa melihat matahari terbit yang sangat cantik," ucap Andini dari ambang pintu.


"Baiklah, terima kasih nasehatnya kakak ipar." Mert mengurungkan niatnya menina bobokkan Zara. Mert memilih membantu Zara bangun dia bahkan menata alas kaki di bawah kaki Zara. Andini yang melihatnya ikut senang, Mert ternyata benar tulus mencinyai Zara.


Mert dan Zara jalan-jalan di taman Mansion. Zara berjalan dengan santai sambil mengamati bunga yang sedang bermekaran. Kupu-kupu dan kumbang berterbangan.


Mert menangkapkan satu ekor kupu-kupu untuk Zara. Mert berharap Zara akan senang mendapat hadiah kupu yang lucu. Seperti yang dilakukan Arsena waktu Andini hamil Excel dan Cello.


Namun Zara malah terlihat geli dan ketakutan, Zara tak suka dengan kupu-kupu yang berasal dari ulat yang bermetamorfosis menjadi makhluk cantik itu.


"Aku takut dia berbulu dan gatal, ujar Zara sambil menggelengkan kepalanya karena geli. Mert tersenyum melihat istri cantiknya


Mert sekarang memutuskan memetik mawar putih saja. Lalu menyelipkan di telinga Zara. Zara terlihat bahagia, walaupun bibirnya pucat dan lemah tapi senyumnya mengembang lebar.


"Zara jangan pernah ragukan ketulusanku lagi." Mert menyapu anak rambut Zara yang terurai.

__ADS_1


Zara lagi lagi menunduk. Tak kuasa melihat suaminya semakin hari semakin tampan saja.


"Lihat Mas, dong Zara?"


Mert menarik dagu Zara, sesaat mereka saling bertukar senyum. Mert beralih menggenggam tangan Zara yang sejak tadi bertautan. Pria itu mengecupnya dengan lembut.


Suara Zara dan Mert di taman yang terdengar bahagia membuat Seseorang tertarik untuk melihatnya. Davit menyibak tirai kamarnya.


Kamar Davit kebetulan sangat dekat dengan taman Mansion, membuat dia leluasa mengamati siapapun yang sedang bermain di taman.


Davit merasakan ulu hatinya terasa nyeri, melihat Mert begitu bahagia, Wanita cantik yang terlihat lebih anggun dengan jilbab di kepalanya itu seharusnya kini menjadi istrinya, harusnya dirinya yang bahagia bukan Mert. Kalau saja Merry tak curang malam itu.


"Vit Mari kita berangkat sekarang! Arsena pagi ini mengunjungi Davit, sekali kali dia ingin melihat Mess yang dihuni para asistent yang satu atap dengan garasi mobil itu.


"Iya, Tuan," jawab Davit tak bersemangat. Sambil menggantikan membawa tas kerja Arsena.


Tuan apa ada meeting penting atau perubahan jadwal. Tumben anda meminta berangkat sedini ini? Davit berkata sambil membukakan pintu penumpang untuk tuannya.


Tidak, Aku ingin kau mengantarku ke kantor, lalu antarkan Arini ke kampus. beberapa hati ini dia terlihat sedih.


Davit mengangguk tanda mengerti. " Baiklah, Tuan," ujar Davit pendek.


Arsena mencurigai kalau telah terjadi sesuatu dengan Davit. "Davit apa kau sakit? Istirahatlah jika memang benar."


"Tidak Tuan, justru berlama lama di rumah membuatku benar-benar menjadi sakit. Davit melirik sekilas pada Mert dan Zara yang kini bergandengan tangan dengan bahagianya. Mert sepertinya akan bolos kerja, terlihat dia belum berpakaian rapi.


Arsena mengikuti kemana netra Davit memandang. Arsena tau apa yang membuat asisten tampannya demikian lesu.


"Melihat mantan bahagia bersama yang lain itu memang berat, tapi kalau kita benar-benar cinta dengannya, kita pasti merelakan dan turut bahagia, walaupun kebahagiaan itu bukan dari diri kita," ujar Arsena yang langsung mengenai ulu hati Davit.


"Anda benar sekali tuan. Aku terlalu bodoh." ucap Davit sambil menutup pintu mobil dengan hati hati.


Davit segera bergegas masuk di kemudi. Karena Arini juga sudah siap disebelah Davit dengan pakaian rapi. Pagi ini dia menghindari bercanda dengan kakaknya, sepertinya mood Arini sedang buruk. Sepanjang perjalanan dia hanya diam saja.


Usai mengantar Arsena, Davit segera melanjutkan perjalanan menuju kampus untuk mengantar Arini. Lama sekali Davit membiarkan Arini diam, timbul niat ingin menyapa juga.


"Nona, pagi pagi sudah kusut amat, ada masalah sama cowoknya ya?"


"Bukan urusan, Lu," jawab Arini ketus.


"Jutek amat sih, cantiknya ilang lho." Davit menoleh sekilas sambil tersenyum.


" Suka suka gue, donk. Lagian apa urusan sama Lu," ujarnya masih ketus.

__ADS_1


__ADS_2