
(Andini house)
Andini kini tengah mengunjungi ibunya, ia duduk di samping ibu sambil menyuapi bubur, makanan yang sudah menjadi menu sehari hari yang disediakan rumah sakit untuknya.
Andini menatap tubuh kurus dan kepala pelontos di depannya dengan iba. Ingin mengutarakan sebuah kejujuran namun ia ragu, Andini takut ibu akan semakin sedih dengan hal yang akan ia katakan.
"Andini, kamu kenapa? Kok sejak tadi diam?" Tanya ibu dengan suara tercekat. "Kamu pasti lelah ya? ibu selalu merepotkan kamu" Imbuhnya lagi dengan bibir tersenyum.
"Ibu, Andini akan menikah." Andini berucap dengan wajah tertunduk, ia takut menatap ibunya.
"Menikah, bukannya kamu harus kuliah, sama siapa Nak?" gurat kecewa terlihat di wajah ibu Ana.
"Ada Bu, Pokoknya ibu tenang saja. Andini harus menikah biar bisa kuliah, dan mendapatkan biaya kemoterapi ibu" ujar Andini dengan raut mulai berubah.
Sakit ibu belum menuai sembuh, segala upaya dan usaha sudah dikerahkan pihak rumah sakit. Namun kondisinya makin hari makin parah. Andini memiliki setitik harapan dengan yang ditawarkan Johan. Apa salahnya dicoba ke rumah sakit lain yang lebih terkenal.
"Lalu ,ayah kamu waktu itu ... Bukannya ia berjanji akan membantu."
"Maaf Bu ... Andini berbohong " Andini menundukkan kepala. Bayangan tentangnya di hotel itu kembali terbersit, bukan uang yang didapatkan, malah dirinya yang disodorkan oleh mama tirinya pada seorang mucikari.
Ibu mengelus rambut lurus Andini. "Menikah itu sekali untuk seumur hidup, ibu khawatir kamu tak bahagia. Ibu hanya bisa mendoakan calon suamimu orang baik yang kelak akan membahagiakanmu."
Andini menarik nafas panjang, ternyata memberitahu ibu tak sesulit yang dibayangkan. Andini kini lega.
Tak penting bagi Andini mengetahui siapa suaminya, yang penting ibu setuju. Ibu akan sembuh, dan ia bisa melanjutkan kuliah. Mimpinya menjadi sarjana dengan lulusan S1 bisa terwujud.
Jika pak Johan orang baik, Andini juga yakin putranya pasti juga baik seperti dirinya. Bukankah sebuah ibarat mengatakan kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Andini dan ibunya berpelukan. Andini menitikkan air mata bahagia.
"Putriku sudah besar, sebentar lagi akan menjadi milik orang lain." ibu mengurai pelukan anak gadisnya kini tangannya terulur menyibak rambut Andini yang tergerai lalu menyelipkan di belakang telinga.
"Ibu, jika Andini menikah tidak bisa menjaga ibu setiap saat, tapi Andini janji akan tetap mengunjungi setiap hari."
"Ibu tidak perlu semua itu jadilah istri yang baik, masih ada adik kamu yang bisa menjaga ibu! Apa kamu ingin ibu disini selamanya? Ibu akan sembuh, Ndin."
"Ibu janji ya, ibu harus sembuh." Andini tersenyum. Sekali lagi memeluk ibunya dengan hangat, bulir kristal kembali jatuh tak tertahan Andini segera mengusapnya sebelum ibu melihat.
Saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba seorang berseragam serba hitam datang menghampiri mereka berdua.
"Andini javarani." panggil pria itu. Andini dan ibu sontak menoleh hampir bersamaan.
"Iya pak? Ada apa?" Andini sudah tau siapa pria itu.
"Pak Johan meminta saya menjemput Nona, dan mengantar ke sebuah butik, karena nanti malam resepsi pernikahan akan segera dimulai, jadi penting buat Nona untuk mempersiapkan diri mulai dari sekarang."
Doni berkata dengan sopan, layaknya Andini sudah menjadi Nona mudanya. Padahal Andini saat ini bukan siapa-siapa, ia hanya gadis kecil yang sedang berjuang untuk keluarga dan masa depannya.
"Baik, Pak" Andini menurut, ia berdiri sambil meraih tas slempangnya yang tergelatak di atas nakas.
Sebelum pergi Andini mencium tangan ibu Ana. Andini pamit, Bu."
"Hati-hati, Nak.," pesan Ana.
Dibalas anggukan oleh Andini, dan Doni juga menganggukkan kepala tanda permisi.
Doni sesaat berfikir, ia kasihan dengan wanita yang tidur di brankar pasien tadi, seharusnya diusianya masih muda ia masih sehat dan bahagia.
Doni dan Andini berjalan keluar menuju parkiran. Setelah mendapati mobilnya, mereka berdua segera meninggalkan lokasi parkir.
Andini duduk dibelakang layaknya penumpang. Netra Andini selalu menatap pada kaca spion di tengah itu.
__ADS_1
Doni tau kalau calon Nonanya sedang mengamati sejak tadi. Pasti sejuta tanya sedang terlintas dibenaknya.
"Jika ada yang ingin ditanyakan tanya saja Nona? Kalau saya tau saya pasti akan menjawab," ujar Doni.
Andini seketika terhenyak, ia heran bagaimana pria itu tau. "Siapa pria yang akan menjadi suami saya, Pak?"
"Apa? Jadi Pak Johan belum memberitahu anda, Nona?"
"Belum."
"Namanya Arsena. Tuan Muda Arsena."
Andini mengangguk batinnya mulai berselancar "Namanya bagus, bajunya waktu itu juga wangi sekali, pasti dia pria baik dan tampan ."
Kemudian tiba-tiba keningnya mengerut. Dan kini ada hal lain yang dipikirkan. "Kalau dia terlalu sempurna bagaimana dia akan menyukaiku. Aku nggak cantik, mana mungkin dia akan mencintaiku?"
Andini tertegun membayangkan pria yang akan dinikahi. Semoga saja suaminya bisa menerima dirinya apa adanya, wanita yang hampir tak pernah memoleskan riasan apapun di wajahnya.
Doni mengamati lagi dari kaca spion, melihat gadis dibelakangnya terdiam ia juga ikut senang. Setidaknya ia tidak sedih dengan pernikahan paksa ini.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan, Nona?"
"Ti-tidak Pak," jawab Andini gugup.
Tiba-tiba pria itu membelokkan mobilnya dari jalanan menuju parkiran sebuah butik. Butik yang selama ini hanya ia lewati saat pulang dan pergi kuliah. Jangankan pernah bermimpi membeli baju di tempat itu, melihat label harga yang tertera di setiap baju saja sudah bikin nervous.
"Nona, Mbak Mitha istri muda Tuan Johan sudah menunggu di dalam, dia ahlinya kalau menyangkut fashion, sekarang masuklah." Perintah Doni pada Andini sambil membukakan pintu mobil.
Andini kembali mengangguk sopan, sambil berjalan beriringan dengan Doni memasuki butik.
"Ini Nyonya Mitha!" ujar Doni pada Andini.
"Andini Javarani."
"Mitha veronica."
Mitha wanita karier ia terkesan cantik, modis dan ramah. Andini bahkan mengaguminya wanita itu saat melihat pertama kalinya.
"Ya Tuhan, dia muda dan cantik sekali, cocok sekali dengan Pak Johan, dia juga tampan dan baik," batin Andini.
"Andini, mari kita pilih baju, habis itu kita fighting dulu?" Mitha menggandeng Andini mengajaknya melihat-lihat baju khusus gaun pengantin , dan Doni memilih kembali keluar menunggu di mobil.
Mitha dan Andini mendekati gaun pengantin yang berwarna putih dengan bagian bawah mengembang indah dan belakangnya menjuntai panjang. "Andini Mama sarankan kamu memilih yang ini."
"Hah ... Jangan ini berlebihan tante." Andini jujur takjub melihat gaun yang menempel pada manekin di depannya, namun ia tahu diri, kalau ia tak seberharga itu, harus memakai gaun senilai ratusan juta.
"Panggil Mama Andini." Mitha tersenyum, "Nanti malam kamu sudah jadi putri mama"
Mitha membuka resleting gaun pengantin terbaik di butiknya itu dan melepasnya dari manekin. Ia ingin Andini segera mencobanya.
"Ma, ini berlebihan, Andini milih yang ini aja." Andini menunjuk gaun sederhana yang biasanya dipakai di acara ulang tahun, harganya terpaut lumayan banyak dengan pulihan Mitha.
Mitha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Ndin, kamu cantik, akan lebih sempurna jika di hari pernikahanmu juga memakai gaun yang cantik. Suami kamu pasti akan senang melihatnya nanti."
"Masalah harga, jangan khawatir, baju ini tidak gratis, lihat ini."
Mitha menunjukkan handphonenya pada Andini, ia baru saja mendapat pesan kalau saldo di ATM nya sudah bertambah. Siapa lagi yang sudah menambahnya kalau bukan suaminya sendiri, Pak Johan.
"Andini coba dulu ya, mudah mudahan pas ditubuhmu, tanpa ada yang harus di vermak."
"Iya Ma." Andini mengikuti calon mertuanya di belakang.
__ADS_1
Mitha menyerahkan gaun yang sejak tadi di pelukannya itu ketika telah sampai di ruang ganti. Andini menerimanya dengan tangan gemetar.
Setelah menerima gaun Andini segera masuk ke dalam kamar. Andini menempelkan tubuhnya di dinding sambil wajahnya menengadah ke atas. Ia bingung bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya kepada Tuhan, semua yang ia alami saat ini seperti mimpi. Andini bahagia namun juga sedih. Ia bahagia berada diantara orang orang baik, ia juga sedih karena pernikahan ini terjadi tanpa ada cinta, bagaimana suaminya memperlakukannya kelak.
"Gimana sayang?" Tanya Mitha dari luar.
"Bentar Ma."
Andini segera memakai baju pilihan mama mertuanya itu. Andini merasa baju itu terlalu indah nan sempurna hingga ia berfikir jika nanti ada orang takjub padanya, itu pasti kepada baju yang akan ia kenakan.
Andini segera keluar dari balik tirai dengan wajah malu-malu. Mitha memandanginya dari atas bawah, ia rasa semuanya sudah perveck tapi sayang si pemakai hanya bisa menunduk.
"Ndin, jika bajunya udah cantik kenapa yang pakai harus menunduk begitu, ayo tegakkan kepalamu dan percaya diri, kamu cantik, tubuhmu indah nggak usah malu."
Benar yang dikatakan Mitha Andini harusnya percaya diri dengan baju indah itu.
Tiba tiba seseorang dari luar datang memujinya.
"Wow sempurna, girl." Pria tampan yang tak asing lagi.
Mitha segera menoleh kearah suara begitu juga Andini.
"Hey, kamu nakal ya sekarang Miko, beraninya memuji calon istri orang." Mitha menjewer telinga putranya.
"Awww ... Sakit Ma" Miko meringis kesakitan. Setelah mama melepaskan tangannya, Miko kini mengamati wanita yang sedang mencoba gaun bersama mamanya seolah ia sedang menjadi juri sebuah acara fashion.
"Loh, bukannya kamu wanita yang ... " Miko kaget karena si pemakai gaun itu tak lain adalah wanita yang di belinya pada mamie di malam itu.
Di malam kelabu itu ia begitu frustasi karena wanita yang dicintainya ternyata memilih pria lain dibandingkan dirinya yang sudah mati-matian memperjuangkan cintanya.
Walaupun sudah lama kejadian itu namun setiap kali teringat hati Miko kembali hancur.
Menurut Miko dengan menghabiskan malam dengan seorang gadis akan menghilangkan sakit hatinya, nyatanya tidak, bahkan di malam itu, kejadian na'as yang ia dapat, tombak saktinya nyaris akan hilang fungsi karena tendangan dari Andini yang tiada kira-kira.
Andini kini ingat, wajahnya mulai ketakutan melihat Miko yang tak salah mengenalinya.
"Andini, iya kamu Andini, kan?"
"Wow ... " Miko tepuk tangan sambil memutari Andini dengan senyum smirk nya. " Hebat, hebat."
Andini semakin grogi, ia takut aibnya akan terbongkar didepan Mama Mitha.
"Andini siapa yang sudah membelimu lebih mahal dari aku ... Hingga kau bersedia menjadi istrinya?"
"Miko ... Diam !!" Andini segera menyeret pria tinggi didepannya. Menjauh dari Mitha. Andini tak mau kalau malam itu akan diketahui orang lain, apalagi calon keluarga suaminya.
"Miko tolong maafkan aku, malam itu aku adalah korban, aku bukan wanita seperti yang kamu kira, itulah sebabnya aku melakukan itu padamu."
"Maksud kamu?"
"Aku adalah korban kejahatan mama tiriku, karena ia tak ingin aku selalu meminta uang pada papah," jelas Andini panjang lebar. Miko pelan pelan bisa menerima logika yang diberikan Andini.
"Miko please ... Rahasiakan semuanya." Andini menangkupkan tangannya memohon pada Miko.
"Pria yang melihat Andini sempurna di malam ini, mengangguk setuju."
Sesungguhnya setelah kejadian itu, Miko mencari informasi tentang biodata Andini pada prily dan kawan, tapi Miko belum sempat melakukan pencarian lanjutan, sekarang malah dipertemukan di butik milik mamanya dengan kondisi akan menikah.
Pertemuan pertama dengan Andini memberi kesan sendiri di hati Miko.
# yuk kasih like, komen bawel dan bunganya🤗 biar author lebih semangat berkarya.
__ADS_1