Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 59. Aku dimana?


__ADS_3

"Selamat pagi, Honey."


Arsena menyapa Andini, rambutnya basah, pria itu sepertinya sudah mandi keramas terlebih dahulu.


"Pagi ..." Andini mengucek kedua bola matanya.


Arsena tersenyum melihat wajah bantal istrinya. Terlihat polos tanpa riasan, namun tetap cantik.


"Ars, kenapa aku bisa terlambat bangun. Bagaimana nanti aku menghadapi Mama dan Papa" Andini segera bangkit lalu duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.


Andini bingung menghadapi papa dan mama mertuanya. Meskipun dia akan paham kondisi pengantin baru, namun tak menyolok seperti hari ini.


"Apa yang kau pikirkan. mereka akan mengerti kita sedang honeymoon," ucap Arsena mengerlingkan matanya, mencondongkan tubuhnya hingga mendekati wajah Andini.


"Gara-gara kamu, suami mesum." Andini mencubit hidung Arsena yang runcingnya kebangetan.


"Buruan mandi. Aku menunggumu, Sayang. atau mau digendong ke kamar mandi."


"Alay banget sih." Andini turun menuju kamar mandi dengan hati bahagia.


Andini segera siap-siap ke kantor, kebetulan tempat kerja Andini dan Arsena satu jalan dan bersebelahan jadi ia memilih untuk berangkat bersama. Andini juga sudah merencanakan sesuatu. Sore nanti ia akan ke apartement Miko bersama Arsena. Andini senang Arsena bersedia ikut setelah ia meminta dengan bujuk rayu.


"Sudah siap, Dokter?" Tanya Arsena yang berada di depan cermin ia sedang berusaha memakai dasi sendiri.


"Sudah, Tuan Arsena tampan." Andini mendekat, ia mencoba membantu Arsena memakaikan dasi. Arsena menelisik penampilan Andini dari atas dan bawah. Andini terlihat perveck. Apapun yang menempel ditubuhnya, akan terlihat lebih berharga.


"Istriku, kenapa kau berdandan secantik ini saat bekerja?"


"Cantik? Ars, apa yang kau katakan? Aku hanya memakai sedikit lipstik dan bedak tabur saja."


"Tapi kau hari ini cantik sekali. Tunggu! Kamu tidak boleh keluar secantik ini, aku harus menghilangkan bedak dan lipstik di wajah ini dulu."


Arsena mengusap usap lembut pipi Andini, yang membuat wajahnya seketika merona. "Karena aku tak rela pria lain akan memandangmu lama-lama, bisa bisa akan jatuh hati."


Arsena mulai mengecup pipi, kening hidung Andini berulang kali, dan yang terakhir ia mengecup bibir Andini. Mengecup saja tak membuatnya puas Arsena kini menciumnya dengan kelembutan.


"Ars ..."


"Kenapa?" Arsena melepas bibirnya yang beberapa menit tadi saling bertautan. Wajah Andini merona karena malu.


"Kamu membuat aku malu." Andini memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya. Arsena atmaja pria yang pertama kali dicintai, dan cintanya terbalas. Pria itu terlalu sering melakukan hal ekstrim membuat jantungnya sering kali terpacu kencang tak terkendali.


Setelah puas mencumbu istrinya, Arsena tersenyum puas. " Love you honey."


"Love you too, hubby."


Andini hendak pergi, Arsena dengan sigap menahan gerakan tangan istrinya. "Telepon aku setiap satu jam sekali."


"Ars, kau berlebihan, hanya dalam beberapa hari saja kau menjadi prosesif seperti ini. Dimana Ars, yang dingin dan cuek dulu, tiga jam sekali" Kata Andini lemah lembut. berusaha menawar. Memandang manik mata Arsena lekat-lekat, berharap tawarannya mendapat persetujuan.


Arsena kini memegang kedua lengan Andini membalas tatapan mata berwarna coklat itu dengan tatapan keteduhan.


"Arsena tetap beku dan dingin untuk orang diluar sana, tapi Arsena sudah meleleh untuk Andini. Arsena mulai hari ini dan seterusnya hanya memiliki kelembutan untuk wanita cantik ini."


Arsena membelai rambut lurus Andini, mengeratkan tubuhnya sekali lagi. "Keputusan terakhir telepon aku setiap dua jam sekali."


"Baiklah dua jam sekali." Andini setuju.


"Mari kita turun. Mama dan papa pasti sudah menunggu" Arsena mempersilahkan Andini untuk menggandeng lengannya.


 


Tak! tak! tak! bunyi langkah sepatu Andini dan Arsena bergantian.


"Wow kalian berdua sudah siap berangkat kerja rupanya, maaf Papa dan Mama sarapan dulu tadi."


Johan mengelap bibirnya, sama persis dengan bentuk bibir Arsena terlihat casual.

__ADS_1


Hanya saja Johan memiliki kumis lebih tebal, sedangkan Arsena rajin mencukurnya hingga terlihat tak berkumis.


"Ars, sarapan dulu, Hari ini mama masak enak sekali," ucap Rena.


Wanita itu lalu menuang air kedalam gelas dan meletakkan di depan Arsena.


Rena mengambilkan Arsena piring dan memberikan nasi diatasnya lalu menaruh beberapa macam lauk.


"Andini kamu juga sarapan ya?" Tanya Arsena.


"Iya, menantu papa harus biasakan sarapan dahulu donk," timpal papa Johan.


Andini sebentar melirik ke arah Mama, wajahnya terlihat masam, tak sedikitpun senyum di wajahnya untuk Andini. Ia hanya manis saat dengan Arsena saja. membuat Andini jadi serba salah.


"Em, Andini sarapan di kantor saja, Andini tak biasa sarapan pagi, Pa, Ars."


"Iya Pa, dia itu diet ketat menjaga tubuhnya, dia pasti takut tubuhnya akan membengkak, sebagai istri pengusaha muda ia harus pandai merawat diri, putra kita kan sangat tampan." Rena menatap Andini dengan tatapan sinis.


Rena melirik ke arah Arsena putra kebanggaannya yang di gadang akan memiliki pendamping seorang wanita yang ideal dimatanya. Cantik, sederajat. Kini malah bersanding dengan Andini yang bobot bibit bebetnya jelas- jelas berbeda dari segi apapun. Andini anak si penjual gado-gado.


Mengingat semuanya, Rena semakin kesal dengan Johan. Seharusnya jika tak suka dengan Lili, Ia bisa mengenalkan dengan anak teman pengusahanya.


"Andini, sarapan itu penting, ayo makan." Arsena mengambil satu sendok nasi dan mengulurkan tangannya di bibir Andini.


Andini mendorong tangan Arsena tak ingin di suapi pagi ini, Ia hanya membalas dengan gelengan kepala. Suasana ruang makan pagi ini sangat canggung baginya.


" Maaf Ars, aku sudah terlambat, aku nggak mau Dokter Vano dan Namira menganggapku tak provesional. Karena pagi ini aku ada jadwal operasi."


"Baiklah kita berangkat sekarang." Arsena mengelap bibirnya dengan tisu. Menyudahi sarapannya yang baru beberapa sendok.


"Tapi Ars, habiskan dulu sarapanmu" Rena menahan lengan Arsena.


"Mama benar, Ars. Aku akan naik ojol saja."


"Pa, Ma" Andini berangkat dulu. Andini beranjak dari duduknya, mencium punggung tangan Arsena. Arsena membalas mengecup keningnya. Dilanjutkan berpamitan dengan kedua mertuanya.


"Hati hati, Dokter Andini," ujar Johan.


"Siap, Pa."


Tepat pukul tujuh lebih lima puluh menit. Andini keluar rumah dengan langkah tergesa. Ia meninggalkan suaminya ketika sedang menyantap sarapannya. Andini merasa bersalah dengan Arsena. Namun ia belum terbiasa menata hatinya berhadapan dengan Mama Rena.


Bayangan Andini sudah menghilang dari pandangan Arsena dan keluarganya.


Sampai di teras Doni menyambutnya dengan hormat, "Nona apa anda perlu diantar lebih dulu?"


"Terima kasih Pak, sebaiknya naik ojol akan lebih cepat, karena saya sedang buru buru."


"Tapi Nona ...." Andini mengangkat telapaknya. Ia tak mau merepotkan Doni yang harusnya mengantarkan Arsena.


Arsena segera mengejar Andini tanpa meneruskan sarapannya."Pa, Ma. Arsena tak bisa membiarkan Andini berangkat sendiri. Maaf."


"Bagus putraku, kejar istrimu." Johan mendukung Arsena. Sedangkan Rena hanya memutar bola matanya malas.


"Pak Doni, dimana Andini?" Arsena mengamati halaman, berharap Andini belum meninggalkan.


"Nona Andini sudah berangkat bersama ojek online Den."


"Sit, aku terlambat." Arsena meremas rambutnya kesal.


*******


Andini


Andini sudah sampai di depan pintu masuk rumah sakit.


Terima kasih Neng, ucap ojol saat menerima selembar uang berwarna merah muda dari tangan Andini.

__ADS_1


"Sama-sama pak."


" Kembaliannya Neng."


"Sudah, Bapak ambil aja."


"Wah neng selain cantik, hatinya juga baik, semoga neng selalu mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan dalam hidup."


"Amin." Di balas anggukan oleh Andini.


Ojol segera menstarter motornya kembali, di wajahnya nampak bahagia mendapatkan sedikit saja rezeki lebih.


Andini segera membalikkan tubuh, hendak menyeberang jalan menuju gerbang rumah sakit.


Greeep!


Tiba-tiba dari arah kanan, mobil hitam berhenti tepat didepannya.


Pintu belakang terbuka dengan cepat, terlihat dua orang pria bertubuh kekar keluar dari dalamnya. Mereka segera menghampiri Andini yang berjarak hanya satu meter darinya.


Andini belum sempat mengatasi keterkejutannya dengan kedatangan dua pria asing, tiba-tiba sudah di hadang di kanan dan kiri


Pria itu dengan sigap menempelkan sapu tangan tepat di hidung dan mulut Andini. Tubuh Andini seketika lemas tak sadarkan diri. Tanpa sempat ia meminta tolong pada orang lain.


Mobil hitam segera meluncur dengan kecepatan tinggi. Menjadi penguasa jalanan di pagi ini. Hingga tak jarang pengendara lain membunyikan klakson, dan mengumpat kesal.


Andini kini dibawa ke tempat yang sangat jauh dari kota, perjalanan sudah memakan waktu hampir dua jam, tujuan mereka belum juga sampai.


Pria bayaran itu segera menggeledah tas Andini, mematikan ponselnya dengan segera lalu membuangnya ke sungai.


"Bos, ternyata menyuruh kita menculik seorang bidadari." Kata salah seorang dari tiga pria diantara mereka.


"Benar, dia sangat cantik. Dia seperti jelmaan bidadari," ujar seseorang menimpali, memandang Andini penuh nafsu. Air liurnya hingga menetes.


Seorang yang duduk di depan, sibuk mengemudi ikut menyempatkan diri menoleh ke arah Andini yang sedang memejamkan matanya terbaring lemah.


"Benar-benar bening, aku jadi tak tega menyakiti bidadari secantik dia. Harusnya tadi kita buat dia melayani kita bertiga."


Pria yang duduk di depan, otaknya tak kalah kotor dengan dua pria yang duduk di belakang.


"Tidak!! kita jangan macam-macam. Tujuan kita ini demi imbalan yang besar dari, Bos. Kalau kita melakukan kesalahan, kita tak dapat bayaran sepeserpun. Mending kita antarkan pada Bos, dalam keadaan baik-baik."


"Asal dapat tubuh wanita ini, tanpa dikasih bayaran pun gue terima. ha ha." Salah seorang membantah temannya.


Mereka berhenti berbicara ngawur di sepanjang jalan ketika salah satu ponsel dari mereka berdering.


"Hallo Bos, misi kita sudah berhasil."


"Bagus, kita bawa dia jauh dari kota ini, segera menuju palabuhan. Kapal pribadiku sudah menunggu disana dan cepat!


"Baik Bos."


Mobil sudah sampai di pelabuhan Tanjung perak, Surabaya. Mereka sengaja meninggalkan mobil pertama yang digunakan untuk menculik Andini di dermaga, dan kini memasuki kapal pribadi dengan membawa mobil yang berbeda. Semua di lakukan bertujuan untuk mempersulit pelacakan keberadaan Andini.


Setelah satu jam di dalam kapal, tak terasa mereka sudah sampai di pulau Bali. Perjalanan tak berhenti disitu. Sampai di pulau Bali mereka segera di jemput dengan halicopter menuju pulau Xx. yang keberadaannya terpencil dan tak pernah dijangkau oleh akal manusia.


Di pulau Xx sinyal dan alat pendeteksi lainnya tak berfungsi sama sekali, banyak yang bilang pulau itu adalah pulau hitam, tempat bersembunyinya bajak laut dan penjahat lainnya.


Andini mengerjabkan matanya, kepalanya terasa pusing. Berlahan ia membuka matanya yang terasa berat.


"Aaaakh ...." Andini memekik saat tangannya tak bisa menyentuh tubuhnya. Tadinya ia ingin memijit kepalanya yang berkunang-kunang. saat itu ia tersadar kalau dirinya telah di ikat dengan tali yang kuat-kuat. mengikat tangannya dengan pegangan kursi tua dan kakinya juga diikat dengan kaki kursi.


"Apa yang telah terjadi denganku ...." Andini mengamati sekeliling. Ia menyadari kalau dirinya sedang diculik, bangunan tua dengan sarang laba-laba bergelantungan di mana-mana membuat Andini tau kalau ia berada di gudang tua.


Dimanakah Andini kini berada?


"Siapa yang melakukan ini semua!?"

__ADS_1


"Lepaskan aku!" Andini meronta. Namun, semua serasa percuma.


__ADS_2