
"Nona, rupanya kau sudah bangun," kata seorang pria bertubuh tinggi memakai hem kotak dengan kepalanya pelontos, yang terlihat di wajahnya hanya aura menakutkan.
"Siapa kalian!" Andini melotot, agar terlihat galak. Namun yang terlihat tetap wajahnya yang imut bahkan semakin menggoda pria berandal itu.
Andini menelisik mereka satu-persatu, Andini tak pernah bertatap muka dengan mereka sebelumnya, apalagi mengenalnya.
"Siapa kalian!? Lepaskan aku !" Andini mencoba meronta. Ikatan di tangannya sangat kuat. Mustahil jika akan terlepas tanpa bantuan orang lain.
" Nona, saya ingatkan lebih baik jangan memberontak, aku sangat kasian jika tangan halusmu ini akan lecet." ujar si pria yang memiliki ciri bertubuh tinggi, berambut panjang serta di ikat di belakang tengkuknya. Pria itu berjalan mendekati Andini, mulai mengelus tangan Andini yang halus putih.
Andini jijik oleh sentuhan mesum pria yang menggodanya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri. "Jangan macam-macam denganku, menjauh dariku, aku sudah menikah!"
"Wow ... Nona semakin kau marah kau semakin cantik." Pria dengan banyak tato ditubuhnya kini ikut mendekat, tindakannya semakin berani, ia memegang dagu Andini. "Tuan muda kami pasti ingin menjadikan anda istri. Kau teramat cantik dan ranum"
Andini tak tahan dengan kelakuan tiga pria itu, bulir bening keluar dari sudut matanya menetes di pipi dan pangkuan.
Tuhan tolonglah kirimkan malaikat penyelamat untukku, aku mohon jauhkan aku dari kedengkian yang membakar hati maklukmu, hingga ia tega menyakitiku seperti ini.
Andini terus berdo'a dalam hati. Jas putih yang ia kenakan kini mulai terlihat lusuh. Perutnya semakin melilit, Andini ingat kalau dia tadi pagi tak sarapan.
"Kenapa kau menangis Nona? Bukankah aku belum menyakitimu sama sekali?" Kata pria berambut gondrong. Ketiga pria itu berdiri memutari tubuhnya.
"Tolong lepaskan aku, aku tak bersalah apapun dengan kalian" Mohon Andini dengan wajah memelas.
"Melepaskan Anda, sama saja kami cari mati. Nona." ujar pria botak. Misi kami berhasil, atau kami mati itu perjanjiannya. Jadi jangan harap kami akan mengasihimu Nona. Kecuali kalau kami sudah bosan hidup."
Sungguh Andini terkejut mendengar ucapan pria itu, bagaiman dia menerima suatu pekerjaan yang sangat membahayakan dirinya. Andini kini pasrah. Ia hanya bisa menangis dan berdo'a.
"Siapa Tuan kalian! katakan pada ku?"
"Sabar Nona, Dia masih dalam perjalanan kesini. Tuan kami sangatlah tampan. Sayangnya dia terlanjur menyukai anda, Nona."
Selesai berbicara dengan Andini Ketiga pria itu menyandarkan diri di dinding dekat pintu. Mereka mulai mengantuk, salah satu dari mereka ada yang perutnya sejak tadi berbunyi keroncongan.
"Cari makan Bang, lapar." Pria paling muda berambut gondrong mengelus perutnya.
"Iyah, gue juga." Temannya menimpali. Si kepala pelontos.
"Ya udah, gue cari makan dulu. Jaga dia jangan sampai kabur." Akhirnya pria yang terlihat paling berotot keluar dari gudang ia masuk keruangan sebelah, mengeluarkan motor butut yang sudah di modifikasi sedemikian rupa, hingga saat dinyalakan asapnya mengepul membuat kawan yang lainnya terbatuk.
"Cari yang dekat saja."
"Ok Siip." Si gondrong menunjukkan jempolnya.
Andini terus menatap kedua pria itu . Ia berharap pria itu akan tidur hingga terlelap, agar dia bisa mencari cara untuk lari dari petaka yang menimpanya.
Penjaga masih dua orang, Andini berharap dia dapat lolos, mencoba menggigit tali dengan bibirnya. Bibir Andini hingga berdarah tak mampu menggeser ikatan kuat itu.
__ADS_1
"Nona, melepaskan diri dari kami itu mustahil, lebih baik istirahatlah. Simpan saja energi anda untuk besok ketika bos kami sudah datang."
"Tolong lepaskan aku saja, jika kau bersedia, suamiku akan membayar dua kali lipat dengan yang di berikan oleh Bos untukmu. Atau kau bisa melakukan penawaran sendiri dengannya."
"Benarkah? Sayang sekali, Nona. Bos kami juga mengancam keluarga kami."
-
Sekitar tiga puluh menit di gondrong datang. Ia membawa tiga bungkus nasi di tangan kanan , dan tiga bungkus kopi hangat di tangan kirinya.
"Nie, makan!" Katanya pada teman sambil kakinya menendang si kepala pelontos yang baru tidur ayam.
"Eh, cepet juga Lo, cari makannya. Bangun woy , makan dulu." Si Pelontos membangunkan Si Gondrong.
Mereka kemudian duduk bersila, segera menarik gelang karet lalu membuka bungkusan nasi. Isinya nasi putih dengan lauk mie goreng dan telur dadar. Si Pelontos dan Gondrong memakan dengan lahap.
Andini memperhatikan mereka makan, perutnya ikut keroncongan, sejak semalam ia tak memasukkan apapun ke perutnya.
"Kenapa lihat-lihat?"
Andini tak menjawab, ia hanya meneguk liurnya, mengalihkan pandangannya ke tempat lain.
Mereka tak nyaman dilihat saat makan. Dari ketiga pria itu, si pemilik banyak tato sejak tadi belum makan. Sepertinya ia tahu kalau Andini memperhatikan temannya makan pasti perutnya lapar.
"Hey, siapa namamu?"
"An-dini" jawab Andini dengan terbata. Suara pria itu terlalu besar dan serak membuatnya kaget.
Di balas anggukan oleh Andini.
"Nie ... Cepat makan." Pria bertato itu melempar nasi ke pangkuan Andini.
Andini memandang nasi di pangkuannya, seakan memberi kode kalau ia tak mungkin bisa makan dengan kondisi terikat.
"Cepat makan!" Bentaknya.
"Hai Bro mana dia bisa makan, tangannya terikat semua." Si gondrong mengingatkan.
"Hoh iya ya ... " Si pria bertato membuka ikatan tangan kanan Andini. " Awas kalau kabur, gue nggak segan segan akan bertindak kasar." Ancaman yang keluar dari mulutnya setelah membuka satu ikatan tangan Andini.
Andini mengangguk, dengan susah payah membuka nasi yang ada di pangkuannya, pelan pelan ia menyuapi bibirnya. Walaupun makanan itu terbilang sederhana tak memenuhi empat sehat lima sempurna. Bagi Andini yang penting ia memiliki energi dulu untuk tubuhnya.
Andini bersikap sesantai mungkin, walau di otaknya penuh dengan banyak rencana. Membuat para pria yang sedang menyekapnya juga lebih tenang.
Andini sengaja makan di pelan pelan, untuk mengulur waktu. Satu tangan terbuka adalah kesempatan emas yang mungkin tak akan terulang kedua kalinya.
"Makan aja lelet amat sih, buruan!" Si pria bertato memeriksa nasi yang masih banyak dipangkuan Andini. Lalu pergi lagi bersandar pada dinding di dekat pintu. Menyalakan rokok sambil minum kopi.
__ADS_1
Perut yang kenyang membuat mereka dilanda kantuk. Pria bertato tetap menjaga Andini. Ia khawatir Andini akan lolos.
"Pak tolong Ambilkan minum"
"Merepotkan sekali," gerutunya, lalu berdiri mengambil botol minum di dalam jok sepeda yang ada di serambi.
Di kesempatan ini Andini segera melonggarkan ikatan tali di tangan yang satunya. walaupun tak terlepas ia berharap giginya kuat untuk menarik
. saat ada kesempatan.
*****
Arsena
Arsena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11 siang. Sejak pagi tadi sangat sibuk hingga tak ada waktu untuk menghubungi Andini. Arsena berjanji sampai dirumah nanti akan memakan habis istrinya karena tak menelepon sesuai kesepakatan.
Arsena baru menyelesaikan meting dengan clien. Setelah ia sampai di ruangan pribadinya, teringat dengan Andini. Arsena menghubunginya satu kali namun tak tersambung.
"Masuk aja Lang." Arsena kembali menaruh ponselnya.
Arsena berniat menelepon lagi nanti, usai urusan dengan Galang
"Galang menjelaskan panjang lebar tentang kecurangan Devan saat menjalin kerja sama dengannya.
"Devan telah berhasil memanipulasi konsumen dengan menjual produk palsu, sedangkan ia memakai nama perusahaan kita. Kau tau semua produk makanan hasil dari produksi perusahaan devan itu sudah beredar, dan jika konsumen menyadari, maka mereka tak lagi percaya dengan keaslian kualitas produksi kita. "
" Jika itu benar, kita harus melakukan penarikan barang yang menggunakan embel-embel dengan nama perusahaan kita." Titah Arsena.
"Bakar semua barang palsu itu, hingga tak ada lagi yang beredar di pasar.
"Itu terlalu beresiko, jika kita melakukan penarikan, perusahaan bulan ini akan mengalami devisit yang luar biasa. Devan sudah mengeluarkan produknya besar-besaran setelah kau menandatangani kerja sama itu."
"Sial .... Harusnya aku tak pernah setuju dengan kerja sama itu, Kakak Adik sama sama licik." Arsena mengeratkan genggamannya memukul meja dengan keras. Membuat Galang di depannya terkejut.
"Prekdisikan berapa kerugiannya? usahakan semua tak berdampak pada karyawan." imbuhnya lagi.
"Baik, Bos."
Arsena mengizinkan Galang keluar dengan isyarat tangannya.
"Galang setuju, ia pamit keluar setelah merapikan berkas yang telah di acak-acak oleh Arsena
Arsena mengijinkan galang keluar. Ia menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya. Membolak balikkan ponselnya. Menatap wajah Andini di ponsel sekilas, kemudian kembali menelepon
..........
"Di luar jangkauan. Andini sesibuk apakah hingga kau mematikan telepon." Gumam Arsena.
__ADS_1
Baru setengah hari ia sudah mulai merindukan wanitanya. "Andini kau pasti sengaja tak meneleponku. Agar aku tersiksa seperti ini."
"Awas saja nanti, aku akan memakan dirimu hingga kau meminta ampun padaku." Senyum devil terukir di bibir Arsena sambil menatap foto Andini yang baru ia pasang hari ini di meja kerjanya.