
Rena segera mengambil Cello dari gendongan Andini. " Tadi sama Mommy dan Daddy di beliin apa aja?"
Cello senyum senyum sambil menunjuk dua tas kresek warna merah yang sedang di tenteng oleh kedua tangan Mang Karman.
"Ya Tuhan? Banyak banget belanjaan kamu sayang? Pasti itu mainan semua?" Rena pura pura terkejut membuat Cello makin bahagia.
Excel yang ada di gendongan Arsena segera melorot dan ikut duduk di pangkuan Oma, " Kita dapat hadiah dali Om Davit, Oma." Sambil membenarkan pantatnya di pangkuan Oma.
"Wah ketemu Om Davit, juga rupanya"
"Hu'um," kepalanya mengangguk sambil mengayun kakinya bersamaan.
" Mah, Arsena dan Andini ke belakang dulu ya," Arsena terlihat sedang ada pekerjaan, dia pergi ke kamar mandi lalu menuju ruang kerjanya.
"Iya, biarin Excel dan Cello tidur sama Mama saja. Kalian nggak perlu ambil kesini lagi nanti."
"Tapi Ma, dia pasti rewel kalau tengah malam." Andini keberatan memikirkan kenyamanan tidur mamanya.
"Nggak lewel, Mommy, janji," sahut bocah berkulit putih yang memiliki tatapan teduh seperti Andini itu menunjukkan dua jari tengahnya. Yang lagi lagi membuat bibir Arsena tersenyum. Andini menggelengkan kepala.
"Cello, benar-benar ya suka bikin mommy gemes."
"Excel juga sama Oma aja, mommy dan Daddy suka belisik, tidul sama mommy nggak nyaman." Si kecil pemilik tatapan tajam mirip daddynya ikut berbicara.
"Ya Tuhan." Rena menahan senyumnya.
"Andini kamu harus waspada lho, kalau pas lagi begituan sama, Arsen, anak kecil itu daya ingatnya kuat lho," imbuh Rena lagi.
" Mama."Semburat malu kembali terlihat di wajah Andini. "Kita kalau pas begituan pasti anak anak sudah tidur kok Ma."
"Siapa tahu aja, Arsen kan Doyan banget begituan. Kepergok anak anak pas bangun tidur." Mama tak percaya.
"Ma, Andini ke kamar dulu ya," pamit Andini.
"Ya." Rena mengangguk melihat menantunya yang selalu sopan dan ramah didepannya. Bodoh sekali dulu pernah menyia nyiakan perempuan baik seperti Andini.
Arini mulai melepas gaun pengantinnya. Mita membantunya. "Ternyata gaun pengantinnya berat banget Ma, sekitar sepuluh kilo." ujar Arini sambil mengambil nafas ngos-ngosan.
Arini kemudian duduk dan memeluk lengan mamanya, tiba tiba sifat sifat manjanya kambuh. "Ma, setelah menikah, Arini akan jauh dari Mama. Arini pasti akan kangen nggak ketemu mama setiap hari."
"Ya, kalau sudah menikah memang begitu, Seperti Mbak Andini kamu itu. Ikut suaminya disini dan meninggalkan ibunya sendiri,"kata Rena.
"Tapi Arini nggak bisa, Ma. Arini mau ketemu Mama setiap hari." Rengek Arini sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mama.
"Arini, sehari dua hari mungkin kamu akan berat jauh dari kami, tapi percayalah kebahagiaan yang diciptakan oleh suami kamu, Mama yakin kamu dengan cepat akan melupakan kami semua disini," ujar Mama Mita.
"Mama akan telepon kamu setiap hari sayang, mama dan papa akan selalu menyayangimu sama seperti sekarang." Rena ikut sedih dia memeluk Arini dan mengecup puncak kepalanya.
Sedangkan Excel dan Cello mulai berjalan menuju ruang bermain dan mengobrak abrikkan apa saja yang ada disana.
__ADS_1
Mita meninggalkan Rena dan Arini berdua. Dia memilih mengikuti Excel dan Cello, khawatir akan bertengkar ketika sedang berebut mainan.
_____
David segera pulang ke rumah barunya menemui nenek. Sang Nenek menyambut kepulangan David dengan bahagia.
"David gimana Apa kamu sudah dapat perhiasan untuk Arini?"
" Sudah Nek, semoga saja Arini suka dengan perhiasannya." Davit mengeluarkan benda berbentuk kotak dari tas kerjanya.
"Vit, Kenapa perhiasannya kecil-kecil begini dan warnanya juga putih, bukan emas ya? Kamu mau belikan Arini barang imitasi begini? Malu Davit, nenek malu." Nenek terlihat kecewa dengan Davit. Dia menyangka telah membelikan Arini barang palsu.
Davit yang terlihat lelah menyandarkan tubuhnya di sofa kecil yang ada di ruang tamu. "Imitasi gimana sih Nek, David sudah belikan yang paling bagus yang ada di toko emas tadi. Jika David belikan yang besar-besar seperti selera nenek, Davit yakin, Arini enggak bakal mau pakai nanti."
"Arini itu gimana sih, padahal makin besar perhiasannya akan makin banyak uangnya, kaya Mak Sona yang ada di kampung kita itu, perhiasannya besar beras," gerutu Nenek.
"Nenek ada-ada aja, kalau Mak Sona memang suka perhiasan yang besar. Dipake semua saat main ke rumah Nenek, biar Nenek kepingin, gelangnya sampai sesiku seperti toko emas berjalan, Kalau nenek mau besok Davit beliin."
" Enggak usah Vit, ada uang dikit-dikit mending dikumpulin, usai pernikahan, semua kebutuhan Arini itu udah jadi kewajibanmu. Kamu tahu kan, cewek seusia Arini pasti suka beli kinkare, atau apa itu namanya, yang bikin wajah bersih mulus."
"Skincare Nek." Davit terkekeh. Pundaknya naik turun karena menahan tawanya.
" Iya itu kinkare. Nenek sejak tadi juga bilang begitu." Gerutu Nenek.
" Davit ganti baju dulu ya Nek," izin Davit lalu pergi kebelakang. Pekerjaan barunya sangat menguras kerja otaknya, beda saat jadi seorang sopir dulu, cukup mengemudi dengan hati hati dan istirahat.
Usai mandi Davit segera memakai singlet putih dan celana pendek selutut. Lalu membuka laptopnya dan memeriksa file-file untuk pekerjaan besok.
Davit meraih ponselnya. Melihat nama kekasihnya muncul di layar. Dia langsung menggeser kursor hijau.
"Hallo Sayang," sapa Davit mesra.
"Selamat malam Kak Davit, lagi ngapain?" Tanya Arini terdengar manja.
"Sayang, hayo tebak aja, kira-kira lagi ngapa?" jawab Davit
"Lagi main ponsel kah?" tebak Arini.
"Salah kakak lagi mikirin kamu, kakak nggak sabar hari esok tiba. Seminggu nggak ketemu udah rasa seperti satu tahun aja."
Suara dari seberang terdengar tertawa. "Ah Kak Davit, masa satu Minggu sama dengan satu tahun. Bagaimana kalau satu bulan, apa nggak seperti seumur hidup, ha,ha."
"Jangan tertawa."
"Emang kenapa."
"Jadi pengen gigit bibirnya, tapi sayang orangnya nggak ada disini."
"Kak kalau kita sudah menikah nanti Pertama kali apa yang ingin kakak lakukan?"
__ADS_1
"Mau tahu?"
"Hu'um. Usai akad nikah pengen segera ke kamar dan habiskan malam pertama kita, dan aku pengen tiga hari tiga malam nggak keluar kamar."
"Ih mesum banget, Arini nggak mau. Kebayang gimana rasanya nggak keluar tiga hari."
"Oke kalau gitu kakak rubah rencananya. Aku tahu pasti Sayangku akan keberatan dengan rencana pertama, karena pasti nggak akan bisa jalan selama seminggu"
"Itu Kakak sudah tau."
"Kata mbak Andini kita nggak boleh ketemuan, apa termasuk kita nggak boleh Video calling juga?"
" Entahlah, biarlah sementara mendengar suara saja, ini sudah cukup untuk mengobati kerinduan ini Kak, atau aku tanya Mama"
"Jangan, Mama nanti pasti akan berfikir kalau aku nggak bisa nahan ketemu sama kamu, padahal kan enggak seperti itu."
"Memang iya," Arini terkekeh. " Kak Davit sudah makan atau belum?"
" Belum, bagaimana dengan sayangku?"
"Belum, Arini lagi malas makan, pengennya makan bareng sama Kak Davit."
"Oke, kalau gitu kita makan bersama, tunggu lima menit lagi," kata Davit yang terkesan bercanda.
-
Lima menit kemudian.
Tok! tok!
"Kak, ada yang ketuk pintu, apa kakak sedang ada diluar." Arini segera beranjak turun, dia keluar kamar dan segera menuju pintu utama.
Ternyata Bi Um lebih dulu tiba dan membuka pintu, tampak seorang kurir berdiri dengan membawa kotak ditangannya.
"Nona, ini ada paket untuk anda."
" Makasi Bi." Arini menerima paket dari Bibi dan membiarkan panggilan dari Davit diam sementara waktu, Arini segera membawa paket ke kamarnya lagi setelah menandatangani bukti penerimaan.
Arini segera membuka paket dari Davit. Isinya ternyata brownies kesukaannya. Arini dan Davit makan bersama walau hanya lewat telepon, tanpa melihat wajahnya, hanya sesekali dia memasukkan makanan ke dalam mulut sambil berbicara.
Tak terasa obrolan berlangsung hingga larut malam, ada aja yang mereka bicarakan, Oma yang melihatnya hanya bisa geleng kepala melihat cucunya yang lagi kasmaran.
Sekitar pukul sepuluh malam netra Arini mulai dilanda kantuk yang tak lagi tertahan. Sambil mendengarkan Davit berbicara.
"Sayang, apakah masih dengar suaraku?" Davit bertanya pada Arini yang mulai slow respon.
"Arini kenyang Kak." katanya uang tak lagi bersemangat seperti tadi.
" Ya sudah, tidurlah."
__ADS_1
Davit tak menutup panggilannya, ia biarkan ponsel tetap ada disampingnya, ia baru melakukannya setelah mendengar suara perempuannya mendengkur halus.