Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 128. Sehidup semati.


__ADS_3

"Sayang, kau mulai bergerak." Andini merasakan perutnya berdenyut lebih kuat, hingga getaran itu di anggapnya seperti sebuah gerakan.


Zara menggeliat, melihat nona mudanya belum tidur ditengah malam dia pun bertanya."Nona anda belum tidur?"


"Entahlah zara, Aku sedang kepikiran tuan."


"Tidurlah Nona, jaga kesehatan. Tuan pasti ingin Nona istirahat cukup."


"Iya, makasi Zara perhatiannya. Aku akan istirahat. Kamu tidurlah." Bujuk Andini.


Zara kembali tidur dengan nyenyak, sedangkan Andini berusaha memejamkan mata. Memanipulasi diri sendiri mungkin dengan memejamkan mata, Iya benar-benar bisa tidur lelap. Tapi ternyata semua hasilnya nihil.


Melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, Andini bangun turun dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sembahyang malam, dilanjutkan dengan sembahyang subuh sekalian.


Andini selalu menyebut Arsena di setiap do'a yang ia panjatkan. Mendoakan prianya akan pulang dengan selamat, setelah semalam berlayar di tengah samudra.


 


Ketika cahaya kemerahan sudah nampak di ufuk timur, Arsena dan kawan kawan mulai menarik jala, mengambil satu persatu ikan yang nyangkut.


Mendapat hasil tangkapan yang sangat banyak, sekawanan pelaut bersorak riang.


"Wah hasil tangkapan kita hari ini lebih banyak daripada biasanya." ujar Burhan penuh semangat.


"Iya benar. Tuan, besok ikutlah pada kami lagi, siapa tahu keberuntungan berpihak pada kita lagi." ujar kawan-kawan baru Arsena.


"iya, aku akan ikut." ujar Arsena dengan kepala dianggukkan.


Arsena dan kawan-kawan tak lelah menarik jala sambil memunguti ikan yang tertangkap satu persatu. Aneka macam ikan ia pisahkan di blok yang berbeda. Karena setiap ikan memiliki nilai jual yang berbeda.


Kapal mulai menepi, pengepul sudah menunggu di tepi pantai, mereka siap membeli hasil tangkapan ikan para nelayan yang sudah kembali dengan harga semurah murahnya.


Hasil penjualan ikan akan dikurangi sewa kapal, lalu dibagi dengan jumlah anggota. Begitulah kerja mereka setiap hari.


Burhan selaku ketua anggota dia segera membagikan jumlah uang yang diterima. Semua anggota mendapat jumlah yang sama rata.


"Mas, ini bagian untukmu, hasil kita lumayan banyak untuk hari ini. Jadi pendapatan kita juga lumayan." ujar Burhan dengan semangat.


Arsena sudah tak sabar melihat nominal yang ia dapat dari hasil begadangnya semalam. Ia menengadahkan tangannya menerima hasil dari jerih payahnya semalam dengan tak sabar. Arsena terbelalak dengan hasil yang ia peroleh.


Terkejut bukan main, tapi tidak dengan kawan yang lainnya. Mereka terlihat senang dan puas dengan nominal yang diperoleh.


Dua lembar uang bergambar mawar, untuk pekerjaan dengan resiko begitu besar. Arsena tak percaya ini nyata dia alami.


Arsena berdiri tak bergeming dari tempatnya, hingga salah seorang menarik lengannya mengajak pulang. "Pulang Bro, istrimu sudah menunggu."


"Eh, iya." Arsena terkejut. la pun ikut melenggang pulang.


Setelah sadar orang-orang sudah jauh darinya, Burhan dan dia pun segera berjalan cepat mengejar segerombolan kawannya yang lain. Mereka tak sabar menuju rumah masing-masing.


Mereka terlihat begitu puas dengan hasil yang ia peroleh, kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka. Hanya Arsena yang tak mengeluarkan sepatah kata.


 


Andini semalam tak bisa tidur, pagi inipun dia sudah berulang kali mengintip dari balik jendela. Berharap sosok yang dia nanti sudah terlihat dari ujung jalan.


"Zara, kenapa tuan belum juga pulang," ujar Andini gelisah.


" Mungkin sebentar lagi, Nona," jawab Zara yang sedang menyapu lantai. " Nona pasti kangen sama tuan ya?"


"Zara jangan bercanda, mana mungkin kangen, kan dia baru berangkat semalam." Andini menjauh dari jendela. Ia malu mengakui kenyataan sebenarnya pada Zara. kenyataan selain rindu Andini juga khawatir.


"Tuan Arsena itu sepertinya pria satu-satunya romantis yang pernah aku temui, kebanyakan yang aku lihat, semakin lama hubungan mereka, mereka akan sering berantem, tapi tidak dengan Tuan."


Sekarang memang iya, makanya kamu bisa memuji dia seperti itu, Zara. Andaikan kamu tau dulu, dia bahkan menyuruhku tidur di gudang.


Tring tring tring!

__ADS_1


"Ponselmu berdering, cepat! sana angkat."


" Zara Zara kamu memang suka sekali memuji suamiku. Apa dia memang sesempurna itu ya di mata wanita," gerutu Andini.


"Hallo, ini siapa?"


"Ini aku, Zara."


"Aku, emang ada ya nama Aku, anda siapa tolong bicara yang jelas? Nggak jelas banget sih," ketus Zara.


Andini yang mendengar obrolan Zara ditelepon dia hanya mengernyitkan dahinya. Heran, Zara yang pendiam kenapa galak juga saat di telepon.


"Aku Mert, masa nggak kenal dengan suaraku?"


"Oh tuan Mert, ada apa anda telepon saya?"


"Emang nggak boleh?"


"Boleh Tuan, tapi kenapa pagi sekali"


" Kalau siang aku nggak ada waktu, lagian aku cuma tanya kabar Kak Andini."


"Nona, tuan Mert tanya kabar." Zara berbicara dengan Andini dengan keras. Mert menutup telinganya.


"Katakan kami baik baik saja." Kata Andini yang berada jauh dari Zara.


"Nona baik-baik saja Tuan, tak perlu khawatir, keadaan kami disini." Kata Zara lagi.


"Kalau kabar kamu gimana Zara?"


"Aku? Aku juga baik, Tuan Mert.


Andini yang mendengarnya jadi senyum-senyum sendiri. Sepertinya Mert memang diam-diam suka sama Zara.


"Tuan Mert, apa ada lagi yang masih ingin anda tanyakan?"


"Tidak."


Pria di seberang sana menutup panggilannya pada Zara. Sedangkan gadis berusia 22 tahun itu menyembunyikan senyumnya, diam diam hatinya berbunga bunga saat Mert mulai memperhatikannya. Tuan muda Mert selain tampan dia juga smart.


"Ada yang mulai jatuh cinta ini!"


" Nona, berhenti menggodaku. Tuan Mert khawatir keadaan Anda." ujar Zara berdalih.


"Benarkah aku juga membawa ponselku Zara."


"Entahlah nyonya." Zara masuk ke dalam, ia tak ingin Andini melihat wajahnya yang sedang bersemu.


 


Tok tok tok!


Zara hendak memutar balik tubuhnya membuka pintu, Andini mencegahnya. "Aku saja yang membukanya Zara."


"Baiklah, Nona."


Andini membuka pintu, matanya langsung mengembun saat dilihatnya sosok suami berdiri di depan pintu dengan tubuhnya kotor bercampur dengan pasir basah. Bajunya yang semula bersih menjadi kumuh.


Tanpa menunggu Arsena masuk rumah, Andini langsung memeluknya dengan erat. "Sayang, aku masih kotor, aku mandi dulu ya."


"Aku masih ingin memeluk." Kata Andini tak mau melepas pelukannya.


"Aku malu, aku bau dan kotor." Arsena takut membawa kuman dari laut.


"Nggak apa apa, aku suka."


"Ya udah aku masuk dulu, aku ganti baju, setelah itu peluk aku sesukamu."

__ADS_1


Andini menurut, dia melepas pelukan pada suaminya. Andini benar-benar tak sanggup melihat Arsena yang sekarang, berangkat sore pulang malam. sedangkan dulu dia adalah seorang Dirut perusahaan besar.


Arsena segera mandi di kamar mandi kecil yang ada di sudut rumah. Andini mengantarkan handuk dan menaruh di atas daun pintu, supaya Arsena mudah meraihnya dari dalam.


Selesai menyiapkan baju ganti untuk suaminya, Andini memutuskan untuk menunggu Arsena di ruang makan.


Usai mandi Arsena menyusul Andini, wanita itu terlihat tak bahagia. Dia terus saja murung.


"Sayang maaf ...." Arsena mendekati Andini dan mengecup keningnya Andini memejamkan mata.


Arsena menarik kursi dan duduk disebelah Andini.


" Aku cuma bisa memberi uang belanja segini." Arsena dengan ragu memberikan uang hasil menangkap ikan semalam.


Andini menggenggam uang dua ratus ribu pemberian dari Arsena. Air matanya mengalir semakin deras.


"Maaf jika jumlahnya cuma sedikit, tapi tolong jangan menangis, besok aku akan bekerja siang dan malam supaya bisa memberikan uang belanja yang lebih banyak lagi."


"Ini sudah cukup, Ars, ini sudah cukup."


Arsena menarik Andini dalam dekapannya, tanpa terasa pria itu juga menitikkan air mata.


" Maafkan aku maafkan aku karena aku, kamu harus merasakan ini semua."


"Jangan terus meminta maaf, harusnya aku yang meminta maaf, kamu harus kerja keras dan keluar dari rumah besar itu karena aku. karena ingin melindungi diriku."


"ini bukan salahmu, Mama yang salah, harusnya ia terima kita tanpa syarat apapun.


"Tapi aku nggak bisa lihat suamiku bekerja kasar seperti ini, lihatlah tanganmu, apa penyebab luka ini?" Andini makin panik.


"Apa di tubuhmu juga ada?" Andini memeriksa dada dan leher Arsena.


Sudahlah jangan terlalu mengkhawatirkan ku, semalam aku baik-baik saja. Sebaiknya sekarang belanjakan uang ini dan kita sarapan.


Andini menyeka air matanya. " Aku sampai lupa kita harus buat sarapan dulu."


Andini beranjak dari duduknya, ia segera keluar dan Zara ikut dibelakang membawa keranjang belanja.


Uang dua ratus ribu akan disisihkan separuh oleh Andini, untuk keperluan membayar air dan listrik sedangkan yang separuh digunakan untuk belanja hari ini.


Andini memasak masakan sederhana, sayur asam, tempe, dan ayam goreng.


Setelah semua masakan matang mereka bertiga segera makan, Zara memilih makan di dapur, dia tak mau mengganggu momen romantis tuan mudanya yang kerap kali dilakukan saat di tempat makan.


Andini mengambilkan nasi sedikit lebih banyak dari biasanya. Dan mengambil lauk seperlunya. Lalu menyerahkan pada Arsena yang sudah menunggu.


"Apa kau semalam juga menangis?"


"Tidak."


"Tapi kau terlihat sangat pucat."


"Aku hanya tak bisa tidur,"


"Kenapa tak bisa tidur?" Arsena mulai khawatir.


"Aku mulai terbiasa tidur bersamamu, aku juga memikirkan bagaimana saat kau bekerja di laut semalam."


"Jadi karena terlalu takut kehilanganku, sebesar itukah cintamu sekarang padaku." ujar Arsena sambil mengaduk nasi di piring dan menyuapi Andini.


"Bukan seperti itu, aku khawatir kamu ...."


" Aku nggak pulang, dan takut jadi janda?" Arsena menghentikan makan, meletakkan sendok dan garpu di atas piring. memutar kursi Andini menghadap dirinya.


"Aku nggak akan meninggalkan kamu sendiri, Sayang. Kita akan selalu bersama dalam suka duka, bahkan kita akan bersama di kehidupan berikutnya."


*happy reading.

__ADS_1


__ADS_2