Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 115. Khawatir


__ADS_3

"Kak! Buruan di makan kok melamun!" Dara bisa melihat kalau Miko sedang memandangnya tapi hatinya sedang melayang entah kemana.


Dara melihat Miko hanya menatap dirinya dengan tatapan kosong, dan hal itu tak begitu terlihat jelas karena cahaya lilin membuat pandangan berdua menjadi kabur.


"Em, eh iya, kamu makan aja duluan." Miko kaget.


"Kakak, enggak lapar?" Tanya Dara. Sebelum mengambil piring berisi daging bakar.


"Masih kenyang," jawab Miko singkat.


"Kan habis makan tadi, makan kamu" kelakar Miko.


Dara hanya tersipu ketika Miko menggodanya. Dara mulai memotong daging panggang yang paling menggoda yang pernah ia lihat. Dara terlihat kesulitan. Miko segera membantu memotong daging sapi panggang dan menyuapkan ke mulut Dara.


Dara kembali terharu oleh perlakuan Miko yang romantis.


"Cara motongnya itu seperti ini." Mikoe mengajari Dara makan menggunakan pisau dan garpu, yang selama ini dia paling malas mencobanya.


"Makan yang banyak, biar cepet besar little." kata Miko sambil tersenyum manis.


"Aku sudah besar, Kak. Sebel sama kak Miko. Kapan anggap Dara dewasa." Kata Dara mengerucutkan bibirnya.


Miko tak menghiraukan Dara yang sedang ngambek. Ia tetap tak berhenti menyuapi Dara dengan potongan daging. " Buka mulutmu lagi."


" Sudah cukup, Kak. Aku bisa. sekarang giliran Dara yang suapi Kak Miko.


" Emm Boleh."


"Kak terimakasih makan malam romantisnya." Dara mencium setangkai bunga Mawar yang menjadi pelengkap romantisnya acara malam ini.


********


Sedangkan di belahan bumi lainnya, ada dua insan yang memiliki cerita berbeda. Mereka suka menghabiskan malam indahnya di kontrakan kecil layaknya rakyat jelata. Siapa lagi kalau bukan Dokter Andini dan Dirut tampan sebuah PT besar di tengah kota.


Ketika mentari mulai menampakkan sinar kemerahan di ujung timur. Andini bergegas bangun, meskipun dia hamil Andini tak ingin bermalasan dan lalai dengan kewajibannya sebagai istri.


Kalau boleh jujur, Andini senang tinggal berdua saja seperti ini, tanpa ada pengawal dan asistent yang selalu menjaganya. hidup menjadi rakyat jelata tinggal dirumah minimalis, terkadang lebih romantis dan menyenangkan.


Usai sembahyang subuh Andini kembali melipat mukena dan sajadahnya, Andini menyempatkan mengamati wajah suaminya yang masih lelap. Andini tersenyum melihat Arsena bisa juga tidur dengan nyaman di ranjang kecil dan juga kamar yang panas dan pengap. Kipas angin kecil di dinding dengan kepalanya tak berhenti bergulir sudah cukup untuk pengganti AC.

__ADS_1


Andini segera menuju dapur cantik yang ada di kontrakan, mulai memotong bawang merah dan bawang putih lalu menumisnya.


Andini mulai membuat sarapan untuk suaminya kesukaan sang suami. Gurami goreng dengan saos tomat, tumis kangkung dan udang bakar.


Andini menghidangkan semua makanan diatas meja sederhana. Menata semua menu dengan rapi. Tak lupa mengelap piring dan gelas.


Arsena yang mencium aroma makanan matang ia menggeliat malas. Tubuhnya terasa bugar setelah semalam olahraga secara maraton.


"Hai sayang, masak apa?" Tanya Arsena yang masih diatas ranjang. Pria itu memiringkan tubuhnya, mengamati istrinya yang sedang hilir mudik di ruang makan. tubuhnya masih polos hanya terlindung oleh selimut motif dengan gambar beruang lucu.


"Sayang, apa kamu hari ini nggak kerja?" Tanya Andini yang tak berhenti dengan aktifitasnya.


"Aku lagi malas. ujar Arsena. Pria itu turun dari ranjang mencari bajunya yang sudah raib karena dibersihkan oleh Andini dan diantarkan Zara ke tukang laundry.


Arsena akhirnya mendekati Andini hanya memakai kaos tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek selutut yang baru ia ambil dari lemari.


"Hm, masak apa hari ini? Sedap banget. Arsena kini duduk di kursi, usai mencuci muka dan gosok gigi. Meraih jemari Andini dan menariknya hati-hati.


"Sayang, jangan terlalu lelah, ayo kita pulang saja. Aku tak bisa melihat kamu siang malam bekerja seperti ini."


"Beberapa hari lagi Ars, kamu juga belum minta maaf, jadi aku nggak akan pulang sebelum aku dengar kata maaf darimu dulu."


"Sudah cukup, tapi aku ingin mendengar kau minta maaf lagi. satu kali saja belum membuat hatiku memaafkan dirimu."


"Baiklah istriku, calon ibu dari anak anakku, wanita tercantik di jagad ini, aku hari ini minta maaf. kata Arsena yang mendudukkan istrinya di kursi kecil dan dirinya berpindah posisi dengan berjongkok di depan Andini.


"Sayang, papa minta maaf ya, kalian pasti juga ikut sedih. Papa janji, papa nggak akan marah marah lagi, terutama sama Mama kalian." Kata Arsena saat merebahkan kepalanya di pangkuan Andini, tangannya mengelus perut ramping yang belum terlihat membuncit sama sekali. Kalau dihitung usia kehamilan Andini juga baru jalan empat minggu. Masih butuh waktu delapan minggu lagi untuk bisa melihat foto USG bayinya dengan gambar lebih jelas.


"Bangun Ars, entar terlambat ke kantor. Harusnya kamu itu lebih rajin, lebih semangat, ada dua anak kita yang harus kamu nafkahi."


Baiklah, Arsena kini bangun dan berjalan menuju kamar mandi, dia mulai membersihkan seluruh tubuhnya dengan air yang ada di bak mandi. Mandi yang buruk sekali. Tak biasa dia mandi menggunakan gayung seperti ini. Tapi bagaimana lagi, semua ini demi Andini.


Selesai mandi Arsena kembali ke kamar. Ternyata Andini sudah menunggunya, istri cantiknya sudah menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Andini kembali mendapat senyum pagi dan kecupan bibir basah Arsena. "Makasi sudah selalu ada untukku."


"Makasi juga, sudah menerima aku apa adanya."


Andini membantu menghilangkan bulir air yang ada di tubuh Arsena, mengelap dengan handuk, dilanjutkan dengan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang berbeda.


Andini masih selalu mengagumi tubuh suaminya, padahal tubuh berotot dan dihiasi roti sobek itu sudah bisa ia saksikan setiap hari.

__ADS_1


Andini membantu Arsena mengancingkan kemeja, serta memakaikan dasi. "Hati-hati saat mengemudi, Ars," kata Andini saat jarak mereka begitu dekat.


"Iya aku akan hati-hati sayang. Kamu juga hati-hati di rumah. Jangan kemana mana. Kalau butuh sesuatu telfon aku saja. Nanti kurir akan mengirim kesini."


"Siap, Tuan Ars. Andini akan mematuhi ucapan Tuan." Kata Andini dengan wajah menggemaskan. Membuat Arsena tak bisa menahan diri untuk tak mencubit pipinya. Lagi lagi mereka harus menyatukan kedua bibir dan saling bertukar saliva dengan aroma mint yang segar di pagi hari


Adegan mesra itu segera berakhir ketika bayangan Zara sudah memasuki ruang tamu.


Arsena dengan berat hati meninggalkan Andini di kontrakan kecil sendirian, hanya ditemani oleh Zara. Wanita muda yang mungkin tak bisa di andalkan.


 


Lokasi kontrakan lumayan jauh dari jalan utama, Arsena berharap Andini akan aman. Arsena juga tak mengabarkan kalau Lili dan Devan berhasil lolos dari jeruji penjara yang dibuatnya. Arsena khawatir Andini akan takut dan itu akan berpengaruh pada janinnya.


"Aku berangkat, Zara tolong kamu jaga Nona sebaik mungkin," pinta Arsena pada Zara.


"Iya tuan, Zara akan menjaga Nona Andini dan calon bayi Tuan, dengan baik." Zara mengangguk mantap.


Arsena pun berlalu, dia mengemudi sendirian menuju perusahaan, Asistent Doni masih sibuk usai pernikahannya, dia minta cuti hingga beberapa hari.


Zara menutup pagar dan menguncinya. Dia bisa melihat kekhawatiran tuannya. Pertanda pasti ada yang sedang tak baik saja.


Sampai di jalan Arsena bertemu dengan Anita, wanita itu sedang menunggu taxi. Melihat Arsena lewat, Anita segera melambaikan tangan, karena tujuan tempat kerja yang sama Arsena memberi tumpangan.


"Ars sendiri saja."


"Iya."


Anita hendak membuka pintu depan namun Arsena melarangnya.


"Kamu duduk di belakang saja. Didepan ada banyak barang istriku yang lupa aku turunkan."


"Oh, maaf." Anita berpindah membuka pintu penumpang dengan kesal. Jarang-jarang dia bisa bertemu dengan Arsena seperti hari ini. Namun Arsena semakin lama semakin sulit dijangkau membuat Anita berhenti berharap lagi.


"Ars, aku bekerja di perusahaan kamu sekarang, dan aku bagian ADM keuangan di perusahaan." Anita menceritakan dengan bahagia tentang profesi barunya.


"Baguslah, kalau sudah bekerja." Kata Arsena acuh. Lagian dia hanya menjadi pegawai yang tingkatannya jauh dibawahnya, ada dan tidaknya Anita di perusahaan tak akan berpengaruh untuknya.


*Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2