
Arini sudah tiba lagi di kampus, rupanya mobil yang dikemudikan oleh Davit beriringan dengan mobil Nathan.
Davit menghentikan mobilnya tepat di parkiran kampus dan Nathan segera mendahului, memilih berhenti di depan mobil Davit.
Terlihat Nathan buru-buru sekali turun dari mobil dan menghampiri Arini. Memasang senyum bahagianya karena bertemu lagi dengan wanita pujaan hatinya. Bahkan sekarang satu kampus, tentu mereka akan terus bertemu sampai bosan.
"Arini, aku senang kita bisa kembali bersama seperti dulu. Cita citaku satu kampus dengan kamu akhirnya terwujud." Nathan menyambut Arini yang baru saja turun dengan mengulurkan tangannya, berharap Arini akan segera menyambutnya . Davit pun segera menyusul turun dari pintu lain dan mendekati Arini.
"Aku juga senang, Nat, aku bahagia bisa bersama sama dengan sahabat seperti dirimu." Arini tersenyum sambil menoleh kearah Davit yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya, membiarkan tangan Nathan menggantung di udara.
Arini segera menggamit lengan Davit, menatap wajah sopir yang sekarang beralih menjadi pacarnya itu dengan tatapan penuh cinta. " Kak, Arini masuk kelas dulu ya, Kak Davit jangan lupa nanti jemput Arini pukul dua."
"Tentu tidak, Nona, " Davit tersenyum manis sekali. Dia mengusap bibir Arini dengan ibu jarinya, bibir indah yang sekarang terlihat sedikit lebih tebal oleh perbuatannya tadi di pantai.
" ishhh." Arini berdesis menajan perih.
"Oke, nanti calling saya ya, kalau sudah waktunya pulang," ucap Davit sambil membuka pintu mobil di dekat kemudi. Davit tak ingin terlalu menunjukkan kemesraannya di depan Nathan. Sepertinya menjelaskan hubungan diantara dirinya dan nona mudanya akan menjadi urusan Arini.
Arini masuk ke kampus bersama Nathan setelah melambaikan tangan pada sopirnya.
Nathan bukan pria bodoh, dia tentu tau kalau Arini habis dicium seorang pria. bibir merahnya sedikit terluka.
"Arin kamu nggak salah bersikap seperti itu pada sopir? Aku lihat kamu dan dia bukan seperti sopir dan majikan. Kamu seperti seorang kekasih," ujar Nathan saat berjalan menyusuri koridor kampus bersama Arini.
" Rin Katakan padaku, kamu belum punya pacar kan?"
"Nathan mana mungkin aku nggak punya pacar? Aku sudah punya pacar, dan kamu baru bertemu dengan pacar aku." Arini menjelaskan pada Nathan sambil melanjutkan langkahnya pelan-pelan.
"Arini, kamu yakin?" Nathan menatap Arini dengan kecewa teramat dalam, yang berusaha ia sembunyikan. Hatinya hancur mendengar pengakuan gadis yang sudah ia cintai sejak kecil itu. Terlambat sudah semua harapan Nathan.
"Iya, aku mencintai kak Davit, Nat. Dia pria yang sangat dewasa, bisa menerima aku yang kekanak kanakan. Aku bisa nyaman di dekatnya. Kamu tau dia juga sangat hebat, Dia seperti superhero di hidupku."
Arini dan Nathan kini duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang dekat dengan kantin.
"Davit? Sopir kamu itu?" Nathan terkejut, Arini menyebut nama David dan begitu membanggakannya.
"Iya, sopir hebatku!"
"Dia bukan sopir biasa, dia bisa mengalahkan lawan dengan mudah, dia sangat jago beladiri." terang Arini.
Nathan tersenyum, dia menahan air matanya agar tak tumpah. Walaupun kekecewaan itu terasa begitu dalam. Dia pantang menangis di depan wanita.
" Arini, lalu aku ... " Nathan sengaja menggantung kalimatnya.
" Nathan, kita tetap akan jadi sahabat, walau aku sudah punya pacar kak David. Kamu adalah sahabat terbaikku. Pacar dan sahabat itu memiliki tempat masing masing dihati ini."
__ADS_1
" Sahabat ya Rin? Yeah, aku bahagia jadi sahabatmu. Selamat ya semoga kamu bisa langgeng sama Super Hero kamu."
"Makasi do,anya Nat." Arini menggenggam jemari Nathan, sorot mata bahagia begitu terlihat, Gadis berkulit putih bertekstur halus itu merasakan hidupnya begitu sempurna.
Davit rupanya masih belum pergi dari parkiran dia hanya memindahkan mobilnya agar tak terlihat oleh Arini saja, Davit bisa melihat Arini bersama Nathan. Bahkan obrolan mereka tadi, Davit mendengar semuanya. Hati Davit sangat berbunga bunga mendengar kekasih kecilnya menyebutnya dengan superhero.
'Nona, kau terlalu berlebihan.' batin Davit. Setelah puas mendengar inti percakapan tadi, giliran ajudan hebat itu yang senyum-senyum sendiri, sambil keluar parkiran kampus. gerbang akan ditutup lima menit lagi.
Di perjalanan, Davit kembali menghubungi Arini. Mengirimkan sebuah pesan.
Nona, belajar yang serius, jangan ngomongin orang dibelakangnya.
Apa? Aku ngomongin kebaikan seseorang, bukan keburukan.
Siapakah orang paling beruntung itu.
Seseorang yang aku cintai.
Nona, apakah itu sopir anda.
Bukan, pacar aku.
Aku sangat beruntung Nona.
Aku paling beruntung, selamat bekerja, jangan kecewakan Kak Arsena. Restu dia sangat berpengaruh pada cinta kita.
'Selamat bekerja Bee, peluk dan cium ku aku titipkan pada udara di sekitar Kakak.'
Davit sangat bahagia begitu juga Arini. Nathan hanya bisa pura pura bahagia. Padahal dia berharap saat bertemu Arini akan mengutarakan perasaannya tapi apa boleh dikata, ternyata hati Arini sudah berlabuh untuk pria lain
Nathan Dan Arini pun akhirnya masuk ke kelas masing-masing.
Sepanjang mata kuliah berlangsung, Arini begitu semangat, bibirnya selalu membentuk segaris senyum bahagia. Dia juga mengumpulkan tugas paling cepat. Memiliki kekasih seperti Davit ternyata membuat moodnya sangat baik.
*******
Di perusahaan PT Wilmart
"Kau !" Suara Arsena meninggi dua oktaf, terkejut dua makluk yang hilang bagai ditelan bumi itu ada di depannya.
Dua punggung yang tak asing bagi Arsena segera menoleh.
" Maaf Pak, anda memanggil saya?"
" Oh aku kira kamu adalah kawan lama saya. Maaf" Arsena menghela nafasnya, tadinya dua orang itu dikira dia adalah Devan dan Lili. Namun ternyata bukan, mereka hanya terlihat mirip dari belakang saja. Namun dari depan sama sekali terlihat berbeda.
__ADS_1
" Pak kenalkan dia adalah suami saya, Andrew dan saya sendiri adalah Vanes." Dua calon clien barunya itu menjabat tangan Arsena bergantian
"Ya silahkan duduk." Arsena mempersilahkan Vanes dan Andrew untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Anda sangat rajin sekali saya senang memiliki clien seperti anda." ujar Arsena ramah tamah.
"Saya lebih beruntung lagi, bisa bertemu dengan Anda langsung dengan seorang CEO PT Wilmar yang tentunya orang yang hebat. Rumor tentang anda ternyata benar, bahkan anda terlihat lebih hebat dari yang saya dengar selama ini."
" Anda terlalu berlebihan," ucap Arsena berusaha menjaga imagenya. Dia tak gampang melambung oleh sebuah sanjungan karena hal itu sudah biasa ia dengar dari para clien sebelummya.
" Meeting dimulai. Galang yang ada disebelahnya terlihat serius menjelaskan tata cara menjalin sebuah kerja sama dengan perusahaan yang sudah membesarkan namanya, Perusahaan sudah menjadi ladang yang subur untuknya dalam mengais rezeki.
Andrew mnganggukkan kepalanya berulang kali menyimak penjelasan Galang yang begitu jelas, rinci dan detail. Dari pembagian hasil yang harus disepakati oleh kedua pihak dan pasal-pasal yang berlaku ketika salah satu melakukan kecurangan.
"Tuan tenang saja, kami akan berusaha menjaga kerja sama ini semaksimal mungkin, dan tentunya hukum perusahaan yang berlaku itu sudah cukup menjadi batasan ruang gerak kami."
"Ya terimakasih, anda clien yang cerdas, terlihat rumah tangga kalian juga harmonis. Itu sudah cukup untuk membuktikan kalau anda pria yang sangat menghargai suatu hubungan," jelas Arsena.
Meeting singkat telah usai di saat hari tengah beranjak siang. Andrew dan Vanes berpamitan dengan kembali berjabat tangan.
Setelah kepergian Dion dan Vanes, Arsena mulai merasakan lapar, dia membuka rantang yang tadi pagi telah disiapkan Andini.
Arsena terkejut ketika membuka masakannya pagi ini, rantang pertama isinya kosong dan hanya ada selembar kertas yang terlipat dengan rapi. Arsena segera membacanya. dia yakin itu adalah sebuah kejutan dari Andini yang kedua kalinya setelah berita kehamilan waktu itu.
Sebuah penantian panjang dan ketulusan akan selalu lebih indah pada waktunya. Bagi yang telah lama berpuasa memendam hasrat dan gelora cinta. Kau sudah boleh berbuka.
Senyum di bibir Arsena segera mengembang, dia tahu apa maksut isi surat dari istrinya. Akhirnya penantian panjang yang dilalui berakhir sudah.
Saat akan kembali menyantap hidangan makan siangnya, Arsena jadi ingat Davit. Tiba tiba dia ingin menghabiskan bekal makan siangnya hari ini bersama Davit, hitung hitung untuk berbagi kebahagiaan juga.
Arsena segera menghubungi Davit. Ajudan itu segera naik ke lantai dimana sang Dirut berada.
"Tuan, ada apa memanggil saya kemari?" ucap Davit saat baru datang.
"Masuk!" perintah Arsena singkat.
Wajah Davit sudah memerah seperti kepiting rebus, entah kenapa dia tiba-tiba takut sekali saat bertemu dengan Majikannya.
"Menurutmu ada apa kalau aku memanggilmu?" ujar Arsena dengan wajah Datar.
"Maafkan saya jika saya telah melampui batasan saya." Davit menunduk, wajahnya memerah tubuhnya sudah panas dingin.
"Maksutmu?" Arsena mengernyitkan dahinya.
"Hey, santai bro, Kenapa kau begitu tegang melihatku? Apa kau pikir aku setan?" Arsena menggebrak meja.
__ADS_1
Davit terjengkit kaget, tubuhnya terlihat bergetar.
Arsena heran melihat kelakuan Davit hari ini. Tak seperti biasanya yang selalu tenang seperti air kolam..