Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 226. Bayi besar.


__ADS_3

" Tuan, sepertinya Nona Lily benar-benar pingsan."


" Benarkah?" Arsena tak percaya. Dia harus memastikan sendiri kalau apa yang ia dengar dari Gondrong tidaklah main main."


" Briptu Zidan sepertinya perempuan ini belum bisa Anda bawa sekarang. Dia terlihat kurang sehat."


" Anda yakin dia tidak sedang pura pura?" Briptu Zidan mendekati tubuh yang meringkuk di kursi. Bagaimanapun dia harus memastikan kalau calon tahanan itu sedang tak pura pura.


" Briptu Angga bagaimana ini? Calon tahanan kita sedang pingsan." Tanya Briptu Zidan pada Briptu Angga.


" Kita tanyakan pada tuan Arsena saja. Apakah dia setuju perempuan ini dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan pengobatan terlebih dahulu?" ujar Briptu Zidan.


"Bagaimana Tuan? "


" Yah lakukan yang terbaik saja." Arsena mengamati Lili yang mulai menggeliat pelan.


Lili Tiba-tiba membuka matanya sangat lebar


" Hahaha kalian semua ketipu, payah kalian payah aku hanya pura pura tidur. Hai Briptu Zidan bagaimana kamu tak tau kalau aku sedang mengerjaimu?" Acting Lili sungguh sempurna menjadi orang gila.


"Yuk kita main petak umpet." Lili menarik-narik lengan Briptu Zidan seperti anak kecil. Masih senang memelintir rambutnya yang berwarna pirang, sesekali mengedipkan matanya genit kepada Briptu Zidan


" Tuan dia sepertinya sedang gangguan jiwa, dan anda tahu orang yang gangguan jiwa tidak wajib untuk dipenjarakan, dia harus dibawa ke rumah sakit khusus penanganan tuna mental,"


" Briptu, tapi dia tidak gila, dia pasti sedang pura pura," sanggah Arsena.


"Pura-pura atau tidak, kita tunggu kepastian dari dokter usai pemeriksaan."


" Baik." Arsena setuju.


"Nananana nananana nananana." Lili bernyanyi menirukan sebuah lagu terkenal, sambil senyum-senyum tak jelas menatap Zidan, sesekali menatap Arsena. Arsena sungguh muak dengan permainan Lili kali ini. Tapi justru Briptu Zidan merasa iba pada wanita secantik Lili harus menderita.


" Tuan bagaimana bisa wanita secantik dia sampai mengalami depresi seperti ini? Kenapa tidak anda jadikan istri kedua anda saja, Jika dia memang sangat mencintai anda" bisik Zidan sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Arsena.


" Jaga bicaramu Briptu. Aku sudah memiliki seorang Istri. Anda tak pantas mengucapkan kata-kata itu lagi padaku."


" Aku bercanda Tuan, Tolong jangan dibawa serius." Briptu Zidan menepuk punggung Arsena. Sebagai ucapan permintaan maaf.


" Tak kusangka Tuan pemilik perusahaan besar seperti anda bisa setia dengan satu wanita. Sungguh jarang ditemukan di kehidupan masa kini" Briptu Zidan jadi tidak enak hati, rupanya ucapannya yang sedikit tadi sebuah kesalahan besar.


Lili dibawa ke sebuah rumah sakit khusus untuk penderita gangguan jiwa. Arsena dan Briptu Zidan ikut mendampingi. Ken memilih no comen. Sedangkan Gondrong dan Botak ikut mendampingi pula.


Sampai di rumah sakit jiwa, Lili segera di jemput oleh dua suster berseragam serba putih. Lili memberontak, dia tak mau dibawa oleh perawat itu.


"Lepas! Lepaskan aku! aku tidak gila! Aku tidak gila!" Lili mendorong dorong tubuh perawat dengan kasar membuat dua orang itu kuwalahan.


Terpaksa dokter harus menyuntikkan obat penenang untuk Lili. Tubuh Lili mulai melemas dan dia kehilangan kesadarannya.


Dua perawat segera membaringkan tubuh Lili diatas brankar. Mulai mengikat tangan kanan dan kiri, berharap saat sadar nanti tidak bisa membuat kekacauan lagi.


Melihat Lili sudah tenang, dan tidur pulas, Arsena kembali keluar ruang perawatan. Sesaat melirik pada Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari rupanya sudah larut malam.


"Gondrong, Botak jaga Lili dengan benar, awasi gerak geriknya, lihat perkembangan yang terjadi. Dan kabarkan padaku selalu setiap ada waktu. Aku akan pulang sekarang."


"Kami selalu siap melaksanakan perintah, Tuan." Dua tangan kanan itu menyatakan kesediaannya.


"Bagus. Aku mengandalkan kerja kerasmu,"


Arsena segera keluar rumah sakit dan berjalan menuju jalan raya, dia kali ini tak meminta untuk dijemput Davit. Arsena memilih naik taxi online saja.


Sampai dirumah Arsena melihat rumah sudah sepi. Mungkin semua penghuninya sudah tidur. Arsena membuka pintu sangat pelan. Berharap tak ada yang akan menyadari kalau dia pulang kecuali mang Karman yang membukakan gerbang tadi.


Sampai di kamar besar yang tertata rapi bak taman surga itu Arsena melangkahkan kaki pelan.


Baru beberapa langkah menapakkan Kaki Arsena sudah dikejutkan oleh suara lembut Andini. .


" Baru pulang, hubby." Arsena langsung menghentikan langkahnya. rupanya idenya untuk tak mengganggu siapapun di malam ini telah sia-sia.


"Iya Sayangku, belum tidur? jawabnya pendek. Arsena berniat duduk sebentar di sofa. Menyandarkan diri di sandaran dengan mata terpejam sudah menjadi impiannya sejak di jalan tadi.

__ADS_1


Andini yang menyapanya telah hilang entah kemana, tak lama kemudian dia kembali membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atasnya.


"Kok sampai selarut ini?"


" Maaf." Arsena menarik lengan Andini membuat wanita itu harus mendaratkan pantatnya di paha sang suami.


" Ada yang ingin di jelaskan." Tanya Andini, menggali sebuah pertanyaan.


Arsena hanya memeluk Andini sangat erat. Menjatuhkan kepalanya diantara dua bukit kembar milik istrinya itu, Terdengar nafasnya saja yang berhembus pelan. " Nanti saja. Bagaimana anak-anak hari ini apa ada kemajuan lagi?"


" Sore tadi dia jalan-jalan ke mall bersama mama, Oma, dan Arini. Membeli bahan baju untuk dipakai saat couple pernikahan Arini nanti. Dan lucunya Excel dan Cello sudah bisa minta mainan bagus pada Mama dengan cara lihatin mainan itu dan dia menangis kenceng banget saat diajak pergi menjauh dari benda incaran ,lucu kan dia?


" Anakku menagis karena meminta sebuah mainan?" Tanya Arsena.


" Bukan maksut Mama tak dibelikan, tapi Mama yang belum mengerti keinginannya." ujar Andini tak ingin Arsena salah paham.


"Dia pasti akan tumbuh menjadi putra ku yang hebat. Aku ingin bersamanya seharian besok. Aku ingin dia tak kurang kasih sayang dariku sedikitpun.


Ya luangkan waktu lebih banyak untuknya, Saat tidur tadi lumayan rewel. Mungkin memang benar Dia lagi kangen ditemani papahnya" ujar Andini.


" Iya besok aku akan bangun pagi supaya bisa leluasa menemani dia mandi dan sarapan. Aku akan selalu temani dia setelah semuanya beres."


"Hubby, cepat diminum kopinya, keburu dingin. Lalu ceritakan kenapa bisa telat pulang?"


" Aku mengantar Lili ke rumah sakit, Lili harus sembuh dulu baru bisa kita bawa ke sel tahanan, dia sedang mengalami gangguan kejiwaan."


" Kok bisa makin rumit seperti ini. Bukankah Lili tadinya baik-baik saja dan dalam sehari dia bisa mendadak sakit jiwa. Aku rasa ini ide baru Lili ingin melarikan Diri." Terka Andini.


" Bisa saja seperti itu, jika dia hanya berakting, betapa hebatnya sandiwara yang dimainkan hingga bisa mengecoh kita semua.


Andini turun dari pangkuan Arsena menggeser duduk di sebelahnya. Tangan Arsena menggapai cangkir dan mulai menyesap kopi hangat buatan istrinya.


"Secangkir kopi yang hangat nikmat," puji Arsena sambil menghadiahi sebuah kecupan di pipi istrinya. Ini hadiahnya untuk penjual kopi yang cantik seperti dirimu Sayang.


" Kok penjual kopi?" Protes Andini, sambil mengernyitkan dahinya.


" Ya, penjual kopi cinta untukku, kopi buatan istriku selalu memiliki takaran rasa yang pas untuk menjadi pelepas dahaga." Arsena mulai ngegombal. Usai meminum kopi sepertinya dia ingin merasakan minuman yang lainnya.


"Di tengah malam seperti ini?"


"Ya"


Andini mengambilkan bathrobe. Yang baru saja ia lipat. Di dalam lemari. Arsena menerimanya dan mencium aromanya sesaat. Sangat wangi.


"Ini sudah malam apa ingin aku bantu biar mandinya lebih cepat? " Tawar Andini.


" Tidak perlu, aku tak mau kamu kedinginan." Tolak Arsena.


Andini mengerti kalau Arsena sedang dalam masalah dia pasti ingin mandi dan berendam lama di dalamnya. Arsena menerima bathrobe dari Andini. Setelah ia sampirkan di pundaknya, ia mulai berjalan ke arah kamar mandi. Air hangat rupanya sudah siap, Arsena tinggal melepaskan bajunya dan menceburkan diri. Arsena memejamkan mata di dalam bathup sambil merasakan tubuhnya tersentuh oleh air hangat yang menyegarkan.


Dua jam wakktu yang cukup untuk Arsena berendam diri. Dia turun dari bathup setelah tubuhnya terasa lebih segar dan air di dalamnya mulai dingin.


Arsena meraih handuk kimono yang tadi di siapkan oleh Andini dan mengikatkan talinya di pinggang. Arsena buru buru keluar dengan rambut yang basah.


Andini menunggu hingga terkantuk-kantuk di sofa, idenya pasti ingin menunggu sambil melihat acara TV. Namun kini malah terbalik, Acara TV itu yang melihat dia mengantuk.


Senyum tipis tersungging dari bibir arsena. Dia tak menyangka kalau Andini akan menunggunya hingga menyiksa diri seperti itu. " Disuruh istirahat aja susah banget sih Ndin, kamu ini." Keluh Arsena sambil menggelengkan kepala.


Kepala Andini terayun ke bawah, saking tak bisa menahan kantuk nya lalu arsena menopang kepala Andini dengan telapak tangannya. Andini terkejut


Senyum simpul kembali ia pamerkan. " Maaf aku ketiduran. Tadinya aku ingin membantu kamu mengeringkan rambut. Sudah kering ya." Andini meraba rambut Arsena yang masih basah.


"Sini aku bantu keringkan, kamu mau pakai handuk atau pakai hair dryer."


"Pakai handuk saja."


"Oh, baiklah. Sekarang duduklah. Tubuhmu lebih tinggi dariku aku tak bisa menjangkau."


" Ya aku tahu, semua itu karena kamu kurang makan makanan bergizi waktu kecil sehingga tubuhmu menjadi pendek."

__ADS_1


"Enak aja, bukan aku yang pendek, Vanya dan aku masih tinggi aku dua senti. Padahal tingginya dia sudah seratus enam puluh. Kamu aja yang ketinggian, pria Indonesia tinggi normalanya rata rata cuma seratus tujuh puluh." Terang Andini panjang lebar.


Ya aku memang lebih tinggi dari rata rata orang indo. Eyang kakungku masih keturunan Turki jadi aku lebih tinggi. Tapi ngomong ngomong kamu suka nggak punya suami yang ebih tinggi dari rata rata.


" Ya suka sih, ada banyak keistimewaan yang dia miliki."


"Benar?" Arsena tersenyum senang. Jari tangannya mulai jahil.


"Tau ah, aku sekarang sudah ngantuk mau tidur." Andini menghentikan aktifitasnya mengeringkan rambut suaminya. Ia biarkan handuk kecil itu menempel diatas kepala. Arsena mengambil lalu menjemur.setelah kembali ia lihat Andini sudah memejamkan mata.


Arsena ingin menjahilinya sebentar."Sudah tidur apa pura pura," bisik Arsena di telinga Andini.


Andini tersenyum dan membuka matanya lagi dia tau kalau suaminya tak akan membiarkan tidur sebelum rutinitas malam yang satu itu terpenuhi.


"Aku akan periksa Excel dan Cello di kamarnya." Andini turun dari ranjang.


Aku ikut, ujar Arsena yang betah hanya memakai bathrobe. Mengekori Andini.


Kamar anak-anak terlihat sunyi rupanya mereka sudah pulas semua. Andini menatap anaknya satu persatu. Bayi yang merah itu sekarang sudah berubah menjadi bayi yang berkulit kuning dan pipi gembilnya mirip bakpao.


Andini mengecup pipi ke dua anaknya bergantian " Excel, Cello. Papah dan Mamah akan menjadi pelindung orang yang akan jahat darimu. Kita masih berusaha memberi keadilan untuk mereka. Do'akan Papah dan Mamah tak akan menuai kesulitan lagi ya. "


"Merasakan sentuhan dingin bibir Andini bayi kecil itu menggeliat. "Oek oek." Excel menggeliat.


"Kok dibangunkan sih, Sayang." Protes Arsena.


"Enggak kok cuma dicium."


" Tapi kan sekarang bangun. Arsena sedang menggerutu pasti karena dia sedang memiliki niat terselubung.


"Iya iya, biar aku tenangin Excel nya."


Andini mengambil Excel dari box bayi lalu menggendongnya. Mengayun ayun dan menina bobokkan. Baru saja ingin tidur kembali Cello ikut terbangun dengan tangisnya yang kencang.


"Oeeeeek oeeeeek." Tangis Cello yang kencang mengganggu tidur Rara.


"Ars, gimana ini kok bangun semua?" Arsena duduk pasrah. Berusaha nenangin Cello tapi Kiara tak ada yang menolongnya.


Tak mungkin juga dia akan membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak di tengah malam.


"Hadeeeh kok bisa bangun semua sih?" Arsena menepuk jidatnya.


Pukul dua dini hari para bayi baru bisa tenang. Andini dan Arsena terpaksa malam ini tak melakukan ritual rutinnya.


****


Dini hari pukul enam Arsena sudah bangun. Bibirnya lancip seperti kerucut. Dia segera menuntaskan panggilan alam di pagi harinya.


Andini menggeliat diatas ranjang raba raba di sebelahnya yang sudah kosong. " Tumben bangun cepat." Andini mencoba duduk. Tidur sebentar membawa dampak buruk pada dirinya. Rasanya masih kurang tidur. Membuat kepalanya keliyengan.


" Ini karena anak anak bangun tengah malam, aku jadi ngantuk begini," eluh Andini memegangi keningnya.


Arsena keluar kamar mandi, melihat ekspresinya yang cemberut Andini sudah mengira dia pasti semalam sedang ingin meminta sesuatu tapi tak terkabulkan.


"Hubby!" Andini memanggilnya sambil senyum senyum tak jelas berusaha meluluhkan hati Arsena.


Menoleh saja tidak, Arsena memang suka marah berkepanjangan kalau keinginannya tak tercapai. Jika sudah seperti ini pasti marahnya bisa seharian.


"Ars, aku buatkan kue special mau?"


" Nggak perlu." ujarnya ketus. Sambil mengaduk kopi yang dibuatkan Bi Um baru saja.


" Em bagaimana kalau aku buatkan gurame bakar bumbu pedas kesukaanmu." Andini kini yang lebih agresif dia bangkit dari ranjang dan memeluk Arsena.


" Lagi nggak nafsu makan begituan." Arsena melepaskan pelukan tangan Andini.


"Lalu mau apa dong?"


Arsena diam masih dengan bibir mengerucut. Andini kembali memeluknya walau Arsena merasa sedikit ogah karena lagi ngambek.

__ADS_1


"Uh, semalam bayi kecil nangis, sekarang bayi besar ngambek," gerutu Andini merasa bersalah.


__ADS_2