
Kuliah telah usai, Andini sudah berada di perjalanan pulang. Andini dan Vanya berada di angkot yang sama karena sopir yang biasa jemput sedang sibuk.
Andini hari ini terlihat irit bicara. Mengingat waktu yang diberikan Pak Johan semakin dekat, tinggal menunggu hitungan hari saja.
Saat di dalam angkot Andini menoleh ke belakang mengamati pengendara lain yang sedang antri menunggu giliran ingin mendahului angkot yang sedang ia tumpangi. Andini melihat tiga pria berada dalam satu mobil, sepertinya ia mengenal pria itu.
Setelah ingatan Andini terkumpul, betapa ia sangat terkejut jika pria yang ada dibelakangnya itu adalah pria yang mengejarnya tadi malam.
"Ya Tuhan kenapa dia mengejar ku?" Andini mulai panik ia takut kalau akan dipaksa dibawa kepada mamie. Karena setahu Andini, Mamie sudah menerima uang dari pria yang akan membelinya malam itu.
"Vanya, itu pria yang mengejarku tadi malam. Tolong Aku Vanya ....! Aku harus sembunyi dari pria itu Van. Dia akan membawaku kepada mami, mucikari yang akan menjualku"
Andini gelisah dan paranoidnya mulai kambuh di dalam angkot, hingga beberapa orang memandanginya heran.
"Mana? Jangan- jangan kamu salah orang lagi?" Vanya ikut mengamati kendaraan dibelakang angkotnya.
"Tidak! aku tidak mungkin salah, itu mereka pasti membuntuti ku sejak semalam."
"Benar itu orangnya? atau perasaanmu saja?"
"Bener, buat apa aku harus bohong Vanya?"
Andini masih panik, Vanya mengusap usap punggung sahabatnya, memberi sedikit ketenangan. Andin memang benar, Vanya juga melihat tiga sosok pria bertubuh tinggi besar itu telah naik mobil berada tepat di belakang angkotnya.
"Baiklah aku akan membantumu lari dari orang itu sekarang kita turun saja dari angkot ini" ucap Vanya memberi solusi.
"Stop pak! Stop ....! kami berhenti disini saja." Vanya meminta sopir angkot menghentikan kendaraan.
Angkot sudah menepi, Andini dan Vanya buru-buru turun. Vanya segera membayar ongkos angkot, setelah selesai gadis berambut keriting dan memiliki tahi lalat di dagu itu segera menyeret lengan Andini mengajaknya bersembunyi.
"Hei berhenti !! Itu gadis yang kita cari? ..." Teriak salah satu dari mereka memberi tahu kawannya.
"Lariii ... !!!" Teriak Vanya spontan.
"Hei ... Jangan lari !!" Dua pria berbaju hitam buru-buru turun dari mobil. Dan yang satunya menepikan mobilnya.
Andini dan Vanya lari terus saja berlari dengan tangan bergandengan.
"Mau kemana Nona?" Satu pria menghadang di depannya. Dan dua orang sudah siaga berada di belakangnya.
"Pak, tolong biarkan saya pergi! Saya tak ada salah dengan kalian?" Andini semakin ketakutan.
"Apa yang dia bilang ha ... ha ... ha ..." Mereka tertawa sumbang." Siapa suruh masuk ke sangkar Mamie hah?"
"Cepat tangkap dia, kita tangkap dua duanya sekalian." Perintah pria Yang berada di depan.
Mereka menangkap Andini dengan mudah layaknya memasukkan kucing ke dalam karung.
"lepas, lepaskan saya. Lepas ..." Andini terus meronta.
Aaaarg ... Teriakan menggema dari kedua pria, ternyata Vanya dan Andini kompak menggigit mereka bersamaan. Setelah cekalan tangannya melemah ia segera berlari.
__ADS_1
Andini dan Vanya masuk rumah berpagar tinggi, tanpa mengetahui siapa pemiliknya. Mereka berdua bersembunyi di dalamnya, nafasnya terengah engah karena takut.
Apalagi ketika terdengar suara langkah sepatu berputar-putar di luar gerbang. Andini semakin takut ketahuan. Ia menekan dadanya agar suara nafasnya tak terdengar oleh orang- orang di luar sana.
Setelah tiga puluh menit kemudian.
"Sepertinya kita sudah aman, Ndin?" ujar Vanya yang tak melihat tanda-tanda ada orang sedang membuntuti
"Sebentar lagi Vanya, aku takut mereka menunggu kita keluar dari sini." Andini masih takut, keringatnya panas dingin mulai keluar dari sela-sela jari tangan dan kening.
"Tenang, ada aku." Vanya terus saja menenangkan Andini.
Andine sangat menyesal datang meminta bantuan kepada papa nya waktu itu, bukan mendapat uang, malah kini masuk ke perangkap seorang mucikari. Sungguh keterlaluan mama yang tega menjual anak tirinya.
"Hey ... ngapain kalian bersembunyi?" tiba- tiba seorang pria bertubuh jangkung berkulit putih menepuk punggungnya.
Andini terjengkit kaget untung latah yang keluar dari bibirnya kali ini bagus. "Assalamualaikum .... "
Dag Dig Dig Jantung Andini seakan melompat dari sarangnya.
"Bapak, kenapa ada disini?" tanya Andini gugup, kepada pria yang tak lain adalah Pak Johan.
Pak Johan tersenyum. "Nak Andini. Ini rumah teman Bapak. Dia seorang penghulu. Andini sendiri ngapain disini?"
Andini bingung harus jawab apa, tak mungkin kalau ia katakan terus terang kalau sedang bersembunyi dari orang yang tadi malam mengejarnya.
"A-anu Pak, Andini sedang me ... " Ucapan Andini terputus, karena Vanya tiba-tiba memotong.
Berulang kali Andini mencubit lengan Vanya. Namun gadis itu terlambat menyadari kode dari sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu biar kalian pulang sama kami saja," ujar Pak Johan lagi.
"Terima kasih Pak, kebetulan sekali, tapi rumah saya sudah dekat, sebaiknya biar Andini saja yang bersama Bapak, saya titip teman saya ini ya Pak."
"Mari Ndin, kita pulang. Biar kami antar sampai rumah."
Pak Johan menggandeng pundak Andini, layaknya seorang bapak yang begitu mengkhawatirkan putrinya.
Doni segera membukakan pintu belakang untuk majikannya dan Andini.
"Silakan masuk Pak, Nona," ujar Doni. Setelah mereka berdua masuk Doni menutup pintu mobil kembali dengan santun.
Andini saat ini kembali semobil dengan Pak Johan. Andini hanya diam dan menunduk saja.
"Pasti kamu sedang dalam masalah ya? cerita saja pada, Bapak?" Pak Johan bisa melihat kegundahan hati Andini. Ingin membantunya, pasti serta merta Andini akan menolaknya
Karena Andini hanya diam, kini Pak Johan berinisiatif ngobrol yang lainnya saja "Andini, kamu mau langsung pulang apa ke rumah sakit?"
"Andini turun di depan gang saja Pak."
"Kenapa? Apa bapak nggak boleh ketemu dengan keluarga kamu?"
__ADS_1
"Bukan Pak, Andini sudah sangat merepotkan Bapak. Kalau turun di gang, Andini jalan juga nggak akan lelah, Deket kok."
"Ya justru karena deket, saya mau mampir, masa nggak boleh."
"Boleh pak, tapi rumah Andini ..."
"Udah nggak apa-apa, kamu pikir bapak mau bertamu harus memilih rumah yang bagus dulu? Enggak kan?"
Andini hanya mengangguk anggukan kepala. Dalam hati Andini senang bisa mengenal orang yang kaya tapi tak sombong seperti pak Johan ini.
"Pak kita sudah sampai, ya ini rumahnya Andini, jelek dan berantakan" ucap Andini sambil mengamati rumahnya yang sepi, sepertinya Andara belum pulang mungkin ada bimbingan tambahan, hanya ada Nenek Sumi di depan rumah sedang menata kelontong dan sayuran di gerobak.
Melihat ada yang datang. Nenek Sumi segera mengelap tangannya dan menghampiri tamunya.
"Eh, rupanya ada tamu, Andin siapa bapak yang mengantar kamu ini? Kenapa kamu nggak bilang kalau mau kedatangan tamu agung seperti ini." Nenek Sumi menyambut tamunya dengan ramah.
"Nenek, kenalkan ini Pak Johan, orang yang sudah menolong Andin dari orang orang jahat," ujar Andini.
"Oh begitu ... saya Sumi, neneknya Andini, Pak." Nenek Sumi mengulurkan tangannya. "Terima kasih banyak, Pak Johan. Kata cucu saya sudah menolongnya dari orang jahat, mari masuk ke gubuk dulu."
"Ah, iya Nek. Terima kasih." Johan melangkahkan kaki masuk. Diikuti Doni dibelakangnya.
Netranya menelisik rumah sederhana terbuat dari papan kayu itu, lalu duduk di kursi rotan, cat yang menempel di dinding sudah mengelupas disana sini, menandakan usia rumahnya sudah tak muda lagi. Pak Johan duduk tanpa merasa ragu sedikitpun.
"Ndin cepat bikinkan kopi buat tamu kita," perintah nenek.
"Iya Nek," Andini segera meletakkan tas di kamarnya, kemudian berjalan menuju dapur. Menyalakan kompor dan mengambil dua gelas cangkir kemudian mengisinya dengan satu sendok bubuk kopi dan satu sendok setengah gula.
Hanya sepuluh menit di dapur kini Andini keluar dengan membawa dua cangkir kopi. "Pak, mari diminum dulu."
"Iya, masih panas Ndin, masa langsung suruh minum, biarlah Bapak ngobrol dengan nenek dulu .... " kelakar Johan.
Mereka berempat telah duduk di kursi yang berbeda beda. Namun menghadap meja yang sama. Pak Johan mulai meneguk kopinya Doni pun menyusul meniup kopinya yang ada di lepek.
Pak Johan meraih jemari Nenek Sumi dan mengelus elus lembut. Maniknya menatap lekat wajah tua nenek. Pak Johan kasian diusianya yang tua masih saja mengais rupiah.
"Nek bolehkah kami meminta nak Andini menjadi menantu pertama dirumah kami? Aku sudah terlanjur menyukainya." ujar Johan.
"uhuk ... uhuk ...." Doni tersedak oleh kopi yang baru saja di seruputnya.
"Apa? Pak cucuku bukan gadis istimewa, dia lahir dari keluarga miskin, kami sangat miskin, tak pantas jika bapak mengambilnya menjadi menantu. Bagaimana jika putra bapak tidak menyukai? Saya juga tak mau Andiniku menderita." Ujar nenek panjang lebar, nenek sebenarnya senang, tapi ia juga lebih pengalaman tentang pernikahan yang beda kasta. Nenek Sumi takut Andini tidak bahagia.
"Nenek jangan khawatir, putraku sangat tampan dan baik Andinimu akan bahagia di keluarga kami." Johan terus saja meyakinkan nenek Sumi. Hingga diakhir perbincangan nenek Sumi mengijinkan Andini menikahi cucunya.
"Baiklah, nenek setuju, lagian pamali buat kami si pemilik anak gadis, jika sudah ada yang melamar tapi kami menolaknya." Nenek Sumi menghapus air matanya yang menetes dari netra tuanya. Ada bahagia bercampur sedih. Karena setelah menikah Andini pasti tak akan tinggal lagi dengannya, bagaimana nasib jualan gado gado. Siapa yang membantu Andara menjaga Ibu.
Setelah perbincangan penting selesai. Andini segera membuatkan dua piring gado-gado buat pak johan dan Doni. Mereka terlihat begitu menikmati makan siangnya.
"Emm ... Ini enak Lo, nggak kalah sama yang direstaurant. Kalau rasanya seenak ini dan letaknya di kota pasti akan laris ini."
"Betul pak, enak." ujar Doni menimpali.
__ADS_1