Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 83. Sasaran empuk.


__ADS_3

"Anita, kamu jangan kepengaruh omongan, Mama. kamu tau, aku sayang sama istriku, tak ada tempat lagi untuk wanita selain dia. Hubungan kita selamanya sahabat, Nit."


"Iya Ars," Anita menganggukkan kepalanya. "Aku tau kamu selamanya nggak akan pernah punya perasaan lebih ke aku, aku sadar posisi aku dihatimu, Ars"


Anita merasa Arsena tak seasik dulu. Pria itu banyak berubah, ia sekarang sangat menjaga jarak dan lebih banyak diam.


Tiba-tiba Rena memiliki ide untuk membuat mereka berdua keluar berdua mencari udara segar.


"Ars, obat untuk mama habis, tolong belikan ya! Sekalian ajak Nita makan di luar, kalian udah lama nggak jalan-jalan bareng.


"Biar Ars, belikan sendiri aja, Ma."


"Ajaklah Nita, kasian dia jauh-jauh belum makan. Kamu kenal Nita jauh sebelum menikah, jadi Andini harusnya bisa donk menerima kenyataan kalau kamu juga berhak berteman dengan wanita lain.


"Ya, udah. Nit, kamu emangnya mau makan menu apa siang ini?"


"Em, di restaurant yang dulu kamu pernah ajak aku kesana aja, Ars. Masakannya disana cocok sama selera aku."


"Lumayan jauh itu tempatnya, ya udah, kamu tunggu di mobil. biar aku panggil Andini dulu."


"Ars, kan Andini baru sembuh, dia nggak boleh angin angin an dulu, kan?"


"Maksud Mama apa? Arsena harus berdua sama Nita? Benar-benar orang tua aneh, kalau Andini nggak ikut, Nita juga nggak akan ikut, kita nggak ada makan siang."


" Terserah kamu aja deh."Rena mencebikkan bibirnya kesal.


"Tante, kalau bertiga akan lebih asyik kan." Nita mendekati Rena, merangkul bahunya.


"Kamu memang anak gadis yang sangat pengertian, kenapa dulu aku nggak jodohkan Arsena sama kamu aja."


"Tante, semua belum terlambat, bukan." Nita mengedipkan matanya.


Melihat dua orang beda usia itu berbicara berbisik, Arsena semakin malas, ia sudah tau rencana konyol Mamanya. Benar-benar orang tua aneh, menyuruh anak prianya jalan berdua dengan wanita lain yang akan menyakiti hati istrinya.


"Arsena, Mama kan cuma kasih sedikit perhatian buat Andini, dia baru sembuh. Itu kalau kamu bisa menerima yang mama pikirkan"


"Mama memang paling bisa," gerutu Arsena.


Arsena naik ke lantai atas, menapaki anak tangga satu per satu, hingga langkah kakinya mampu di dengar oleh telinga Andini.


Andini segera mengusap air matanya begitu mendengar langkah kaki Arsena. Ini pertama kalinya dia merasa takut kehilangan sosok suami. Mungkin, cinta Andini pada Arsena mulai tumbuh dan bersemi hingga memunculkan bunga bunga cemburu.


"Ndin, ikut keluar yuk, aku pengen ajak kamu makan di luar, siapa tahu lidah kamu nanti bersahabat dengan restauran yang akan kita kunjungi."


"Aku di rumah saja." Suara Andini terdengar serak.


"Kamu kenapa?" Arsena mendekat, menarik janggut Andini yang sejak tadi tak berani menghadapnya, Andini lebih memilih melihat pemandangan kolam yang bisa ia lihat dari balik kaca.


"Menangis? Ada apa? Kamu sakit? Mana yang sakit biar aku periksa?" Arsena membeo, berharap Andini bisa tersenyum.


"Ars, sakit apa sebenarnya aku? kenapa kamu dan Namira seakan sengaja menyembunyikan semua dariku?"

__ADS_1


" Nggak ada yang sakit, semua akan baik baik saja. Andini, bisa nggak sih, nggak usah mikir macam-macam? Bisa nggak sih mikirin yang baik saja."


Arsena memeluk Andini erat, Andini nyaman di dekapan suaminya, merasakan aroma yang sangat ia sukai dari suaminya, Andini merasa semakin lama sikap Arsena semakin hangat.


Dalam dekapan suaminya air mata Andini kembali lolos, dia takut, sangat takut tak bisa memiliki keturunan, dia takut harus berbagi laki-laki yang menjadi cinta pertamanya dengan wanita lain.


"Hei, kok malah nangis?"


"Ars, bagaimana kalau yang di katakan mama itu benar, aku nggak bisa hamil?" Andini mendongakkan kepala menatap iris mata kebiruan milik sang suami.


"Bisa, siapa bilang, cuma belum dipercaya tuhan saja, asal kamu nurut dengan suami, minum vitamin secara rutin dan kita rajin cek kesehatan, kamu akan cepat hamil. Dokter cengeng, Namira akan memeriksa kondisi kesehatan kamu setiap seminggu sekali."


"Untuk sementara, berhenti bekerja dulu. Kamu hanya boleh cek kinerja para dokter disana saja."


"Ars. Tapi."


"Jangan protes Andini, rumah sakit di dekat perusahaan itu, kamu adalah pemiliknya, seminggu yang lalu aku sudah merubah menjadi atas nama Andini, istriku" Arsena mencubit hidung Andini gemas.


"Ars, apa papa setuju? Walaupun kamu pemegang kendali perusahaan, tapi tetap disana ada hak Miko juga, Miko berhak separuh dari kekayaan, karena kalian adalah saudara, kamu tak bisa memutuskan apapun sendirian."


"Iya, papa setuju. Papa bilang itu hadiah pernikahan kita. Untuk bagian Miko, papa sudah siapkan cabang perusahaan di Jakarta.


"Apa! Apa itu Artinya Dara dan Miko akan stay di sana."


"Jika kondisi Miko pulih."


Arsena kini meraih jacket miliknya dan memakaikan di punggung Andini. "Kamu merasa kehilangan?"


"Ars, kamu masih cemburu sama Miko?"


"Ars, aku hanya mencintaimu, aku sudah memilihmu."


" Aku tau, baiklah kita berangkat."


Arsena menggandeng Andini turun melewati lift yang ada di dekat kamarnya. Lift segera terbuka ketika sudah berhasil mengantar mereka sampai di garasi.


Arsena dan Andini menuju mobil, membukakan pintu depan untuk Andini, Namun di kursi depan sudah ada Anita menunggu sejak tadi.


Andini terkejut, lalu menutup kembali pintu depan.


" Ars, aku di belakang saja." Andini mengalah, ia menyembunyikan kecewanya. Dengan tenang Arsena membukakan pintu belakang untuk Andini.


"Andini biar aku saja yang pindah ke belakang, kamu disebelah Arsena." Kata Nita pura-pura turun.


"Tidak apa-apa Nit, didepan atau belakang bagiku sama saja."


"Aku merasa, Nita memang ingin selalu di dekat suamiku, dia bersikap manis pasti hanya pura pura mencari simpati Arsena saja. aku sekarang jadi tau rencananya ke Surabaya."


"Sayang kamu dibelakang ya, nggak masalah kan?"


"Nggak, apa apa." Andini tersenyum. namun dimatanya terlihat ada sorot kecewa.

__ADS_1


Arsena memperlakukan Andini bak permaisuri dan melupakan kalau ada Anita didepannya.Ia memakaikan sealtbelt, membenarkan jaketnya yang sedang di pakai Andini, bahkan Arsena tak bisa menahan diri untuk tak mengecup kening istrinya.


"Nita, maaf ya, Arsena suka tak tau malu." Kata Andini mulai risih dengan sikap Arsena. Arsena mengecup keningnya disaat Nita menoleh ke belakang.


"Aku yang minta maaf, aku jadi pengganggu diantara kalian."


Syukurlah kalau kamu segera menyadari. Aku tak masalah kau berteman dengan suamiku, tapi jika ingin memisahkan kami berdua jangan pernah berharap.


Arsena segera melajukan mobilnya menuju restaurant yang di minta Anita, tanpa menoleh ke arah Nita sekalipun, Arsena berharap semoga saja Andini juga akan suka masakan disana.


Arsena telah sampai di restaurant yang diminta Anita. Beberapa kali Arsena dan Anita sering makan di tempat ini, terkadang mereka menghabiskan waktu ber jam-jam, sambil menikmati pertemuan yang mulai jarang terjadi itu.


Namun khusus hari ini makan siang mereka tak lagi diselingi canda dan tawa. Arsena sangat menjaga hati Andini, ia tak ingin membuat wanitanya terluka.


Sedangkan Anita kehilangan sosok Arsena yang lama dia damba, Arsena yang tak sungkan tertawa lepas dan jahil kini sudah hilang, semua ini karena Andini. Anita membenci Andini mulai hari ini.


Arsena hanya fokus pada Andini bahkan ia tak membiarkan Andini makan sendiri, Arsena terus saja memantau yang dilakukan Andini layaknya ayah pada anak balitanya.


"Em Ars, aku akan ke belakang dulu." Pamit Andini usai makan.


"Jangan lama-lama ya." Arsena melepas pergelangan tangan Andini.


Andini berjalan menuju kamar mandi, dia hendak cuci tangan sekalian buang air kecil.


Nita juga pamit pada Arsena untuk angkat telepon, di saat yang sama ponsel Nita juga berdering tiada henti.


"Ars, angkat telepon dulu." Andini berjalan menjauh.


"Silahkan."


Arsena kini sendiri, sambil menunggu Andini kembali dia memainkan ponselnya.


Dua puluh menit telah berlalu, Arsena mulai mengkhawatirkan Andini. Arsena mencari keberadaan Andini di wastafel ternyata Andini tidak ada disana.


Tiba tiba Arsena mendapati Nita menangis dengan bulir air mata memenuhi pipinya.


"Ars, Andini terpeleset, kepalanya membentur dinding. Dia mengeluarkan banyak darah di pelipisnya


"Andini !!!" tubuh Arsena kaku karena terkejut.


setelah beberapa detik mengatasi keterkejutannya, Arsena segera berlari menuju kamar mandi. Ia tak bisa mendengarkan suara dari orang-orang di sekitarnya lagi, kecuali hanya ingin segera melihat kondisi Andini.


"Andini, bagaimana kau bisa terjatuh?" Arsena kembali melihat Andini membujur kaku, istrinya pingsan.


Ambulan segera datang, Andini dilarikan di sebuah rumah sakit terdekat.


Arsena tak berprasangka buruk pada siapapun, ia hanya menduga Andini terpeleset karena tubuhnya masih lemah.


Namun, kejadian na'as pada Andini yang terus menerus terjadi, membuat Arsena berpikir ulang, apakah Andini sedang dalam incaran orang orang jahat di sekitarnya?


Andini sebelumnya sangat sehat, dia tak menderita sakit apapun, entah kenapa di akhir-akhir ini setelah Arsena mulai mencintainya, masalah demi masalah yang membahayakan jiwa Andini mulai datang silih berganti.

__ADS_1


*happy reading.


.


__ADS_2