Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 24. Jika itu terbaik.


__ADS_3

"Hai girl ... "


Miko tiba tiba sudah berdiri di belakang Andini.


"Miko? Kenapa kamu kesini?"


"Alasannya, Karena kamu juga kesini ." Jawab Miko


"Pergilah Miko tolong, jangan ganggu aku lagi."


"Why Andini? Apa kamu tak ingin berteman denganku."


"Pergilah Miko."


"Why Andini? Kenapa kau membuang air mata untuk pria yang tak mencintaimu." Tanya Miko.


"Miko, kedatanganmu hanya menambah masalah di hidupku, lebih baik kau pergi dan jangan temui aku lagi."


"Andini apa aku telah melakukan kesalahan? dimana salahku? katakan??" Tanya Miko.


Miko semakin tak mengerti perubahan Andini. Dua malam yang lalu mereka masih baik saja bahkan ke pesta bersama


"Kau telah lancang mengganti pakaianku waktu itu?"ucap Andini dengan suara tercekat. Andini sedih dan muak melihat dirinya dan pria itu, kedatangannya hanya mengingatkan malam buruk itu.


"Tidak Andini aku sama sekali tak menyentuhmu? Jadi itu alasannya kamu pergi tanpa pamit?"


Andini lega mendengar pengakuan Miko, ternyata pria itu tak sebrengsek yang ia kira. Andini menoleh ke arah Miko, memastikan kalau ucapannya tidak bohongan belaka.


"Lalu siapa Miko? Siapa yang ada disana selain kamu?" Cecar Andini mengharapkan kebenaran.


"Bukan aku, tapi Asisten Mama." Kata Miko lagi.


"Syukurlah." Andini lega. Yang ditakutkan ternyata tak terjadi.


"Jadi itu alasan kau menghindariku?" Miko mendekat


"Iya. Aku akan malu banget jika itu terjadi, Mik. kukira ... " Andini kini bisa tersenyum. Pandangannya tetap sama mengamati ombak yang datang dan pergi silih berganti.


Miko juga sama mengamati deburan ombak dan mengamati anak kecil yang mulai datang berkejaran mencari anak kura-kura.


-


-


Setelah beberapa menit saling diam, mereka akhirnya membuka percakapan baru.


"Andini, yang kamu rasakan saat ini, aku juga merasakannya dua tahun yang lalu." ujar Miko mulai menceritakan isi hatinya pada Andini. Pria itu mengambil segenggam pasir putih lalu memainkan di tangannya.


Miko mengambil duduk di sebelah Andini. Ombak semakin menjauh, seakan membiarkan mereka berdua saja yang tinggal untuk saling berbagi cerita.


"Jadi ... !" Andini belum mengerti maksud Miko.


"Iya ... Aku mencintai Lili, dan kita waktu itu menjalin sebuah kasih."


"Arsena tau?" Tanya Andini sambil menoleh ke arah Miko


"Tidak, karena waktu itu aku masih kuliah, dan kita satu fakultas." Miko menarik nafasnya dalam. Seakan rasa sesak mulai menguasai hatinya.


Setelah dia tau kalau aku bukan pewaris perusahaan ini, dia menghindariku, mulai sulit aku hubungi, diajak ketemu selalu ada aja alasan. Dan tak lama dia memutuskan hubungan secara sepihak..


"Lalu?" Andini ingin tahu lebih banyak lagi tentang hubungan masalalu Miko dengan kekasih suaminya itu. Sungguh hebat menurut Andini. Ternyata Lili telah menaklukkan dua pria yang masih satu hubungan darah itu.


"Apakah kamu masih mencintai dia?"


"Seperti yang kamu lihat, aku berusaha melupakannya, dan aku berhasil, sekarang aku mulai menyukai seseorang ..."


" Semoga kamu kali ini beruntung, Miko ternyata kita sama, kita mencintai seorang yang tak pernah menganggap kita ada he ... he ... he ...." Andini tersenyum getir.


"Kenapa malah tertawa? Miko yang tak mengerti maksud dari tertawanya Andini pun ikut tersenyum.


Andini menunjukkan jari kelingkingnya dan Miko menautkan.


"Kita senasip."


Mereka berdua akhirnya tertawa lepas. Merasa senasip sepenanggungan.


-


"Sarapan yuk!" Miko menarik lengan Andini.


"Masih malas."

__ADS_1


"Ayolah entar sakit, bukanya kemaren maqnya baru kambuh? Mau lengannya ditusuk jarum infus lagi?"


"Baiklah." Andini menuruti Miko berdiri dari duduknya.


Setelah mereka berjalan beriringan Miko mengalungkan lengannya di pundak Andini.


"Jangan gini donk Mik," Andini menjatuhkan lengan Miko.


"Gue nggak suka, gue ini ipar kamu bukan pacar kamu."


"Iya kakak ipar." Miko menurunkan lengannya kini menggandeng jemari Andini. Hingga tangan mereka berayun seirama.


Tangan mereka terlepas ketika sudah kembali masuk area perusahaan. Miko dan Andini kini menuju ke kantin yang ada di lokasi kantor.


"Mau makan apa?"


"Teh manis saja."


"Itu bukan makanan. Why Andini? Cemburu itu juga butuh tenaga ekstra." kata Miko meledek.


"Buk, nasi dua sama sate ayam 50 tusuk." Kata Miko pada pemilik depot.


Andini yang mendengar seketika langsung menoleh ke arah Miko. " Serius, Mik."


Miko hanya mengangguk, selesai memesan ia langsung mengambil kursi dan duduk di depan Andini Mereka duduk berdekatan hanya dipisahkan oleh meja yang akan menjadi tempat makan berdua.


"Jangan kaget Nona, Tuan Miko emang paling doyan sama sate. jangankan lima puluh, 100 aja bisa muat di perutnya." Tutur ibu pemilik kantin.


"What itu perut apa gentong Miko!" Andini terlonjak kaget.


Pria pemilik hidung bangir itu hanya tersenyum, membenarkan ucapan bibi pemilik kantin.


Andini dan Miko sarapan bersama, Miko memakan banyak sekali sate pesanannya. Semua itu terlihat karena banyaknya tusuk kosong yang bertumpuk di piringnya.


"Andini kamu tau, setiap kali aku sedih, kecewa, aku harus makan yang banyak. Karena aku butuh banyak energi untuk bertahan dari semuanya."


Miko melirik ke piring Andini yang masih penuh, Andini terlihat enggan makan. Mungkin baru beberapa bulir nasi yang masuk ke mulutnya.


Miko mengulurkan satu suapan dengan tiba-tiba. Andini sedikit kaget, memilih memandangi tangan Miko yang sudah terulur ke arah mulutnya.


"Ayo buka mulutmu!"


"Aku bisa makan sendiri." Tolak Andini.


"Enggak, aku bisa makan sendiri." Andini kekeuh tak mau tapi Miko tak kalah kekeuhnya. Membuat Andini akhirnya menerima suapan dari jemari Miko.


"Lagi ya? Biar kenyang, setelah menikah kamu makin kurusan, aku tau suami kamu tak pernah memberimu makan, apalagi hatinya untukmu."


Deg, kata kata Miko memang benar adanya. Andini berhenti mengunyah makanannya sesaat.


"Miko, apa yang kamu katakan?" Tanya Andini.


"Semua yang kukatakan benar kan?" Jawab Miko dengan cepat.


Enggak, aku masih sama Miko, lihat lenganku masih berdaging gini." Andini menunjukkan lengannya yang sedikit menyusut, sekaligus menghibur dirinya.


"Ayolah lagi, satu suap aja, biar kenyang?"


"Udah sini aku makan sendiri aja." Andini menarik piring dari dekat Miko. Dan mulai menyendok makanan ke mulutnya sendiri.


Tak menyadari, ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang sedang mengawasinya.


"Asyik ya, sedang suap-suapan." Celetuk seseorang dari arah belakang.


Andini dan Miko serempak menoleh kearah asal suara.


Dan beberapa karyawati yang sedang makan pun ikut menoleh kearah wanita itu.


"Miko kamu udah cocok sama dia. Kenapa nggak kamu nikahin aja si pembantu?" Kata Lili melangkah mendekati Miko dengan langkah arogannya. Kebiasaan mengejek dan merendahkan orang tak pernah hilang dari dirinya.


"Selera kamu udah turun ya setelah putus dari aku, sekarang deketin wanita rendahan macam dia ha ... ha ... ha ... !" ujar Lili sambil melipat tangannya dan tertawa sumbang.


"Wah hebat ya dia, pembantu bisa mendapatkan anak bos disini. Pake jurus apa'an." Beberapa karyawan membicarakan Andini bahkan ada diantara mereka yang sengaja berbicara kencang.


"Masa sih Pak Miko seleranya pembantu." Temannya karyawan tadi ikut kepo.


"Husss ... Kenapa sih kita peduliin urusan orang, makan ya makan aja." Salah seorang menjadi penengahnya.


"Emang kamu nggak bisa cari yang levelnya diatas dikit apa? Office girl, atau sekelas karyawati disini banyak sepertinya, tu lihat mereka cantik dan menarik lho? Kalau sama dia, sungguh memalukan."


"Kau yang memalukan, kau telah menggoda suami orang ... " Jawab Andini dengan tatapan Nyalang.

__ADS_1


Andini tak pernah takut dengan Liliana, walaupun ia terlihat cantik memukau semua itu hanya dempulan bedak mahal, sedangkan Liliana tak menyukai Andini karena sering kali Arsena memberi pembelaan ketika di depannya.


"Apa??"


Andini keceplosan, segera ia membungkam mulutnya sendiri.


"Apa? Kau sudah gila ya?" Liliana kini malah menganggap Andini sedang bercanda.


"Arsena itu pacar aku, dia hanya milikku, dan asal kau tau setelah kami menikah nanti aku akan memecat kamu. Pembantu tak tau diri. Penggoda."


Liliana mendorong tubuh Andini hingga tubuhnya terdorong beberapa langkah kebelakang, hampir saja terjengkang.


Dengan gerakan secepat kilat Miko segera meraih bobot tubuh Andini dan menarik ke dalam dekapannya. "Andini! Kamu nggak apa-apa?"


"Nggak Miko, aku baik saja."


Andini dan Miko saling pandang sesaat, setelah keduanya sadar Andini segera melepas pegangannya pada tubuh Miko.


"Maaf ..." Miko meminta maaf dari kesilapannya memeluk tubuh Andini.


Liliana yang melihat adegan itu kini ia tersenyum sinis. Rupanya Miko mantannya sudah mulai melupakan dirinya dan mulai memperlakukan wanita lain dengan lembut. Menurut penilaian Lili tatapan Miko pada Andini itu bukan sekedar teman


"Miko aku harus pulang, banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan." Pamit Andini.


"Hati-hati, Ndin." Miko membiarkan Andini pulang.


Andini Lalu berlari meninggalkan basement dan segera pulang dengan menghentikan angkot yang baru lewat.


Miko mendekati Liliana dengan sorot mata tajam "Lili sedikit saja kau sakiti Andini, kau akan tau apa akibatnya pada dirimu." Kata Miko sambil mencengkeram dagunya membuat lili menahan sakit.


Lili menepis tangan Miko dengan kasar hingga tangan itu lepas.


"Cih, wanita murahan ternyata telah berhasil meracuni otakmu hingga kau tergila- gila. Padanya."


"Siapa yang murahan, dia gadis murni Lili ....!!!" Suara Miko meninggi dua oktaf.


"Jika ada wanita murahan disini itu hanyalah kamu, rupanya kau telah lupa dengan malam-malam yang telah kita lewati dulu. Betapa bahagianya kau waktu itu" Kata Miko membisikkan ditelinga Lili, berharap gadis itu akan sadar.


"Cukuuuup ....!!"


********


Sore hari.


Sebelum suaminya pulang Andini sudah menyiapkan keperluan Arsena, Ia menyiapkan segelas susu dan sereal untuk suaminya tak lupa menu makan siang kesukaannya juga sudah tersaji. Ada cumi bumbu asam pedas manis, tempe goreng dan sayur asam. Andini memasaknya sendiri dengan bimbingan bibi, ia berharap bisa memasak makanan kesukaan suaminya.


Setelah semuanya selesai Andini segera mandi dan duduk di serambi sambil membaca novel online yang ada di gawainya.


Tak lama Arsena pulang dari kantor, mobil mewah sudah terparkir di basement, Andini bisa tau karena ia mengamati dari lantai atas.


Andini menyambut Arsena layaknya istri teladan. Ia segera meninggalkan gawainya dan mengambil tas dari tangannya.


"Siapkan air hangat untukku, aku mau mandi." Jawab Arsena melemparkan jasnya ke pundak Andini.


"Baik Ars." Andini segera ke dalam membawakan tas ke ruang kerjanya dan menaruh jas pada mesin cuci. Jas yang tetap harum meski telah dipakai seharian.


Saat ingin berbalik dari tempat mencuci Arsena sudah berdiri dibelakangnya. Dia terlihat kesusahan melepas dasinya.


"Biar aku bantu" Andini mendekat ini pertama kalinya mereka saling dekat dan baik-baik saja.


Andini mendekatkan tangannya ke leher Arsena, mencoba membuka ikatan dasi, dan ini sungguh nyata, tangan Andini gemetar, ketika Arsena menatapnya dari dekat.


"Andini, mengapa kamu menerima pernikahan ini?" Tanya Arsena. Ketika dasi di lehernya berhasil lepas. Arsena menangkap lengan Andini yang dijemarinya masih menggenggam dasi.


"Seperti yang kau tau aku butuh uang, Ars. Tetapi setelah pernikahan ini terjadi aku jadi percaya mungkin ini sudah jalan untukku yang diberikan oleh Tuhan" Jawab Andini. Sambil menjauh dari pria yang mampu membuat getaran kecil di dadanya sejak tadi.


Andini mengeluarkan baju yang habis di cuci dan memasukkan jas milik Arsena.


"Andini ingin menutup pintu mesin cuci, tiba-tiba Arsena menahannya, tunggu, Hem ini juga?"


Andini menoleh kebelakang. Menangkap Hem putih yang di lempar kearahnya oleh Arsena.


Andini kembali melihat tubuh kotak itu, sesaat ia terpana dengan keelokannya, namun perasaan itu segera ia tepis dengan nalurinya, sebelum sang pemilik menyadari ada makhluk yang sedang memperhatikan dalam diamnya.


"Andini aku tak bisa mencintaimu, sampai kapanpun, aku hanya akan mencintai liliku, kamu tau aku sangat mencintainya."


"Jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini."


"Tapi Ars ... "


"Andini, jangan memaksakan sesuatu yang tak seharusnya... Jika tujuanmu dan tujuanku sudah tercapai maka kita akan berpisah."

__ADS_1


"Baiklah Ars jika itu keputusanmu, aku akan menerimanya.


Jika kau tak ingin aku mencampuri kehidupanmu, maka izinkan aku memilih jalan hidupku, termasuk menerima pria yang bisa menerimaku apa adanya."


__ADS_2