Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 52. Kejutan


__ADS_3

"Arsena kamu mengajakku kemana?"


Arsena terus saja menarik lengan Andini. Tangan Andini tak pernah ia lepas sepanjang koridor. Sepertinya tuan Arsena sudah benar-benar berpaling dari Lili. Cintanya saat ini sudah berpindah haluan.


"Ars, lepaskan aku bisa jalan sendiri. Lagian kita mau kemana." Andini masih bandel, ia tak mau menjadi wanita penurut saja. Diam dan ikutin Arsena.


"Nanti kamu akan tau," titah Arsena tanpa memedulikan Andini yang kesal.


Arsena kini membukakan pintu belakang untuk Andini. Mempersilahkan sang putri masuk layaknya Cinderella. Dan disusul olehnya di sebelah.


Arsena melihat Andini duduk tenang, ia tersenyum ke arah Andini sebelum memberi kode pada Doni supaya menyalakan mesin mobilnya.


Penampilan Arsena hari ini tak biasa, ia lebih rapi dan keren. Yang paling berbeda adalah dandanan rambutnya, soal rambut ia tak pernah se perveck hari ini. Pria itu memakai minyak rambut hingga rambutnya terlihat lepek dan mengkilat.


Andini sambil curi-curi pandang melirik ke arah suaminya. Andini menghargai sekali pengorbanannya hari ini, entah kejutan apa yang akan diberikan. Hingga ia merubah penampilan yang sudah tampan dilihat dari puncak gunung sekalipun, menjadi lebih perveck lagi.


"Ndin ...." Arsena menoleh sesaat. Kembali memberikan senyumnya.


"Hmmm." Andini juga menoleh. Pandangan mereka bertemu. "Kenapa senyum-senyum," ucap Andini sok ja'im.


"Enggak, aku cuma senang aja."


"Senang? Kamu hari ini nggak lagi ulang tahun kan?" Tebak Andini.


"Enggak, aku lagi senang karena ditemani sama pacar aku." Arsena mengerlingkan matanya.


" Pacar? Dasar alay." Andini tersenyum, pipinya merona, Arsena memang tak ahli dalam merayu wanita. Tapi beberapa hari ini ia sudah banyak belajar dari Galang. Galang juga yang membuat Arsena menjadi agresif pada Andini.


Doni hanya menjadi pendengar setia saja. Sesekali ia menatap ke kaca spion, tanpa ada yang menyadari. Doni tau kalau tuannya sudah terjerat oleh cinta istrinya. Istri yang dulu di benci setengah mati.


Kasian Doni, usia mendekati empat puluh tiga belum juga berumah tangga. Trauma cinta pertamanya membuat ia memilih menjadi bujang lapuk.


"Andini, kita sudah sampai," Kata Arsena ketika Doni menghentikan mobilnya di tepi pantai.


"Katanya mau sarapan, kok malah berhenti di sini?" Protes Andini. Sejauh mata memandang ia hanya melihat hamparan pantai yang luas. Dikejauhan ada kursi kecil dan seseorang sedang berdiri di sebelahnya.


"Turun saja sekarang, aku ingin menunjukkan sesuatu." Arsena segera turun, disusul oleh Andini membuka pintu.


Andini turun sendiri, Arsena segera berlari memutar menyongsong Andini yang sudah berdiri di samping mobil.


"Kejutan apa'an sih? masih pagi juga udah main kasih kejutan, ulang tahunku juga masih lama, Ars." Andini penasaran. Namun ia tetap bersikap sama, masih sok ja'im.


"Andin ... Tutup mata dulu." Arsena mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. Arsena menggunakan saputangan itu untuk menutup mata Andini dengan mengikatkan di belakang kepala.


"Ars, ini apa-apa'an sih?" Andini yang awalnya keberatan namun akhirnya menurut, ia tak ada pilihan lain selain mengikuti rencana Arsena.


Doni tak ikut turun, ia kembali memutar mobilnya dan pergi. Pasti ia sudah menerima kode dari Arsena agar sedikit menjauh, atau memang sebelumnya sudah ada pemberitahuan.


Andini dan Arsena berjalan mendekati pantai, suasana mendung membuat pantai terasa tetap sejuk, walau waktu terus saja bergulir menuju pukul sembilan.


Arsena membuka ikatannya di kepala Andini, ketika telah sampai pada tempat yang ditentukan Arsena.


Andini terpana dengan tulisan diatas pasir. Yang bertuliskan bahasa Inggris dengan artinya (Selamat datang gadis manis)

__ADS_1


"Ars ..." Andini tersenyum ingin bicara namun lidahnya kelu. " Mm ...."


"Sudah jangan berpikir macam- macam. Hari ini aku akan menjadi lelaki pertama yang selalu di dekatmu. Maafkan aku. Atas semuanya." Arsena memeluk Andini dari belakang.


Seorang koki turun dari mobil yang baru saja datang, menyuguhkan aneka makanan di atas meja. Alunan musik dari violinist mulai terdengar di telinga. Begitu merdu dan menghanyutkan.


"Arsena apa yang kamu lakukan?"


"Apa yang kulakukan? Aku hanya melakukan hal kecil saja untukmu."


Arsena memutar tubuh Andini hingga kini menghadapnya.


"Andini aku sudah memutuskan, kamu yang akan menjadi penjaga hati ini selamanya." Arsena menunjuk dadanya. Menatap Andini dengan penuh keseriusan.


"Apakah kamu yakin?" Andini menatap kedua bola mata Arsena. Mencari sebuah kebohongan disana. Tapi sayangnya Arsena berkata dengan jujur dan tulus. Andini tak menemukan tanda- tanda suaminya sedang berbohong.


"Sangat yakin." Arsena menjawab dengan mantap.


Arsena semakin mengeratkan pelukannya.


"Mari kita duduk dulu." Arsena mengeratkan tangannya di pinggang Andini dan duduk


Semalam Arsena sudah berfikir tentang semuanya, ia memutuskan Andinilah yang ia pilih menjadi wanitanya, jujur Arsena ilfil melihat Lili yang dengan mudahnya melalui malam pertamanya dengan Miko.


Tubuh mulusnya sangat menikmati gairah cinta Miko yang menggelora. *******-******* kenikmatan terdengar dari bibir seksinya. Yah Lili terlihat sudah terbiasa dengan tubuh Miko yang kekar, dalam rekaman yang dilihat Arsena kemaren, entah malam pertama atau malam yang kesekian kalinya. Arsena tak mau memikirkan dan kecewa lebih dalam lagi.


Arsena sangat menjaga Lili, berharap malam pernikahan ya akan menjadi malam sangat istimewa dan terindah. Tapi nyatanya, malam yang ia damba telah lama direnggut oleh adiknya sendiri.


Yeah, Arsena selama ini telah bodoh, ia tak mencari tahu dulu siapa pria masalalu Lili. Andaikan ia memiliki pemikiran seperti itu sebelumnya. Mungkin dia tak akan jatuh dalam cinta wanita penuh ambisi hingga bertahun tahun lamanya.


Mata Andini berbinar melihat semuanya. Setangkai bunga kesukaannya. Dan cake cantik yang tertuliskan Nama mereka berdua.


"Ars ... Ini berlebihan." Kata Andini dengan mata berbinar.


Arsena menggeser kursinya hingga keberadaannya sekarang tepat di sebelahnya. Ia menangkupkan kedua tangan di dagu Andini."Mulai sekarang tak ada yang berlebihan jika itu untuk wanita secantik kamu. Istriku."


Arsena mengecup puncak kepala Andini, aroma wangi menyentuh indera penciumannya. Arsena mulai menyukai aroma tubuh wanitanya.


Arsena merogoh sakunya, ia mengeluarkan cincin berlian indah dari sebuah kotak kecil berwarna merah. Yang pernah ia beli tempo hari, dan ditolak oleh Andini.


"Andini, aku mohon kamu jangan menolaknya lagi." Arsena kembali meraih jemari Andini. Jari-jari lentik itu ia kecup penuh cinta.


Andini terbuai oleh perlakuan romantis Arsena hari ini. Ia ingin berlari dan berteriak kepada laut, menunjukkan pada dunia kalau sedang bahagia.


Arsena memakaikan cincin indah itu di jari manis Andini yang kosong. Jantung Andini berdetak kencang. Ini pertama kalinya ia sedang di khitbah seorang pria. Sungguh lucu kisah mereka.


Andini banyak melamun, ada rasa tak percaya, dan juga haru. Ia tak percaya pria yang suka melempar baju kotor kearahnya, memaki, bahkan membiarkan tidur berteman dengan tikus di gudang, kini telah berubah. Benarkah pria itu pria yang sama?


"Kenapa melamun Ndin? Apa kamu keberatan aku menghitbahmu hari ini? Atau kamu belum siap?"


"Ti-tidak. Aku hanya terkejut saja. Aku tak menyangka kamu bisa berubah."


"Berubah?" Arsena kini yang terkejut.

__ADS_1


"Maksudku, aku tak menyangka kamu bisa seromantis ini."


Arsena tersenyum, ia mengerti maksut istrinya, ia dulu memang terlalu membenci Andini. Mengabaikan gelenyar cinta yang telah lama hadir, karena ada Lili, setiap hari hanya amarah yang dilihatnya.


Arsena tidak mau menjadi pria tak setia. Tapi melihat kenyataan kalau ternyata wanita yang sempurna dimatanya tak lebih dari sebuah kertas putih yang sudah penuh dengan coretan tinta tak berguna. Arsena memilih untuk mundur pelan-pelan.


"Sudahlah sekarang kamu diam saja, aku akan menyuapimu dengan kue spesial ini."


Arsena mengambil pisau pemotong di sebelah kue, beserta tusuknya.


Andini hanya melihat aktifitas Arsena saja. Menunggu suapan pertama dari prianya.


"Ayo buka mulutmu." Perintahnya pada Andini.


"Ammm." Andini membuka mulutnya dan mengunyah betapa lumer rasa kue itu di lidahnya. Seumur hidup, mungkin ini yang pertama kali dia merasakan kue selezat ini.


"Gimana? Kamu suka?" Arsena sesekali ikut memakan kue itu ketika di mulut Andini masih penuh.


"Suka sekali. Rasanya enak." Jawab Andini, setelah semua dirasa cukup. Tangannya mengambil tisu lalu mengelap bibir sendiri dan mengulurkan tangannya membersihkan bibir Arsena.


"Manis sekali." Kata Arsena mendapati sentuhan lembut tangan Andini di bibirnya.


Andini tersenyum malu-malu.


Violinist terus saja memainkan irama lagu romantis di belakang mereka. Andini merasa hari ini sangat bahagia.


Selesai menikmati kue berdua, Arsena menyerahkan bunga untuk Andini. Andini menerimanya dan berulang kali mencium kelopak bunga mawar merah yang segar. Pasti bunga itu baru saja dipetik dari tangkainya.


"Andini, berjanjilah, setelah ini kamu akan ikut pulang bersamaku. Jujur semenjak kau pergi dari rumah. Aku tak bisa tidur dengan nyenyak."


"Benarkah Tuan Ars, apakah kau pikir aku mau kembali kerumah itu. Aku akan tidur lagi di gudang bersama tikus." Kata Andini sambil tersenyum.


"Tentu kau tak akan tidur di gudang itu lagi." Kata Arsena menggenggam erat tangan Andini.


"Kau nanti akan tidur di kamar ku dan tentunya bersama diriku."


"Nggak mau, aku mau tidur sendiri saja." Andini tersipu malu.


"Benarkah? Kenapa kau malu mengakuinya Andini. Katakan kau sangat ingin aku temani," ucap Arsena mengerlingkan mata.


"Kamu terlalu percaya diri. Tuan."


 


Andini berlari mendekati ombak disusul dengan Arsena, mereka berdua sangat bahagia menyongsong ombak yang datang menerjang tubuh mereka.


Andini berlari menjauh dari Arsena. Arsena mengejarnya di belakang. Ketika berhasil meraih tubuh Andini, Arsena segera memeluknya, dan terjatuh di atas pasir yang basah.


"Andini, I love you," ujarnya didekat telinga Andini.


Arsena terus menatap bibir Andini yang merah. Ia melihat dada wanitanya naik turun karena degub jantung yang kencang.


*Happy Reading.

__ADS_1


* Jangan lupa dukung dengan kasih Like, komen dan Vote.


__ADS_2