Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 124. Keputusan Arsena.


__ADS_3

"Pagi ...." Sapa Andini pada suaminya yang sedang menggeliat malas. Andini sudah cantik, wanita itu sudah usai mandi sebelum shubuh tadi dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslim. Andini sengaja menempelkan bibir dinginnya supaya Arsena segera bangun.


"Pagi sayang, masih ngantuk banget, emang sudah pagi ya?" Arsena membuka matanya mengerjabkan kelopak matanya berulang kali.


Sungguh pria itu tetap tampan sekalipun baru bangun. Andini senang saat melihat wajah bantal suaminya, terlihat lebih natural dan cute.


" Ars, semalam katanya ingin cerita sesuatu? Benarkah, sudah berhasil menemukan pelaku kejahatan itu?" Tanya Andini yang sudah tak sabar.


Bukannya menjawab pertanyaan Andini, Arsena kini beringsut mengubah posisinya menjadi duduk di atas ranjang.


"Sayang, apakah kamu akan tetap mencintaiku seperti sekarang ini walaupun aku akan jatuh miskin?"


"sedang ngomong apa sih? Aku akan tetap mencintaimu dalam suka dan duka, kita akan selalu bersama membina mahligai kita. Walaupun kita miskin sekalipun."


" Biasanya wanita suka ngomong kayak gitu, Tapi saat benar-benar dalam masa itu, dia akan mengeluh dan pergi."


" Mungkin aku bukan termasuk seperti wanita yang kamu maksud itu. Kita sudah diikat dalam satu tali yang disebut pernikahan. Yang artinya kita akan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga dalam suka maupun duka."


Arsena terharu mendengar penuturan Andini. Hati pria itu menjadi begitu lunak di depan istrinya. " Sayang, Aku beruntung sekali memilikimu. Papa tak pernah salah memilihkan istri untukku."


Arsena meraih lengan Andini dan menariknya kepangkuan. Mengecup tengkuknya berulang kali hingga membuat leher Andini merasa geli. Kedua lengannya melingkar dengan erat membuat Andini susah bergerak.


"Ars, aku nggak bisa nafas." Kata Andini sambil meringis.


Arsena melepaskan pelukannya memberi ruang gerak Andini. " Maaf aku terlalu bahagia.


Arsena meraba perut istrinya. "Yang, baby twins udah mulai terlihat, coba berdiri? Perutmu sekarang agak gemukkan" Netra Arsena menatap ke atas ke bawah. Selama kehamilan wajah Andini justru terlihat berseri seri.


"Benarkah, lingkar badanku bertambah lima senti lho, Ars. Dan ini belum apa-apa, kalau sudah sembilan bulan perutku akan sangat besar dan kamu pasti nggak akan suka lagi lihat penampilanku."


"Bunuh saja aku jika aku melakukannya. Di dalam perut ini anakku, dan aku akan menerima bagaimanapun bentuk istriku nanti, bukannya para lelaki makin bangga bisa membuat perut istrinya besar." Arsena tertawa.


"Udah udah, jadi ngobrol kemana mana, buruan mandi, sarapan dan ke kantor. Aku akan siapkan bajunya dulu."


" Tak perlu, aku nggak akan ke kantor lagi."


"Bagaimana bisa? Tidak ada halangan kok absen melulu?" Andini kekeuh dalam kebodohannya.


"Aku sudah memutuskan untuk mundur dari perusahaan. Kita akan hidup mulai nol, apa kamu keberatan."


"Tidak, Ars, aku bahkan bisa hidup dalam kondisi seperti apapun, kamu lupa dulunya kehidupanku seperti apa?"


"Ya, kita akan hidup seperti orang miskin, tanpa kemewahan dan fasilitas mahal lagi, dan mulai hari ini kita keluar dari rumah ini.


Arsena turun dari ranjang, mulai mengemasi baju bajunya ke dalam koper dan beberapa benda yang menurutnya penting ke dalam tas ransel.


Andini turut membantu, sedangkan anggota keluarga yang lainnya sibuk di bawah dengan aktifitasnya masing-masing.

__ADS_1


Wanita yang mulai memakai baju longgar itu masih bingung, sejak semalam Arsena terlihat banyak melamun, dan sekarang masih pagi buta, meminta dirinya untuk mengemasi baju baju.


"Tuan, Nona? Hendak kemana?" Zara yang tiba tiba datang karena mengantarkan kopi hangat dan susu. memberanikan diri bertanya.


"Oh iya Zara, apa kamu ikut kami? Jika iya, sekarang kemasi baju baju kamu kita akan pergi jauh dari kota ini."


"Pergi tuan!?" Zara sempat terkejut, tapi ini Arsena yang berkata, tak baik banyak bertanya.


Zara pun mengemasi baju dan jilbabnya ke dalam koper kecil miliknya. Walaupun di kepala penuh tanda tanya, dia tak berhak tau semua, yang ia lakukan hanya bagaimana caranya menjadi pendamping ibu hamil muda itu.


Zara yang lupa menutup pintu membuat Mert bisa melihat aktifitasnya di dalam kamar sederhana itu.


"Zara mau berhenti kerja ya? Kenapa semua barang barang milikmu kamu bereskan?"


"Tidak, hari ini Nona dan Tuan Muda akan bepergian, jadi aku akan diajak, mungkin mereka akan liburan dalam waktu yang lama, Tuan Mert."


"Zara, jangan lupa hubungi aku ya, aku akan merindukanmu."


" Tuan Mert!" Zara tiba-tiba menjatuhkan ponselnya. Ia terkejut dengan ucapan Mert barusan, entah bercanda atau serius, namun Zara yang diam diam menyukai Mert membuat hatinya bertalu bagai genderang.


"Aku bercanda jangan, dibawa serius." kata Mert.


" Itu tak lucu tuan!" Kata Zara yang malu ketahuan gugup oleh kelakar Mert.


" Jika kamu belum punya kekasih, aku juga bersedia menjadikan dirimu kekasihku, Zara."


Zara menundukkan kepala, ia ragu dengan ucapan tuan ketiga di keluarga Atmaja.


"Tuan, sepertinya kita sudah bercanda terlalu jauh. Tolong tinggalkan saya tuan, saya akan melanjutkan berkemas," pinta Zara yang dilanda gelisah menggebu. Ia semakin takut kalau pria tampan mirip dengan Tuan Muda tertua nomor dua itu sedang merayu dirinya saja. Karena Tuan Mert terlihat suka bercanda. Ketika sedang berbicara serius dan bercanda sukar sekali dibedakan.


"Oke, aku pergi, tapi tolong pertimbangkan kata-kata ku barusan."


Mert, benar-benar meninggalkan Zara. Asisten rumah tangga itu segera menutup pintu dan mengatur nafasnya yang ia tahan sejak Mert mengucapkan suka padanya. Zara terlalu takut bunyi jantungnya yang bertalu-talu terdengar oleh Mert.


Tidak mungkin Tuan Mert menyukai saya, siapa aku ini? Dan kenapa jantungku berdetak sangat kencang apa ini artinya ...."


"Tidak mungkin, aku mana berani menyukai tuan Mert, aku dan dia bagai permata dan debu." Zara terus saja bernegosiasi dengan hatinya sendiri, walau tak bisa di tampik kalau dirinya juga menyimpan kekaguman pada Mert.


"Zara."


"Tuan, tolong jangan ganggu saya kita ini tak mungkin ...." ujar Zara reflek ketika Arsena mengetuk pintunya.


"Zara kamu kenapa?" Arsena bertanya dengan wajah menyelidik.


"Eh Tuan, maaf aku kira?" Zara terlihat bimbang, antara atau merahasiakan kalau Mert, baru saja datang ke kamarnya.


"Kamu kira aku siapa?"

__ADS_1


"Itu tuan, aku kira .... Aku tadi sedang melamun tuan jadi asal bicara saja." Kata Zara sambil menundukkan kepala dan menggigit bibir bawahnya. Berbohong ternyata juga membuat senam jantung bagi asisten jujur seperti Zara.


Arsena pergi meninggalkan Zara, pria itu sudah tau kalau Zara sedang berbohong. Zara mengunci pintu kamarnya dan membiarkan kunci itu bergelantung di tempatnya.


Zara segera membantu Andini yang sudah menunggu di kamarnya, membawa koper miliknya dan tas Andini. Sedangkan koper besar dibawa oleh Arsena sendiri.


Mereka bertiga sudah sampai dilantai bawah. Kebetulan Anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga untuk melaksanakan rutinitas pagi, yaitu melakukan ritual sarapan bersama.


"Ars, Andini, kalian mau kemana?" Mama Rena nampak terkejut, ia segera berdiri dari tempat duduk dan melangkahkan kaki mendekati putra tercintanya.


"Iya Ars kalian akan kemana? Bukannya sarapan kok malah akan pergi?" Tanya papa yang telah tiba sejak semalam. Sedangkan Anggota yang lain masih dengan kondisi wajah heran.


"Maaf Pa, Arsena belum cerita tentang rencana hari ini. Arsena sebenarnya telah memutuskan akan pergi jauh dari kalian semua."


"Apa yang kamu katakan Ars." Tanya Oma, belum bercerita apa-apa Oma sudah merasa sesak di dadanya firasatnya orang tua memang selalu benar. Arsena pasti tidak bercanda ingin benar-benar pergi.


"Maaf Oma, Papa, Mama, dan semuanya, Arsena hari ini tidak bisa sarapan bersama kalian lagi, karena kami sedang buru buru." Kata Arsena sudah memantapkan tekatnya.


Andini yang tak tau apa apa ikut bingung, tapi sesuai janjinya ia akan ikut kemanapun suaminya pergi.


"Berhenti Ars, lelucon apa ini?" Papa terlihat emosi. Mungkin kerena efek lelah juga sehabis perjalanan jauh pria itu menjadi mudah lelah.


"Maaf Pa, mungkin ini terkesan buru-buru. Tapi Arsena sudah mantap mengundurkan diri menjadi Dirut di perusahaan.


"Arsena kamu jangan macam macam, kamu tidak sedang bercanda, kan?"


Apa ini terlihat bercanda? Arsena menyerahkan dokumen penting berisi surat kuasanya memegang jabatan direktur utama.


"Arsena akan memilih menjadi rakyat jelata yang bisa bahagia bersama istri dan anak anaknya. Tanpa sebuah kekuasaan dan harta. Bekerja untuk mencari sesuap nasi tapi bisa hidup tentram." Arsena menggandeng Andini. Andini seketika menoleh ke arah Arsena. Arsena mengecup kening Andini sekilas.


"Ars, kekonyolan apa ini? Bagaimana kamu bisa membahagiakan anak-anakmu nanti, jika kamu tak membawa harta sepeserpun, semua ini milikmu. Kamu berhak sepenuhnya menikmati." Johan masih belum mengerti, dia masih menganggap ide Arsena ide gila yang menyengsarakan.


"Pa, tolong cegah Arsena, putra kita tak boleh pergi." Pinta Rena.


"Maaf keputusan Arsena sudah bulat. Aku tak akan mempertaruhkan nyawa anak dan istriku dengan tetap tinggal disini."


"Security! Pak Karman! tolong cegah Arsena pergi. Bawa masuk kembali barang barangnya!" Perintah Rena pada penjaga.


"Berhenti! Berani sentuh barangku, ku pastikan gaji kalian bulan ini tidak akan dapat dicairkan."


"Maaf, Tuan, Aden, Nyonya. Sekarang kami jadi bingung harus patuh pada perintah siapa?" Security pun berdiri mematung tanpa berani menyentuh koper Arsena.


"Ars, Oma mohon, setidaknya beri penjelasan pada kami agar kami semua disini mengerti apa yang membuat kamu pergi dari rumah mendadak seperti ini? Apalagi Andini sedang hamil, dia butuh tempat yang nyaman untuk tinggal." Tanya Oma panjang lebar.


Arsena menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. "Oma benar sekali butuh tempat yang nyaman dan aman. Begitu juga anak kami nanti. Tapi sayang tinggal di rumah sendiri tak menjamin itu semua."


"Apa maksud kamu Arsena? Jelaskan masalah apa yang sedang kalian hadapi!" Papa mulai bisa membaca pikiran Arsena. Putranya bersikap hingga demikian, karena ia mulai tak aman di rumahnya sendiri.

__ADS_1


Arsena mulai menjelaskan semuanya secara gamblang, Andini pernah pingsan di sebuah kamar mandi dan harus dirawat di rumah sakit, Andini harus menderita kista karena terlalu banyak mengkonsumsi ramuan beracun yang selalu dibubuhkan dalam makanan dan minuman. Arsena pernah mengira, waktu itu mama yang sangat ia sayangi telah berubah. Namun, hal itu ternyata hanya sebuah impian semu. Mama Rena yang mulai baik masih saja menyimpan kebencian pada Andini, hanya karena Andini telah menghabiskan banyak uang perusahaan untuk biaya kuliah dan berobat ibu Ana. Serta demi sebuah janji pada sahabat yang harus ia tepati.


*happy reading


__ADS_2