
Arsena meninggalkan Andini di kamar hotel sendirian. Untuk mengisi kesendiriannya, dia memilih menghubungi Mama, sekalian menanyakan kabar Excel dan Cello. Anak anak rupanya baik-baik saja. Saat Andini dan Arsen tak dirumah justru yang mengasuh si kembar lebih banyak.
Usai menelpon keluarga yang ada di rumah, Andini kembali dilanda bosan, dia akhirnya memilih membuka ulang rekaman universary yang ada di laptop.
Andini senyum senyum sendiri saat mengingat perlakuan romantis suaminya sepanjang acara, terutama saat Andini baru turun dari mobil. Ternyata kameramen waktu itu tepat mengarahkan kamera besar itu kearahnya. Hingga kedatangannya tersorot penuh dan gambarnya pun begitu jelas. Arsena waktu itu terlihat tampan bagaikan pangeran dari negeri dongeng.
Andini makin larut dalam bayangan universary dua hari lalu, dia merasa di hari itu dia adalah satu satunya Wanita paling bahagia dan teristimewa kan. Dan yang paling mengesankan, Arsena mengenalkan dirinya pada dunia, Arsena sudah mengakui kalau Andini istri sah satu satunya.
Saat Andini sedang asyik dalam kesendiriannya, tiba-tiba Andini mendengar suara pintu diketuk
"Ars, syukurlah kau cepat kembali." Andini bergegas menuju pintu. Dia sangat bahagia, Arsena telah kembali dengan cepat. Andini membuka pintu untuk Arsen.
"Siapa kamu." pria bertubuh tinggi segera ingin membungkam mulutnya, namun Andini sudah lebih dulu menyadari. Andini segera memundurkan tubuhnya, membuat dia tak terjangkau oleh tangan pria bertopeng itu.
Andini segera menutup pintu, dia berharap bisa melawan seorang diri, namun ternyata itu mustahil. Tenaga pria dan wanita memang sangat berbeda jauh.
Pria itu lebih cepat menyadari rencana Andini.
"Siapa kau!?" Andini masih berusaha menghindari pria itu menyentuhnya.
" Kenapa kau menyakiti ku? Apa masalahku denganmu."
"Masalahnya ada padaku, karena aku mencintaimu."
"Cinta? Kau gila aku sudah bersuami."
"Aku sudah tau kau bersuami, tapi asal kau tau, cintaku tak akan pernah hilang sampai kapanpun."
"Apa yang kamu inginkan?" Andini berusaha mundur, merembet pada dinding, Andini sangat takut dengan pria bertubuh besar dengan aroma farfum yang ia kenali. Dalam ketakutannya otak Andini juga melemah. Dia belum ingat siapa orang yang suka memakai farfum mahal itu.
"Yang kuinginkan? Ha ha ... Yang kuinginkan tentu kau, jadilah istriku." ujarnya pongah
"Kau pasti orang yang sama, kau pasti orang yang ingin mencelakai aku di taman tadi," ucap Andini dengan berapi api. keringat dingin membasahi wajahnya.
"Kau benar, tapi aku tak ingin mencelakai mu, sayang! Kautahu cintaku tak mampu mencelakai dirimu. Yang kuinginkan hanyalah kamatian suamimu, tapi sayangnya aku juga tak bisa membunuhnya, karena wanita bodoh itu juga mencintainya."
Andini menepis tangan pria menakutkan di depannya itu.
__ADS_1
"Sayang, kau suka jual mahal, aku sangat suka wanita yang suka jual mahal." Pria itu tersenyum smirk di dalam topengnya. Mari kita bersenang-senang sebentar melepas kerinduan ini, aku akan memberimu putri yang sangat lucu."
"Pergiii" Andini mual mendengar kata kata kotor dari pria bertopeng itu. Kini Andini sudah berada di depan meja rias. Tubuhnya sudah terkunci oleh meja, dan pria itu sudah semakin dekat. Kalau saja Andini tak mendorong tubuh bajingan itu, pasti tubuh mereka sudah menempel ketat.
"Uh, galak banget sih, cayang. Tapi aku suka, makin galak, kau justru makin cantik. Dan menggodaku."
" bajingan sepertimu pantas mati, pergi kau." wajah Andini memerah, urat lehernya terlihat menonjol keluar, saking tingginya nada suara yang ia teriakkan untuk pria itu.
"Andini, ayolah kita bermain sebentar, sebelum suamimu kembali. Suamimu itu kadang sangat bodoh. Dia sedang mencari seseorang diluar sana, padahal tanpa dicari aku sudah datang ha-ha-ha. Tentu aku datang untuk kamu cantik." Pria itu menarik dagu Andini membuat wajahnya mendongak maju ke depan.
"Jangan sentuh aku, pengecut. Aku benci pria pengecut sepertimu, yang seperti banci, beraninya sama wanita."
"Pengecut, berani kau bilang pengecut? Aku akan buktikan padamu kalau aku bukan pengecut seperti yang kau bilang tadi. Pria itu mendesak tubuh Andini, lengan besarnya mengangkat hingga Andini duduk diatas meja rias.
"Apa dia akan tetap menyayangi tubuh putih mulus ini, jika ada pria lain yang ikut menikmatinya?"
"Lepaskan! Pergi!! Jangan gila kamu!! Kau rupanya bosan hidup. Keluarga Atmaja tak akan membiarkanmu hidup, jika kau melukai menantu keluarganya.
"Hahaha itu urusan belakangan, yang jelas aku bisa memilikimu, aku bisa menyentuh tubuh indah yang membuat aku gila sepanjang masa ini, Andini aku sudah mencintaimu sejak awal bertemu. Sayangnya kau tak pernah menoleh padaku sedikitpun. Kau terlalu angkuh untuk bisa merasakan kehadiranku yang mencintaimu."
"Jangan lakukan, pergilah sekarang, Arsena akan membunuhmu."
"Membunuhku mana bisa? Jika penjahat palsu sedang mengecohnya untuk pergi lebih jauh dari sini, sedangkan yang dicari ada disini bersama bidadarinya. rencana yang aku susun untuk menjebaknya ternyata sebuah ide briliant. haha," tawanya pongah.
"Kau bre*gsek!! Andini mendadak menjadi geram tubuhnya mulai ketakutan melihat pria itu sudah siap untuk mengg*gahi tubuh mungilnya. Sedangkan dibalik celana sudah mengembung senjatanya yang besar.
Tubuh Andini mulai bergetar, wanita mana yang tak takut melawan pria sendirian. Meski demikian, ia berusaha tak gentar sedikitpun. jika dia tak bisa melawan dengan tenaga, dia harus bisa melawan dengan akal yang dimiliki.
Pria itu berusaha merobek gaun yang Andini pakai, dengan sigap Andini menahannya.
"Jangan ... Tunggu dulu kau tak perlu memaksaku aku akan dengan senang hati melayani dirimu, bukankah kau bilang tadi suamiku sedang pergi sangat jauh dan itu artinya kita punya banyak waktu untuk persenang senang." Sungguh tak percaya Andini bisa berkata seperti seorang jala*g. Ia membuat wajahnya setenang mungkin seolah tak keberatan sama sekali untuk melayaninya.
Tapi tentu sangat tidak asik jika kita melakukannya tanpa minum sesuatu yang membuat tubuh kita makin bergairah." Andini mendorong tubuh pria itu dengan gaya genit seorang wanita malam. Dia turun dari meja. Rupanya pria itu tak curiga sedikitpun kalau Andini sedang bersandiwara.
"Kau benar, aku tak menyangka rupanya kau binal juga, Sayang." Pria itu mulai gemas dengan Andini. Wanita yang selama ini telah membuat tergila gila hingga tak ada sedikitpun wanita yang menarik di matanya. Sayang sekali dia bertemu sudah dalam keadaan tak sendiri lagi.
Andini berjalan ke arah lemari, mengambil minuman beralkohol yang sudah disediakan oleh pihak Hotel. Namun, Arsena belum menyentuh minuman itu sedikitpun, karena dia, siang hari sudah minum jamu bergizi yang terbuat dari susu, telur, madu, dan jahe.
__ADS_1
Andini, melirik ke arah pria bertopeng yang sudah menunggunya di sofa, dia menatapnya tanpa berkedip, wajar kalau dia takut Andini akan membohonginya.
Andini segera mendekat dengan menggenggam dua gelas berkaki satu itu ditangan kanan dan satu botol minuman ditangan kiri.
"Yes, baby i like it." Rancau pria itu dengan tatapan mata berbinar. Walau tertutup topeng tapi Andini tetap bisa melihat dari bahasa tubuhnya kalau pria itu sudah tak sabar ingin segera memeluk tubuhnya, yang selama ini hanya ada dalam bayangannya saja.
"Sabar Tuan, mari kita bersenang senang," ujar Andini sambil menuang minuman yang hampir memenuhi gelas. Lalu menyerahkan pada pria laknat itu.
Tuhan tolonglah aku, semoga doa akan segera mabuk dan aku bisa melarikan diri dari dia.
Andini meraih ponselnya yang berada disakunya, dia berharap bisa menghubungi siapapun yang bisa menolongnya saat ini dengan panggilan cepat.
"Nona minumlah sekarang juga." Pria itu menyodorkan satu gelas minuman untuk Andini, lalu merebut ponsel dari tangannya, wanita kesayangan Arsena itu berusaha tenang, menerima minuman memabukkan itu, lalu duduk di kursi yang berbeda.
Andini menempelkan bibirnya pada gelas ditangannya, pura pura meminum, saat ada kesempatan dia menumpahkannya tepat di sebuah asbak rokok yang ada di bawah meja.
"Andini ayolah kita lakukan sekarang juga, aku sudah tak sabar ingin menikmati tubuhku yang indah ini. Pria itu berpindah duduk di sebelah Andini, membuat Andini menggeser duduknya. Andaikan bukan bagian dari rencana tentu dia tak sudi bersanding dengan pria gila itu.
"Tunggu tuan, benarkah kau sudah lama mencintaiku?"
" Benar sekali sayang," tangan pria itu mengelus rambutnya, lalu mencium ujungnya. Andini makin muak sekaligus geram, andaikan tidak sedang berakting, mungkin dia sudah menggigit atau menendangnya sekuat tenaga.
"Tuan, jika kau sayang padaku, tentu kau tak jijik minum dari bekas bibirku." Rayu Andini berharap pria yang sudah merasakan pening di kepalanya akan semakin pusing ketika minum lebih banyak lagi.
Pria itu setuju dia meminum dari gelas yang sama dengan Andini. Dua gelas sudah masuk di perutnya. Kepalanya terasa makin berat.
Setelah berhasil menghabiskan dua gelas, Andini menuangkan minuman satu gelas lagi di gelas yang terkena bibirnya tadi. Rupanya pria itu memang berambisi sekali dengan dirinya, bahkan minum dari tempat yang terkena bekas bibir Andini saja dia sudah sangat bahagia.
"Oh Andini, senang sekali hari ini aku bisa bersamamu berdua seperti ini." rancau nya mulai kehilangan kontrol.
"Tuan, jika kau terus menutup wajahmu dengan topeng itu, aku tak bisa melihat wajahmu, bagaimana bisa kita melakukan semuanya, tanpa aku megenali siapa dia," rayu Andini.
"Sabar sayang, aku akan membuka topeng ini setelah aku benar-benar percaya kalau kau tak sedang mengelabuhi diriku. mari kita bersenang senang dulu." Pria itu terus berusaha menyentuh Andini.
'Sial, cerdik juga dia.' gumam Andini.
happy reading.
__ADS_1