
Andini dan Arsena segara menuju helipad pribadinya, karena sejak tadi ponselnya terus saja berdering. Anak-anak sudah merindukan dirinya, tak sabar menahan untuk segera bertemu.
"Iya Daddy masih ada di jalan, Excello yang sabar ya tunggu Mom." ujar Andini memberi pengertian.
"Anak anak persis kamu Sayang, nggak sabaran." Arsena bercanda, dia sesekali menoleh ke arah Andini, padahal nggak sabaran itu jelas sifat aslinya.
Andini mencebikkan bibirnya. "Perasaan kamu deh yang nggak sabaran, Hubby." Wanita itu menempelkan kepalanya di bahu suami yang sedang mengemudi. Lalu Arsena menyambutnya dengan lengan kirinya. Merangkul tubuh mungil sang istri.
"Sayang, gimana kabar anak kita yang masih di perut?"
"Dia sangat baik, selama Daddy yang selalu ngeselin ini selalu ada di samping Mommy" ujar Andini sembari membantu tangan Arsen menyentuh ke perutnya.
"Daddy, akan selalu bersama Mommy, kecuali maut yang memisahkan" Arsena mengecup kening Andini. Andini membalas mengecup pipinya.
"Makasi," Andini menatap sang suami dengan manja.
Hari-hari Andini dan Arsena begitu bahagia. Tak ada lagi yang mengusik ketentraman rumah tangganya.
Berdua seperti hari ini seakan dunia miliknya, menyusuri jalanan sepi dan kanan kiri tumbuhan Pinus yang tinggi menjulang.
Saking asyiknya tanpa tau ada mobil warna hitam yang sejak tadi membuntutinya.Mobil itu terus saja berjalan santai di belakang, mencari kesempatan yang tepat.
Saat jalanan mulai sepi mobil itu segera mendahului dan menghadang jalannya. Arsena sontak langsung mendadak mengerem laju rodanya.
Dorrr! Dorrr!
Tembakan dari arah depan melesat dua kali, sosok pria berjubah hitam dan memakai teropong segera masuk kembali setelah melakukan misinya.
Andini sangat ketakutan dia memeluk Arsena dengan kuat. Arsena melindungi Andini dengan mendekap tubuhnya sambil membungkukkan badan.
"Sayang, merunduk kita dalam bahaya," perintah sang suami langsung di setujui Andini.
"Sayang, aku takut." Kata Andini dengan suaranya sudah bergetar.
"Tenang, aku akan melindungi dirimu."
"Arsena segera mengeluarkan pistol yang ia simpan di dasboard, ia mengejar mobil hitam yang sempat melesatkan peluru tadi. Arsena berulang kali menembakkan peluru di ban mobilnya, tapi mobil itu tetap bisa berjalan dengan baik sebelum kehabisan udara.
Arsena menembakkan beberapa kali dari arah belakang untuk mencari aman, jika dari samping dia khawatir Andini akan menjadi sasaran utamanya. Tetapi posisi di belakang tidak menguntungkan sama sekali. Aksi penembakan Arsena kesulitan mengenai sasaran.
"Ars, aku takut, aku takut Ars." Andini terus saja menyembunyikan kepalanya di pangkuan Arsena.
Melihat lawan tak lagi menyerang, Arsena yakin ini waktu yang tepat untuk menyerang balik, kini Arsena mempercepat laju mobilnya hingga posisi mobil merah miliknya sekarang sejajar dengan mobil musuh.
Arsena segera menembakkan satu peluru sebelum didahului, alhasil tembakan Arsena tepat mengenai bahu lawan, karena kesakitan mobil yang dikendarainya menjadi oleng tak terkendali. Satu orang mencoba menggantikan posisi mengemudi setelah beberapa kali kembali melesatkan tembakan ke arah Arsena. Masih beruntung tembakannya masih melesat karena Arsena tidak menstabilkan laju mobilnya. Selain itu pihak lawan juga terlihat panik karena satu kawannya sudah terluka.
Andini sudah menangis, dia mendekap perutnya yang masih belum terlihat membesar, dia menjadi sangat penakut saat hamil, tak ingin buah hati yang ada di rahimnya mengalami hal yang buruk.
Arsena kembali melakukan penyerangan kepada pengemudi yang baru. Dia menghadang dari depan dan melesatkan satu tembakan tepat ke arah kepala pria bertopeng itu, alhasil tembakannya kembali berhasil, mobil hitam berhenti. Arsena segera turun dan menghajar pria yang sudah berlumur darah di bahunya. Dan satu lagi terlihat mengerang kesakitan karena peluru menembus dadanya.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu?! Cepat katakan!!"
"Tuuu-tu-an …."
Dooor!!
Satu tembakan tepat menembus punggung pria itu.
Rupanya lawan sudah ada di sebuah mobil Fuso besar yang ada di belakang mobil hitam. Dia juga siap menarik tuas ke arah Arsena. Arsena segera berlari ke mobil untuk melindungi Andini. Arsena tau kalau mobil besar yang dipakai lawan itu sudah direncanakan untuk menghabisi dirinya.
Arsena mendapati Andini yang meringkuk sambil mengirim pesan kepada Ken dan polisi, dia mengharapkan pertolongan dari dua penjuru itu.
Arsena mengemudikan mobil dengan cepat, tapi laju mobil Fuso itu tak kalah cepat karena ukuran rodanya yang jauh lebih besar.
Arsena mulai panik, bukan karena dirinya takut mati, tapi dia tak ingin Andini celaka, Anak anak lebih membutuhkan sosok ibu daripada ayah.
Nasib malang tak bisa terelakkan lagi, Mobil besar itu berhasil menghancurkan bagian belakang mobil Arsena. Otomatis penumpang di dalamnya terguncang hebat. Tubuh Andini terlonjak lonjak tak karuan, sedangkan Arsena kehilangan fokus mengemudi.
Arsena geram, dengan cara licik pria memakai topeng di atas mobil besar itu, sepertinya dia adalah musuh lama yang sudah tak memiliki nyali untuk melawan secara terang terangan.
Sampai di tepi jurang yang terjal mobil besar itu mendorong mobil Arsen tiada ampun.
Arsen berusaha menghindar secepat mungkin ketika Fuso itu mundur sesaat hendak mengambil ancang-ancang.
Namun, kejadian naas tak bisa terelakkan lagi, mobil Arsen malah menabrak sebuah pohon. Mobil besar itu terus mendorongnya dari arah belakang.
Andini semakin ketakutan, luka luka di tubuhnya mulai terlihat dia hanya bisa menjerit dan menutup wajahnya.
Mobil besar tak berhenti menghancurkan mobil kecil miliknya, Arsena membuka kunci dan mendorong Andini agar keluar.
"Ars!!"
"Pergi! Cepat!"
"Tidak Ars!"
"Cepat Andini! Aku mohon!"
Arsena lega Andini menuruti icapannya, dia berjalan dengan bertatih meski berulang kali harus terjatuh.
Arsena tahu yang ia lakukan sangat beresiko. Namun, tak ada yang bisa dilakukan lagi, posisinya sangat terjepit, jika pohon yang menahan mobilnya tumbang, maka mobilnya akan jatuh kejurang.
Arsena hendak melompat keluar, namun semua terlambat. Dia memejamkan mata ketika mobilnya melayang di udara dan jatuh, dia tak sempat menyelamatkan dirinya, tapi setidaknya dia bahagia telah menyelamatkan istrinya.
"Aaaaars!"
Tubuh Andini kini tergeletak dengan nestapa melihat kejadian naas itu dengan mata kepalanya sendiri. Tubuh Andini lemah, dia ambruk tanpa ada seseorang yang menolongnya.
Ken dan Vanya baru datang ketika ada suara ledakan dari dasar jurang yang kedalamannya sekitar sepuluh meter.
__ADS_1
"Andini !"
"Andini !!"
Vanya memeluk Ken untuk menahan tubuhnya yang tiba tiba linglung. Vanya mengira Andini ikut terjatuh ke jurang.
Ken mendorong tubuh Vanya hingga pelukannya terlepas. Bagi seorang Ken ini bukan saat untuk berpelukan.
Ken segera meninggalkan Vanya dan berlari mengejar mobil besar yang ingin meninggalkan jejak.
Vanya yang melihat Andini tergeletak dia segera berlari menghampiri tubuh sahabatnya dan memangku kepalanya. Vanya menangis sesenggukan sambil memeluk tubuh Andini.
-----
Ken berlari sekuat tenaga dengan tangan kosong, setelah dekat dia segera menggapai bak samping. Ken dengan keahliannya berlari dan memanjat tak kesulitan melakukan hal hebat itu. Ken langsung merangkak di kepala mobil Fuso.
Setelah berhasil pria itu membaringkan tubuhnya di atas kepala Fuso. Bogemnya menghancurkan kaca samping dengan kuat. Ken segera menjatuhkan tubuhnya masuk ke dalam kemudi. Tanpa ampun Ken langsung menghajar Dev yang sedang merubah penampilannya menjadi seorang sopir bahan bangunan itu.
"Apa yang kau lakukan Devano?"
"Apa yang aku lakukan? Aku hanya membalas dendam atas kematian adikku. Karena pria itu adikku tak pernah bahagia."
"Bug! bug!" Ken terus saja menghajar Dev hingga mobil besar itu kehilangan kendali dan masuk ke dalam pelosok hutan.
"Bukan Tuan Arsen, yang membuat adikmu menderita, tapi kelakuannya sendiri, andaikan saja Lili tak merelakan tubuhnya untuk pria manapun, dia pasti akan selamat dari penyakit mematikan itu."
"Diam kau! Aku tak peduli, aku hanya peduli kalau adikku sekarang sudah mati. Pecundang!" Dev berusaha membalas pukulan Ken, namun Bodyguard tampan itu tak mungkin bisa terkalahkan.
Selain Ken jago beladiri dia juga jago angkat berat, hingga pukulan Dev tak mampu menyakiti kulitnya yang sekeras badak.
"Aku akan membunuhmu Ken, penghianat sepertimu pantas mati!" Dev menodongkan pistolnya tepat di kepala Ken.
Ken menghentikan pukulannya pada Dev. Dev tersenyum smirk karena Ken terlihat gusar. Jika dengan pukulan mungkin dia akan kebal, tapi senjata api itu pasti akan mampu menembus kepalanya.
"Ayo Ken! Pukul aku!!" Makhluk tak tau diuntung. Kau juga pantas mati."
Ken diam seakan pasrah, tanpa Dev ketahui itulah tak tik licik Ken ketika dia terjebak. Sebelum jari yang menahan tuas pistol benar benar terlepas, secepat kilat Ken langsung merebut dengan melumpuhkan tangan Dev dengan satu kali pukulan. Alhasil Ken berhasil memegang pistol dan reflek menembakkan di kepala Dev.
Dorrr!
Ken berhasil mengakhiri hidup Dev, Ken sudah terima jika harus masuk jeruji lagi karena menjadi pembunuh.
Setelah Dev tak berkutik, mobil polisi datang, dia segera membawa Ken dan memborgolnya untuk dimintai keterangan di kantor. Sedangkan Vanya memangku tubuh Andini yang tak berkutik. Vanya tak berani menatap ke arah mobil Arsena yang sedang hangus terbakar. Vanya berharap Tuan Muda itu berhasil meloloskan diri sebelum mobilnya meledak.
Beberapa tim SAR dan polisi segera menyusuri dasar tebing untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang keberadaan Arsena.
Dalam keadaan panik, Vanya melarikan Andini ke Hospital.
Jenazah Dev dibawa polisi ke rumah sakit untuk diotopsi. Sedangkan Ken dibawa polisi untuk dimintai keterangan.
__ADS_1