Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 97. Akhirnya goooool.


__ADS_3

Warning! 21+


Miko mulai melepas jubah mandinya. Melempar jubah putih bersih itu ke sembarang. Asalkan tak lagi menjadi pengganggu ritual yang akan ia jalani.


Miko sudah siap lahir batin dengan semangat yang membara. Ia kini menggenggam torpedo miliknya yang sudah siap tempur sekarang juga.


Miko membimbing miliknya agar segera memasuki Dara. Miko mencoba dengan bersusah payah, namun usaha yang telah dicoba sepertinya sia-sia.


Dara sudah sangat kesakitan, berulang kali ia mendesis dan merintih, miliknya yang sempit dan sensitif berulang kali terasa tertabrak oleh benda tumpul dan asing.


"Kak sakiiit!" Erang Dara. Air mata meleleh dari sudut mata kanan dan kiri.


"Tahan Dara, kakak akan mencoba lebih lembut lagi," bujuk Miko. Masih berusaha mencoba, agar usahanya sejak sore tadi tak sia-sia.


"Akhh! Kenapa sempit sekali." Batin Miko.


Saat miliknya hanya melesak kesamping kanan dan kiri karena gagal menerobos memasuki milik Dara.


.


Miko tak patah arang. Masih terus berusaha walau berulang kali gagal. Sambil terus memberi sapuan lembut lidahnya pada kedua bukit Dara, dan sesekali memberi cupangan disekitarnya, kulit tubuh Dara yang putih kini memiliki banyak tanda merah hasil lukisan cinta Miko.


Miko masih berharap dengan gerakan yang ia lakukan pada titik sensitif lainnya, membantu meringankan penderitaan Dara. Ia ingin Dara merasakan satu kali sakit dan setelah ini tidak ada lagi rasa itu. Namun harapan Miko masih sebatas harapan. Rupanya usaha Miko menuai gagal.


Tubuh Miko pun mulai lelah. Keringat ditubuhnya berlomba keluar hingga menghasilkan bulir-bulir sebesar biji jagung


"Kak, hentikan aku mohon." Rintih Dara dengan keringat bercucuran, dan air mata terus meleleh keluar tak mau berhenti. Dara mencengkeram punggung Miko dengan kuat hingga meninggalkan bekas goresan kuku di punggungnya.


Miko mengusap air mata Dara dan mengecup keningnya. Melihat Dara yang sudah kesakitan ia terpaksa menghentikan permainannya.


Baiklah, kita akan mencoba lagi nanti. Miko merebahkan tubuhnya di samping Dara, ia sangat gelisah karena permainan harus tertunda.


Miko memaklumi, menerobos milik Dara memang sulit karena gadis itu virgin. Dan hal itu sudah pernah ia dengar dari Galang kalau Virgin memang tak ada duanya.


Miko bangkit ia memakai kembali handuknya dan bagian tubuh atas memakai t-shirt warna putih bersih, ia membiarkan Dara istirahat sebentar, menetralkan nafasnya yang berhembus tak beraturan.


"Istirahatlah aku akan kembali lagi." Miko mengusap kening Dara.


Dara mengangguk. Miko terlihat berjalan ke kamar mandi sebentar lalu keluar lagi menuju Dapur.


Malam begitu larut, perut Miko mulai terasa lapar lagi, olahraga malam ternyata sangat menguras energinya. Miko berinisiatif ingin membuat camilan. pilihannya akhirnya jatuh pada tiga butir kentang besar yang ada di kulkas.


Miko mengupas kentang dan mengiris panjang lalu digoreng hingga matang dan renyah. Saat menunggu kentang matang tadi Miko membuatkan susu untuk Dara.


Setelah selesai membuat camilan Miko segera membawanya ke kamar. Dara tersenyum menyambut Miko datang dengan sepiring buah, kentang goreng dan susu, Miko membawa semuanya sekaligus ditangannya.


"Little, minumlah, aku membuatkan susu kesukaanmu."

__ADS_1


Dara ingin turun ranjang, ia berusaha duduk, walaupun area wanitanya terasa amat nyeri. Miko segera menahan Dara.


Tetaplah disitu, jangan banyak bergerak, Miko menahan pergerakan Dara. Dara menurut, kini dia hanya duduk menyandarkan tubuhnya di sisi ranjang.


"Minumlah, biar tubuhmu kembali berenergi." Miko memberikan susu special buatannya pada Dara.


"Terima kasih." Dara meraih susu yang diberikan Miko, ia menyisakan setengah dari yang ia minum. Miko menaruh di meja dekat ranjang.


Miko kini duduk di depan Dara dengan sepiring kentang goreng plus saos di tangannya.


"Ini buatanku, coba cicipi rasanya."


"Kakak pandai masak." Kata Dara sambil menerima suapan kentang goreng dimulutnya.


"Andini pernah membuatkan untukku. Dan memang membuatnya mudah, jadi aku sekarang bisa membuatnya sendiri. Ini pertama kali aku memasak," jelas Miko panjang lebar.


"Kak Miko, pasti memiliki banyak kenangan indah bersama Kak Andini?"


Miko mengangguk jujur " iya, saat sedih dia suka berteriak di pantai. Dia juga cengeng seperti kamu."


"Apa aku terlihat cengeng? Aku sangat kuat, bahkan aku tak pernah menangis ketika kakak memaki ku."


Miko mengacak rambut Dara dengan gemas. tak terasa mereka berdua berhasil menghabiskan sepiring kentang goreng.


"Ya aku tahu oleh karena itu aku sekarang minta maaf." Miko menaruh kentang goreng karena Dara sudah cukup banyak memakannya.


Kini Miko meraih piring yang satunya. "Kamu juga harus makan banyak buah, biar tubuhmu lebih berisi lagi."


Seketika Dara langsung mengerucutkan bibirnya, dongkol. "Jadi maksud kakak, Dara sekarang kurus? kerempeng? iya?"


"Aku belum bilang begitu." Miko berdalih.


"Iya tapi Dara tau, kalau di otak kakak pasti isinya itu. Dan kakak ingin mengatakan kata itu tadi."


"Hei, nggak ada maksud!" Miko membujuk.


"Dara sudah merajuk." Dia tak mau makan buah dari tangan Miko. Dia memilih menarik selimut yang sejak tadi menutupi dadanya hingga kaki. Dara kembali tidur dengan membenamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut hingga tak ada bagian tubuhnya buang terlihat lagi.


Miko tak memaksa, dia memilih menaruh kembali potongan buah segar. Melihat tubuh Dara bersembunyi di bawah selimut otak nakalnya kembali bekerja.


Miko menyusupkan kepalanya ke bawah selimut membuat Dara terkejut.


"Kakak!!" Dara memukul kepala Miko dari dalam selimut, sebenarnya dia reflek melakukannya. Karena Miko tiba-tiba sudah satu selimut bersamanya.


"Dara tadi aku belum goal." Kata Miko sambil mengecup bibir Dara berulang kali. "Kita coba sampai goal yah?"


"Emang sepak bola? harus mencetak goal segala."

__ADS_1


"Iya, ini seperti sepak bola, kalau belum mencetak goal, maka tak ada kepuasan."


"Kakak bisa saja." Miko dan Dara semakin akrab, di dalam selimut besar itu mereka berbicara lebih dari hati ke hati. Sorot lampu tak mampu menembus isi selimut.


Malam semakin larut, tak terasa denting waktu kembali terdengar. Menandakan sekarang sudah pukul dua belas malam. Miko dan Dara sama sekali belum mengantuk.


Miko mulai merasakan juniornya kembali meronta. Tubuhnya menghangat." Ketika bibirnya mulai merayap dan memainkan kembali bukit kenyal milik Dara. "Dara biar aku coba lagi, siapa tahu kali ini berhasil."


Miko dengan penuh semangat, kini kembali mencoba mengulangi hingga miliknya benar-benar bisa terbenam menjemput kenikmatan surgawi.


Dara terlihat lebih rileks daripada sebelumnya. Dia tak lagi tegang dan kaku seperti tadi. Pelan-pelan Milik Miko mulai masuk walaupun Miko sendiri merasakan miliknya sakit karena terjepit otot otot yang masih kaku dan virgin.


"Aaaaaa, aku merasakan sangat sakit, Kak." Rintih Dara.


Dara mencengkeram seprei kuat-kuat, bulir bening kembali mengalir dari kedua netra nya. Dara tak percaya kalau miliknya yang berharga kini telah hilang di usianya yang masih terbilang dini.


Namun Dara bahagia, Sang perenggut mahkota adalah pria yang dicintai. Dara mulai jatuh cinta pada suaminya setelah seringnya melewati hari bersama. Cinta tumbuh tanpa diduga, Sikap cuek dan dingin Miko justru memiliki Daya tarik tersendiri buat Dara.


Miko mengusap lelehan airmata Dara penuh cinta, sedangkan dia sendiri juga meneteskan air mata haru.


Miko kembali berjuang membenamkan miliknya lebih dalam. Pria itu merasakan ujung tombaknya mengoyak sesuatu yang lembut, dan ini belum pernah ia dapat dari wanitanya sebelumnya.


"Kak, sakit." Rintih Dara. Cengkeramannya semakin kuat pada seprei setelah Miko berhasil membobol gawang pertahanannya.


Miko segera menggenggam tangan Dara, membimbing agar memeluk tubuhnya. Miko seakan tak rela Dara berbagi cerita dengan seprei itu. "Little, kamu bisa mencengkeram punggungku sesukamu, jika itu bisa meredakan sakitnya."


Miko pelan pelan mulai memaju mundurkan miliknya, " Ah, seperti inikah rasa perawan. Andaikan aku tau aku pasti akan memberikan perjakaku untuk istriku." Sesal Miko.


Rasanya tak adil bagi Dara. Istrinya telah memberi mahkota emasnya. Namun, Miko memberinya barang yang sudah bekas.


"Dara maafkan aku." Miko memeluk Dara sangat erat. mencium, bibir,pipi, kening bergantian. sesekali ciuman itu turun ke leher dan Dada.


"Kenapa, Kakak minta maaf?" suara Dara terdengar lembut, erangan indah mulai keluar seiring keluar masuk udara dari lubang hidungnya.


" Sudah lupakan, apakah masih sakit?"


Dara tersenyum malu-malu. dia tidak menjawab pertanyaan Miko. Wanita yang baru kehilangan nama gadisnya itu memilih diam dan memiringkan wajahnya.


"Little kenapa kau Diam." Tanya Miko yang masih penasaran dengan ekspresi wajah istrinya.


"Little katakan kalau kau juga mulai merasakan kenikmatan ini."


Dara mengangguk. Tak bisa dipungkiri rasa sakit yang tadi ia rasakan tiba-tiba hilang, kini Dara mulai merasakan nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Tiga puluh menit sudah terlampaui Miko tak ingin membuat Dara kelelahan di ronde pertamanya. Karena Miko masih merencanakan banyak ronde lagi di malam ini.


*Jangan lupa Vote dan Like nya Kakak😊.

__ADS_1


__ADS_2