Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 48. Akankah ini yang disebut cinta?


__ADS_3

Hari yang menegangkan buat Andini. Bagaimana tidak pasiennya hari ini adalah orang yang hampir saja menodai kesuciannya, harusnya ia bunuh saja lelaki semacam Devan. Tapi justru karena provesinya dia harus menyelamatkan pria yang kini ia benci.


******


Andini pulang dari kantor tiba-tiba didepan RS sudah ada sosok pria tak asing bersandar di mobilnya. Terlihat dia sedang menunggu seseorang. Sesekali melihat arloji yang melingkar apik ditangannya.


Senyumnya mengembang setelah sang putri yang ditunggu sudah kelihatan batang hidungnya.


"Kamu lagi?"


"Kenapa? Kamu nggak suka aku disini?"


Bukan nggak suka, tapi tumben aja. Lagian ini tempat umum. Siapa saja boleh kesini." Kata Andini santai, sambil terus berjalan pelan keluar parkir.


"Teman kamu, mana?"


Arsena menanyakan soal Vanya, celingukan melihat karena biasanya selalu bersamanya.


"Masih di ruangannya, sebentar lagi juga keluar," jawab Andini apa adanya.


"Bagus kalau gitu." Arsena bersemangat


"Bagus kenapa?" Andini heran.


"Aku pengen ngajakin kamu makan siang." Kata Arsena sambil membukakan pintu depan untuk Andini.


"Masuklah, di dekat- dekat sini saja, janji nggak akan jauh- jauh." Ia berkata demikian sebelum Andini menolak.


"Aku sudah makan tadi. Sepertinya mulai sekarang kita nggak perlu deh sering ketemu seperti ini."


"Lagian kamu lakuin ini, karena lagi butuh asisten yang bisa bikin sambal enak, kan? Yang bisa di suruh suruh kapan saja, di bentak-bentak." Kata Andini mengenang masa ketika dirinya tinggal di rumah Arsena.


Ah ... Andini dia sudah mulai luluh oleh perhatian Arsena. Kenapa juga dia bisa bersikap manis. Seharusnya dia lebih baik bersikap arogant saja. Biar Andini tak menjadi lemah seperti ini.


"Andini, aku ingin kita memperbaiki yang belum pernah baik diantara kita. Aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu disampingku. Aku merasakan kehilangan saat kau pergi." Tak percaya kata itu bisa keluar. Tapi yakinlah kalau Arsena. Dia bisa saja mengatakan itu semua hanya menuruti keinginan hatinya yang bisa berubah setiap saat.


Arsena meraih pergelangan Andini. Andini yang tak ingin menyakiti hati orang yang sudah berniat baik pada dirinya. Ia memilih ikut.


Tak lupa saat duduk di dalam mobil. Andini mengirimkan pesan untuk Vanya. Mengatakan kalau ia sudah dijemput oleh Arsena.


"Ciee .... Ada yang makin mesra nie ..."


"Apa'an sih?"


" Oke, aku do'ain kalian makin lengket," kata Vanya lewat pesannya.


Andini tersenyum menatap ponselnya, membuat Arsena juga penasaran.


"Miko ya?" Tanya Sena.


"Bukan." Jawab Andini singkat.


"Dari Miko juga nggak apa-apa."


"Miko pasti masih bekerja, dia value time." Puji Andini.


Nyindir aku pasti, Ada sedikit gelenyar nyeri yang terasa di ulu hati. Saat Andini memuji Miko di depannya. Arsena sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya sekarang ini.


"Sudah sampai." Ketika mobil berhenti di depan sebuah restaurant nusantara yang menyajikan aneka seafood.


"Seafood lagi?"


"Emang kenapa?"

__ADS_1


"Kolesterolnya tinggi."


"Kan Ada dokter Andini yang akan merawatku." Tersenyum genit, mungkin ini senyum pertama kalinya yang sangat menawan untuk Andini.


"Iya Tuan Ars, tapi mencegah akan lebih baik daripada mengobati." Andini juga membalas senyum manis itu.


"Baik, Dok. tapi kalau sekali ini kan nggak apa."


Benar ternyata, Arsena mengajak Andini makan di restaurant dekat RS. Saat memasuki restauran Andini memilih jalan di belakangnya. Untung saat keluar dari lobi tadi Andini sudah ganti baju lebih dulu. Jadi, ia terlihat lebih santai. Namun Arsena? Jangan tanya. Dia tetap menjadi yang paling tampan diantara pengunjung yang lainnya.


Arsena membuka buku menu yang tersedia di meja. Mengamati dari atas hingga bawah lalu menyerahkan pada Andini.


"Kamu saja yang pilih."


Andini menerima buku yang diulurkan Arsena. Ia juga bingung. Seleranya pasti akan berbeda.


Sementara Andini masih memilih menu yang cocok untuk makan siangnya dan suaminya. Seorang waiters menghampiri. Terlihat jelas ia kagum dengan sosok rupawan di depannya. Senyumnya hadir lebih dulu, setelah itu baru membuka suara.


"Tuan menu apa yang kita- kira anda inginkan malam ini?"


"Tanyakan pada istriku, dia yang akan memilihnya."


Deg, jantung Andini kembali dibuat berguncang kencang. Arsena menyebutnya dengan 'istriku'. Ini kata langka bagi Andini.


Ini pertama kalinya dia mengenalkan Andini sebagai istri pada makluk hidup di bumi.


"Mbak, saya mau pesan dua jus tomat dan satu lobster ukuran sedang dan satu ukuran jumbo. Barang kali kamu mau tambahin lagi, Ars. Silahkan"


Arsena mengambil buku yang ada di tangan Andini. Lalu mengamati dari atas sampai bawah.


"Mbak sini !" Arsena meminta waiters untuk mendekat dan membungkukkan tubuhnya.


Waiters menurut seperti yang Arsena minta, walau dengan sedikit malu dan ragu. Arsena mendekatkan bibirnya di telinga wanita berseragam kerja itu dan membisikkan sesuatu. Andini yang melihatnya hanya memilih diam dan melihat ke arah lain.


Setelah menyadari kedatanganya diketahui oleh Andini, pria itu segera menutup wajahnya dengan buku menu dan membenamkan topinya, Andini merasa aneh, kenapa ia kini merasa diikuti olehnya.


Sambil menunggu pesanan datang Arsena memandangi wajah Andini. Berfikir keras kenapa ia lakukan semua ini? Entahlah yang jelas dia masih tak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri, saat ini ia hanya mengikuti apa kata hatinya.


Andini yang fokus dengan pandangan ke pria lain, membuat Arsena juga menoleh ke arah pria itu. "Lihatin apa, diluar lebih menarik ya?"


"E-enggak Ars. Aku ingin ambil sesuatu sepertinya tertinggal di mobil." Kata Andini tergagap.


"Ouh ... ingin diambil." Arsena menyerahkan kunci mobil yang tergeletak di dekatnya. Andini menerima kunci mobil Arsena dan berjalan keluar.


Melihat Andini berdiri dari duduknya, pria itu juga keluar. Ia menunggu Andini di parkiran, sengaja mengambil tempat yang tidak bisa dilihat Arsena dari dalam restaurant.


"Miko, ngapain kamu disini" Andini bertanya dengan serius. Mereka kini berdiri saling berhadapan di samping minibus, sepertinya mobil rombongan peziarah wali yang sedang mampir makan.


"Cari makan lah, Girl. Kamu kira lagi ngapain?" Jawab Miko enteng.


"Kamu pasti bohong Miko, sejak kapan kamu suka seafood." Andini masih tak percaya.


" Miko?" Tanya Andini menunggu jawaban.


"Girl, aku hanya memastikan saja kalau kau tetap baik baik saja, aku hanya ingin tau kalau dia tak menyakitimu." Kata Miko terus terang.


"Makasih Miko, aku akan baik-baik saja. Dia terlihat lebih baik padaku daripada biasanya." Andini berkata sambil tersenyum. Ia ingin menunjukkan pada Miko agar tak selalu mengkhawatirkan dirinya. Miko juga harus bahagia. Dia juga harus fokus pada masa depannya. Andini tak mau menjadi harapan semu buat Miko.


"Andini, aku ikut senang," Miko semakin mendekat, ia ingin memeluk Andini, Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Miko akan merelakan Andini untuk Arsena asalkan dia bahagia.


Andini menolak tapi Miko terlalu cepat mendekap tubuh mungilnya. "Aku akan menjauh, jika kamu bahagia dengannya. Maafkan aku yang selama ini suka berlebihan."


Sang pemilik tatapan elang itu netranya mengembun saat berkata demikian. Pria itu seakan telah kalah dalam menperjuangkan cintanya.

__ADS_1


"Miko, aku berterimakasih, kau selalu ada untukku." Kata Andini. Bagaimanapun Miko telah baik padanya. Pria itu satu satunya yang tulus selalu ada ketika Andini membutuhkan.


Miko melepas pelukannya. Tak sengaja ia melihat leher Andini yang banyak terdapat tanda merah. Walau Andini sudah menutupnya dengan baju kemeja berkerah tinggi, namun ada bagian yang masih bisa dilihat Miko dengan jarak sedekat ini, Miko tau siapa pembuat tanda merah itu. Ia tersenyum tipis walau lidahnya kini terasa semakin kelu.


Andini, mungkin kamu memang bukan jodohku. Seandainya kita berjodoh, kapanpun kau datang padaku, aku akan menerimamu dengan senang hati


Miko melepas pelukannya, sambil menarik nafasnya dalam. Kini Miko menahan kedua lengan Andini."Aku akan pergi karena kau sudah bahagia, Girl."


Berlahan Miko melepas dua tangannya dari pundak Andini. Senyumnya mengembang, tapi Andini yakin pasti hatinya sedang perih. Perih yang disembunyikan dengan sebuah senyum palsu.


"Miko, sekali lagi terima kasih, Malaikat tak bersayap. Kau malaikat yang dikirim Tuhan untukku."


"Kau berlebihan Girl." Miko mentowel hidung runcing wanita di depannya. Lalu mereka berdua tertawa.


"Kalian sedang apa disini." Tanya Arsena yang muncul dari arah belakang."


"Emm Ars, Andini gugup."


Arsena mendekat. Masih seperti biasa memandang Miko dengan tatapan tak suka. Namun kali ini ia bisa menahan emosinya untuk tak meledak lagi.


More relaxed. Arsena mendekat ke arah Andini. Andini sudah siap jika dia akan marah atau memukulnya. Dirinya yang salah, dirinya yang mengejar Miko tadi, memberi kesempatan untuk Miko berbicara berdua saja. "Ndin seharusnya kamu memakai syal atau apa untuk menutup leher ini, malu kan kalau sampai ada yang tau, Nanti mereka berfikir aku suami yang sangat buas." Kata Arsena sambil menyentuh leher Andini mesra, menggosok pelan beberapa merah dileher Andini dengan ibu jarinya.


Andini melotot Arsena berkata demikian. Kata kata yang justru menjadi memalukan baginya. Ia tahu Arsena hanya ingin membuat Miko terbakar. Miko pasti sudah mengira kalau semalam ada pergumulan hebat di antara pasangan suami istri itu.


"Kita masuk, pesanan sudah datang." Arsena merengkuh pinggang Andini dan menariknya masuk ke dalam.


Andini bernafas lega, Arsena kini bersikap normal seperti manusia. Bertindak sewajarnya. really? He is my husband.


Miko mundur beberapa langkah membuka mobilnya yang sejak tadi terparkir di sebelahnya. Ada dua rasa yang kini sedang mengaduk aduk hatinya. Bahagia atau sedih. Harusnya ia bahagia Andini sudah mendapatkan sedikit cinta dari suaminya. Atau ia harus bersedih ia kembali kalah. Lagi lagi Arsena pemenangnya. Yah ... Miko telah kalah dua kosong dari kakaknya.


Andini masuk ke dalam, Arsena terus saja mengeratkan tangannya. Di pinggang Andini. Mengiringinya agar duduk di tempat yang ia pilih semula. Lobster dengan ukuran besar sudah ada di depan Arsena dengan piring yang lainnya terdapat nasi yang sudah dicetak persegi.


"Ars, kenapa kamu berbicara seolah kita telah ... " Kata kata Andini menggantung.


"Kenapa? Kamu nggak suka, lambat laun sepertinya aku juga akan meminta hakku itu darimu."


"Aku hanya tak ingin orang lain berprasangka yang tidak-tidak. Kamu melakukannya kemaren karena terpaksa dan dikuasai amarah, bukan atas dasar cinta"


"Siapa bilang, aku melakukannya tidak dengan cinta."


" Sudahlah, maafkan aku jika salah, sekarang cepat makan ! Nanti keburu dingin."


Arsena menggeser piring berisi lobster sedang ke arah Andini, dia sendiri mulai menikmati daging lobster jumbo. Dengan lihai tangannya memainkan sumpit, mengambil dagingnya dari cangkang.


Dia bicara seperti itu, pasti asal saja. Buktinya dia tak berhenti menyantap daging lobster itu. batin Andini.


"Nie, kalau kamu mau punyaku?" Arsena mengambil daging gemuk lobster dengan sumpitnya. Lalu menyodorkan ke bibir Andini hingga menyentuh bibirnya. Sedangkan mulutnya sendiri masih sibuk mengunyah daging empuk lobster.


"Aku berharap kamu belum jatuh cinta sama Miko, Ndin."


"Kamu harus selalu ingat, suami kamu adalah aku, kita pasangan yang sah, Andini."


*Happy Reading


*Sahabat pembaca tercinta.


*jangan lupa beri


Vote


like


Komen.

__ADS_1


__ADS_2