
Keluarga Arsena dilanda sepi kembali setelah kepulangan Oma, di hari yang sama, Miko dan Dara juga berkemas.
Hingga keesokan hari tepat hari minggu, Miko sudah siap untuk mengajak istri dan anaknya pindah ke mansion.
"Kamu juga mau pulang sekarang, Ra?" Tanya Andini yang melihat Dara sendirian duduk di sofa sambil mendandani Berlian.
Iya Kak, Dara ingin tinggal di Mansion milik Kak Miko yang sudah lama kosong. Walaupun kata Kak Miko ada asisten yang membersihkan setiap hari, tapi Dara sudah nggak sabar ingin tinggal disana bersama keluarga kecil kami. Dara nggak sabar pengen tahu mansion milik kak Miko, kira kira bagusan mana ya sama punya Kak Arsena. Sepertinya kak Miko sengaja merahasiakan mansion itu pada semua orang, pasti baru Dara yang dikasih tau." ujarnya penuh percaya diri.
Andini mendengarkan Dara berbicara, sebenarnya dia sedikit kaget, kok bisa selama ini Dara tak tahu Miko punya sebuah Mansion. Apakah Miko tak terbuka dengan Dara selama ini?
'Kenapa Miko selama ini tak memberitahukan pada Dara. Bukankah dia sudah lama menikah. Keterlaluan sekali Miko.'
Diam diam Andini kembali ingat gimana Miko menyelamatkan dirinya dari Devan dan menyembunyikan dari Arsena yang waktu itu kerap menyakitinya. Bayangan saat mereka berenang di kolam renang dan Arsena memergokinya, waktu itu. Miko dan Arsena bertengkar hebat dan mereka berdua terluka, Andini tak percaya kalau hubungannya dengan Arsena sekarang bisa sampai di titik ini.
Arsena yang dulu kasar dan keras kepala, dua tahun berada disisinya, dia berubah menjadi sosok yang begitu menggemaskan. Bahkan terkadang terlihat manja dan imut.
Tak ada pilihan akhirnya Andini memilih untuk tetap merahasiakan pada Dara kalau dia sudah pernah melihat mansion itu dan tinggal disana beberapa hari.
"Oh kalau begitu bagus donk, Miko sangat mencintai kamu dan Berliana, dia sudah siapkan mansion untuk kalian. Kamu pasti bahagia sekali Dara. Kamu beruntung punya suami sebaik Miko." Andini berkata seolah olah tak tau apa-apa seperti orang bodoh. Demi kebahagiaan Dara rasanya takasalh Andini hati ini berbohong.
"Mbak, tunggu mau kemana?" Dara mencegah Andini yang hendak beranjak pergi.
"Sebentar aku ambil sesuatu." Andini terlihat menuju kamarnya, dia mengambilkan sebuah hadiah untuk adiknya yang kini telah menjadi seorang ibu untuk putrinya. Andini juga memberi hadiah untuk Zara dan Meysa serta Furqon sebelum pulang ke Istanbul kemaren.
Ada hadiah dari Kak Arsen, tetap diterima ya, dia beliin semua sendiri lho, dia juga minta maaf pas lahiran nggak bisa datang, katanya ada meeting penting dengan clien.
"Kak Arsena baik banget sih, Dara jadi nggak sabar pengen buka hadiahnya apa. Sampaikan pada Kak Arsen kalau aku suka banget dengan hadiahnya."
Tiba-tiba Miko datang dari arah kamar dia sudah rapi dengan celana jeans dan setelan kaos warna putih tipis yang mencetak roti sobek di dada dan perutnya.
Andini segera menundukkan pandangannya melihat lekuk nan indah milik Miko.
Miko yang duduk di sebelah Andini namun dengan kursi yang berbeda itu berbicara. "Jadi pengen tahu apa hadiahnya. Kok cuma buat mammy sama Berliana aja? Daddy nggak dikasih juga, padahal Daddy juga ikut andil dalam segala hal lho."
Andini menggendong Berliana yang sering juga dipanggil Mida itu dari pangkuan Dara, mencium pipi gembil bayi berusia satu bulan lebih itu. "Kalo buat Daddy beli sendiri ya, soalnya Daddy dah punya uang banyak, nggak perlu hadiah."
"Ye ... Berliana senyum, Berliana aja setuju Daddy nggak usah dikasih hadiah." Andini berbicara sambil menggoda keponakanya. yang sudah bisa senyum dan menatap wajahnya lembut.
Excel dan Cello sedang keluar sama Papa Johan dan Mama Rena, kalau ketahuan sedang gendong keponakan sudah pasti tak akan ada acara gendong Adek bayi, sudah pasti dia akan meraung tak mengijinkan dan adik bayinya suruh turun.
Dara sibuk membuka hadiah dari Arsena yang sudah terbungkus rapi sejak datang itu, Andini juga ikut penasaran apa hadiah yang dibelikan oleh prianya, tumben banget dia mau beli hadiah, biasanya apa apa juga minta tolong, kalau tidak begitu, andalannya pasti Davit yang disuruh suruh seenaknya.
"Kak, kira kira apa ya?"
"Nggak tau, paling juga baju bayi sama baju kamu. percayalah hadiahnya pasti akan jelek banget." kata Andini ikut penasaran.
"Kak Arsena kan sudah baik mau kasih hadiah, daripada yang disebelah kakak itu, nggak peka." Dara menyindir Miko.
"Mau hadiah apa sih sayang?" Miko mentowel pipi Dara yang terlihat lebih tembem daripada sebelum melahirkan.
"Terserah Kak Miko aja."
"Ya sudah hadiahnya akan banyak banget tunggu kalau sudah di rumah kita sendiri nanti ya." Miko mengecup pipi Dara gemas, Dara terlihat senang sekali.
__ADS_1
"Keburu lupa." Ledek Andini. Miko melirik Andini sekilas lalu kembali fokus pada hadiah dari Arsena.
Hadiah dari Arsena yang membuat penasaran Miko dan Andini ternyata sebuah sepatu bayi yang sangat lucu, ada gaun yang cantik sekali."
"Woww Mbak bilang kak Arsen nggak bisa pilih hadiah? ini apa mbak ini bagus banget?"
"Iya, kok bisa pilih dia tumben banget." Andini menyentuh gaun berbahan sutra itu dengan hati-hati.
"Berlian, lihat hadiah dari Uncle, bagus sekali kan?" Dara membeo, sudah pasti Berliana tak bisa memberi penilaian apa-apa.
"Sudah, nggak usah berlebihan napa?" Miko mengambil baju dari tangan Dara dan melipatnya kembali.
"Kalau buat Dara apa ya?" Dara mulai penasaran dengan hadiahnya. dia membuka dengan sangat hati-hati.
Mata Dara terbelalak, terkejut kakak iparnya begitu perhatian, dia membelikan susu untuk ibu menyusui, dan juga banyak long daster berkancing depan. Padahal untuk hal seperti ini Miko sendiri tidak kepikiran.
"Ya aku kalah dari segi perhatian pada wanita, dengan Kak Arsen, ok ok aku mengaku kalah istriku, Kakak ipar kamu yang selalu kau bangga banggakan itu memang lebih segalanya dariku."
*****
"Lagi ngapain nih? kalian semua kelihatannya happy, kok nggak ajak-ajak sih." Arsena tiba-tiba datang dari arah depan masih berseragam kantor, dengan tas kerja warna hitam melingkar di tangannya. Hari Minggu pun akhir-akhir ini dia suka sekali lembur.
Andini segera menghampiri suaminya dan mencium tangannya. "Baru pulang, Bee kerjaan di kantor lagi banyak banget ya."
"Iya Sayang. Maaf ya, minggu masih ditinggal kerja aja, pasti kangen banget ya?"
Arsena membuka jas dua kancing warna hitam yang melekat ditubuhnya, kini tinggal menyisakan Hem dan celana panjang. Tak lupa dia juga mengecup bibir Andini yang selalu terlihat merah walaupun tanpa memakai lipstik sekalipun. Lalu senyum-senyum tanpa dosa dan duduk di sebelah Miko.
"Hei, kenapa Lo." Arsena menepuk paha Miko.
"Nggak, gue cuma mau pamit aja,"
"Okey! Rumah ini akan jadi sepi, dan tentunya akan sangat menguntungkan buat Aku. Kamu pergi, Amert dan Zara pulang, tak lama lagi Davit dan Arini juga akan pergi. good , Verry good."
Arsena kembali menyembunyikan kesedihannya. " Bagus, kalian akan pergi semua, tentu aku paling diuntungkan disini, aku akan kembali berbulan madu dengan Andini. Tau nggak kalian semua disini membuat aku tak bisa lagi menikmati rasanya bulan madu yang sangat indah, berisik." Arsena berkata dengan suaranya yang mulai serak.
"Bohong banget, Kakak pasti sedih kita nggak ada lagi disini, aku tau itu." Miko menebak. Mereka yang tak pernah akur akhirnya hari ini terlihat gunung es yang menjadi penghalang hubungan mereka lambat laun mulai mencair.
"Hidup gue sial punya Adek sableng seperti kamu." Arsena memeluk Miko.
" Sama, Gue juga ngerasa kalau hidup ini nggak adil, kok bisa gue punya kakak yang selalu melebihi kemampuan gue," ujar Miko memuji.
Tak lama asisten rumah tangga yang tak lain adik tirinya sendiri segera mengantarkan minuman untuk Arsena dan Miko. Ratna memang sering sekali cari muka di depan Arsena. Saat dia ada di rumah Ratna terlihat perhatian sekali dengan Excello.
Andini masuk ke ruang cuci menaruh pakaian kotor Arsena, lalu kembali menemui Berliana.
Andini memakaikan cincin dan gelang sebagai hadiah untuk keponakan pertamanya, untuk sementara waktu baru cindera mata itu yang Andini kasih. Andini berjanji dengan hatinya sendiri, saat main ke mansion Miko dia akan membelikan banyak hadiah untuk Berlian.
"Sayang, duduklah, aku suamimu kenapa kau takut denganku?" Tanya Arsena yang tahu Andini menghindarinya.
Andini tau suaminya melakukan itu semua pasti sengaja ingin membuat Miko gerah, pria itu sudah puasa satu bulan lebih tak menyentuh istrinya. Sifat usil itu bisa muncul setiap bertemu Miko, membuat Miko terkadang kesal dan pergi menjauh, terkadang dia cukup mengalihkan pandangannya. Andini sebenarnya selalu menolak jika Arsena menciumnya di depan Miko, tapi Arsena suka sekali melakukannya dengan Exstrem kesempatan menghindar Andini jadi tak ada.
*****
__ADS_1
Miko dan Dara sudah berangkat menuju rumah barunya, Andini dan Arsena sudah sedih kini semakin pedih.
Tetapi mengingat kepulangan Miko masih satu kota, Andini dan Arsena masih bisa berkunjung setiap ada waktu senggang.
Usai kepergian Dara, Andini merasakan tubuhnya lelah, mungkin sejak kemaren dia terlalu banyak mengeluarkan air mata. bersedih juga bisa membuat tubuh dehidrasi
Andini memilih berendam di kolam renang, mungkin dengan melakukan mediasi akan membantu suasana hatinya yang sedih, juga kesal karena suaminya suka bertingkah bar bar.
Andini mencelupkan satu tangannya di air bathup yang terisi penuh dan meluber. "Ah, airnya segar banget, rasanya aku akan mandi sangat lama hari ini."
Andini mulai membuka seluruh bajunya dan berjalan mendekati bathup, ia masukkan kaki kirinya terlebih dahulu, baru ia masukkan seluruh tubuhnya.
Sabun cair yang bercampur dengan air membuat tubuh Andini tertutup busa hingga tinggal kepalanya saja yang terlihat
"Nona jika anda mau aku bisa membantu." Bi Um menawarkan diri menggosok punggung Andini seperti yang sering ia lakukan.
"Iya, aku biasanya memang sangat senang, tapi aku sepertinya ingin sendiri."
"Baiklah kalau begitu anda saya tinggal Nona."
"Tolong dikunci Bi. katakan jika ada yang mencariku aku tak mau diganggu" Pinta Andini.
"Iya Nona, aku akan menguncinya" Bi Um menutup pintu dengan remote, yang bisa dibuka Andini dengan menekn knop dari dalam.
Andini menyandarkan kepalanya di sisi bathup, sungguh tubuhnya terasa segar, hingga dia ingin berlama lama di dalam bathup.
Arsena yang baru bangun dia meraba sekitarnya, merasa aneh saja Andini tak ikut tidur siang disampingnya.
Arsena keluar kamar hanya melihat Bibi yang mondar mandir"Bi Nona dimana?"
"Nona masih ada di kamar mandi belakang, Tuan." ujar Bibi sopan.
Arsena segera menghampiri kamar mandi yang dimaksud oleh Bibi.
Tiba tiba bibi menghentikan langkahnya. "Maaf, tapi tadi Nona pesan tak ingin diganggu oleh siapapun."
Arsena menurunkan jemarinya yang sudah memegang kenop kamar mandi. "Dia bilang begitu tadi."
"Maaf Tuan, Iya. tadi Nona bilang begitu.
"Bi, apakah termasuk saya suaminya?" Tanya Arsena yang terlihat serius, Bibi sudah ketakutan.
"Saya tidak tau kalau Tuan, tapi Nona cuma pesan tak ingin diganggu."
"Ya sudah pergilah, aku ingin sekarang buatkan minuman hangat kesukaan Nona, dan satu minuman kesukaanku, tambahkan satu tutup botol minuman yang ada di lemari, aku ingin hari ini Andini akan menjadi milikku. taruh di gazebo, Perintah Arsena tak mau di bantah. yang artinya Bibi harus membuat minuman yang ia minta mulai dari sekarang tak boleh keduluan Andini selesai mandi.
"Baik tuan." Bibi tanpa berkata sepatah katapun lagi, langsung kembali ke dapur dengan membuatkan minuman satu kesukaan Arsena dan satu kesukaan Andini. Arsena terbiasa minum sedikit alkohol untuk menghilangkan lelah ditubuhnya, dan meningkatkan gairahnya, dan tentunya tanpa diketahui oleh Andini. Andaikan Andini tahu pasti dia tak akan mengizinkan.
Arsena membuka seluruh bajunya di kamar, hingga tak tersisa, setelah itu dia memakai kembali bathrobe bersih berwarna putih yang sudah disiapkan oleh Bibi.
Arsena membuka pintu dengan berlahan, pintu terbuka selebar dua jari. Melihat Andini menyabuni tubuhnya dengan penuh kelembutan sambil matanya terpejam merasakan sensasi segar yang sangat luar biasa. Membuat junior Arsena menegang.
Mandi kali ini benar-benar membuat otak Andini kembali fresh. Usai mandi dia berencana untuk menelepon Oma, baru sehari saja jauh dari Oma rasanya rindu sudah tak terbendung lagi.
__ADS_1