Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 270.Hari bahagia.


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan Ars, kamu mengintip kayak maling tau."


"Emang menurutmu apa yang aku lakukan? Ya mau mandilah." jawabnya enteng.


"Tapi masih ada aku, ya kamu harus sabar dong." Andini kesal.


"Aku memang sengaja mandi karena ada kamu." Arsena sengaja memancing istrinya supaya semakin kesal. wajah cemberut Andini terlihat semakin menggemaskan.


Andini segera mempercepat menyabuni tubuhnya, dia hari ini lagi gak mood main begituan dengan Arsena. Masih teringat terus dengan orang-orang tersayangnya yang satu persatu pergi darinya.


Andini memakai bathrobe dengan buru buru, tetapi Arsena berhasil merebut satu tali batrobe Andini dan menggenggamnya.


"Ars lepasin aku, aku lagi nggak ingin," tolak Andini yang berhasil menyakiti hati Arsena. perasaan Arsena kini seperti ditolak ketika pas sayang sayangnya.


"Tumben sayang, bukannya kamu biasanya juga suka banget,"


" Iya tapi hari ini aku lagi nggak ingin."


"Arsena melepaskan tali bathrobe. Wajahnya lesu mendapat penolakan yang kesekian kalinya dari Andini.


Andini juga merasa bersalah banget, padahal dia ingin sekali melayani suaminya, tapi Andini takut pelayanannya justru akan berujung kecewa, karena dirinya hari ini memang merasa lagi nggak ingin sama sekali. dia butuh waktu untuk melupakan kenyataan kalau kini mansion akan sepi kembali seperti dulu pas lagi datang kesini.


Andini segera keluar, tapi Arsena tak langsung masuk untuk mandi tetapi dia malah pergi ke kamarnya dan tidur di atas ranjang,


Andini yang merasa bersalah mengikuti dari belakang, dia sudah tahu kalau Arsena tak akan memaafkannya hari ini. Tapi sebagai suami yang baik dia harusnya mengerti kondisi istri.


Arsena terlihat meringkuk di sebuah ranjang besarnya, dia merajuk tak mau berbicara atau melihat Andini, bayangannya untuk memiliki bayi perempuan dengan cepat, terpaksa harus tertunda terus.


"Hubby, kok nggak jadi mandi, pulang kerja Lo, nggak takut bau?" Andini mencoba mengajak bicara, ingin tahu gimana reaksi suaminya.


"Malas, buat apa wangi. Lagian juga nggak ke pake, bakal dicuekin di anggurin." Sungut Arsena


Andini tersenyum, masih bisa mendengar gerutu dari bibir suaminya, walau di balik selimut.


"Em kalau begitu kita bakar gurami yuk dibelakang rumah, kamu yang bakar aku yang buat sambalnya, mau nggak?"


Arsena bahkan tak menjawab apapun. Selimut yang ia pakai juga tak bergerak sama sekali, Andini bahkan menguping di luar selimut. Arsena memang tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Mm yakin nggak mau nanti nyesel Lho."


Bayi besar yang sangat lucu," ujar Andini. sebelum pergi.


Andini memilih ke dapur, sedangkan Arini ada di ruang makan bersama Davit. terlihat dia sedang meneguk minuman buatan bibi tadi dengan nikmat. Andini yang lewat di dekatnya pun bertanya.


"Hai Arin, Davit baru pulang kemana aja kalian?" Andini bertanya pada adiknya yang beberapa hari ini tak pulang Ke Mansion."


"Mbak Andini, pake nanya, kayak nggak pernah muda aja, Arini lagi honeymoon mbak." jawabnya asal sambil meneguk minuman kesukaan Andini, dan harusnya yang meminum juga Andini. Tetapi justru kini tengah dinikmati Arini dan Davit.


Andini hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku adiknya yang tengah kasmaran itu. Daripada jadi obat nyamuk Andini memilih pergi.


"Ikan gurami nya masih ada di kulkas?" Tanya Andini pada Bibi yang ada di dapur.


"Masih Non, baru beli pagi tadi, ikannya juga masih fresh." Jawab bibi yang sibuk membuat makanan pesanan Arini.


Akhir-akhir ini makan Arini lebih banyak dari biasanya, lebih banyak energi yang di keluarkan lebih banyak pula makannya.


"Bagus kalau gitu, aku mau beberapa untuk acara bakar bakar di taman belakang."


"Nona beneran mau bakar sendiri? Kalau mau aku bisa buatkan Nona, tangannya nggak usah terkena ikan segala, jadi bau amis nanti. belum lagi kulit Nona, yang putih dan harum. sudahlah Nona, biar bibi yang bakar," cerocos Bibi.


Bibi keberatan Andini memasak sendirian, dia takut saat Arsena tahu akan terkena marah, membiarkan istrinya memegang benda kalau mentah berbau menyengat itu. belum lagi tangan Andini akan berwarna kuning karena kunyit


"Ya aku akan mencoba membuat sendiri, nanti ada Davit dan Arini juga yang akan ikut membantu."


Bibi akhirnya menyerah, dia serahkan satu bok berisi banyak gurami jumbo bersih kepada Andini. Andini meminta bibi membantu menyiapkan keperluan yang dibutuhkan ke taman belakang, di dekat kolam.


Andini mulai menyalakan bara yang akan ia gunakan untuk membakar gurami nanti, karena ini pertama kalinya ia berencana membuat ide seperti ini, jadi Andini berusaha keras.


Arsena di kamarnya dia masih saja dongkol sendirian tanpa sebab, harusnya dia memaafkan Andini yang belum mau diajak bermain kuda, kalau hatinya senang pasti dia akan setuju.

__ADS_1


Saat butuh sesuatu, ternyata Davit dan Arini muncul. Andini seperti mendapatkan sebuah kabar baik.


"Mbak mau bikin acara apaan sih ini, soalnya kok repot amat, pake acara bikin gurami bakar tapi di taman segala." Tanya Arini yang kebiasaan bertanya.


"Adik kakak yang cantik, yang bawel, bantuin dong, masa tanya terus tapi kapan bantunya?"


" Iya Mbak," Arini mulai membantu Andini menggelar karpet di dekat kolam.


Rencananya nanti mereka saat makan bisa sambil duduk dan menikmati layaknya di sebuah lesehan.


Sesekali Arini mendekati Davit yang membakar gurami, dia kelihatan romantis sekali, Arini yang memeluk Davit dari belakang. Davit menoleh he arah Arini dan mereka bercumbu sebentar, mencium bibir Arini dangan gemas. justru Andini Malu melihat pemandangan yang ada di depannya.


'Mereka romantis sekali, semoga hubungan mereka langgeng, Davit bisa membuat Arini selalu bahagia seperti yang aku lihat hari ini, aku jadi bersalah sama Arsena karena sudah berani menolaknya, sebesar itukah keinginan suamiku memiliki bayi perempuan," batin Andini yang kini malah melamun.


Andini menyalakan sebuah Lilin dan menyebarkan diatas kolam renang setelah di beri alas, Andini menceburkan satu persatu di dalam kolam, lilin lilin itu terlihat menawan mengapung disana. terlihat sangat indah.


Andini juga menyalakan musik romantis yang akan mengiringi malam mereka hari ini. Ada lilin ada musik semua sudah terasa istimewa.


Gurami bakar sudah mengepulkan asap sedap, Davit dan Arini sudah menyiapkan sekaligus dengan lalapan. Nasi punel juga dibawa Bibi dari dalam rumah, bibi mulai mencetak satu persatu ke dalam piring.


"Nona, Excello baru saja telepon mau menginap di rumah Oma dan Opa. Nyonya menelepon ke ponsel anda berkali kali, tapi sepertinya anda tak mendengar panggilan dari Nyonya," cerita bibi.


"Mama tadi bilang begitu Bi?"


"Iya, Non." Kata Bibi sebelum kembali pergi.


Jadi rumah sebesar itu cuma ada empat keluarga, sedangkan empat asisten akan tinggal di mess masing masing.


Andini yang sudah memakai baju kesukaan Arsena dia segera membangunkan suaminya yang telah tertidur, rupanya marah membuat dia mengantuk. Andini yakin Arsena akan terkesan dengan malam ini.


"Hubby Bangun donk!" Andini menciumi pipi Arsena keningnya dari luar selimut.


"Izinkan aku tidur, aku lagi malas."tukas Arsena cepat.


"Yakin? Aku sudah masakin kesukaan, Hubby, tau nggak apa?"


"Pokoknya ikut ya, kalau nggak datang, nggak akan dapat jatah lebih lama, hingga beberapa hari, mau?" Ancam Andini.


"Bukan mengancam, suamiku tapi memberi pilihan. Mengancam sama memberi pilihan itu berbeda." Andini berusaha menggoda suaminya, mengecup bibirnya sekilas.


Arsena yang sudah ingin sejak tadi dia memperdalam ciumannya hingga sangat lama. Rasanya tak ada salahnya dia mengikuti keinginan istrinya siapa tahu setelah hatinya senang dia akan berubah pikiran.


"Iya aku ikut." Arsena bangkit dari tidurnya, usai berhasil mendapatkan ciuman hangat dari Andini.


Andini sudah menariknya tak sabar. "Cepat sedikit, sudah ditunggu."


Iya, tapi pake baju dulu masa iya nggak pake apa apa?" Arsena melepaskan batrobe lalu memakai baju santai dengan kaos warna putih dan celana jeans panjang selutut,"


Andini terus menggandeng lengan suaminya dengan bahagia mengajak ke Taman belakang.


"Wow ada acara apa ini kok ada lilin ada kue ulang tahun," Arsena mengingat bulan berapa ini. Dan alhasil dia di buat terkejut karena lupa ulang tahunnya sendiri.


"Sudah ingat ini hari apa?" Andini tersenyum memamerkan cekungan di pipinya.


"Ini hari ulang tahun kamu, hubby. Karena nggak suka di rayakan, jadi kita cukup makan sederhana saja." Andini mulai mengecup pipi Arsena dengan gemas. Dia tahu kalau suaminya tidak suka ulang yahun yang dirayakan dengan meriah, bahkan dia selalu menolak perayaan sekecil apapun jika untuk ulang tahun, alasannya sepele, tak ingin ada orang lain yang mengetahui hari ulang tahunnya, tapi hari ini hanya ada keluarga saja, Andini tak bisa menolak keinginan hatinya ingin merayakan walaupun hanya dengan adik mereka. sedangkan Arsena juga tak mau mengecewakan istrinya.


Davit dan Arini menampakkan dirinya dengan senyum terukir dibibir sambil menyanyikan lagu ulang tahun, ditangannya membawa kue brownies kecil yang sudah dihias dengan toping coklat di bagian luarnya, dan Ada lilin diatasnya yang menunjukkan angka tiga puluh. "Selamat ulang tahun kakakku tersayang, semoga keinginan kata memiliki bayi perempuan cepat terkabul, dan kakak makin sukses."


"Terima kasih." Arsen mengecup kening adiknya. Tiba tiba saja lidahnya terasa kelu, dia seperti kehilangan kata sebagai ungkapan terima kasih, dia peluk Davit dan Arini yang ada didekatnya bersamaan, kehangatan Adik kakak kini terlihat begitu kentara.


Andini tepuk tangan dan tersenyum di kejauhan. nyanyian ulang tahun dari bibir istrinya mampu membuat Arini davit dan Arsen terdiam.


"Kak semua ini ide dadakan dari Mbak Andini, cepat peluk dia, dia sudah sangat cantik dengan busana maroon yang kakak belikan kemaren." ujar Arini yang sempat dimintai tolong Arsena untuk memilih baju yang pas untuk Andini saat ada acara.


Arsena menghampiri Andini, lengan kokohnya meraih tubuh mungil sang istri dan memeluknya. " Menurutmu apa yang masih kurang dariku? agar aku bisa menjadi suami yang sempurna bagimu, Sayangku."


"Tidak ada, dan tidak perlu. Kau sudah sangat sempurna buat seorang Andini, wanita biasa. ini." Andini menjatuhkan kepalanya di dada Arsena, lalu mendongakkan kepala menatap wajah tampan suami. Arsena membanjiri Andini dengan kecupan sayang.


"Percuma kamu merendahkan dirimu, bagiku kau sangat luar biasa, kau wanita terhebat yang pernah aku temui. Terima kasih ibu dari anak anakku."

__ADS_1


" Sure."


"I, am Sure.". Arsena mengangguk mantap.


Malam terus bergulir, mansion Arsena semakin sepi, Bahkan keberadaan sosok Davit dan Arini sudah tak ada lagi.


"Arini dan Davit mana?" Andini mengedarkan pandangannya pada sosok dua orang kasmaran tadi.


"Nggak tahu." Arsena mengendikkan bahunya. kemudian saling menatap dan tersenyum.


Arsena dan Andini baru menyadari kalau dia terlalu lama bermesraan, hingga sosok Davit dan Arini yang tadi bersamanya tak ada lagi. Arsena melanjutkan Acara malam ini dengan berdansa. sudah lama mereka tidak melakukannya.


"Sayang, tinggal kita berdua disini." Arsena berbicara di telinga Andini dan terdengar begitu lembut.


"Iya."


"karena ini hari bahagia aku boleh minta sesuatu ."


"Iya, boleh."


"Janji akan dikabulkan?"


"Hu'um."


" Aku ingin, kamu hanya mencintaiku seumur hidupku."


"Tergantung, apa kamu bisa setia."


" Aku akan setia."


"Aku juga akan setia," jawab Andini. Saat seperti ini hubungan mereka makin hangat.


"Baju ini cocok dengan warna kulitmu," ujar Arsena dengan tatapan sayu.


"Suamiku sendiri yang beli? atau Davit. Soalnya biasa menyuruh dia kan." Andini menjauhkan tubuhnya, Arsena memegang jemari Andini kuat dan memutar tubuh Andini lalu kembali memeluknya.


Dansa malam ini berakhir, Arsena dan Andini mulai makan gurami bakar, di tepi kolam dengan cahaya terang, hanya disekitar tikar. Sedangkan di tempat lain lampu dibuat padam.


Usai makan Arsena menggendong Andini ke kamar layaknya pengantin baru, andini melingkarkan lengannya di tengkuk Arsena sambil menatap wajahnya tanpa berkedip.


"Kenapa menatapku seperti itu? aku masih tampan kan?"


"Masih, lebih tampan malahan."


Arsena dan Andini tertawa bersama, suara canda dan tawa mulai menggema dari lantai atas. Dia bagaikan muda mudi yang lagi kasmaran.


Bibi melihatnya ikut senang, bibi berharap tak ada rintangan lagi yang akan mengganggunya.


****


"Yang, kenapa kepalaku berkubang kunang, dan kamu kenapa tambah cantik begini," rancau Davit sambil mengecup wajah istrinya tiada henti."


"Kak apa yang kamu lakukan? Kak. Malu dilihat Bibi," Arini merasa Davit aneh, dia mendadak menjadi makin agresif. Arini segera membawa Sabit ke kamar dan kembali ke dapur untuk mengambil minum.


Sedangkan Bibi segera sadar setelah Arini mengeluh dengan tingkah Davit. Di ruang makan mencari minuman buatannya telah habis.


"Ya Tuhan. itu tadi kan pesanan untuk tuan Arsena? kenapa bisa Tuan Davit yang minum." apa aku harus buat lagi ya?" bibi terlihat bingung.


"Apa yang bibi dikatakan?" Jadi bibi memasukkan minuman beralkohol ke minuman Kak Arsena?" tanya Arini.


"iya non itu tadi minuman khusus dipesan oleh Tuan Arsena."


"Pantas saja, Bi." Arini kesal.


"Maaf non tapi nggak apa-apa kan, biar malam ini kalian berdua makin anget." bibi menggoda Arini dengan mengangkat kedua alisnya.


"Biiiiiiiii." Arini kesal dengan bibi, sudah taruh minuman beralkohol sembarangan sekarang malah senyum-senyum tanpa merasa berdosa.


"Sudah terima aja, itu rezeki buat Nona Arini."

__ADS_1


"Awas ya, Bi. Arini nggak bakal maafin Bibi."


"Jangan dong Non, Bibi kan nggak salah." Bibi membela diri.


__ADS_2