Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 295. Kabar gembira lagi


__ADS_3

Andini keluar dari kamar mandi, wanita memakai baju putih dengan warna bibir pucat itu menutup pintu lalu berjalan pelan pelan. Pusing dikepalanya belum juga hilang.


Arsena segera menghampiri dengan setengah berlari. "Apa hasilnya sayang, apa kamu positif?" 


Andini menyembunyikan tespeck di belakang tubuhnya, dia buat ekspresinya sebiasa mungkin supaya Arsena kesulitan dalam menebak.


"Apa coba?"  Andini ingin Arsena menebaknya, membuat pria itu penasaran sepertinya kesenangan tersendiri bagi Andini.


"Positif, pasti hasilnya kamu hamil kan Sayang?"


Arsena memegangi kedua pundak Andini membuat wanita tengah bermain teka-teki itu tak bisa ke mana-mana hanya mendongak keatas menatap wajah suami tampannya. 


"Katakan padaku, Sayang?"


"Ingin mendengar dariku atau melihat sendiri secara langsung, Bie?"


"Aku ingin kamu yang katakan, aku terima apapun hasilnya sayang, ayo jangan buat aku tak sabar." Arsena berharap Andini yang mengucapkan sendiri. 


Arsena menurunkan tangan dari bahu Andini lalu mengeratkan ke pinggang. "Aku tak sabar mendengar kabar dari kamu sayang."


"Lihat sendiri aja ya, Bie." Andini menarik satu lengan Arsena yang melingkar di pinggangnya. Membuka telapak tangan lebar itu dan menaruh benda kecil diatasnya. 


Arsena segera mengambil benda berbentuk stik dan melihatnya dengan jarak dekat. "Kok garisnya masih satu."


Arsena menggigit bibir bawahnya lalu melepaskan dan tersenyum, rasa kecewa tetap ada walau sedikit, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Memeluk Andini sekali lagi. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, masih bisa dicoba lagi."


"Bie." Andini melepaskan pelukan suaminya. Arsena kembali menatap manik mata sang istri yang menunduk. Ternyata ditangan Andini masih ada satu lagi benda stik yang sama. "Yang satu tadi sepertinya gagal Bie, aku kedaleman nyelupinnya.  Tapi kalau yang ini sepertinya berhasil."


Arsena tak sabar meraih tespeck dari telapak Andini. Istrinya ternyata suka sekali menggoda. Arsena melihat tanpa mengeluarkan sepatah kata. Arsena segera membanjiri pipi Andini dengan puluhan kecupan. "Sayang, I love you, I love you." Arsena memeluk sangat Erat hingga dua tubuh itu kembali terguncang.


"Lepaskan Ars, aku tak bisa bernafas, kamu memelukku terlalu rapat," eluh Andini dengan manja.


"Aku bahagia sekali,  Sayang.  Aku akan punya anak lagi. Senyum donk, kok kamu nggak bahagia gitu?"


"Aku bahagia suamiku, aku sangat bahagia. Menurutmu aku harus gimana, loncat loncat?" Andini malah berkelakar. 


Arsena menggandeng Andini ke atas ranjang, membaringkan tubuh sang istri dengan sangat hati-hati. 


"Sekarang istirahatlah, tidur yang nyenyak Namira akan segera kesini memeriksa calon anak kita. Aku akan menelponnya."


"Nggak usah, nggak perlu. Aku akan ke rumah sakit besok. Aku bisa sekalian periksa." Andini menahan lengan Arsena. 


_______

__ADS_1


Di lantai bawah terdengar sangat heboh. Sepertinya sumbernya dari Davit dan Arini yang lagi bahagia. Sesekali suara bibi juga terdengar. 


"Horeee! Horeee! yes, aku sudah berhasil, aku akan jadi ayah!" 


"Terima kasih sayang, terima kasih. Emuahc! emuach!  emuahc!" 


Davit merengkuh pinggul Arini lalu mengangkat tubuhnya dan memutar hingga berulang kali.


"Kak, jangan berputar, kenapa tingkah kakak jadi bar-bar gini, Arini pusing Kak." Arini merasa kepalanya berkunang-kunang. Davit segera menurunkan Arini di sofa.


"Wah Aden Davit tokcer, akhirnya Nona Arini sudah hamil di pernikahan yang ke lima bulan. Bibi ikut senang dengernya." celetuk bibi yang sedang membuatkan minuman pesanan Arini.


"Makasih Bi, Makasi banget." Davit menerima uluran tangan Bibi yang memberinya selamat.


Arsena yang berada dilantai atas dia terusik dengan suara Davit yang menggema dari lantai bawah. "Ada apa sih di bawah? Kok berisik."


"Sepertinya suara Davit, mungkin Arini juga hamil." Andini menjawab spekulasi Arsena. 


Andini tak jadi ingin tidur dia langsung bangkit lagi dan ingin turun ke bawah. Arsena yang melihat Andini tergesa gesa segera menahannya. "Jalannya pelan pelan, entar juga sampai, Sayang."


"Aku pengen tau hasil test Arini, Ars."


"Nggak usah buru-buru juga kan. Ingat kamu hamil juga lho." Arsena mengingatkan Andini seperti anak kecil, Andini khawatir akan terpeleset.


Melihat Arsena dan Andini menuruni tangga Davit dan Arini segera mendekati kakak-kakaknya.


"Hamil?" Tebak Arsena.


Arini mengangguk mantap." Iya, aku hamil, Kak. Tak lama Kakak akan di panggil Uncle. Uncle Arsena." Sebuah senyum manis terbit di bibir mungil Arini yang tengah memeluk kakaknya. Pelukan Arini tak lama berpindah pada Andini.


"Terima kasih, Adikku. Jaga bayi kalian baik-baik." Arsena membelai rambut Arini yang terurai lembut lalu mengecupnya. 


Davit juga ikut memeluk Arsena, mereka berempat berpelukan layaknya serial film anak-anak.


"Mbak Andini, sudah pake testnya?" Davit bertanya pada Arsena. 


"Sudah, dan hasilnya sama dengan Arini." Arsena mengulum senyum.


"Wah selamat, Kak Arsena rupanya lebih tokcer."Davit memeluk iparnya sekali lagi. 


"Sudah jelas. Aku bahkan bisa mencetak dua sekaligus." Arsena membanggakan diri. "Pesanku, jaga Arini dengan baik, dia butuh perhatian exstra dari suaminya." 


"Siap Kak, aku akan jaga Arini dan calon buah hatiku dengan segenap kemampuan yang ku miliki." Davit berkata dengan penuh keyakinan. 

__ADS_1


Mereka berdua kini menggiring para istri ke ruang makan, menyuruhnya makan ini dan itu yang disediakan bibi. Tapi Andini dan Arini alhasil hanya menggelengkan kepala.


"Exel dan Cello yang tadi tidur pulas di kamarnya langsung turun tanpa memakai alas kaki, masih dengan seragam baju tidur lengkap, dia menguping di dekat pintu tentang obrolan orang tuanya. "Dek, Mommy dan Tante Alini mau punya Adek bayi." 


"Benalkah?" Cello megucek kedua matanya yang masih mengantuk.


"Aku dengal sendili." Exel meyakinkan Cello.


"Bagaimana kalau ada adek bayi, meleka tidak sayang kita lagi?" Exel berkata lagi.


"Tidak mungkin, Mommy dan Daddy pasti sayang kita. sayang Adek bayi juga." Cello membela orang tuanya. 


Mereka berdua terlihat bersedih, menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya. "Kalau mommy dan Daddy sudah punya Adek bayi yang lucu, apa benal dia tidak lagi sayang sama kita?"


"Hai hai hai? Daddy dengar lho apa yang kalian obrolin?"


"Daddy! Hap!" Mereka berdua menutup bibirnya yang terbuka membentuk huruf O.


"Kalau ada masalah cerita sama Daddy dong." Arsena jongkok di depan kedua putranya bertumpu dengan satu kaki. Mensejajarkan tubuh kedua putranya. 


"Ayo cerita? Daddy tunggu?"


"Dad benalkah akan ada adek bayi di pelut Mommy?"Exel yang lebih tua bertanya lagi. 


"Iya benar, apa ada masalah?" Arsena berusaha menjadi pendengar yang baik. 


"Daddy, akan menyayangi adek bayi dan melupakan kita?" 


"Tidak, cinta Daddy dan Mommy akan sama seperti hari ini, pada kalian." Arsena kini mengangkat kedua putranya dan mendudukkan di dua kursi kecil yang disediakan di kamarnya. Kini tubuh Arsena kembali berjongkok, dan lebih rendah di depan kedua putranya. Arsena menciumi Exel dan Cello bergantian. 


"Daddy janji akan sayang kalian berdua, mommy juga. Jangan takut anak-anak, sayang kami akan selalu sama seperti hari ini." Arsena tersenyum menatap kedua putranya. Exel dan Cello tentu percaya, dia turun dari kursi dan memeluk Daddynya.


"Maafkan kami Daddy, kami beldua sayang sama Daddy."


"Daddy juga sayang kalian. Kalian akan dipanggil Kakak, harusnya senang dong."


"Kakak, yey. Dik kita akan dipanggil Kakak." Exel memeluk adiknya. 


"Wah Kak Exel dan Cello dah bangun nie? Tidurnya pulas banget sih tadi, mommy pengen kasih kabar gembira lho ke kalian.


"Sudah, Daddy kasih tau tadi Mom." Arsena mencubit pipi gembil kedua putranya. 


"Mommy, Adiknya sudah bisa dengal suara Cello belum?"

__ADS_1


"Belum dong sayang, adiknya masih kecil." 


Andini duduk di tepi ranjang. Dua putranya langsung mendekat mengelus perutnya, penasaran dengan keberadaan Adek bayi yang katanya sudah tumbuh di perut Mommy.


__ADS_2