
Miko sudah selesai mandi. Rupanya setelah mandi efek mabok tadi cepat sekali hilang. Pria itu kini mengeringkan rambutnya di depan cermin. Miko tidak suka hawa panas dari hair dryer, jadi ia memilih menggosok dengan handuk kecil saja.
"Nggak mandi?" Tanya Miko tanpa menoleh pada Dara.
"Nggak,"
"Mandi air dingin segar banget, buruan mandi, mau jalan jalan nggak?"
"Nggak." Jawab Dara pendek.
Miko menghentikan aktifitasnya. Me memastikan kalau dia tidak sedang salah dengar. "Yakin nggak mau."
Miko merasa aneh, kenapa Dara sejak tadi tidak turun dari ranjang. Lagian aneh Dara paling suka jalan-jalan, apalagi kalau di traktir Boba pasti nggak pernah menolak.
"Dara apa kamu terluka?" Miko mulai menunjukkan rasa khawatir pada Dara.
" Kakak telah mabuk, apa tidak ingat, sudah menyakitiku. Sekarang aku tak bisa berjalan."
Tentu Miko ingat, tapi dia dalam kondisi mabok, semua yang ia lakukan diluar kendalinya, dia menjadi kalap dan tanpa memiliki belas kasih. Miko diam tak menjawab, ia memilih meminta maaf dengan melakukan sesuatu yang membuat Dara bahagia.
"Aku akan membantumu ke kamar mandi," Miko mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati. Menceburkan ke dalam bathup yang sudah ia isi dengan beberapa tetes aromaterapi layaknya bayi .
Miko kembali dengan sifat lembutnya, meraih sponge dan memberi beberapa tetes sabun cair lalu membalurkan ke tubuh Dara dengan lembut. " Aku terlalu cemburu, kau bersama laki laki lain, jangan melukai aku dengan pengkhianatan, aku tak bisa terima."
Dara mengangguk. " Aku minta maaf."
"Harusnya bulan madu kita, kita habiskan denga sesuatu yang bahagia, bukan malah pertengkaran tak penting seperti tadi," Kata Miko lagi.
"Kakak yang mulai, kakak diam-diam menelepon kak Andini."
"Jadi karena itu, kau membuat kopi rasanya asin, kalau aku benar selingkuh, pasti isi kopinya menjadi racun," ledek Miko.
Miko mengambilkan handuk kimono untuk Dara, lalu memakaikan sekalian. Miko melihat jalan Dara terlihat pincang karena menahan sakitnya di area sensitifnya. Miko dengan sigap kembali menggendong istri kecilnya.
Dara mengalungkan tangannya di tengkuk Miko. Dara merasakan wajah Miko begitu dekat dengannya, wanita itu semakin kagum dengan ketampanan suaminya. Timbul niat dihatinya untuk bisa selalu ingin mendapat perhatiannya setiap saat.
Usai menurunkan Dara di kursi kecil depan cermin, Miko hendak pergi
"Kak, disini aja, "pinta Dara manja pada Miko.
Ya ya, aku akan disini sesuai keinginan istriku. Miko mengambil kursi yang lain dan memperhatikan Dara sedang memakai make up.
Miko menarik kursi yang diduduki Dara dan memeluk dari belakang.
Dara mendongakkan kepalanya dan tersenyum, 'Kakak!"
Dibalas senyuman manis Miko? " Hm, masih sakit?"
Sedikit, memang kenapa tanya soal itu? Wajah Dara bersemu.
"Pengen ajak jalan-jalan, beberapa hari lagi kita akan pulang setidaknya, kita harus memanfaatkn moment ini dengan sebaik mungkin."
"Tapi hari ini aku tak bisa," Dara menunduk sedih.
"Tenang masih ada cara lain."
"Siap-siap saja aku akan urus semua yang kita butuhkan."
Miko beranjak dari kursi dan terlihat keluar apartement. Dara melanjutkan aktifitasnya yang belum selesai, memasang make up dan memakai gaun mahal yang di belikan Miko,
Setengah jam kemudian Miko sudah rapi Dara juga terlihat begitu cantik, topi pantai ukuran besar yang dipakai dengan posisi miring membuat dara semakin menggemaskan
"Litlle, sepanjang perjalanan nanti aku yang akan mendorong kursi roda yang kamu naiki. Bagaimana kau setuju? Jadi tak ada yang mengeluh kesakitan lagi."
"Yah, baiklah jika kakak tak keberatan. Tapi awas kalau pegel nanti minta pijitin Dara."
"Tenang aja, ada tukang pijit plus di lantai bawah di siap selalu everytimes. Dan mereka pasti akan senang sekali jika mendapat pelanggan tampan sepertiku.
"Kak Miko!" Dara mencubit pinggang Miko dengan gemas. "nggak boleh ke tempat pijat plus, Awas!!"
Sore telah tiba, angin sejuk mulai berhembus. Miko sudah mengucap janji, Dia ingin mengajak Dara jalan-jalan sepuasnya hingga dara berkata . Dara duduk di atas kursi roda dan Miko mendorong pelan dengan segenap cinta.
Miko memilih jalan yang khusus untuk pejalan kaki. DI sepanjang sisi jalan, banyak sekali pedagang kaki lima berjualan pernak pernik.
Demi membahagiakan Dara, Miko membeli banyak sekali pernak- pernik di pedagang kali lima, ia menghitung semua teman kampusnya, sudah dipastikan mereka kebagian. Hingga uang Lira yang mereka bawa tinggal sedikit.
Miko juga menepati janjinya membelikan satu Boba untuk Dara dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
Setelah menghabiskan Boba, Dara meminta Miko supaya mendorong kursi rodanya menuju masjid biru. Mereka berniat untuk berdoa di masjid besar peninggalan kesultanan Ahmed itu, sebelum kembali lagi ke Indonesia.
__ADS_1
Miko setuju apapun yang Dara inginkan. Mungkin dengan seperti ini Dara akan memaafkan dirinya yang telah membuat lengannya berwarna biru.
Usai berdoa, meminta keselamatan untuk semuanya, Miko tiba-tiba teringat Mert. Pria yang sudah memikul beban berat karenanya.
"Dara aku mau menghubungi Mert, Sudah lama aku tak menanyakan soal perusahaan pada dia." Miko hendak menghubungi Mert, Dia berjalan agak menjauh dari Dara.
"Bicara disini saja, aku juga ingin mendengarnya." Pinta Dara.
"Baiklah, jika membuatmu senang."
Miko mulai mengganggu Mert yang sedang sibuk di depan layar dan setumpuk berkas.
Sebagai Direktur bagian, tugas dan tanggung jawab Miko tentu tak sebesar Arsena. Namun bagi Mert yang baru memiliki sedikit pengalaman kerja, tentu tak semudah yang dibayangkan.
"Semua berjalan lancar, hanya. Saja kita masih menunggu kehadiran Dirut utama, semua berkas sebelum kita kirim pada klien harus memiliki stempel dari Dirut utama."
"Maksudmu Arsena sedang tak ada dikantor? Apa dia baik-baik saja?"
"Sepertinya tidak, dia sudah menyerahkan semua kekuasaan di perusahaan ini, kepada Pak Johan kembali."
"Maksudmu dia tak lagi bekerja?"
"Ya, sekarang dia meninggalkan rumah besar beserta Andini. Konflik besar sedang terjadi di keluarga Atmaja."
"Astaga Andini pasti sedih sekali, apalagi dia sedang hamil. Dia tak boleh strees."
"Bagaimana, kondisi dia sekarang?"
Dia, dia siapa? Arsena atau Andini?
"Mereka berdua Mert? Jangan membuatku kesal."
"Mereka tentu baik, kemanapun kita berada, kalau bersama orang yang kita cintai tentu akan baik saja."
"Ya aku mengerti." Kata terakhir Miko sambil menutup ponselnya.
******
Pagi hari, waktu indonesia sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Bagaimana kerja kalian? Sudah ada informasi?"
"Ada Nyonya"
"Tuan muda tinggal di kampung pesisir, dia menjalani hidup sederhana, bahkan tuan Muda berangkat ke pesisir untuk mencari ikan. Tapi kehidupan mereka terlihat harmonis, Nona Andini menyambut kedatangan Tuan dengan senyumnya yang hangat, dan Tuan muda membalas perhatian yang diberikan Nona Andini dengan menyerahkan semua uang yang diperolehnya dari hasil menangkap ikan."
"Itu informasi detail yang kita dapatkan dari pemantauan jarak jauh dan pemasangan kamera pengintai di depan pintu masuk."
"Baiklah, lanjutkan pengintaian, jangan sampai dia mencurigai kalian, karena aku tak ingin kehilangan putraku. Aku akan kesana dan meminta Andini untuk kembali, jika Andini bersedia Arsena pasti akan ikut istrinya."
"Baik Nyonya." Pria bayaran itupun menutup teleponnya. Dan Rena segera memberi tahu Mita kalau dia sudah menemukan Andini dan Arsena.
"Mita, kau tau putraku bahkan bekerja keras menjadi pelaut, kasian dia."
"Mbak sudah tau sekarang,? Dia rela melakukan apapun asal bisa bersama istrinya. Saya harap Mbak tidak melakukan kesalahan lagi, dengan memisahkan mereka."
"Kamu benar Mita, Aku yang bodoh, telah membuat janji tanpa memikirkan akibat dari janji yang ku buat." Rena menyesali perbuatannya.
Arsena dan Arini dia adalah kedua anakku, mulai sekarang kebahagiaan putra putriku akan menjadi prioritas utama.
Rena juga Rindu Arini yang lama tak pulang. Arini memilih sekolah Asrama, daripada setiap hari harus melihat orang tuanya dalam perdebatan yang tiada ujung.
Setelah jauh dari keduanya, Rena kini sadar kalau dia selama ini begitu egois. Rena tak ingin membuang waktu lagi. Dia secepatnya ingin menjemput menantunya pulang.
Rena meminta asisten David yang lama menganggur untuk menyiapkan mobil. David tidak keberatan selama majikan mudanya belum pulang dari bulan madu, dia bersedia menerima tugas lain dari keluarga majikannya.
Rena dan Mita adalah dua wanita istri Johan, hari ini terlihat begitu akur, ini pertama kalinya mereka baik-baik saja tanpa sebuah paksaan.
Mita yang seharusnya pergi ke butik, khusus hari ini ia menemani Rena mendatangi rumah putranya.
********
Tok tok tok!
"Sayang, apa kau ada janji dengan seseorang?" Arsena bertanya pada Andini yang sibuk mengiris bawang Bombay.
Arsena baru saja pulang dari laut, tubuhnya pegal ia ingin beristirahat, namun suara ketukan pintu membuat dirinya terganggu.
"Tidak, suamiku." Sahut Andini dari dapur sedangkan Zara menjemur baju di belakang.
Arsena membuka pintu. Ia melihat sosok Mama datang, kantuk yang tadi melanda, kini berubah menjadi wajah penuh emosi.
__ADS_1
"Ada apa Anda kemari?" Tanya Arsena, pria itu membuka pintu hanya selebar tubuhnya sendiri.
"Ars, mama datang kemari ingin melihat keadaanmu... Izinkan Mama masuk dulu." Kata Rena dengan senyum mengembang di bibirnya.
Maaf, aku tak lagi menerima kehadiran orang asing, orang yang kita anggap dekat dengan kita saja, tanpa belas kasih ingin melukai calon anak dan istriku, bagaimana aku bisa percaya pada orang asing seperti Anda."
"Tante Mita, anda sudah mengantar wanita ini sampai rumah saya, tolong ajak dia kembali pulang. Katakan pada dia, aku tak akan mengusik atau menampakkan diriku lagi didepannya, jadi aku mohon jangan usik kami."
Ars, mama kamu sudah menyesali perbuatannya, jadi kamu tak perlu lagi tinggal disini, sebaiknya ajak istrimu pulang, kasian calon anakmu dan Andini, dia berhak tinggal di rumah kalian." Mita melihat sekeliling taman yang sederhana, tak ada satupun interior yang terlihat menarik di hunian baru Arsena yang sekarang ini.
"Anda tenang saja, aku sudah menyiapkan tempat tinggal yang lebih baik, jangan mengasihani kami, itu sangat menyakiti hati."
"Ars, kenapa tamunya tak disuruh masuk dulu?"
"Tidak sayang, dia cuma sebentar katanya."
"Oh."
Arsena, mama minta maaf, tolong izinkan mama ketemu Andini. Mama ingin sekali minta maaf padanya dan menyentuh calon anak kalian. Cucu Mama."
"Terima kasih Ma, mama sangat baik sekali, tapi sayangnya Arsena tak mengijinkan siapapun menyentuhnya kecuali orang yang benar-benar tulus mencintai kehadirannya."
Mendengar penuturan Arsena, Rena sangat sedih, rupanya keras kepala Arsena tak pernah bisa berubah.
"Ars, rupanya mama yang datang, Kenapa nggak disuruh duduk." Andini ingin menyapa Mama. Namun, Arsena melarangnya.
"Sayang, kalau sudah selesai memasak, tunggu aku di meja makan ya, sudah kubilang tadi, mereka cuma sebentar." Terang Arsena membuat Andini menurut, walaupun Andini tak percaya dengan ucapan suaminya.
"Andini berhenti! Mama minta maaf, mama mengakui semuanya, mama yang telah membuat kamu celaka, tapi mulai detik ini mama sudah berubah, mama akan menyayangi cucu Mama dan juga kamu.
"Andini berhenti!" teriakan Rena terdengar begitu jelas ditelinganya. Melihat wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang setengah abad itu, Andini merasa Mama Rena memang sudah benar-benar sadar dengan kesalahannya.
"Mama!" Andini menangis, ia terharu melihat Mama sudah mengakui kesalahan serta sudah menerima kehadirannya.
"Iya, Andini mama sudah menyesal. Sekarang mama berharap kamu bisa ajak Arsena kembali pulang ke rumah kalian, Oma juga sangat merindukan kamu Andini." Kata Rena dengan nada suara memelas. Andini belum pernah melihat Rena rapuh seperti hari ini.
Hanya beberapa hari saja tak bertemu, kelopak matanya hitam dan cekung. Andini mengira Rena pasti terpukul atas kepergian Arsena dari rumah.
"Ars, Oma kangen kita."
" Andini tolong mengertilah." Arsena menahan Andini yang nekat ingin menghambur ke Mama.
"Baiklah," Andini menuruti Arsena, dia meninggalkan Mama Rena dan Mita.
Mita mengangguk mengizinkan Andini pergi, Mita tahu Andini harus patuh pada suaminya.
"Mbak, mungkin Arsena membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. Sebaiknya kita beri kesempatan untuk memutuskan semuanya."
"Tapi Mita aku tak bisa melihat Arsena hidup seperti ini, sejak kecil aku memberinya dia dengan kemewahan."
"Besok pagi kita datang ke sini lagi, Mbak."
"Ars, tolong kembalilah, Papa membutuhkan kamu, perusahaan membutuhkan kamu, bagaimana nasib karyawan yang tergantung pada perusahaan, jika kamu pergi seperti ini." Mita mencoba membujuk Arsena dengan cara lain.
Rena menganggukan kepala membenarkan ucapan Mita.
"Maaf aku ingin sendiri, aku sedang menikmati hidupku yang indah ini."
"Davit!" Panggil Arsena.
"Iya tuan!"
"Tolong antarkan mereka pulang, aku ingin istirahat, karena malam hari aku harus kembali bekerja." Tegas Arsena pada Davit.
'Nyonya,sebaiknya kita pulang, hati tuan Arsena masih terlalu sakit menerima kenyataan."
"Mbak, ayo kita pulang." Mita memeluk Rena dan membimbingnya berjalan ke mobil.
"Tapi, Mit."
"Mbak Arsena tak akan ikut Mbak, sudah dengar kan apa katanya tadi?"
"Iya baiklah." Rena setuju dengan alasan besok pagi akan datang lagi menemui putranya.
Rena yakin jika setiap hari datang dan meminya maaf pasti hatinya akan luluh.
Arsena menutup pintu dengan cepat, ia menyandarkan tubuhnya di belakang pintu. Ia merasakan sebuah kegelisahan yang luar biasa. Mungkin, kegelisahan itu akan segera berakhir ketika menyandarkan kepalanya di pangkuan istri.
"Andini tolong peluk aku."
Bruk!
__ADS_1
Arsena memeluk Andini, menyandarkan kepalanya di pangkuan.