
Setelah mengetahui suaminya ternyata memiliki wanita yang begitu cantik untuk dicintai. Wajah Andini nampak lesu. Harapannya untuk mendapatkan cinta suaminya semakin tipis, bahkan tak ada lagi.
Bagaimana dia bisa mengabulkan keinginan mertuanya jika saingannya begitu berat, Wanita di foto itu terlalu sempurna untuk dijadikan tandingan seorang Andini si gadis sederhana, sedangkan dia terlihat begitu memperhatikan penampilannya.
Andini rasanya ingin menyerah dan berlari sebelum pertandingan dimulai, apalagi setiap kata yang keluar dari mulut Arsena selalu pedas, bahkan pedasnya mencapai diatas level cabe. semakin melumpuhkan asa Andini saja.
Sepulang kuliah Andini langsung naik angkot menuju rumahnya. Ia ingin mengunjungi Nek Sumi yang lagi jualan sendirian, nenek pasti kelelahan, selain usianya sudah terbilang tua, biasanya juga ada Andini yang selalu membantunya.
Sore ini Andini ingin kembali membantu nenek seperti biasa, sambil menghilangkan galau yang sudah sejak siang tadi mengusik hatinya.
Mungkin ketika bertemu nenek ia akan menemukan ketenangan, atau mendapat sedikit hiburan ketika bertemu pembeli.
"Loh, cucu nenek kok kesini? Sama siapa? Mana suaminya?" Nenek melihat ke arah keluar, berharap Ada seseorang di belakangnya. Selain belum pernah bertemu, nenek juga ingin memeluk cucu pertamanya itu.
"Kerja Nek, lagian Andini pulang kuliah langsung kesini tadi." Jelas Andini.
"Lho ... Jadi kamu nggak pamit tadi?" Wajah nek Sumi seketika berubah. terlihat seperti tak suka mendengar penjelasan cucunya.
"Dia kan kerja Nek?" kata Andini lagi.
"Ndin, cepat balik ke rumah suami kamu, kamu sudah menikah, nenek nggak mau cucu nenek dapat dosa, kemana mana nggak pamit sama suami."
"Nek ... " Andini sedih mendengar ucapan neneknya.
"Cepat pulang! Jangan sampai suami kamu datang, tapi istrinya malah nggak ada, Gimana mau di sayang suami kalau kamu bertingkah seperti itu." Wejangan Nenek Sumi panjang lebar. Bahkan suaranya sudah naik satu oktaf.
Andini diam, sepertinya yang dikatakan neneknya benar juga. Ia kini meminta Nek Sumi meracik gado- gado paling nikmat, rencananya hendak dibawa pulang nanti, Siapa tau Arsena akan suka.
Nenek menyerahkan lima bungkus gado- gado. Seperti yang di bilang Andini tadi. Kalau ia hanya tinggal bersama suami dan asisten saja.
Setelah menerima bungkusan dari nenek Andini segera pulang. Rumah nampak sepi hanya ada security dan Bik Um sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Bibi, Mama kemana?" Tanya Andini sambil meletakkan makanan yang ia bawa ke meja. Karena sebelum kuliah tadi ia melihat sosok Mama ada di rumahnya.
"Jadi Nona tidak tau?"
"Nyonya akan pergi ke London dalam waktu satu bulan, Non."
"Oh ... " Andini hanya ber oh ria, mana ia tahu, sudah tentu Mama Rena tak akan pamit dengannya, emang siapa Andini harus izin segala.
Andini kini duduk di sofa, menyalakan televisi, sambil bermain handpone. berharap mendapat tontonan yang menarik sambil menunggu suaminya pulang.
Tiba tiba tangan kecil menutup wajahnya dari belakang.
"Arini, baru pulang sayang?" Tanya Andini pada Adiknya yang selalu cute dan periang itu.
"Hu'um, Kakak, Arini habis membeli ice cream, kakak mau?" Sambil menyodorkan satu kotak ice cream dengan tiga macam rasa. Dan di tangannya masih ada dua kotak lagi.
"Boleh, kakak ambil satu yah..." Mereka berdua Akhirnya melahap ice cream sambil memainkan gawainya masing masing.
"Kak Andini itu kak Sena pulang!" Bocah itu langsung menunjuk ke arah kakaknya pulang.
Oh, iya, Andini dengan senyum manisnya segera menghambur di depan pintu. Mengharapkan ada tangan yang akan terulur kearahnya yang akan dicium, namun ternyata itu cuma harapannya semata.
__ADS_1
Arsena masuk tanpa menganggap keberadaan Andini sedikitpun. Ia melewatinya begitu saja.
Ada yang terasa nyeri di dasar ulu hati Andini. Sampai kapan suaminya akan bersikap dingin dan mengacuhkannya. Andini menahan air matanya. Gadis itu rupanya sudah menaruh hati pada suaminya sejak usai menikah waktu itu. sejak ia melihat bibir suaminya bergetar mengumandangkan sebuah ijab. Sejak menyematkan cincin perkawinan di jari manisnya.
Andini mengekor Arsena yang baru saja masuk ke kamarnya. Setelah membukakan Arini satu bungkus gado-gado untuk dimakan tadi.
Andini kini sudah sampai di kamar, ia mengamati pria itu dari kejauhan dan memberanikan diri untuk sedikit mendekat.
"Ars, katakan saja jika ada yang bisa aku lakukan untukmu." ucap Andini menawarkan diri, dengan ragu ia memberanikan diri sambil menempelkan tubuhnya di ambang pintu.
Hening, Arsena diam tanpa ingin menjawab pertanyaan dari Andini. Bahkan ia tak minta tolong walau tengah kesulitan melepas dasinya.
"Ars, aku bisa membantumu jika kamu mau." Andini mencoba melangkahkan kaki, beberapa langkah menginjak lantai kamarnya.
"Berhenti disitu ...!"
"Ars, aku Istrimu, kamu bisa meminta aku melakukan sesuatu, perintahkan saja aku, jika butuh sesuatu pasti aku akan melakukannya dengan senang hati," Mohon Andini yang mulai lelah selalu di abaikan.
"Benarkah ....?"
"Apa termasuk melayaniku di ranjang."
"Deg" Andini terperanjat mendengar ucapan Arsena yang terlalu menohok menurutnya. Bukan itu yang dimaksud oleh Andini, ia siap melakukan kewajiban istri yang lainnya, tapi tidak untuk yang satu itu.
Yang dimaksud Andini, ia bisa menyiapkan baju ke kantor, mencuci baju kotornya, menyiapkan air hangat untuk mandi, dan memasak masakan kesukaannya.
Arsena mendekat wajahnya mulai menakutkan, bibir yang belum sekalipun terlihat merekah di depan Andini itu tersenyum, namun kali ini bukan senyum manis yang pernah Andini lihat saat berbicara dengan Mama ataupun adiknya. Senyum itu terlihat menakutkan dan tatapannya membuat bulu roma Andini bergidik ngeri.
"Benarkah yang kau bilang tadi kau siap melayaniku?" Cecar Arsena lagi. Mulai maju menghampiri Andini.
Andini kini sudah sampai di ambang pintu, siap memutar badan dan berlari, tapi gerak cepat Arsena malah menarik lengannya kuat-kuat hingga tubuhnya tersentak masuk.
Secepat kilat kaki Arsena menendang pintu hingga pintu tertutup otomatis.
"Benarkah kau katakan tadi? Kau siap melayaniku setiap saat?"
Kata-kata Arsena membuat Andini semakin takut,sebisa mungkin ia memberontak, ingin keluar namun Arsena menggenggam pergelangan lengannya kuat-kuat. Bahkan Arsena mendorong tubuh Andini hingga menempel di dinding, tubuh kekarnya menempel pada tubuh mungil Andini, nafas Arsena terasa hangat menerpa wajah ayunya. Andini sukar membedakan pria di depannya ini sedang marah atau sedang diburu nafsu.
"Lepaskan .... Bukan itu yang ku maksut " masih berusaha terus memberontak sebisanya. "Biarkan aku pergi."
"Kemana? Katanya mau melayaniku. Ini kan yang kamu inginkan."
"Kenapa takut? Bukankah kamu sudah sering mendapat perlakuan seperti ini dari pria yang membelimu?"
"Atau seperti sekarang ini menjadi istri bayaran, berapa papa membelimu untuk menjadi istriku?"
"Ars," mohon Andini dengan mata memelas, mengiba. Dia menggelengkan kepala, memberontak sudah percuma karena Arsena mendekap tubuhnya terlalu kuat.
"Ayo cepat buka bajumu! Aku tak sabar ingin melihatnya"
"Ars, kumohon lepaskan ... " Andini semakin ketakutan. Ia mulai menitikkan air matanya.
Arsena kini menempelkan bibir di puncak kepala Andini, mulai menciumi rambutnya. "Katakan berapa banyak pria yang sudah tidur denganmu? Hingga kau kini kesepian menawarkan tubuh ini padaku ... Kau pasti kesepian tinggal disini ya?" Jari Arsena mengelus rambut dan turun menggelitiki leher jenjang istrinya.
__ADS_1
"Mari kita bercinta seharian ja*lang."
"Ars ..." Andini ingin menangis karena ia semakin susah mengambil nafas, Arsena semakin kuat mencengkeram tangan dan merapatkan tubuhnya.
kini lengan itu sudah membiru karena cengkraman Arsena.
Andini semakin kuat memberontak hingga satu tangannya berhasil lepas dari cengkeramannya, secepat kilat Andini mendaratkan telapaknya dipipi mulus suaminya. Plak! plak !
Arsena menyentuh pipinya yang terkena tamparan Andini, ia semakin geram dengan keberanian Andini
"Berani kau bilang aku ja****?" Geram Andini.
Arsena mendapat tamparan di pipi kanan dan kirinya mulai naik pitam.
Tatapan Arsena semakin nyalang, kini ia mengangkat tubuh Andini dan melemparnya ke ranjang besarnya. Hingga ranjang besar itu mengalami goncangan, dan kasur empuk itu memantulkan tubuh andini.
Arsena mulai membuka paksa dasi dan dan hem miliknya, hingga kini cuma menyisakan kaos dalam dan celana panjang.
Andini kali ini menangis, ia benar benar hancur, ia tak bisa melakukan kewajibannya dengan cara seperti ini, Andini ingin ia melakukan jika diantaranya sudah tumbuh cinta. Arsena telah salah mengartikan ucapannya.
Andini melindungi bajunya dari keganasan Arsena, dengan menyilangkan tangannya ke depan dada, Matanya mulai merah, ada kekecewaan tersirat di wajahnya.
"Aku mohon Ars, jangan lakukan sekarang." Tak mendapat ampun, Arsena malah mengungkungnya, membuat Andini kesulitan untuk bergerak. Jangankan bergerak bernafas pun ia mulai susah. Arsena mulai mendekatkan bibirnya, Andini kini pasrah, memberontak dirasa percuma melawan lagi, tenaga pria itu bukan tandingannya, Dia hanya bisa memejamkan mata,
Andini merasakan sentuhan tangan Arsena mulai bergerak nakal, menggelitik dari leher dan terus bergerak ke bawah.
Arsena yang sudah siap untuk mengambil first kiss milik Andini terpaksa harus menghentikan aksinya, ketika ada sebuah panggilan dari handphonenya berulang kali.
Tring! tring! tring!
Tring! tring! tring!
"Argh ..." Arsena mengumpat kesal.
"Mengganggu saja," dengusnya lagi.
Arsena kini menjauh dari tubuh Andini. Menghampiri keberadaan benda pintar itu dan mulai mengusap layar handponenya. mencari tau siapa yang mengganggu kesenangannya kali ini .
Arsena berjalan ke arah jendela kaca sepertinya panggilan itu dari orang yang ia sayangi. Wajahnya yang tadi diliputi emosi kini berubah menjadi cerah dan beberapa kali tersenyum sambil terus berbicara.
Andini mengambil kesempatan ini untuk merapikan bajunya dan segera berlari meninggalkan kamar itu.
Andini masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu dari dalam, ia ingin menangis sepuasnya. Mungkin dengan cara itu semua sesak yang ia rasa akan berangsur hilang.
*happy reading*
jangan lupa
Like
vote
komen
__ADS_1
hadiah
dan favoritnya ya, biar saat update bab terbaru ada notifkasi dari noveltoon di hp anda.