
"Terima kasih, aku percaya dengan ucapanmu," Arsena melepas pelukannya. Menatap dua iris hitam milik istrinya dengan ungkapan sayang.
"Vanes memiliki tato di punggungnya? Apakah Lili juga memiliki tato yang sama? Kamu pasti pernah melihatnya." Andini merogoh ponsel disakunya dan memperlihatkan tato bergambar kupu itu.
Arsena meraih ponsel Andini melihat gambar itu dengan jelas, " ya ini tato yang sama, aku dulu sering melihatnya."
Arsena mengembalikan ponsel Andini. "Sekarang istirahatlah,aku akan mengantarkan dirimu ke kamar."
Arsena kembali menggendong Andini tatapan mereka terus saja bertemu sepanjang berjalan menuju ranjang. Arsena lega wanitanya ternyata sangat kuat, tubuhnya bisa melawan racun yang mematikan.
"Kenapa hatiku bisa takluk dengan wanita bandel dan bodoh seperti dirimu." ujar Arsena saat Andini masih dalam gendongannya.
"Mungkin karena pria cerdas memang diciptakan untuk wanita bodoh sepertiku."ujar Andini. Dengan senyumnya yang kembali mengembang.
"Ya, mungkin. Tapi aku sangat mencintainya, aku tak mau kehilangan walau kau sangat bodoh." Arsena mengecupi kening Andini. Memuat pipi Andini kembali menghangat.
Arsena membaringkan Andini dengan berlahan, Andini masih setia melingkarkan lengannya di tengkuk suaminya. Saling menatap sebentar, karena setelah ini Arsena akan pergi lagi menjalankan misi selanjutnya.
"Arini, sepertinya kita harus segera pulang, jiwa jombloku terus meronta, jika aku melihat mereka terus bermesraan seperti itu," celetuk Vanya yang berada di meja makan bersama Arini.
"Kakak menikah dengan Dr, Vano saja, bukankah kalian sama sama jomblo,"canda Arini. Dokter Vano juga nggak pendek amat, kulitnya juga bersih, anak kalian pasti akan cantik. Jika dipadu padan sama kakak yang hitam manis."
"Tapi aku menyukai Asisten Davit? Bagaimana kalau asisten tampan itu untukku," goda Vanya.
"Jangan Asisten Davit sudah menjadi milikku, tak ada yang boleh menggodanya, kecuali jika mau berhadapan langsung denganku, bertarung pun aku rela." Arini terlihat serius mengakui Davit adalah miliknya.
" Baiklah aku akan mencari pria lain saja, Padahal aku berharap Davit masih jomblo, ternyata Nona dari keluarga Atmaja sudah lebih dulu mengambil hatinya." Vanya memasang ekspresi wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.
"Kak Vanya, boleh pilih siapapun, tapi sayangnya para pria di keluarga Atmaja sudah menjadi bapak bapak semua. Sudah pada laku, nggak ada kesempatan lagi."
"Ya, mungkin jodohku masih bersembunyi, atau jangan jangan masih pacaran dengan cewek lain," ujar Vanya sambil mengaduk minumannya.
*****
"Ceroboh sekali, kenapa kau meracuni nona Andini?" Ken buru buru masuk ke dalam nomor kamar Lili, setelah mastikan dirinya aman tak ada yang mengekor dibelakangnya.
__ADS_1
"Siapa yang bodoh? Aku atau kamu?" Lili tak terima saat dikatai bodoh oleh Ken.
"Jelas kamu, coba kalau kau tak meracuni Nona Andini sudah pasti langkah kita masih aman," jelas Ken lagi.
"Kamu selalu gagal hanya menangkap satu pria saja , itu apa namanya kalau bukan bodoh? Jangan berharap bisa menyentuh darah dagingmu, sebelum berhasil mendapatkan Arsena dalam keadaan hidup, aku mau dia dalam keadaan hidup dan bertekuk lutut dikakiku, dan Andini menderita. Kalau perlu dia akan menangis hingga berdarah. Setelah itu kau akan mendapatkan putrimu yang jelek ini."
"Kenapa kau menghina jelek, dia sangat cantik, menghina Rara sama Artinya menghina dirimu sendiri, ibu macam apa kamu ini?" Ken tak terima putri kecilnya dihina jelek.
"Aku mau jadi ibu dari anak anakku, tapi bukan dengan pria seperti dirimu. Miskin! Sangat memalukan!" Lili menatap Ken jijik
Ken sangat marah, perdebatan ini sudah setiap hari terjadi, Ken meneguk air putih yang ia tuang sendiri dari teko, meletakkan kembali di meja tamu, lalu duduk di sofa panjang, Ken sangat lelah, alasan apalagi yang harus ia katakan pada Arsena yang ia duga sudah mulai memiliki firasat buruk dengannya.
"Nona, kau jangan lupa, bukankah pria miskin ini yang pernah kau rayu dengan tubuhmu, supaya bersedia membebaskan dirimu dari kastil terkutuk itu? Tapi kenapa kau seakan menjadikan aku yang sangat menginginkan?."
"Cukup! Kau selalu mengungkit itu, aku jijik mengingat pernah kau sentuh, dan aku benci malam terkutuk itu." Lili berkata dengan nada suara tinggi.
"Oh iya? Bukankah waktu itu kau sangat menikmatinya Nona? Kau bahkan berulang kali menggoyangkan pinggulku dengan mahir sekali," ejek Ken.
"Cukuuuup!" Lili menutup kedua telinganya, gara gara kejadian malam itu dia harus hamil anak yang tak diinginkan demi sebuah kebebasan, Ken mengancam akan memberitahukan semuanya pada Arsena tentang keberadaannya selama ini, jika dia berani menggugurkan darah dagingnya.
Kepala lili terasa pening. Ia duduk di sofa yang berbeda dengan Ken, bayangan yang telah terjadi sembilan satu setengah tahun kembali melintas di benaknya.
Tiba-tiba tubuh kekar Ken datang menghampiri wanita yang duduk di sudut ranjang dengan dendam membara di dadanya. "Nona ini makanan untukmu." Pria itu menyodorkan nasi dengan bungkus berwarna coklat dan satu botol air mineral.
"Ken tunggu!"
" Apa ada yang anda inginkan lagi Nona?"
" Tidak, Ken. Aku hanya ingin mengatakan kalau kau sangat tampan, kau pantas mendapatkan kekasih yang cantik untuk menemani hidupmu," ujar Lili malu malu.
"Maaf Nona, anda boleh makan sekarang, tuanku bilang aku tak boleh berbicara dengan tahanan lebih dari dua menit." Ken masih mematuhi aturan. Ken akhirnya benar benar pergi dari ruang tahanan sempit namun masih dilengkapi fasilitas hidup. Ada tempat mandi yang memadai adapula ranjang empuk dan meja makan.
Lili makan nasi dengan bungkus coklat itu dengan lahap, untuk membalas dendam dia sangat membutuhkan energi, tapi apa yang akan dia lakukan jika perut kenyang namun berada dalam tahanan. Orang orang yang bekerja dengannya sudah berkhianat.
Lili, setiap hari hanya mengerutuki kebodohannya. Dia tak pernah memimpikan hidup di sangkar seperti yang ia alami, dan ia tak percaya kalau Arsena sendiri yang memenjarakannya.
__ADS_1
Hingga suatu hari dia merayu Ken yang terlihat tertarik pada kecantikannya.
Keesokan harinya Ken kembali mengantar makanan kepada Lili dan Dev. Saat tiba di tempat Lili, seperti biasa Ken menyodorkan makanan dari luar jeruji lalu pergi.
"Ken, berhenti!'
"Ada apalagi, Nona?" Ken berhenti lalu berbalik. Menempelkan tubuhnya pada jeruji.
Lili menjatuhkan lengannya di pundak Ken, meski jarak mereka dipisahkan oleh jeruji. Namun mereka masih bisa saling bersentuhan.
Lili tersenyum pada Ken, dia menundukkan wajahnya seakan malu mengutarakan isi hatinya. Ken semakin penasaran dengan apa yang ingin dikatakan wanita cantik di depannya itu.
"Ken, sudah lama aku mengagumi sosok dirimu, kalau boleh jujur, kau sangat tampan."
"Nona, apakah Anda sedang ingin merayuku? Tapi sayangnya aku tipe seseorang yang setia pada majikan ku."
"Tidak Ken! Tidak! Tentu aku tau kau pelayan yang setia, apa yang aku katakan ini murni dari hati yang paling dalam. Kau tampan dan aku sangat mengagumi dirimu," ujar Lili terlihat serius. Membuat hati Ken ingin terbang melambung di awang.
"Anda tidak bohong Nona?" Ken bertanya lagi memastikan Lili sang tawanan benar-benar memujanya.
"Tidak, Ken" Suara Lili lemah lembut dan manja. Bersandiwara sebagus mungkin layaknya aktris terkenal membuat Ken semakin terpesona.
Semenjak Lili sering memujinya Ken benar benar jatuh hati, dia mengira Lili benar benar mencintainya, hingga membuat Ken lebih sering berkunjung ke dalam penjara setiap waktu. Makanan enak dan juga baju baju baru Ken belikan untuk Lili.
Gondrong dan botak mulai curiga, Ken setiap hari terlihat bahagia dan suka menyendiri. Bahkan dia sering senyum senyum dengan ponselnya.
Setelah diselidiki, ternyata kawannya telah jatuh cinta pada tawanan Sang Majikan. Hingga suatu sore Ken dan kawan kawan berkumpul di pos jaga.
"Ken, kau jangan main main dengan wanita penggoda itu, apa kamu tak takut kalau dia hanya memanfaatkan dirimu," ujar botak mengingatkan.
" Kamu tenang saja, tak perlu ikut campur urusan pribadi teman sendiri. Mulai sekarang sebaiknya urus diri Lu baik baik aja. Okey!" ujar Ken keras kepala
Saat dilanda gundah gulana, Ken kembali menemui Lili. Ken sudah jatuh cinta dengan dengan Lili. Ken yakin setelah lama dalam penjara Lili bisa berubah.
"Ken, kau baik sekali." Lili yang ada di dalam penjara mengelus wajah Ken dengan tangannya yang lembut.
__ADS_1
Disentuh oleh jemari wanita secantik Lili tentu Ken lupa daratan, dia seakan sudah berada diatas Nirwana. Sentuhan Lili membuat Ken mabuk.
*happy reading.