
Satu minggu kemudian
Andini dan Arsena kembali mengunjungi ruang tahanan tanpa memberitahu terlebih dahulu, Pria yang dulu tubuhnya kekar dan berotot kini terlihat agak kurus, kantung mata terlihat di kedua bola matanya. Saat ini dia sedang berdiri dengan kedua tangannya menggenggam jeruji besi. Tatapannya kosong menatap langit langit yang sudah usang dan kecoklatan. Beberapa temannya ada yang tidur, ada yang sedang berbicara dengan teman yang lainnya. Ken tak tertarik melakukan itu semua. Dia ingin menghukum dirinya sendiri dengan cara diam danelun seperti sekarang ini. Menjadi pengkhianat adalah keputusan terburuk yang ia ambil, jika tidak memikirkan Rara mungkin dia akan memilih untuk menodongkan pistol dikepalanya sendiri.
Hai, kamu nggak makan? Sapa salah seorang teman ketika jatah makanan datang. Anggota yang lain sudah berebutan walau dengan lauk sepotong tempe dan sayur kangkung yang dikasih kecap.
Makanan yang langka ia temui dikeluarga majikannya. Memang pernah ada namun tak setiap hari seperti sekarang ini.
Ken! Suara lembut seorang wanita membuyarkan lamunannya.
"Nona!" Lamunan yang sudah ia rangkai sejak pagi tadi seketika musnah, hilang dalam sekejap tanpa bekas. Pria itu menoleh . "Anda kesini? Bagaimana kalau Tuan Arsena tau? Anda akan berada pada masalah besar."
Segaris senyum tertampil dari wajah wanita yang memakai hijab itu. Sebelumnya Ken tak pernah melihat Andini berhijab. Cantik sekali. Kalimat pujian yang pantas untuk wanita pemilik senyum memesona dan bulu mata lentik.
"Tenanglah Ken, Tuanmu tak akan tahu, Dia masih berada di perusahaan. Sore nanti lembur. Mungkin dia akan pulang saat hari tengah malam."
" Anda sangat ceroboh Nona, Mata Tuan itu ada dimana-mana, bahkan dia tahu apa yang anda lalukan setiap saat. Mungkin dunia anda seperti sebuah akuarium bagi tuan Arsena.
"Iya, aku tahu Ken, kebebasanku sudah hilang saat dia mulai mencintai ku. Cintanya bagaikan penjara. Tapi dia juga malaikat tak bersayap ku. Karena menikah dengan pria itu aku masih miliki ibu hingga saat ini. Aku memiliki cintanya yang begitu besar." ujar Andini mengenang hari harinya.
"Tapi anda sering kali mendapatkan kesulitan yang hampir merenggut nyawa. Bahkan sekarang aku malah berbalik menyerang anda secara berlahan. Bersekongkol dengan wanita licik itu."
" Semua berawal dari cinta, benar Kan?"
"Iya, aku tergoda ketika Lili merayuku. Seorang Kendra pria biasa dicintai wanita secantik dia. Aku tak bisa menolaknya. Aku bodoh, aku kira dia benar mencintaiku. Setelah aku membebaskan dia dari penjara bawah tanah waktu itu, aku yakin dia benar akan bersedia menikah denganku. Tapi semua itu ternyata mimpiku sendiri, lili tak sepolos itu. Dimanfaatkan aku ... Intinya aku bodoh Nona." Ken meraup wajahnya sendiri. Pria itu terlihat malu di perhatikan Andini seperti sekarang ini.
Ken sesekali melirik ke arah pintu masuk. Mengharapkan ada seseorang selain Nona yang tengah berdiri didepannya itu.
"Anda sendiri Nona? Rara tak bersama anda?" Akhirnya Ken mengutarakan juga dengan apa yang sejak tadi ingin dia tanyakan.
__ADS_1
"Kau sudah sangat rindu?" Tanya Andini
Pria itu menggangguk. "Iya Nona aku sangat rindu dia. Bukankah anak perempuan dia akan menjadi milik ayahnya seutuhnya."
"Iya, mungkin karena itu Arsen juga ingin seorang anak perempuan. Dia ...jika kau tahu kau pasti akan tertawa." Andini tersenyum mengingat malam konyol waktu itu. Dirinya yang lagi masuk angin bisa bisanya berfikir kalau sedang hamil. Dan Arsena dengan semangat membelikan bermacam-macam tespek.
"Ken sebelumnya aku minta maaf, aku ingin memberi tahu kalau sekarang Rara tak bersamaku lagi karena_"
"Pasti karena anak seorang penghianat? Lalu Rara dengan siapa Nona dimana dia sekarang. Rara anakku malang sekali nasibmu." Semburat kekecewaan terpancar jelas di wajah Ken. Ingin marahi Andini? Tak mungkin Andini bukan seorang pengasuh anaknya.
"Salah satunya mungkin karena itu, aku sungguh ingin putri cantik nan lucu itu bersamaku selalu. Tapi aku tak bisa membagi cinta lagi."
"Lalu sekarang dia dengan siapa Nona? Apa dia baik baik saja. Awalnya aku sudah tenang mengira kalau Rara masih berada dalam dekapan orang baik seperti anda. Tapi kabar yang Anda berikan saat ini sungguh membuat saya terpukul Nona."
"Cepat katakan padaku dengan siapa dia sekarang? Apa dia masih bersama orang yang baik. Katakan!!"
"Aku meminta tolong sahabatku, Vanya. Aku menitipkan pada dia sampai kau keluar dari Pondok Rutan ini."
"Vanya, nama itu aku seperti pernah mendengarnya?" Ken mengingat nama yang tak asing di telinganya itu.
"Iya, dia seorang dokter bedah di sebuah rumah sakit milik keluarga Atmaja. Lebih tepatnya dia juga sahabatku. Aku percayakan Rara sementara waktu bersamanya."terang Andini
Ken mendengarkan penjelasan Andini dengan kepalanya manggut-manggut. Rupanya dia telah salah sangka. Andini tak membiarkan putrinya terabaikan.
******* pesan terdengar dari bibir Ken. " Maafkan aku nona, aku tadi sempat berpikir kalau Rara anakku berada di tangan orang yang salah.
" Kamu sempat berfikir seperti itu tadi?" Andini tersenyum. " Ken kamu tak percaya sekali padaku."
Tring! Ponsel Andini berdering satu kali rupanya pesan suara dari Vanya.
__ADS_1
" Andini aku terlambat, biasa macet!"
Andini membalas pesan suara dari Vanya.
"Ya kamu masuk sekarang. Aku sudah menunggu di dalam."
Tak lama sosok wanita cantik memakai celana panjang berwarna putih bersih dengan tangtop warna hitam dilapisi blazer warna putih pula. Rambutnya panjangnya diikat tinggi datang dari arah pintu masuk. Dan di belakangnya ada seorang pengasuh yang usianya sekitar setengah abad masuk mendekat ke arah Andini.
" Kau sangat terlambat dokter, bagaimana jika yang menunggumu adalah seorang pasien yang sedang gawat darurat."
Vanya hanya bisa tersenyum. " Maaf maaf nyonya Arsena Atmaja. Tadi sudah mau berangkat tapi si kecil buang puff dan terpaksa aku harus mengganti popoknya dulu.
" Wah benar-benar belajar jadi mama muda nie! Tapi sayang papa mudanya belum ada."
"Sttt malu di dengar orang banyak orang."Vanya menyentuhkan telunjuknya ke bibirnya.
"Oh iya tadi katanya mau ketemu dengan ayah si kecil." Tanya Vanya sambil celingukan menatap para Napi yang sekarang fokus melihat dua wanita cantik di depannya.
Sejak Vanya datang tadi Ken hampir tak berkedip memandanginya. Wanita itu menarik untuk ia lihat, benarkah dia wanita yang sama? Jika iya Kenapa mendadak dunia menjadi sempit? Benarkah dia Vanya perempuan yang menjadi adik kelasnya, dicintai Kendra waktu masih di putih abu-abu?
"Vanya Harto Kusumo? apakah itu dirimu."
" Kendra kau !"
" Vanya !"
"Telunjuk mereka saling menunjuk . Andini hanya bisa melongo. Kendra, Vanya. Ternyata mereka sudah pernah saling bertemu bahkan Andini curiga kalau mereka memiliki kisah masalalu yang terpendam.
* happy reading.
__ADS_1