
Ceklek!
Arini melihat Davit yang kekeuh mau berangkat kerja, Dia lega akhirnya suaminya kembali. Meletakkan tasnya di atas meja kerjanya.
Bukan karena gila kerja, tapi dia baru beberapa hari menduduki kursi direktur keuangan di kantor cabang itu. Namun, Davit bersyukur, kali ini yang mengizinkan libur malah big bos sendirian.
"Kak, lama banget di luarnya." Arini menoleh ke arah samping, mengamati gerak gerik suaminya.
"Iya, kan kakak anggota keluarga baru, jadi sempat kena bulying tadi."Davit kembali tersenyum. "Gara gara ini? terkena kuku macan." Davit menunjukkan lehernya.
" Macamnya Arini kan? istri cantik dibilang macan?" Sungut Arini.
"Kok masih tidur aja, nggak mandi?" Davit mendekati istrinya dan duduk di pinggir ranjang, menyibak rambut Arini yang berantakan. Arini beringsut dari tidurnya, kini dia duduk sambil menjadikan selimut untuk penutup tubuhnya.
Davit menatap wajah alami istrinya, lalu tersenyum. "Nggak mungkin kan nggak mandi, terus sarapan?"
"Arini nggak bisa jalan Kak, sumpah rasanya ngilu banget. Perut Arini terasa kram."
"Bilang dong sejak tadi, kakak akan bantuin lagi ke kamar mandi seperti semalam."
"Boleh. Gini banget ya jadi pengantin baru, aku jadi kayak orang sakit, kemana mana harus dibantuin." Arini mengerucutkan bibirnya.
"Cuma sementara waktu aja, nanti kalau dah biasa udah nggak akan sakit lagi, enakan malahan." Davit tersenyum nakal.
Arinipun sama, pipinya bersemu merah. Bohong banget, kalau dia sebenarnya hanya merasakan sakit tak ada yang lainnya.
Davit mengulurkan lengannya, Arini meraih uluran tangan Davit, lalu kakinya meraba lantai mencari alas kaki, setelah itu Davit mengangkatnya.
" Bobot tubuh berapa kilo sih, aku kayak gendong kapas gini."
"Ngehina aja sukanya. Ini bobot ideal aku, Kak. Aku mati matian pertahanan bobot segini, aku nggak mau dibilang gendut."ujar Arini masih di gendongan Davit. "Emang kenapa? Nggak sukan punya istri seksi."
Terlalu seksi, kakak jadi takut, banyak banget pria yang tergoda oleh lekuk yang mirip gitar spanyol ini. Arini tertawa, awalnya ngehina, ujung ujungnya takut kehilangan.
"Sure, because of that?" Tanya Arini dengan hati berbunga bunga dengan pujian suaminya.
"Sure." Davit mengangguk mantap
"Do not worry. Just love you." ujar Arini lagi.
"Thanks you." ujung-ujungnya berakhir juga dengan kecupan.
Davit menurunkan Arini di bawah shower yang sudah ia nyalakan lebih dulu. Rasanya dia tak ingin kemana mana untuk beberapa hari ini selain menghabiskan waktu berdua saja.
Davit mulai membantu Arini mengambilkan sabun cair dan sponge. "Aku akan membantu."
"Kakak keluar saja, aku malu." Arini menutup aset berharga dengan kedua tangannya.
"Bajuku sudah basah, aku akan mandi sekalian." Davit keras kepala.
__ADS_1
Arini mengalah, dia biarkan Davit melakukan yang diinginkan, sesekali Davit bertingkah nakal, dia tak mau menyia nyiakan kesempatan dengan mengecup puncak fujiyama yang menjulang indah di depannya.
Arini yang mendapat sentuhan hangat dari Davit dia telah terbawa suasana, sekali lagi tubuhnya telah dibuat melayang layang.
Suara gemericik air kini telah dikalahkan oleh suara Arini yang menggema. Andaikan tanpa sengaja ada yang masuk kamar itu, Pasti dia akan lari kalang kabut karena malu pada dirinya sendiri dan merutuki nasib buruknya di pagi ini.
"Bagaimana?"
"Apa?"
"Masih sakit nggak?" tanya Davit kala jemarinya bermain main di aset berharga milik Arini.
Arini tersenyum, bukannya menjawab tapi justru dia memeluk Davit dan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.
Davit tau jawaban Arini, andaikan dia kesakitan pasti akan jujur bilang dengan apa yang ia rasakan.
Tok! tok! tok!
Arini dan Davit terpaksa melepaskan pagutannya, hatinya bertanya tanya siapa gerangan yang mengganggu aktifitas sakralnya. "Siapa?!"
Davit dan Arini saling pandang. Doa berbicara hampir bersamaan. Sepertinya orang yang ada di luar itu tak mendengarnya.
"Entahlah," Davit dan Arini segera membasuh tubuhnya dengan derasnya air yang terus mengalir dari lubang yang ada di langit langit kamar mandi
Davit sesekali mengibaskan rambutnya, dan disaat itu pula Arini terpana dengan keindahan pahatan tubuh sang suami. Dia satu-satunya pria yang benar-benar membuat dirinya takhluk. Menikah cepat dengan Davit sepertinya pilihan yang benar untuk Arini.
Ketukan pintu tak kunjung reda bahkan teriakan mama dari luar semakin kencang.
"Mama Kak."
"Ada apa kira kira?"
"Nggak tahu, kita buruan aja mandinya."
Arini sempat melihat kekecewaan di wajah David, dia sendiri sebenarnya juga kecewa. Kenapa juga Mama pake ketuk pintu, nggak tau anaknya lagi bercocok tanam apa.
Davit dan Arini segera memakai bathrobe tanpa ada yang lainnya lagi, yang penting bisa menghentikan Mama yang sejak tadi terus mengetuk pintu.
Arini membuka pintu lebih dulu, tentu dengan wajahnya yang terlihat cemberut. "Ma ada apa kok ketuk pintu sampe segitunya?"
"Kalian lagi di kamar mandi ya? Kok pada pakai ginian, maaf mama ganggu, please maafin mama sayang. Honeymoonnya dilanjutin nanti aja ya, Zara sama Dara perutnya katanya pada sakit, dan mereka pasti mau melahirkan."
"Melahirkan?" Arini dan Davit saling berpandangan.
"Iya, bisa nggak Davit antarin mereka berdua, soalnya suaminya pada panik mau punya bayi, mama takut dia nggak fokus nyetir nya? Bisa ya tolongin, Vit?"
"Bisa Ma, bisa Kok. Davit akan buru buru ganti baju."
"Aku ikut!"
__ADS_1
"Cuma bentar Arini, kamu nggak usah ikut." Mama melarangnya.
"Ah Mama, pokoknya aku ikut Kak Davit. Arini menutup pintunya dan buru buru ganti baju sedangkan Davit segera mencari bajunya yang masih ada di koper, karena Arini belum sempat menatanya.
"Yang, kalau bisa kamu di rumah aja, aku khawatir lihat orang kesakitan saat mau melahirkan nanti kamu takut lagi kalau mau punya anak sendiri."
"Nggak Kak, Arini sudah pernah lihat mbak Andini melahirkan Excello waktu itu."
"Okelah."
"Harusnya kakak senang Arini ikut. Istrinya selalu setia menemani disampingnya," mengerucutkan bibirnya.
"Iya iya sudah diajak Kok, masih cemberut, cium dikit sini." Davit menarik pipi Arini yang memalingkan muka darinya.
Ia mengecup sebentar bibir dan pipi istrinya. Arini kembali tersenyum. Dia segera membantu Davit memakai hem, setelah Davit memakai sendiri singlet warna putih yang selalu ia gunakan.
Sedangkan Arini sendiri dia memakai blouse tanpa lengan, dengan panjang selutut dilapisi dengan outer.
"Yang kamu yakin udah bisa jalan." Tanya Davit.
"Ya gendong kakak lah, sebenarnya bisa sih pelan pelan, tapi pengan aja kemana mana di gendong."
Davit akhirnya memutuskan terlebih dulu menggendong Arini masuk ke mobil. Mama yang melihat hal konyol itu jadi bingung.
"Vit, yang melahirkan Zara dan Dara, dia masih ada dikamarnya bersama suami masing masing, kenapa kamu malah gendong Arini?" Mama bertanya seperti tak tahu gimana kolokannya tuan putri kalau dengan suaminya.
"Iya Ma, Arini mau ikut."
'Ya Tuhan Arini, nggak tau orang lagi buru huru apa? malah bikin ribet.'Bocah benget."
Amert! Miko! cepat bawa istri kalian keluar Davit sudah siap.
"Mam, ada apa kok teriak teriak?" Johan yang baru pulang dari luar kota bersama kita langsung mengecup pipi Rena sebelah kanan dan kiri.
" Ma, Arini kenapa kok di gendong Davit ke mobil? Apa dia sakit? Gila banget tu menantu, pasti nggak hati hati." gerutu Johan.
"Papa ini buruk sangka aja, Zara dan Amert mau ngelahirin." Rena menjelaskan.
"Lha itu Arini kenapa?"
Kayak nggak tau aja Davit aku suruh antarin Miko dan Amert dan istri istri mereka, tapi Arini ikut, padahal dia baiknya istirahat aja di rumah.
"Oh gitu to masalahnya, kalau gitu ya bagus donk, biarin aja. Itu bagus banget malahan, kemana mana selalu berdua.
Rena cuma mendesah kesal, Bicara dengan Suaminya yang tak mengerti maksud ucapannya sepertinya percuma.
Miko dengan buru buru membawa Dara ke mobil, Satu menit kemudian disusul oleh Amert yang menggendong Zara. Davit membantu memegangi pintu mobil, agar tak tertutup dengan sendirinya. Sedangkan Arini sudah stanby di depan, yang nantinya akan duduk di dekat suaminya.
Sedangkan Mita yang beberapa hari memilih tinggal di butik karena banyak job, segera dikabari oleh Rena, kalau menantunya akan melahirkan
__ADS_1
.
Davit dengan buru buru membawa para wanita yang hendak bersalin ke rumah sakit dimana Andini dulu melahirkan Excello.