Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 160. Bayi bayi yang sehat.


__ADS_3

Tirai ruang bersalon telah ditutup, Arsena dan yang lainnya tidak bisa lagi melihat Andini. Arsena sangat kecewa. Dia segera berlari menghampiri suster yang kebetulan mengambil alat yang dibutuhkan.


"Suster, bisa saya menemani istri saya di dalam, saya tidak ingin dia berjuang sendirian, saya ingin menemani dia disisinya, Suster." Mohon Arsena.


Sosok Arsena hari ini seperti kehilangan wibawanya didepan seorang para pelayan rumah sakit. Dia sangat menginginkan disisi Sang Istri.


"Hanya satu orang ya Tuan, yaitu suaminya, karena jika terlalu banyak yang masuk akan sangat mengganggu kami menangani Nona yang hendak bersalin."


"Iya, Sus hanya saya yang akan masuk." Kata Arsena terlihat lega, telah diizinkan masuk. Didalam sudah ada Namira, yang menyambut kedatangan Arsena dengan senyum. Sayang senyum itu tak sempat dibalas oleh Arsena. Pria itu hanya khawatir pada Andini saja.


"Sayang, apa kamu yakin akan kuat melahirkan dua bayi? Kenapa tidak caesar saja," ujar Arsena yang panik melebihi kepanikan Andini.


"Jika cara melahirkan normal masih bisa kenapa aku harus caesar, Ars." Andini menggenggam erat tangan suaminya. Sesekali dia meringis menahan sakit. mencium tangan Arsena dengan lembut.


Arsena mengecup kening Andini, dia memberi semangat pada Andini sebisanya.


Keletup! Andini terkejut ada cairan hangat telah pecah, terasa merembes hingga membasahi seluruh paha dan bokong. Andini sudah tau itu pasti air ketubannya telah pecah.


Namira mendekat dan berdiri tepat disebelah Arsena. "Wah ,ketubannya sudah pecah, Dr Andini saya cek lagi ya, sudah pembukaan berapa?"


"Silakan Mir, tolong Mir jangan buat Andini merasakan sakitnya terlalu lama." Mira hanya tersenyum, Dia memakai sarung tangan, dia mulai memeriksa pebukaan yang sudah di lalui oleh Andini.


Arsena terus saja mengelap keringat Andini tangannya menggenggam erat. sesekali mencium keningnya, Andini merasa tenang Ada Arsena di sebelahnya.


"Bagus sekali, sudah ada kemajuan, pembukaannya hampir sempurna," ujar Namira.


-


-


"Aaaaa." Andini reflek mengejan ia menggigit bibirnya bawahnya hingga terasa berdarah.


"Ayo, Dr Andini, mengejan lagi." Namira membimbing dengan sabar.


"Aaaaa. Huh ... Huh "


"Sekarang kita coba dengan posisi miring, dan mengejan lagi pelan pelan." kata Namira lagi.


Arsena membantu memiringkan tubuh Andini, bersama dengan Namira. Arsena terus saja merapalkan do' a yang ia bisa.


"Sayang, kuat ya?" Jemari Arsena terasa dingin, ada bahagia. Namun, juga kkawatir. Arsena ingin keduanya selamat.


"Sakit. Ars." Kata Andini lirih dengan mata berkaca kaca sambil memperkuat cengkeramannya pada lengan Arsena.


"Dorong lagi Dr. Andini. Sedikit lagi." Namira terus saja membimbing. Andini melewati step demi tsep prosesi persalinan.


"Minum, Ars, tolong ambilkan minum biar lebih bertenaga."


Arsena memberi minum Andini yang terlihat memucat. Andini meneguk segelas air hingga tandas.


Namira kembali mengecek jalan lahir lagi, tinggal dua pembukaan lagi bayi sehat itu akan lahir.


"Sekarang kembali terlentang, Ayo semangat mengejan lagi Dr, Andini."


Arsena mengelus elus perut Andini, memeluk tubuhnya dengan erat. Andini terus saja mengejan, sakit yang awalnya masih berselang waktu, kini terasa tanpa jeda.

__ADS_1


"Aaaaaa huh ... hu ... hu ... hu ... Aaaaaa."


"Oek oek oek."


Andini mengambil nafas lega. begitu juga Arsena.


Bayi mungil telah lahir. Bayinya sungguh mirip dengan Arsena. Bahkan terlihat seperti foto kopinya.


"Syukurlah satu bayinya telah lahir. Ars, bayi pertamamu laki laki, apa kau ingin melihat putramu." Namira menggendong bayi kecil yang sangat bersinar itu. Bayi yang dulu pernah tak diinginkan oleh neneknya.


Tubuh Arsena yang masih gemetar segera bangkit dari duduknya. Dia melihat putranya, memastikan kalau tak kurang satu apapun. "Putraku, kau mirip sekali denganku."


"Putramu takut kau tak mengakuinya." canda Namira.


"Tentu tak akan pernah terjadi Namira. Mirip atau tidak, aku tetap akan sangat menyayangi dia." Arsena belum diizinkan menggendong bayinya sikecil harus dibersihkan terlebih dahulu.


"Suster tolong bawa bayinya, bersihkan dia, dan bawa di ekubator yang sudah disiapkan."


"Namira segera menyerahkan pada perawat yang sejak tadi sudah siaga di sebelah Dokter Namira."


"Nafas Andini terengah engah. Belum juga beristirahat setelah berjuang melahirkan bayi pertamanya, kini perutnya kembali bergejolak. Kali ini sakitnya lebih luar biasa daripada tadi.


"Ars, sepertinya bayi kedua kita juga akan lahir. Dia sudah ingin keluar lagi kata Andini dengan lirih. Tubuhnya masih lemah.


"Ars aku tak kuat lagi. Jika aku pergi untuk selamanya, tolong jaga anak kita baik-baik." pesan Andini dengan netra berkabut.


"Andini apa yang kamu katakan, ini sudah pilihan yang kau inginkan, melahirkan normal, kau harus kuat. Kamu pasti kuat Andini, kamu pasti bisa, bukankah ini impianmu, hidup bahagia dengan anak-anak kita


"Tapi Ars, aku sudah letih. Aku ingin tidur."


"Nona Andini ayo mengejan lagi seperti tadi, Arsena bantu istrimu dengan do'a juga."


"Iya Mir," ujarnya dengan suara tercekat.


Arsena kini memposisikan diri diatas kepala Andini, dia membiarkan Andini mencakar lehernya, bahkan menjambak rambutnya ataupun menggigit lengannya. Arsena rela menjadi pelampiasan Andini. Yang mulai mengerang kesakitan.


"Namira, bagaimana ini? Andini bkehilangan banyak tenaga. Apa dia akan kuat mengejan sekali lagi?"


"Tenang Ars, aku sudah memberi suntikan pendorong, kita bantu dan beri semangat Andini lagi. do,a tetap."


------


Oma terlihat tak sabar, dia terus mengetuk pintu. Daripada mengganggu Namira akhirnya membukakan pintu.


"Dokter saya, Oma dari mereka berdua, saya ingin menemani cucu saya."


Namira mengangguk, "masuklah Oma siapa tahu dengan Oma ada didalam Andini makin bersemangat melahirkan bayi keduanya."


Saat Oma diizinkan masuk, ternyata semua anggota keluarga wanita ikut masuk. Termasuk Rena, Mita, Ana, Arini Zara dan Dara. Sedangkan para pria hanya bisa menunggu di luar.


"Lhoh kenapa kok banyak sekali, yang masuk. Oma!" Namira tersenyum pada Oma yang sengaja mengerjainya.


"Dokter jika Oma boleh masuk, kita semua juga boleh, siapa tahu Mbak Andini juga membutuhkan kita semua." kata Zara mewakili semuanya.


"Betuuul," ucap mereka serempak.

__ADS_1


.


"Baiklah sekarang kalian boleh menunggu Dr Andini menghadapi persalinan keduanya. Tapi harus janji jangan membuat kegaduhan." Kata Namira sambil menggelengkan kepala setelah mereka mengerumuni Andini.


Mbak, Andini ayo semangat, kita semua ada disini Mbak."


"Makasi Zara, Mama, Ibuk, Dara," kalian sudah datang," ucap Andini disela sela nafasnya yang masih memburu.


"Sepertinya bayinya mau keluar juga ... aaaa." Andini kembali mengerang, satu cabikan kembali mendarat di leher Arsena.


"Kak, Arsen." Dara terkejut melihat Arsena yang terlihat pasrah dianiaya oleh kakaknya. Dara menahan senyumnya. Bisa bisanya pria sedingin Arsena tunduk di depan Andini.


" Lagi, Andini! Semangat! Ayo dorong lagi." Mama Rena ikut bersemangat menirukan Namira yang sedang memberi intruksi.


"Iya Mam." Andini mengangguk.


"Aaaaaaa ..." Andini mengejan sekuat kuatnya.


"Oe oe oe ..." Bayi kedua menangisnya lebih kencang daripada yang pertama. Andini sudah berhasil melahirkan kedua bayinya yang sehat sehat.


Tiba-tiba pandangan Andini gelap, dan pegangannya pada leher suaminya melemah.


"Sayang ... sayang ! Andiniiii !!" Arsena histeris melihat Andini lemah lunglai.


"Andini bangun Nak, bangun sayang." Ana ikut histeris melihat mata Andini terus terpejam.


"Dokter, kenapa anak saya tak bergerak. Andini bangun Nak, hu hu hu ..." Ana tergugu. mendengar istrinya menangis Doni segera membawanya keluar ruangan.


.


Arsena menepuk pipi Andini pelan hingga berulang kali. sayang bangun sayang lihatlah bayi kita yang lucu-lucu, kita juga belum memberinya nama. Sayang bangun. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak."


Namira, kenapa Andiniku diam saja, kenapa dia tak mendengar aku bicara.


Namira segera memerintahkan suster untuk membawa bayi yang satunya lagi ke kamar bayi. Setelah dibersihkan suster memakaikan kain empuk dan menaruhnya di ekubator.


Dua bayi mungil berada dalam ekubator yang berdampingan mereka terlihat menjulurkan lidahnya karena haus.


"Oek oek oek." Suara mereka dari dalam ekubator.


-


Arsena masih tergugu di sebelah Andini, dia tak ingin Andini pergi. Membayangkan saja Arsena tak sanggup.


" Bangun Sayang, bangun, aku mohon ... Jangan tinggalkan aku dan anak anak kita."


"Perawat, tolong mereka semua suruh keluar, Arsena tolong keluarlah, kami harus segera menangani Andini sebelum terlambat. Biarkan kami bekerja." Namira menangkupkan kedua tangannya pada semua orang memohon pengertiannya.


"Tidak mau!! Aku ingin disini dengan Andini. Siapa kamu bisa memisahkan kami!!" Arsena menatap nyalang pada Namira. Kau pasti sengaja membuat dia seperti ini Mira. Kau tak suka aku melihat dia bahagia."


Tidak Ars, sungguh. Suster tolong panggil satpam untuk membawa Arsena keluar, jika dia terus keras kepala, akan bahaya bagi Dr. Andini yang tidur terlalu lama.


.


"Baik Dr, Mira." Perawat segera berjalan setengah berlari menelepon security di ruang jaga. untuk mengamankan Arsena, sementara waktu.

__ADS_1


Sedangkan Arsena tetap keras kepala ingin di samping Andini.


__ADS_2