Menikahi Gadis Pilihan Papa

Menikahi Gadis Pilihan Papa
Part 31. Tergoda.


__ADS_3

Tiga hari ini Miko merasa kesepian tanpa Andini, biasanya selalu bertemu setiap hari walau sebentar, Gadis bermata indah itu makin hari makin sulit untuk dilupakan.


Senyum Andini sering kali menghiasi mimpinya kala tidur.


Miko tak puas hanya mengirim pesan. Namun ia harus bersabar untuk sementara waktu. Bagaimanapun Andini masih istri sah kakaknya.


Miko tak mau disebut sebagai Pebinor, perebut Istri orang seperti yang selalu diucapkan Arsena untuk ibunya. Padahal cerita sebenarnya tak seperti itu.


******


"Andini!


Suara Arsena dari luar pintu.


"Ada apa, Ars." Andini segera menghampiri pintu dan membukakan untuk Arsena.


"Kamu nggak pengen ajak aku jalan-jalan pake motor barumu itu, baru datang sebaiknya dicoba dulu. Barang kali ada masalah pada onderdilnya?"


"Emang mau jalan-jalan kemana Ars?" Kata Andini malas karena ia memang mulai mengantuk.


"Ini masih sore, ayo kita jalan-jalan ke mana aja, yang penting jalan."


Karena Arsena memaksa Andini tak bisa menolaknya. Arsena menyalakan motor baru yang dikira pembelian dari papanya, Andini pun segera duduk di boncengannya dan menyerahkan helm kura- kura untuk Arsena dan satu untuk dipakai sendiri.


Arsena dan Andini kini berboncengan naik Motor warna merah itu. Ia terlihat begitu serasi. Sayang sekali Andini tak mau berpegangan, ia lebih memilih melipat tangannya di perutnya sendiri.


"Kok aku seperti sedang membonceng beras sekarung ya?" Kata Arsena ketika ia sampai di jalan raya yang ramah oleh kendaraan besar. Jalanan hanya dilaui oleh motor dan mobil kecil- kecil saja.


"Apa Ars, nggak dengar?" Andini merapatkan kepalanya pada pundak Arsena berharap bisa mendengar jelas ucapan pria itu


"Seperti lagi bonceng beras sekarung!!" Arsena mengulangi kalimatnya.


"Berat ya?" Andini masih tak mengerti maunya Arsena.


"Nggak, takut kamu akan jatuh aja."Arsena memainkan remnya.


Andini pelan pelan kini menggerakkan jemarinya memberanikan diri menggenggam ujung kaos Arsena.


"Kalau motor baru, biasanya mencobanya harus agak kencang." Arsena mulai memainkan tangan kanannya membuat kecepatan sepeda menjadi tak stabil.


"Ars, kamu bisa naik motor nggak sih?" Andini mulai kesal dengan Arsena yang sengaja memainkan gas motornya. Bukan apa-apa Dia pernah jatuh waktu masih kecil saat di bonceng papa ke sekolah, dan kejadian itu masih membuatnya trauma.


"Makanya pegangan. Aku suamimu, pegangan aja nggak dilarang , Ndin." Andini berlahan menyentuhkan telapaknya ke pinggang Arsena. Arsena yang merasakan tangan Andini di pinggangnya segera menarik hingga melingkar di tubuhnya.


Sekarang posisi Andini melingkarkan kedua lengan di pinggang Arsena, mereka sekarang terlihat layaknya sepasang suami istri normal, yang berpegangan ketika berboncengan.


Andini bisa menghirup aroma wangi dari rambut pria itu, memberi sensasi fress pada Indra penciumannya. Andini berlahan merebahkan bobot kepalanya di punggung Arsena.


Arsena juga bisa merasakan semua itu, ada sesuatu yang berbeda dirasakan Arsena saat bersama Andini malam ini. Mencoba sepeda motor baru pembelian Papa. Begitu yang ia tahu. Tanpa berfikir ke arah Miko sama sekali.


"Sebenarnya tujuan kita kemana Ars. Ini udah malam banget lho" gara gara mengantuk Andini jadi kurang menikmati, ia sudah menguap berulang kali sejak berangkat tadi.


"Kemana aja yang penting kita jalan-jalan. Aku dan kamu bisa senang-senang malam ini."


"Jalan itu pake kaki Ars, bukan pake motor." Andini menjawab dengan asal kalimat terakhir Arsena


"Oke, kamu mau kita jalan kemana?"


"Kesana saja," Andini menunjuk pada sebuah hiburan malam.


Arsena melihat kearah wahana dengan banyak permainan remaja dan anak-anak. Arsena kini menepikan motor pada ruang parkir yang masih kosong.


"Kokk tumben sih malam minggu kamu nggak keluar sama pacar kamu itu." Tanya Andini


"Dia lagi ke LN semalam, sibuk."


"Oh,"


"Benar kita mau masuk ke sana?" Tanya Arsena nggak yakin.


"Iya lah, kemana lagi." Andini sudah sering masuk pada tempat hiburan seperti ini, ketika dikampungnya. Semenjak di kota ia tak pernah lagi, seperti ada kerinduan tersendiri bagi Andini.


"Apa asyiknya permainan di tempat kumuh seperti ini?"Terpaksa Arsena mengikutinya kemauan Andini yang memang tak berkelas ini, kalau sama Lili pasti mintanya ke Mall, restaurant Turki dan tempat mewah lainnya

__ADS_1


"Lili nggak ada ya, Pantesan kamu ajak aku jalan -jalan, kalau dia di rumah pasti kita nggak akan jalan bareng seperti sekarang ini."


"Pagi tadi ia berangkat lagi, seharusnya aku antar dia kebandara tapi aku sibuk." Kata Arsena sedikit ada penyesalan. "Semalam minta dinner, tapi aku sedang di rumah ibu, sama kamu."


Andini mengangguk, wajahnya juga ikut berubah sedih, sedihnya karena Arsena tak pernah berubah, ia tetap menomor satukan Lili. "Pagi kita masih di rumah ibu. gara gara aku bangun kesiangan kamu nggak bisa anter pacar kamu," sesal Andini.


Udah nggak apa-apa santai aja, Ndin." Arsena mengalungkan lengannya di pundak Andini.


"Lihat Ars, itu ada penjual makanan faforitku kita kesana sebentar ya." Andini menunjuk pada penjual sosis goreng jumbo.


"Mbak, beli sosisnya dua."


" Iya Neng," Dibalas anggukan dari penjual sosis. Sekilas terlihat penjual sosis itu melirik lagi ke arah Arsena. Memastikan yang di depannya itu benar benar seorang manusia.


Andini pun menyadari kalau penjual itu diam-diam memperhatikan Arsena, Andini kini malah ikut menoleh memperhatikan suaminya sesaat.


"Dia memang tampan, masa aku yang terlalu jelek saat bersamanya, hingga kau melirik dia terus." rikir Andini.


Tak lama penjual itu mengulurkan dua buah sosis yang siap santap.


"Sudah matang Ars, ini kamu satu dan aku satu."


Arsena melihat bentuk dan ukuran sosis itu ia jadi geli akan memakannya.


"Kenapa nggak dimakan Ars. Lihat aku memakannya seperti ini." Andini menggigit ujungnya dengan ekspresi nikmat.


"Nggak,ah ini buat kamu aja dua duanya."


Andini tau, Arsena pasti tak mau makan sembarangan, itulah sebabnya mengapa dia menolak sosis itu dari Andini. Andini yang memang doyan ia tak keberatan menghabiskan dua buah makanan panjang itu.


Selesai makan sosis mereka berkeliling kembali, Ardini melihat banyak orang sedang mengerubuti penjual pernak-pernik. Kita kesana yuk?


Dengan wajah yang berbinar Andini menyeret lengan Arsena ikut bergerombol dengan banyak orang. Ikut penasaran dengan barang apa yang sedang diminati banyak orang itu."


"Obral ! Obral ! Seratus dapat dua! Seratus dapat dua! Buat kenang kenangan, dan cindera mata."


"Wah gelang-gelang yang cantik." Andini terperanjat melihat gelang unik itu, ada yang dijual berpasangan dan ada juga yang dijual terpisah.


Andini menyentuh sesaat lalu mengajak Arsena pergi.


"Nggak, aku tak menginginkannya." Andini tak mau boros menggunakan ATM yang diberikan Sena untuk sembarangan, ditambah lagi ia akan wisuda. Jadi sekecil apapun uang yang dimiliki akan sangat berharga.


Arsena menarik lengan Andini balik, menuju kepada penjual. "Pak, tolong beli yang ini." Arsena menunjuk yang tadi disentuh Andini.


"Ars nggak usah,"


"Kenapa? Bukannya kamu tadi sangat menginginkannya."


Penjual membungkusnya dalam kantong kresek lalu menyerahkan pada Andini


"Ars kenapa kamu beli dua, apa kamu mau memakainya satu? Sini aku pakaikan."


Belum mendapat persetujuan Andini sudah meraih tangan Arsena yang ditelusupkan di balik kantong celana.


Andini melingkarkan gelang mainan itu pada lengan Arsena dan Andini juga memakainya untuk dirinya sendiri. " Karena kamu belinya dua, kamu harus pakai satu. Bagus kan."


"Hmm ...bagus apanya?" Arsena mengamati lengannya, disitu juga melingkar Arloji mahal "ini buruk sekali."


"Udah pakai aja." Kata Andini lagi sambil tersenyum mengamati lengan Arsena.


"Yuk pulang?" Kini Arsena giliran mengajak pulang. Tempat seperti ini sangat membosankan baginya.


"Bentaran dikit ya, setelah naik permainan itu kita pulang." Andini menunjuk pada bianglala yang sejak tadi selalu penuh.


"Tadi aja bilang ngantuk." Kata Arsena beralasan, padahal ia malas antri karcis.


Karena Andini terus mendesaknya Akhirnya pria itu memesan dua karcis untuk naik permainan berputar keatas itu.


Andini dan Arsena kini memilih naik Bianglala. Dalam satu tempat. Duduk berhadapan dan ada musik di dalamnya membuat suasana romantis.


Arsena melihat wajah Andini terlihat sangat tegang "Ndin, kamu belum pernah naik beginian."


"Belum aku takut pada ketinggian, tapi hari ini ada kamu disini, jadi aku beranikan diri." Kata Andini mengakui semuanya.

__ADS_1


"Ya udah kamu tenang jangan lihat kebawah lihatin aku saja." Kata Arsena, sambil menggenggam tangan Andini yang mengeluarkan keringat dingin.


"Ars aku takut." Andini reflek menutup wajahnya. Saat posisi bianglala mulai berputar dan tubuhnya berguncang.


Arsena dengan sigap meraih tubuh Andini dan memeluknya. Dada pria itu bergetar, sepertinya ia sedang menertawakan Andini yang konyol."Kau benar- benar takut ya? Tubuhmu dingin sekali."


"He,em." Andini mengangguk dalam dekapan Arsena.


Arsena kini melihat ke bawah banyak sekali orang dibawahnya berteriak teriak ke arah biang Lala yang sedang ada dirinya di dalamnya.


Arsena baru menyadari ternyata permainan yang sedang ia naiki terjebak macet. Dan posisi Andini bersama Arsena ada di tempat paling atas.


"Ars, aku takut,"


"Tenang ada aku Andini, aku akan menemanimu." Arsena mendekap erat tubuh Andini, telapak tangannya menepuk punggung Andini pelan pelan.


Mereka berdua terjebak mecet dalam bianglala itu hingga tiga puluh menit.


Andini yang taku, masih diposisi semula menempelkan kepalanya di dada Arsena.


"Andini sampai kapan kau akan seperti ini?"


Arsena yang sejak tadi pisangnya sudah tegang karena Andini memeluknya begitu erat mengguncang tubuh Andini pelan.


Dua buah kenyal dan kencang itu menempel pada dada sixpacxnya hingga membuat tubuhnya panas dingin beberapa kali ia hanya bisa meneguk salivanya


"Apa yang baru kamu katakan Ars? Maaf aku ketiduran." Andini menjauhkan kepalanya dari dada Arsena.


"Kita turun sekarang, bianglala sudah tak macet lagi!"


Arsena melangkah turun lebih dulu dan mengulurkan tangannya ke arah Andini. Gadis itu menyambut uluran tangan Arsena dan melompat dengan hati-hati.


Arsena menangkap tubuh Andini dengan sigap, hingga Andini kembali jatuh di pelukannya.


"Auhhh ..." Ketika bibir Arsena membentur kening Andini. Saat melompat.


"Maaf, maaf, aku nggak sengaja." Andini mengelus bibir Arsena yang berdarah.


"Bibir kamu berdarah. Kok sensitif ya."


"Iyalah, kening kamu mendarat disini, coba bibir kamu yang jatuh disini, pasti nggak sesakit ini. Pasti jadinya enak"


"Enak dikamu donk, rugi di aku." Kata Andini sambil berjalan pulang dan tangan tetap bertautan.


"Kok bisa, apa nggak sama enaknya?"


"Bisa, aku belum pernah berciuman, dan kamu udah sering "


"Mau aku cium? Biar tau rasanya."


"Nggak mau. Kamu miliknya Lili"


Andini dan Arsena sudah sampai di tempat motornya bertengger. Obrolan kecil masih terus saja berlanjut.


"Aku juga milikmu." Kata Arsena sambil menarik lengan Andini kepelukan saat ia sudah standby di boncengan. Hawa dingin dan ngantuk yang mempengaruhi mereka hingga berbicara ngelantur.


Andini dan Arsena malam ini pulang dari tempat hiburan hingga jam dua belas malam.


Mereka berdua berjalan terseok seok menuju kamar karena ngantuk.


Sampai dibelokan tangga Arsena meraih tangan Andini agar berhenti. Cahaya lampu temaram membuat bayangan mereka tak terlihat.


"Ndin benar kamu belum pernah berciuman?" Kata Sena yang suaranya mulai serak.


Andini menggeleng.


"Emang kenapa?" Andini kaget Arsena menyudutkan tubuhnya di dinding.


Pria itu semakin mendekat, hingga tubuh hangat dan hembusan nafasnya terasa menyentuh pipi Andini.


Deg ... Deg ... Deg ...


Suara detak jantung Andini berdentam kencang bagai genderang, gadis itu mulai terbuai oleh bujuk rayu Arsena.

__ADS_1


*Happy reading ...


* Jangan lupa Like, komen, vote dan hadiah bunga bermekaran, biar semangat nulisnya.


__ADS_2