
Oma terus saja mendesak mereka berdua, akhirnya dengan berat hati Andini mengambil sebuah album foto yang berisi foto-foto pernikahan.
Oma segera meraih album pemberian Andini, Oma membukanya setiap lembar demi lembar. Wanita itu mengernyitkan dahinya.
Andini menunggu Oma berkomentar sambil menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Arsena terlihat diam tak berani membuka suara.
"Ini yang dinamakan foto pernikahan? Kenapa mirip foto ulang tahun? Mana Arsena? Kenapa kalian tak bertukar cincin? Wajah Andini juga muram, sama sekali tak bahagia " Oma merasa aneh dengan pernikahan cucunya.
"Em, Oma, Arsena waktu itu sedang sakit perut, Arsena tak bisa ikut foto."
"Pasti alasan lagi, kamu sedang mencari alasan untuk mengelabui Oma," kata Oma dengan nada marah.
" Andini, tolong jelaskan pada Oma. Apakah selama ini Arsena tak adil sama kamu? dia sudah jahat sama kamu?"
" I-iya, enggak Oma." Andini hampir keceplosan. Arsena segera mengedipkan matanya.
"Ars, kenapa kamu mengajari istrimu untuk membohongi Oma?" ternyata Oma sempat Arsena mengirim kode pada Andini.
"Enggak Oma, Arsena cuma ingin berkedip tadi, sepertinya ada sesuatu yang jatuh di mata Arsena. Semut mungkin."
"Tukang bohong, kamu sejak dulu sampai sekarang masih sama, suka berbohong pada Oma. Oma nggak mau tahu kalian berdua harus atur resepsi pernikahan ulang, biar nanti cicit Oma nggak malu punya papa yang meninggalkan mamanya di pesta pernikahan. kalau dia tanya kalian jawab apa nantinya?
"Tapi Oma, Andini kan sedang hamil dia pasti akan lelah jika diadakan resepsi sekarang."
"Andini tidak perlu ngapa ngapain, dia hanya duduk, di make over, lalu foto. Lagian yang datang cuma kerabat saja. bukan tamu besar."
"Kamu nggak lelah kan Andini? Jika Oma meminta kalian Minggu ini mengadakan pernikahan."
"Tapi Oma, sebentar lagi universari pernikahan kami yang ke satu tahun. Bagaimana kalau kita buat album fotonya sekalian pas hari anniversary itu," usul Andini.
"Universary?" Oma terlihat manggut-manggut. "Boleh juga."
Oma terlihat tidak keberatan dengan usulan Andini. Universary mereka yang ke satu tahun tinggal dua minggu lagi.
"Baiklah Oma setuju dengan apa yang dikatakan Andini."
"Sekarang sudah malam, istirahatlah, Oma akan balik ke kamar dulu."
"Oma nggak jadi mau dipijitin sama, Ars?" Tanya Arsena.
"Nggak! Oma sedang marah sama kamu Ars, kamu telah membuat Andini terluka dimasa dulu, Oma kecewa"
Oma meninggalkan Arsena dan Andini berdua saja, di sebuah kamar besar yang desainnya harus berubah setiap satu minggu sekali.
"Selamat malam Andini." Oma pamit
"Selamat malam Oma, Oma tidur yang nyenyak ya." Pesan Andini dibalas anggukan oleh Oma.
Andini berdiri mengantar Oma hingga pintu. "Ndin, tolong maafkan Arsena ya, cucu Oma yang tak tau diri itu, kamu pasti dulu sedih banget," tutur Oma.
"Oma semua itu sudah berlalu. Lagian sekarang Ars, sudah mengubur masalalunya dalam dalam, begitu juga Andini."
__ADS_1
-------
Andini menutup pintu dan menguncinya setelah bayangan oma hilang di belokan tangga.
"Ya udah cepat tidur, si kecil pasti ngantuk." Celetuk Arsena. Di sudut netra dengan iris warna biru itu terlihat menyesal.
Andini menghampiri ranjang sambil mengelus perutnya. Entah kenapa tiba-tiba bayangan masalalu itu terlintas lagi, membuat Andini bersedih.
Andini naik ke atas ranjang, melewati kaki Arsena yang masih bersandar di sisi ranjang. Andini ingin tidur lebih dulu.
"Ndin, kenapa tidurnya menghadap kesana sih?"
"Em ... Nggak papa lagi pengen aja."
"Kan, Aku ada disini. Masa tidurnya menghadap kesana?"
"Kan sudah kubilang, lagi ingin."
"Ndin." Arsena menarik bahu Andini. Andini menepis jemari Arsena dengan kasar.
" Sudahlah Ars, kamu juga cepat tidur, aku capek, Aku juga pengen tidur."
"Kamu kenapa sih? Kamu kok tiba-tiba cuek begini."
Arsena mendekati Andini, mencondongkan tubuhnya, supaya bisa melihat wajah Andini lebih jelas.
"Ndin, malam ini malam Jum'at lho." kata Arsena sambil melingkar
"Emang kalau malam Jum'at kenapa?"
"Aku lagi capek aku pengen tidur jangan ganggu aku, Apa masih kurang jelas? Mau aku ulangi lagi." kata Andini kesal.
Arsena makin bingung dengan Andini yang tak biasa, suaranya juga terdengar serak, Arsena tau kalau Andini sedang menangis.
Arsena menarik bahu Andini sedikit lebih keras, membuat Andini terlentang.
"Hey ... Kok nangis ada apa? Aku salah bicara ya?" tanya Arsena.
"Enggak kok, aku lagi pengen nangis aja." Andini mengusap sudut matanya yang basah.
"Ndin, aku nggak mau kamu seperti ini, katakan apa yang terjadi, jangan membuat aku tambah bingung."
Ars, andaikan kamu dulu menghargai sedikit saja pernikahan kita, tentu kau ada di dalam foto itu, dan kejadian seperti ini tak akan terjadi.
Jadi kamu nangis karena foto itu, Arsena mengusap bulir kristal yang terus mengalir semakin deras ketika Arsena mengusap dengan ibu jarinya.
"Cup." Arsena mencium netra Andini yang basah dan berpindah ke bibirnya.
Maaf, aku bersalah, aku bersalah Andini. Aku bersalah, aku terima jika kamu marah. Atau pukul aku seperti ini juga nggak apa-apa." Arsena menarik tangan Andini dan memukulkan ke pipinya berulang kali.
"Ars tidak, aku tidak mau." Andini menarik tangannya yang berada di genggaman Arsena.
__ADS_1
"Andini tolong jangan ungkit masalalu, sesuatu yang membuat aku sakit," Arsena menekan dadanya.
" Aku masih ingat aku juga sakit Andini. Aku bodoh mencintai wanita itu hingga begitu dalam, tanpa menyadari ada bidadari secantik ini hadir di depanku.
"Sudah jangan sedih lagi ya! Sekarang kita tidur." Arsena kembali mengecup Andini dan membenarkan bantal yang akan menjadi tempat Andini menyandarkan kepalanya.
"Mimpi indah, Sayang." Arsena kembali memiringkan tubuhnya. Membelai rambut halus nan wangi milik Andini dengan lembut. Berlahan kelopak mata Andini menutup dengan sempurna.
Andini, andai kamu tau betapa aku sangat mencintaimu, andaikan kau meminta nyawa ini, aku pasti akan berikan asal kau bahagia.
Arsena tiba tiba juga diserang kantuk, walaupun sebenarnya masih ingin tetap terjaga memandangi wajah istri yang tidur nyenyak dengan wajah polosnya seolah peri
Arsena tertidur dengan memeluk Andini, Pria itu ingin selalu diposisi seperti sekarang hingga esok pagi.
Pagi hari.
pagi sudah menyapa, burung sudah berdendang riang di pukul setengah tujuh, bising nya kendaraan roda dua dan empat sudah terdengar hilir mudik.
"Andini !" Arsena bangkit dari tidurnya. Pria itu terkejut sosok istri sudah tak ada di sampingnya.
"Selamat pagi Tuan."
Terlihat Zara sudah mengabil baju kotor, tadinya gadis itu tak berani masuk karena ada tuannya sedang nyenyak, tapi karena baju kotor harus segera dicuci Zara memberanikan diri.
l
"Andini mana Zara?"
"Nona? Sepertinya ada di dapur, Tuan."
"Kenapa ada di dapur bukannya wanita hamil tak suka dengan aroma masakan."
Arsena memerintahkan Zara untuk segera keluar setelah mengambil baju kotor. Sedangkan Arsena ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah ritual di kamar mandi selesai Arsena segera menyusul Andini. Di ruang tengah tadi Arsena sempat berpas-pasan dengan Mert, namun Arsena diam tak menyapanya karena Mert terlihat melamun dan hanya mengaduk aduk kopi latte di depannya.
"Harum banget? Masak apa, Sayang?"
" Andini menoleh ke arah Arsena, Arsena tertawa terkekeh karena Andini memasak sambil memakai masker."
Arsena mendekat dan menempelkan dagunya di pundak Andini. " Kalau nggak siap masak, Jangan dipaksain, nanti perutnya mual,"
"Nggak kok Ars, ini sudah pakai masker."
"Emang nggak ke kantor kok belum mandi?"
"Nggak lagi pengen libur," kata Arsena singkat.
"Pak Dirut kenapa libur?"
"Kenapa? Emang nggak boleh?" Arsena mengeratkan lengannya ke pinggang Andini sambil mengecup tengkuknya berulang kali.
__ADS_1
"Ars, malu dilihat bibi, ini masih pagi lho, udah kambuh aja mesumnya."
*Happy Reading.